Segalanya yang telah ia hasilkan dengan susah payah dan kerja keras. lenyap begitu saja. kerja keras dan masa muda yang ia tinggalkan dalam menghasilkan, harus berakhir sia-sia karena orang serakah.borang yang berada di dekatnya dan orang yang ia percayai, malah mengkhianatinya dan mengambil semua hasil jerih payahnya.
Ia pun mulai membentuk sebuah tim untuk menjalankan rencana. dan mengajak beberapa orang yang dipilihnya untuk menjalankan dengan menjanjikan beberapa hal pada mereka. Setelah itu, mengambil paksa harta yng dikumpulkan nya dari mereka.
"Aku akan mengambil semuanya dari mereka, tanpa menyisakan sedikitpun!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vandelist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Setiap orang pasti akan mengalami yang namanya kehilangan, dan kematian. Hal ini karena setiap masa ada waktunya untuk benar-benar berhenti dari dunia fana’nya.
Banyak orang yang sudah tidak kuat dan berani dalam menghadapi masalah. Dan berakhir dengan mengakhiri diri sendiri. Atau tidak menyakiti diri karena sudah bosan dengan masalah yang tak kunjung selesai.
Orang-orang akan melakukan segala cara untuk menyelamatkan masalah yang menimpa dengan menyakiti diri sendiri. Dan setelah mendapat dunianya sendiri, orang itu akan terbelenggu dalam lingkaran masalah yang terus bertambah. Setiap orang pasti sangat ingin sekali menghindari masalah yang menimpa, atau tidak berharap tak pernah ada masalah dalam hidupnya.
Banyak orang merasa tak lagi sanggup menghadapi beban hidup, hingga ada yang memilih untuk mengakhiri segalanya atau melukai diri sendiri karena lelah dengan masalah yang tak kunjung usai.
Dalam keputusasaan, mereka mungkin berpikir bahwa menyakiti diri adalah jalan keluar, padahal hal itu justru memperburuk keadaan. Masalah yang dihindari bukanlah hilang, melainkan semakin menjerat mereka dalam lingkaran penderitaan.
Setiap orang tentu ingin hidup tanpa beban dan menghindari kesulitan. Namun, kenyataannya masalah adalah bagian dari kehidupan yang harus dihadapi, bukan dihindari.
Namun, orang-orang ketika mendapat dunianya sendiri untuk menghindari masalah, seakan lupa bahwa masalah itu akan terus menghantui dirinya dengan segala macam cara. Dan satu-satunya agar masalah itu selesai adalah menyelesaikannya. Begitu sulit memang dalam menyelesaikan setiap masalah karena harus berhadapan dengan emosi yang mendalam. Dan ketika tidak dapat menyelesaikannya, semua itu akan berakhir kematian.
Mungkin sebagian orang akan takut dengan kata kematian. Dan juga ada beberapa yang menginginkannya. Karena dengan kematian, semua bisa terselesaikan dengan cepat dan mudah. Tapi, beberapa orang mungkin lupa, bahwa kematian tidak akan menyelesaikan masalah. Bahkan mungkin bisa menambah masalah bagi beberapa orang yang lain.
Kematian memang akan terjadi bagi semua orang yang hidup. Dan ketika kematian, banyak yang harus digunakan dalam hidup agar kematian berakhir dengan damai. Dan mungkin, sebagian orang sedang menyiapkan kematian itu dengan menyelesaikan masalahnya dan melakukan hal-hal yang menyenangkan semasa hidup.
Termasuk Harni, yang saat ini sedang berada di sebuah tempat pemakaman. Dimana orang yang menjadi satu-satunya keluarganya, meninggalkannya sendirian di dunia fana’ ini. Menatap gundukan tanah dengan bunga yang sudah mulai mengering dan juga rumput ilalang tumbuh disekitarnya.
Ia berjongkok di samping makam itu dan membersihkannya dengan menghilangkan bunga-bunga kering itu tanpa mencabut rumput liar yang ada disana. Setelahnya ia menabur bunga yang dibelinya tadi dan menyiramkan air ke makam itu.
“Nenek apa kabar disana?”
“Apa nenek melihatku dari sana?”
“Apa nenek juga melihat masalah yang baru saja kualami?”
“Apa nenek bisa melihat keberadaan… ibu?”
Suaranya bergetar dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulutnya. Ia tidak tahu mengapa harus menanyakan hal ini kepada neneknya, padahal selama ini ia sama sekali tidak pernah mengucapkan kata itu. Bahkan sekedar menanyakannya semasa neneknya hidup dia tidak pernah menanyakan hal itu.
Karena ia sangat membenci orang itu. Karena orang itu yang membuatnya menderita sebab kelakukannya. Dan juga, orang yang tidak bertanggung jawab dengan apa yang sudah diperbuatnya. Harni sangat membenci orang yang melahirkannya itu.
“Nek. Apakah nenek percaya aku akan bisa menghadapi semua itu sendirian?”tanya Harni.
“Apakah aku bisa melewati semua ini dengan mudah nek? Entah mengapa aku merasa bahwa ini sangat sulit untuk dijalani.”
“Semenjak nenek nggak ada, banyak orang yang ada disekitar kita mulai mengeluarkan sifat aslinya. Entah, aku juga tidak tahu mengapa mereka bisa berbicara seperti itu. Dan apakah aku salah untuk tetap hidup?”
“Mengapa mereka selalu menilai bahwa aku akan mengikuti jejak orang yang sama sekali belum pernah kukenali. Dan mengapa mereka tidak bisa saja menghargai ku sebagai sesama manusia. Dan malah menganggap ku sebagai aib yang tidak boleh di dekati?”
Suara hatinya yang ingin sekali ia keluarkan dan bicarakan kepada neneknya. Meskipun sekarang sudah berada di alam berbeda dan tempat tinggal yang tentu saja sudah tidak satu tempat dengannya. Serta, sudah tidak ada raganya.
Suara neneknya yang begitu lembut, tangannya yang selalu menepuknya ketika bersedih. Dan juga pelukan neneknya yang begitu ia rindukan untuk menyandarkan kepalanya di bahu neneknya. Dia sangat merindukan neneknya.
Sekarang, tidak lebih tepatnya selamanya. Ia tidak akan merasakan semua itu karena mereka berbeda tempat.
“Nenek apakah orang seperti aku tidak pantas untuk hidup?”
“Mengapa mereka menghakimi dengan kesalahan yang sama sekali tidak pernah kulakukan?”
Harni sangat membenci situasi ini. Ingin sekali dirinya menyumpal mulut mereka dengan sampahnya. Namun, itu adalah hal sia-sia yang tak akan pernah dilakukannya. Karena itu akan membuang-buang waktu dan tenaga.
“Nek doain aku dari sana ya, semoga aku kuat dalam menjalani semuanya. Dan semoga… kita cepat bertemu dan berpelukan lagi”ucapnya dengan nada lirih. Ia pun berdiri dari duduknya dan meninggalkan pemakaman.
Berjalan menuju ke gerbang dengan menikmati angin yang berhembus di area ini. Sangat menyenangkan dan menenangkan. Suasana sunyi dan hanya beberapa orang saja yang lewat. Serta pepohonan yang menjulang tinggi sebagai penutup langit cerah di tempat ini bagi pengunjung datang agar tidak terlalu panas.
“Mari Harni, lewati semua ini dengan semangat!”ucapnya pada dirinya sendiri. Hanya kata itu yang mampu membuatnya bangkit dari kesedihan.
_Terkadang hidup memang harus diberi cobaan agar manusia bisa lebih kuat dalam bertahan. Semua yang terjadi pada dirinya memang akan sangat sulit untuk dihadapi, namun ia akan bertekad untuk hidupnya. Dan membahagiakan dirinya sendiri untuk saat ini. Walaupun penyemangat hidupnya sudah tidak, namun tak lantas ia akan menyerah begitu saja. Ia akan membuktikan pada semua orang yang meremehkannya._
Dan membungkam mulut mereka yang selalu mengejeknya, dengan dengan mengatakan bahwa ia akan mengikuti jejak ibunya.
Dia tahu masa lalu orangtua yang melahirkannya, dibenci oleh beberapa orang karena kelakuannya. Dan ia juga tidak tahu mengapa ibunya memilih untuk menjadi pekerjaan seperti itu daripada mencari pekerjaan yang lebih baik.
Namun untuk saat ini ia tidak akan memikirkan hal itu. Mungkin dirinya akan berdamai dengan semua itu. Tapi entah kapan, ia tidak tahu. Tapi yang pasti mungkin dirinya akan berdamai dengan semuanya.
“Ibu beli itu ya?”tanya seorang anak kecil pada ibunya.
“Iya, sebentar ya ibu mau nungguin taksi dulu”jawab ibunya dengan suara pelan.
“Tapi Bu aku maunya sekarang”rengek anak itu.
“Sebentar ya nak, ibu nungguin itu taksi dulu baru setelah itu kita beli”ucap ibunya dengan sabar agar anaknya tidak merengek.
Harni yang melihat itu tersenyum tipis. Entah mengapa jika melihat pemandangan seperti ini, ia jadi membayangkan dirinya bersama dengan orang yang melahirkannya.
“Enggak enggak Harni jangan pikirkan itu sekarang”elaknya dengan menggelengkan kepalanya. Untuk saat ini ia benar-benar tidak ingin memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak terjadi.
Sekarang ia harus memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan pekerjaan. Di negara ini, sangat susah untuk mencari pekerjaan dengan gaji mumpuni. Jika pun ada pasti tidak sesuai dengan gaji dan juga pekerjaannya. Berada di tempat wisata saja, ia membutuhkan banyak pelatihan agar lulus dalam seleksi. Walaupun akhirnya ia menjadi petugas kebersihan.
Harni menghela napasnya dan memandang jalanan serta kendaraan yng berlalu lalang. “Huft mau cari kemana lagi coba?”batinnya.
μμ
“Nggak ada loker kah?”
“Kenapa semua pekerjaan syaratnya harus susah sih?”
“Kenapa ini harus ditonjolin penampilannya?”
Ia melemparkan ponselnya ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di samping ponselnya. Memejamkan mata sejenak dan menghirup udara di dalam kamarnya.
Pikirannya benar-benar sedang semrawut sekarang ini karena ia menjadi pengangguran. Pekerjaan yang sulit dicari dan juga ada pun itu dirinya harus pergi keluar kota. Masalahnya saat ini bukan karena tidak ingin pergi keluar kota atau tidak. Masalahnya sekarang adalah dirinya tidak memiliki ongkos untuk pergi ke sana.
Dan tempat kerja itu tidak ingin mengakomodasi biaya untuk pergi ke tempatnya. Ia benar-benar dilema sekarang. Apalagi uangnya untuk kebutuhan sehari-hari semakin menipis. Dan ia membutuhkan biaya untuk menghidupi dirinya sendiri.
“Mau cari kemana lagi coba?”gumamnya. Ia pun mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang. Dan menatap lemari yang ada di depannya. Terdapat foto dirinya dan neneknya yang sedang tersenyum dengan gembira.
Foto itu diambil ketika dirinya sedang merayakan kelulusan dan neneknya adalah orang pertama yang diberitahu nya tentang kelulusan nya. Dan foto itu diambil oleh temannya yang saat ini sedang belajar di luar negeri.
“Fina!”
Ia pun meraih ponselnya dan menghubungi sahabat dekatnya itu. Terakhir kali dirinya bertemu dengan temannya itu saat lulus sekolah. Karena wanita itu saat ini sedang mengenyam pendidikan di luar negeri dan mungkin bekerja di sana juga.
Suara dering dari ponselnya dan ia berharap bahwa temannya itu mengangkat teleponnya.
“Halo?”tanya Harni ketika teleponnya terjawab.
“Halo siapa ya?”tanya orang yang di telponnya.
“Fina?!”
“Harni?! Astaga ini beneran kamu Harni?”
“Iya ini aku Fin kamu apa kabar?”
“Oh my God! Harni kemana aja kamu kenapa nggak pernah hubungi aku lagi? Astaga aku masih nggak percaya kalau yang nelpon ini kamu?!”
“Maaf lama nggak hubungin kamu, maklumlah pekerjaan ku di sini bikin aku susah buat leluasa main ponsel.”
“Huft kamu tahu Har, setelah perpisahan kita waktu itu. Aku masih kepikiran sama kamu, apalagi tempat tinggalmu di lingkungan yang benar-benar tidak baik untuk kesehatan mentalmu. Kenapa kamu nggak ikut aku aja sih.”
“Aku masih ada orang yang harus dijaga Fin, kalau aku ikut kamu nanti siapa yang menjaga orang itu? Nggak mungkin juga akan ku tinggal gitu aja, umurnya juga udah sepuh. Kasian lah aku kalau aku tinggal gitu aja.”
“Iya sih emang susah kalau ditinggal gitu aja apalagi umurnya udah tua.”
Harni memang pernah hampir ikut dengan tamannya itu keluar negeri. Karena saat itu dirinya bisa dibilang sangat berpengalaman di bidang yang menjadi jurusannya ketika di sekolah. Banyak guru-gurunya yang menyarankan dirinya untuk melanjutkan kuliah agar ilmunya lebih dalam lagi. Namun karena kendala biaya, ia tidak bisa untuk melanjutkannya. Dan juga meraih impiannya. Ia tidak bisa.
Ia ingin ikut keluar negeri karena ingin mencari gaji yang tinggi agar bisa membelikan rumah untuk neneknya. Serta dirinya. Dan Fina lah yang akan membiayai tiketnya keluar negeri.
“Fin kamu bisa bawa aku keluar negeri nggak?”tanya Harni langsung.
“Kamu ingin keluar negeri Har?!”tanya Fina dengan nada terkejutnya.
“Iya orang yang ku jaga sudah tiada, dan sekarang aku benar-benar membutuhkan pekerjaan.”
“Loh memangnya kamu nggak bekerja di tempat wisata lagi? Bukannya waktu itu kamu bilang kalau diterima di tempat wisata setelah lulus?”
“Udah dipecat, biasa konflik yang seharusnya memang terjadi begitu lama.”
Fina menghela napasnya mendengar ucapan Harni. Ia tak menyangka temannya itu akan mengalami kesulitan lagi dalam hidupnya. Bisa dibilang ia saksi kehidupan temannya itu ketika mereka mulai pertemanan. Dan ia benar-benar tak menyangka hanya karena masalalu orangtuanya, temannya itu terkena imbas dari ucapan orang-orang tentang dirinya.
“Bukannya aku tidak mau membantumu Har, saat ini aku benar-benar sedang kesulitan. Orangtuaku sedang mengalami masalah di usahanya. Dan sekarang aku harus kerja part time untuk menambah uang untuk kehidupan ku di sini”ungkap Fina. Saat ini dirinya benar-benar sedang mengalami kesulitan karena orangtuanya.
Usaha keluarganya sedang di ambang kebangkrutan karena ulah karyawannya yang menyelewengkan dana usahanya untuk berjudi. Dan karena hal itu usaha keluarganya terkena imbasnya. Sebab karyawannya itu kabur ketika ketahuan kelakuannya.
“Aku minta maaf kalau sudah merepotkan mu lagi. Aku benar-benar menyesal sekarang Fin. Maaf ya”sesal Harni yang meminta pertolongan di saat tidak tepat.
“Nggak apa-apa Har, kamu sama sekali nggak merepotkan kok. Kita kan teman dan kamu juga pernah membantuku untuk bisa sampai di sini”ucap Fina. “Maaf ya Har aku belum bisa membantumu untuk sekarang ini”lanjutnya.
“Nggak apa-apa Fin semoga masalah keluarga mu dan kamu cepat selesai ya, dan juga cepatlah lulus. Aku kangen sama kebersamaan kita”ujar Harni dengan tulus.
“Makasih ya Har, aku juga kangen dengan kegiatan kita dulu. Aku juga turut berduka cita atas meninggalnya nenekmu”ucap Fina dari hatinya terdalam. Ia tahu nenek temannya itu dan juga ia sering mengobrol dengan nenek Harni ketika berkunjung ke rumah temannya itu.
Harni pun mematikan teleponnya setelah selesai berbicara. Harni menghembuskan napasnya pelan. “Hidupku benar-benar tidak beruntung untuk sekarang ini”batinnya.
Entah sampai kapan ia harus mendapati dirinya akan mendapat kesialan ini, ia tidak tahu. Ia sangat ingin segera keluar dari permasalahan krusialnya ini. Tidak ada pekerjaan dan tidak ada pemasukan, ini sama saja dirinya akan bunuh diri secara perlahan karena ia tidak akan bisa memenuhi kehidupannya.
Sementara di tempat lain, teman yang baru saja di telponnya tadi. Sedang memandang ponselnya dengan tatapan heran. Teman yang selalu bersama dan rindu dengan kegiatan mereka dulu?
“Kenapa juga gue rindu dengan kegiatan dulu? Nggak ada gunanya dan juga buang-buang waktu”pikirnya. Ia memandang keramaian yang ada di depannya. Banyak orang dari berbagai negara yang bersenang-senang tanpa rindu dengan kegiatan mereka di masa lalu.
“Mendingan juga disini, bersenang-senang tanpa mendengar keluh kesah dari tuh orang. Yang sering menjual cerita sedih, lagi pun dulu bukannya dia ingin membantuku saja tanpa berharap imbalan kan? Jadi aku nggak perlu balas budi dong?”pikirnya tanpa menyebut teman yang baru saja menelponnya.
Kalo berkenan boleh singgah ke "Pesan Masa Lalu" dan berikan ulasan di sana🤩