Rhaella Delyth adalah seorang gadis cantik dengan kepribadian dingin dan ekspresi wajah yang selalu datar. Meskipun berasal dari keluarga terpandang, kehidupan yang ia jalani jauh dari kata bahagia. Kehadirannya di dunia tidak pernah diharapkan, membuatnya tumbuh dengan hati yang keras dan kesulitan untuk mempercayai orang lain.
Sementara itu, Gabriel adalah seorang pemuda tampan dan berkarisma yang lahir di lingkungan keluarga kaya dan berpengaruh. Di balik pesonanya, ia memiliki sifat dingin, tak mudah didekati, serta sisi kejam yang tidak banyak diketahui orang.
Bagaimana kisah pertemuan mereka bermula? Ikuti perjalanan mereka dalam cerita ini, yang penuh dengan intrik dan adegan penuh ketegangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Tok
Tok
Tok
Cklek
Baru saja Gabriel meletakkan makanan di meja, Suara ketukan pintu terdengar.
"Bang gue pinjem cas dong, cas gue kelupaan di sekolah" ucap Griffin yang tiba-tiba saja sudah berjalan masuk, Rhaella dan Gabriel pun menoleh ke sumber suara. Rhaella mengkerutkan keningnya dia seperti mengenalnya 'gue pernah liat dimana nih anak yah' ucapnya dalam hati.
"Loh kak Rhaella? Kak Rhaella yang waktu itu kan? Kok ada di sini?" Griffin terkejut melihat siapa yang ada di depannya.
"Kak Rhaella inget aku ngga yang waktu itu kak Rhaella bayarin satenya? Inget ngga?" ucap kembali Griffin pada Griffin.
"Aku Griffin adiknya si tembok kulkas berjalan ini" ucapnya menunjuk ke arah Gabriel yang menatapnya datar, tidak marah sedikitpun.
'oh dia anak yang waktu itu ternyata adiknya El, pantes mukanya familiar banget waktu gue malam itu' batin Rhaella
"Iyah inget " jawab datar Rhaella dan menganggukkan kepalanya.
Griffin pun kemudian melirik ke arahnya Gabriel yang juga menatapnya "jadi Abang beneran kenal sama kak Rhaella?"
"Hm"
"Ck" kesalnya pada Gabriel.
"Kak Rhaella pacarnya bang El?" Tanya Griffin yang sudah kembali menatap Rhaella. Rhaella hanya diam tidak menjawab, kebetulan saja Gabriel memotong obrolan mereka dan langsung memberikan apa yang diminta Griffin.
"Nih, sana keluar lo" ucap Gabriel tiba-tiba memberikan cas di tengah obrolan Griffin dan Rhaella.
"Gue mau disini dulu bentar sama kakak cantik" jawab Griffin yang sudah duduk di samping Rhaella.
"Nggak, sana lo balik"
"Bentar doang kok pliiiisss"
Gabriel hanya menghela nafasnya melihat Griffin yang memberi wajah memohon, Rhaella sendiri sudah mengulum bibirnya melihat wajah imut Griffin.
"Biarin aja" ucap tiba-tiba Rhaella pada Gabriel. Kemudian Gabriel pun duduk di samping kanan Rhaella.
"Nih makan dulu, Ntar lanjutin" Gabriel memberikan makanan kepada Rhaella.
"Buat gue ngga ada bang?" Tanya Griffin.
" Nggak ada, sana lo turun makan dulu ntar aja baru kesini" ujar Gabriel pada adiknya.
"Ya udah deh, kak cantik Griffin turun makan dulu nanti Griffin kesini lagi" tutur Griffin pada Rhaella.
"Iya" ucap Rhaella dengan tersenyum manis. Membuat Gabriel dan Griffin tersentak melihat senyuman Rhaella, sedangkan Gabriel yang baru melihat senyuman Rhaella untuk pertama kali, tidak mengalihkan pandangannya, sampai suara Griffin mengembalikan kesadarannya.
"O-oke" Griffin pun kemudian keluar dan turun untuk makan.
"Jangan senyum kaya gitu di depan cowok lain" celetuk Gabriel pada Rhaella.
"Kenapa?" Tanya datar Rhaella.
"Nurut aja, jangan senyum kaya tadi di depan cowo manapun"
"Termasuk lo?"
"Kecuali gue"
"Kenapa?"
"Karena gue nggak suka"
"Hmm" singkat Rhaella tidak mau berdebat.
"Gue udah selesai ngerjain tugasnya, gue mau balik" sambungnya lagi.
"Abisin makanan lo dulu" ucap Gabriel yang baru selesai minum.
"Gua ada urusan El, gue juga udah kenyang" jawab Rhaella yang sudah membereskan buku-bukunya.
"Oh iya nih Hoodie Lo yang waktu itu Lo pinjemin " lanjut kembali Rhaella memberikan Hoodie pada Gabriel.
"Lo aja yang pake, Lo ngga bawa jaket kan tadi ke sini?" Tanya Gabriel, dan Rhaella mengangguk.
"pake aja lagi"
"Oke" kemudian Rhaella memakai Hoodie Gabriel kembali. Kemudian mereka pun keluar dari kamar dan turun.
"Son..." Panggil Warren pada anaknya yang baru keluar dari lift. Gabriel dan Rhaella kembali menoleh.
"Kamu sama siapa son?"
"Temen El yah"
"Yang waktu itu kamu bonceng kan?"
"Iya" Warren pun mengganggukkan kepalanya sambil melihat ke arah Rhaella.
"Loh... nak Rhaella sudah mau pulang?" Tanya Shaera yang baru saja menghampiri mereka.
"Bunda ... kenapa mata bunda merah, bunda habis nangis?" Tanya Gabriel pada bundanya.
"Nggak sayang tadi bunda lagi ngiris bawang, kepedesan jadi mata bunda perih" jawab bohong Shaera pada Gabriel, sedangkan Warren yang tahu hanya diam, karena ada Rhaella di tengah mereka, mereka takut salah mengambil langkah dan takut jika apa yang mereka pikirkan bukan kenyataannya.
"Emm maaf Tante, om saya harus segera pergi, saya sedang ada urusan Tante om" ucap Rhaella dengan nada sopannya kepada Warren dan juga Shaera.
"Oh begitu yah, El kamu anterin nak Rhaella yah pulang" ucap Shaera pada anaknya.
"Emm... Rhaella kesini pake motor ko Tante, Rhaella bisa pulang sendiri" jawab Rhaella menolak dengan nada sopannya.
"Ya udah kalau gitu, kamu sering-sering yang main ke sini"
"Iya Tante"
"Ya udah kamu hati-hati pulangnya" ucap Shaera yang sudah memeluk lembut Rhaella, dan itu membuat Rhaella tak bisa bereaksi apapun karena jujur saja di perlakukan lembut dan penuh kasih oleh wanita yang mungkin saja seumuran dengan bundanya membuat Rhaella terbuai, untuk pertama kalinya dia merasakan pelukan hangat seperti ini.
"I-iyaa Tante kalau gitu Rhaella pamit, assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
"El anterin Rhaella sampai depan yah" Gabriel menganggukkan kepalanya lalu pergi mengantar Rhaella keluar.
Shaera dan Warren melihat perginya Rhaella yang diantar oleh Gabriel, Shaera sudah meneteskan kembali air matanya dan sang suami sudah mengelus lembut punggung istrinya.
"Ayah lihat kan, dia begitu mirip dengan Idylla"
"Iyah bunda, tapi kita harus cari tahu dulu kebenaran tentang anaknya Idylla yang saat itu di katakan meninggal" Shaera mengangguk setujui dengan ucapan suaminya.
"Iyah ayah, kita bicarakan ini sama El buat cari tahu soal kejadian 17 tahun lalu" sahun Shaera menatap Warren, Warren menganggukkan kepalanya.
"Ya udah bunda istirahat dulu nanti kita bicarakan sama El" Shaera kembali mengangguk dan kemudian mereka berdua pun berjalan menuju kamar untuk istirahat.
"Gue balik" ucap datar Rhaella.
"Hmm"
Rhaella pun kemudian menyalakan motornya dan melajukan motornya menuju apartemennya. Gabriel hanya melihat dengan wajah datarnya, sampai Rhaella keluar dari kediamannya lalu Gabriel pun kembali masuk menuju kamarnya.
...
"Akhirnya Lanai sialan itu udah mati, jadi ngga ada lagi yang perlu aku khawatirkan, kalau tidak dia bisa memberitahu kebenarannya pada mas Leif. Aku ngga mau apa yang udah aku lakukan selama ini menjadi sia-sia, dan Rhaella, Rhaella hanya gadis polos biasa yang sok kuat sama seperti ibunya, aku tidak perlu mengkhawatirkannya selagi dia tidak tahu bahwa aku yang membunuh ibunya, dan untuk mas Leif maaf karena aku begitu mencintaimu aku harus menyingkirkan Idylla istrimu orang yang akan menjadi penghalang hubungan kita"
Rhaella yang mendengar semua penuturan Alane, seketika mengepalkan tangannya hingga urat-urat tangannya terlihat jelas. Dia ingin sekali rasanya sekarang langsung membunuh Alane, tapi bukankah itu tidak sepadan jika harus langsung membunuhnya, Rhaella seketika tersenyum miring menatap tajam wajah Alane di balik layar ponselnya.
"Gue bakal kasih tahu rasanya sakit yang sesungguhnya Alane, Lo nikmati dulu sisa-sisa waktu lo bebas ini"
Rhaella kemudian mengotak-atik laptopnya, dia sedang mencoba meretas data pribadi ayahnya sendiri. Hanya butuh waktu tiga menit Rhaella sudah mendapatkan informasi tentang ayahnya.
"Leif Blaze seorang pengusaha yang pernah menikah dengan Idylla Delyth Kendrick, Idylla Delyth Kendrick sendiri pemilik dari perusahaan Μ.Ε Group dan mansion di perumahan permata bumi, Prisa memberikan tanggung jawab perusahaan kepada Leif sebagai suami untuk menjalankannya, Idylla Delyth meninggal saat melahirkan putrinya berinisial R." Rhaella membaca data-data penting yang di sembunyikan oleh ayahnya.
"Jadi perusahaan yang ayah kelola sekarang dan mansion itu adalah milik bunda" ucapnya setelah membaca data-data yang ayahnya sembunyikan.
"Bagaimana kalau gue ajak kerja sama itu pembunuh bayaran tujuan gue dan dia sama buat menghancurkan Alane, tapi gue nggak mau kalau dia yang habisin Alane, gue mau gue yang bunuh dia dengan cara gue sendiri" ucap Rhaella dengan tersenyum devil mengerikan.
"Gue temuin pembunuh bayaran itu besok"
Drrtt
Drrtt
"Hallo "
"PULANG SEKARANG KAMU ANAK SIALAN "
"Iya"
"SEKARANG JUGA RHAELLA, KAMU TIDAK MENGERTI HA" sentak Leif di balik teleponnya.
"Iya Rhaella jalan sekarang"
Tut
Rhaella kemudian memakai Hoodienya dan mengambil masker, ia tahu apa yang akan terjadi jika ayahnya sudah menyuruhnya untuk pulang. Rhaella kemudian menyambar kunci motornya dan berjalan santai menuju lift, kemudian dia pergi meninggalkan basement apartemennya untuk menuju ke kediaman Blaze.
Kurang dari lima belas menit berkendara Rhaella pun sampai lalu masuk seperti biasa baru beberapa langkah R melangkah dia sudah di sambut oleh tamparan dari ayahnya.
Plakk
Plakk
Bug
Tamparan dan pukulan kembali menyapa wajahnya yang baru-baru saja sembuh. Tapi Rhaella tetap diam mau ada masalah atau tidak pasti ayahnya akan melampiaskan kemarahannya padanya.
"Apa kamu tidak mengindahkan kata-kata ku saat itu Rhaella untuk tidak berbuat masalah terlebih pada Daena hah dasar anak sialan"
Plak
Plakk
Plakk
"Kau lihat Daena sekarang itu ulahmu kan"
Bug
Bug
"JAWAB" Bentak Leif dengan suara yang begitu besar hingga terdengar di seluruh ruangan.
"Rhaella tidak tahu " jawab datar Rhaella yang malah membuat Leif semakin marah.
Plakk
"Daena terluka dia bilang itu karena kamu, berani sekali melukai putri kesayanganku anak pembawa sial" sarkas Leif pada Rhaella.
Rhaella hanya diam, dia tahu bahwa dia sekarang telah di fitnah oleh Daena. Daena yang melihat Rhaella kembali di hajar oleh ayahnya malah tersenyum miring dengan memvideokannya diam-diam.
Bugh
Bugh
Bugh
"PERGI KAU ANAK KURANG AJAR DASAR SIALAN" Usir Leif pada Rhaella yang sudah terduduk akibat pukulan dan tendangan dari Leif. Rhaella pun kemudian bangun dengan jalan yang tertatih keluar dari mansion Blaze. Rhaella keluar dengan keadaan yang tidak baik-baik saja, wajahnya sudah kembali banyak lebam dan darah di sudut bibirnya yang robek.
"Masker gue kemana lagi" gumanya mencari maskernya yang tidak di temukan.
"Bodo ah, gue pulang aja"
kemudian Rhaella memakai helm full facenya dan melajukan motornya. Meninggalkan kediaman Blaze.
Rhaella tidak menyadari bahwa sejak dari apartemennya tadi Rhaella di ikuti oleh seseorang.
"Hallo tuan muda... "
"Hmm "
"Saya mengikuti nona Rhaella sampai ke kediaman Leif Blaze tuan, tapi.."
"Tapi apa?"
"Tapi saat nona Rhaella keluar dari kediaman Blaze, nona Rhaella terlihat tidak baik-baik saja "
"Ngomong yang jelas sialan, tidak baik-baik aja gimana?"
"Nona Rhaella dia banyak luka lebam di wajahnya tuan muda saya lihat juga dia jalan tertatih seperti habis di pukuli "
"Sialan, ikuti kemana Rhaella pergi kasih tahu gue lokasinya supaya gue susul"
"Baik tuan muda"
Tut