Apakah waktu adalah dapat mengubah semuanya? Termasuk setiap kehidupan. Mungkin iya. Dan itulah yang dirasakan oleh gadis biasa yang terlempar ke dunia lain, dalam seketika dia mengubah semuanya dengan kedua tangannya sendiri.
Sebuah Negara yang amat besar harus terpecah belah menjadi dua sehingga memiliki latarbelakang yang sangat buruk.
Kehadiran gadis itu mungkin bukan main-main. Sehingga siapa saja dapat mengira bahwa gadis itu adalah 'Sebuah Ancaman'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mauraa_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Gorsa Fahean
Secerah butiran embun pagi menyentuh kulit Hiragi. Dengan pagi buta Hiragi berlatih tepat di balkon atas kamarnya dengan Biara. Melatih tubuh fisiknya, melatih pikirannya, melatih sihirnya dan memperkuat pedangnya. Itulah yang saat ini Hiragi lakukan.
Biara terbangun saat melihat beberapa cahaya yang terang mengenainya. Hiragi langsung menyadarinya dan mengakhiri latihannya.
"Kenapa kau berhenti? Kau harus berlatih tiga jam lagi kau akan pergi menuju kediaman Keluarga Hans." Ucap Biara dengan nada serak yang baru bangun dari tidurnya.
"Kurasa aku membangunkanmu." Ucap Hiragi dengan nada bersalah.
"Berhentilah merasa bersalah! Dan lakukan semua yang kau inginkan, jangan pernah mendengar pendapat orang lain padamu." Biara menasehati Hiragi dipagi-pagi buta.
Biara menyuruh Hiragi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu, karena setelah ini Biara akan menuju toko Paman Daisi dan Bibi Mina, di mana tempat Harui membuatkannya pedang.
"Mengingat tentang Harui... Apakah dia datang?" Batinnya.
Biara turut bersedih atas masalah yang dia hadapi belakangan ini, tetapi Biara akan tetap ada untuk Hiragi.
《Di Kediaman Harui.》
"Hari ini adalah hari di mana semuanya dimulai."
Harui melamun di balkon kamarnya sendirian. Namun tiba-tiba gebrakan pintu terbuka. Selama ada Gorsa rumah ini kembali ramai, namun tidak ada senyuman yang terukir kembali.
"Kau ini seperti gadis berambut biru yang kutemui!" Ucap kesal Gorsa karena selalu dihiraukan.
Tapi Harui sontak terdiam.
"Gadis berambut biru? Di kota ini kurasa hanya Hiragi yang memiliki rambut itu." Batin Harui.
"Gorsa di mana kau menemukannya!?"
...☄☄☄☄...
Hampir dua hari Hiragi dan Harui tidak bertemu. Mungkin mereka merasakan sesuatu yang dinamakan 'rindu', entah akankah ada hal seperti itu.
"Ayo Biara."
Hiragi dan Biara meninggalkan tokonya dan menuju toko peralatan senjata di tempat paman Daisi.
"Hiragi~ tenang saja, aku yakin sepenuhnya bahwa Tuan Muda akan dan Pangeran Erthan akan datang untuk menyemangatimu!"
Disaat tegang seperti ini pun Biara tetap memberi semangat pada Hiragi.
Keadaan tidak akan pernah berubah jika yang kau lakukan hanya diam, awalnya air dapat tenang tanpa dijatuhi dedaunan, hati akan tetap terdiam tanpa diketuk.
Saat sedang berjalan di tengah Kota banyak yang mengatakan bahwa Harui mencari Hiragi dan beberapa orang lainnya menyemangati Hiragi dalam pertandingan nanti.
《Di Sisi Lain Kediaman Mansion Keluarga Hans.》
"Apakah kau telah melakukan apa yang kuminta?" Tanya Fresa dengan nada santai penuh kemenangan.
"Sudah Nyonya!"
"Tenang Bu, aku akan membuat hari ini berakhir dengan baik untuk kita."
Krista dan Fresa, Ibunya telah melakukan sesuatu, dan itu pasti mereka lakukan untuk menjatuhkan Hiragi.
《Di Kota.》
Hiragi dan Biara telah sampai di toko Paman Daisi. Bibi Mina yang melihat Hiragi kembali sekian lamanya langsung menghampirinya dan memeluknya. Setelah kedatangan Hiragi banyak hal yang terjadi. Kota besar ini seperti lebih ramai.
Paman Daisi pun mendatangi mereka
berdua. Dengan pandangan bingung.
"Nak Hiragi, di mana Tuan Muda Harui?"
Mendapat sentuhan dari Bibi Mina Paman Daisi pun tersadar, kalau kemarin Harui sedang keliling mencari Hiragi. Dan dia yakin ada suatu permasalahan di antara mereka berdua.
"Aku sedang bertengkar dengannya." Ucap Hiragi sambil tertawa kecil.
Masalah apapun yang Hiragi hadapi selalu dia lewati dengan senyuman, itulah yang membuat banyak orang yang tertarik dengan Hiragi.
Paman pun menanyakan apa tujuan mereka, Hiragi langsung menyerahkan pedangnya untuk dilakukan pemeriksaan. Hiragi takut jika terjadi masalah saat pertandingan nanti.
Paman Daisi pun masuk kedalam tempat pembuatan pedang untuk memeriksa pedang Hiragi.
"Nak Hiragi aku dan Paman pasti akan datang menyemangatimu." Ucap tulus Bi Mina, tentu saja membuat Hiragi senang. Banyak yang mendukungnya membuat dirinya lebih bersemangat.
...☄☄☄☄...
Paman Daisi pun kembali dari dalam dan menyerahkan pedang itu kembali pada pemiliknya.
"Hiragi pedangmu ini sangatlah sempurna, aku yakin Tuan Muda Harui pasti yang membuat pedang ini lebih baik, karena saat memeriksanya aku dapat merasakan sihir Tuan Muda." Jelas Paman Daisi.
Hiragi pun tidak menyangka bahwa Harui telah memeriksa pedang itu terlebih dahulu, dan sekarang sama sekali tidak ada keanehan dari pedang itu, melainkan sihir Harui dan Hiragi yang menyatu.
Hiragi pun mengangkat pedangnya dan ingin mengayunkan sekali, Biara Paman Daisi serta Bi Mina pun sudah mundur sedikit dari dekat Hiragi.
WUSH!
"WhoAAAA!!!!"
BRAK!
Dengan bersamaan pedang besar Hiragi terlepas dari tangannya karena teriakkan dari pria itu sekaligus membuatnya terkejut serta membuat dentuman lumayan keras tepat di depan pijakannya.
Dia terkejut bukan main, melihat sosok yang selalu ada dipikirannya muncul secara tiba-tiba di hadapannya.
"Hi-Hiragi." Panggil Harui dengan nada sendu.
"Ehh-Eh kalian saling mengenal, Mahiru?" Ucap Gorsa yang tiba-tiba bingung dengan keadaan.
Entah mengapa saat ini Hiragi merasa malu saat bertemu Harui, biasanya saat bertemu mereka selalu beradu mulut tiada henti.
"Kau-" Ucap mereka bersamaan.
Paman Daisi begitu tidak mengerti keadaan ini. Biasanya Harui dan Hiragi selalu bertengkar karena masalah sepele, dan kini saling membisu.
"Kau datang?" Ucap Hiragi sambil menunduk.
Dengan tatapan masih tertunduk Harui pun mendekat pada Hiragi, dan menyentuh pucuk kepala gadis yang pernah hilang hampir dua hari. Dan mengatakan.
"Kau pasti bisa!"
Dengan senang Hiragi mengukir senyumannya lagi. Dan ikut menyentuh kepalanya sendiri yang masih tertera tangan Harui.
"Aku akan membuktikannya padamu!"
...☄☄☄☄...
Satu jam lagi akan diadakan pertandingan. Hiragi mendapat urutan pertama. Dan tentu saja dia tahu bahwa ini semua ada rencana dari Krista.
"Bagi peserta pertandingan, acara latih tanding ini akan dimulai pada satu jam lagi."
Pengumuman itu membuat Hiragi gelisah, serta merinding karena membayangkan hal ini terjadi pada hidupnya. Dan tak pernah terbayang di benaknya bahwa dia akan melakukan hal di luar nalar.
"Hiragi!~"
Erthan yang muncul dari segala sisi selalu memberikan kejutan. Dia pun langsung memeluk erat keponakan nomor dua itu. Nomor satu tentu saja Harui.
"Ternyata namamu Hiragi ya~"
Hiragi menoleh dengan terkejut bahwa pria yang dia temui di hutan berada di sini.
"Kau-Kau pria aneh yang di hutan kan?!"
"Hemm... Namaku adalah Gorsa Fahean, aku berasal dari Negara bagian Utara, salam kenal."
"Siapa yang ingin berkenalan dengan laki-laki aneh seperti mu."
Saat ini akan ada nama tambahan yaitu, Gorsa Fahean.
"Sekarang adalah permasalahannya." Ucap tiba-tiba Harui yang langsung membuat suasana tegang. "Aku yakin akan banyak kejadian dari pertandingan ini, jadi aku putuskan Hanson dan Grid untuk mengawasi sekitar, dan Paman kau bersiap untuk hal yang tidak menyenangkan, dan Gorsa-"
"Baiklah.. Aku akan melakukan apa saja demi Hiragi." Ucap Gorsa dengan kedipan matanya, membuat Hiragi merinding melihatnya.
Harui terus memikirkan apa yang harus dia lakukan. Perasaannya terhadap pertandingan hari ini begitu buruk. Jangankan pertandingan dengan kondisi Hiragi saja Harui tetap khawatir.
"Gorsa jika memang terjadi kejanggalan, maka gunakan Artles Fart mu untuk langsung membawa Hiragi pergi dari sana."
"Baik~"
"Entah kenapa harus Gorsa." Gerutu Hiragi dalam hati.
《Di Sisi Lain.》
"Aku dengar Gorsa Fahean, pria dari Negara bagian Utara itu datang, tapi kurasa itu bukan ancaman bagiku." Ucap Krista dengan santai. "Lakukan apapun perintahku untuk tetap menjatuhkan Hiragi!"
"BAIK!"
"Nahh... Sekarang mari kita lihat, keadaannya."
Moga komen ma like nya tersampaikan okey, yaa walau cuma 'Abc' ma 'Xyz'😆😆
Knp sad ending????