Jendral yang membawa kemenangan dalam perang, satu-satunya sword master kekaisaran itulah Duke Killian Fredrick, .
Namun, satu hal yang membuat dirinya gemetar. Hal yang tidak terjadi bahkan dalam perang berdarah sekalipun.
"Frederic, sudah saatnya mengakhiri segalanya." Itulah yang diucapkan Duchess Grisela Fredrik.
Tangan Killian mengepal, pernikahan yang terjadi di usia 9 tahun saat dirinya sakit-sakitan dan tidak memiliki kekuasaan di keluarganya. Dan sekarang setelah keadaan baik-baik saja, perceraian?
"Apa kamu fikir dapat keluar dari kekaisaran dengan mudah? Bukankah kamu berjanji untuk menemaniku selama-lamanya." Tanya Killian.
Hal yang membuat Grisela menarik tangannya. Wanita yang benar-benar mengetahui dirinya tidak akan hidup dalam waktu lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Oh Grisela
Mana tidak terbatas, seperti yang ada dalam penggambaran dalam cerita novel. Grisela mengernyitkan keningnya, benar-benar sial! Apa perlahan Killian akan menjadi...
Menghela napas, anak itu berbaring di atas rumput."Aku hanya bisa mempertahankan ini selama 10 menit. Jadi ayo berbaring! Rumput ternyata tidak begitu buruk."
Grisela menghela napas, anak kecil tetap saja anak kecil. Sedangkan dirinya adalah anak kecil yang tidak sadar diri.
Berbaring di atas rumput."Rasanya basah dan kotor." gerutunya.
"Kamu yang bilang ini menyenangkan." Killian tersenyum padanya.
"Lebih menyenangkan di atas salju. Walaupun dingin..." Grisela menatap ke Killian.
"Yah! Kalau aku tidak masalah, rumput atau salju. Jika Grisela ada bersamaku, sudah cukup..." Ucap Killian memejamkan matanya, merasakan hangatnya suhu di sekitarnya. Anak yang selalu terjebak di wilayah Utara yang dingin.
Grisela hanya tersenyum, jujur saja antagonis lebih rupawan dibandingkan protagonis. Apa yang terjadi pada Killian? Mengapa memutuskan untuk menghancurkan istana kekaisaran? Ada banyak tanda tanya.
Tapi hatinya benar-benar terasa tenang saat ini. Perlahan memegang jemari tangan Killian. Selama ini hanya Count Nicolas yang ada untuknya. Tapi kini, Count Nicolas tengah memperbaiki keadaan. Killian... selalu ada untuknya.
Dua orang yang bangkit duduk di atas rumput kemudian tertawa. Perlahan Riel mengintip dari jauh berjalan mendekat ragu."Boleh aku bergabung?"
"Tentu saja, ini hangat! Killian yang membuatnya. Dia hebat bukan? Pria paling tampan di kekaisaran, penyihir jenius." Ucap Grisela memuji.
Killian berusaha tidak tersenyum walaupun begitu senang menerima pujian dari Grisela, benar-benar berusaha bersikap datar."Kamu boleh bergabung."
"Astaga! Hangatnya!" Ucap Riel berbaring di atas rumput. Kali ini bersikap lebih santai. Sudah beberapa hari ini, Grisela memberinya makanan yang layak, selimut serta pakaian hangat padanya. Apa yang diharapkannya lagi? Tentu tidak ada. Sebagai budak, bahkan kehidupan ini terlalu mewah baginya.
"Kalian ketika besar nanti akan berbagi kamar bukan? Melewati malam pertama...anak akan lahir dari..." Grisela menutup mulut Riel menggunakan tangannya. Benar-benar malu, tidak ingin otak polos anak berusia 9 tahun tercemar.
"Apa semua pasangan akan memiliki anak? Jika begitu kami juga akan punya." Killian tertawa. Sedangkan Grisela hanya dapat memijit pelipisnya sendiri.
Anak? Dirinya akan pergi sebelum cerita novel sesungguhnya dimulai. Bahkan dalam novel pun Duke Killian Fredrick tidak memiliki anak.
Tiga orang anak yang pada akhirnya bermain dan tertawa. Walaupun kehangatan ini hanya sementara, setelah sihir hilang, bola salju melayang, saling melempar, menikmati hari.
***
Tiga hari berlalu setelahnya. Tidak dapat dihindari, Grisela berlari diikuti oleh Ana, pelayannya.
"Nona tunggu!" Teriak Ana.
Tapi tidak, kala membuka pintu kamar Killian, sosok itu terlihat Duchess berada di sana bersama dokter keluarga, beberapa dayang, Ivone dan Killian.
Menelan ludahnya, menatap sekilas wajah Duchess pucat pasi.
"Mana Duke muda stabil. Dapat dikatakan ini adalah keajaiban. Itu artinya, Duke muda sudah sembuh sepenuhnya dari penyakitnya." Ucap sang dokter keluarga gemetar. Tapi ini harus disampaikan olehnya. Akan kemana dirinya berpihak? Tentu saja tetap pada Duchess. Mengingkari dirinya sudah terlalu lama memberikan pengobatan yang salah pada Killian. Jika Killian dibiarkan hidup dan mewarisi gelar, maka dirinya sudah pasti akan dihukum mati suatu hari nanti.
"Killian masih sakit, wajahnya saja pucat." Grisela mendekat, bagaimana segalanya dapat ketahuan secepat ini. Tapi tes pemeriksaan kesehatan memang merupakan masalah utama.
Duchess menghela napas berusaha tersenyum.
"Bibi! Bagaimana dengan aku yang akan menjadi anak angkat!" Ucap Ivone merajuk.
"Ini kabar baik, untuk mengucapkan syukur pada Dewi, kenapa Killian tidak melakukan doa ke kuil suci saja yang berada di selatan? Aku akan mengatur semuanya..." Duchess tetap melangkah penuh senyuman. Meninggalkan Ivone yang memandang kesal pada mereka.
"Kalian..." geram Ivone melangkah pergi.
Anak laki-laki itu terdiam sejenak, matanya menatap ke arah Grisela penuh senyuman."Kenapa menangis? Aku sudah sembuh. Aku akan bisa tumbuh dewasa bersamamu. Kita akan tumbuh dewasa bersama..."
"Tidak! Kita akan mati..." Ucap Grisela gemetar, mengetahui apa yang direncanakan Duchess.
Perjalanan ke daerah selatan tindak akan mungkin tanpa hambatan.
"Apapun yang terjadi, kita akan saling menjaga." Killian tersenyum, tidak mengetahui apa yang Grisela cemaskan.
"Killian, bagaimana jika aku kabur saja dari kastil Duke. Kamu bersedia membantuku kan? Kamu dapat mencari pengantin yang lain." Ucap Grisela ingin kabur dari semua kegilaan ini.
"Kamu bercanda?" Tanya Killian.
"Aku bercanda, jika keluar dari kastil Duke sekarang, maka bantuan dari Duke Fredrick akan ditarik. Maka keluargaku akan menjadi bangsawan yang jatuh!" Grisela terdengar bingung, benar-benar panik.
Tapi cheat antagonis pasti ada bukan? Jika dirinya melekat pada Killian, apa akan selamat.
"Killian! Bolehkah aku selalu memegang tanganmu saat dalam perjalanan ke kuil suci?" Tanya Grisela penuh harap.
"Te...tentu saja." Wajah Killian memerah, benar-benar malu rasanya. Bagaimana harus berpegangan tangan dengan Grisela dalam kereta menuju kuil suci. Perjalanan panjang berhari-hari.
***
Seperti sudah diduga. Ini sabotase! Untuk mengawal bangsawan tinggi sekelas Duke muda Fredrick, hanya beberapa prajurit, serta seorang kusir?
Ini sudah pasti! Duchess benar-benar ingin mereka mati, entah dengan jalan apa.
Kereta perlahan meninggalkan kastil Duke. Masih terlalu muda, tidak memiliki kekuasaan, tidak ada yang dapat dirinya dan Killian lakukan. Bahkan tidak dapat membantah sama sekali.
Tapi bukankah Killian akan tetap hidup hingga usia dewasa? Tangan Grisela tetap memegang tangan Killian erat. Dirinya benar-benar takut mati.
Hari pertama segalanya berjalan dengan baik, mereka sempat turun untuk beristirahat. Hari kedua segalanya masih dalam kendali.
Walaupun Killian begitu santai, tapi rasa waspada masih ada dalam dirinya. Hal yang membuat Grisela kekurangan tidur.
Perlahan matanya terpejam, bersandar di bahu Killian. Anak laki-laki yang tersenyum, ini terasa menyenangkan, akan menjadi perjalanan yang indah. Sudah dua desa yang mereka lewati.
Sinar matahari memasuki jendela. Inikah hangatnya sinar matahari daerah selatan? Wajah tercantik baginya bagaikan peri musim dingin, kini tertidur di bahunya.
Ini terlalu indah dan tenang. Mungkin sebuah impian sederhana bagi Killian. Duchess akan berubah sikap setelah kesembuhannya. Ayahnya tidak menjadi terlalu gila akan perang lagi. Bersedia memperlakukan Duchess sebagai istri.
Kemudian dirinya dapat tetap bersama Grisela selamanya. Sebuah impian yang indah dari anak 9 tahun yang sedikit naif.
Hingga kereta kuda tiba-tiba terhenti."Apa kita sudah sampai di desa?" Tanya Grisela baru saja terbangun.
"Belum..." Jawab Killian menyadari ada yang tidak beres.
Para pengawal dan kusir menghentikan kereta. Bersamaan dengan itu muncul kawanan bandit dari gunung. Kereta juga dikunci dari luar oleh salah seorang pengawal.
"Duchess..." Killian menggenggam erat jemari tangan Grisela. Tidak disangka Matilda terang-terangan bertindak sejauh ini.
"Dasar ibu mertua si*lan! Br*ngsek! Wanita murahan yang hanya ingin pangkal paha ayah mertua! Gila! Kalau aku mati, aku mengutukmu mati tersebar petir! Mayatmu terkubur longsor!" Untuk pertama kalinya Killian mendengar umpatan Grisela yang... begitu vulgar?
makanya killian menghancurkan istana kerajaan.
lugunya annete sampai tdk mengetahui adiknya sendiri serakah sejak kecil dari pertama muncul digubuk bertemu grisella dan killian