NovelToon NovelToon
Ayah Mertua Mafia Menginginkanku

Ayah Mertua Mafia Menginginkanku

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Mafia / Selingkuh / Menikah dengan Musuhku / Dark Romance / Tamat
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Larissa Marcelle

Dijodohkan dengan putra seorang bos mafia? Fiorella Ferraz, delapan belas tahun, sudah bertekad menolak. Dia diseret dari Berlin ke Sydney untuk pesta pertunangan yang tidak pernah dia inginkan, dan di depan semua orang dia berani berkata: aku tidak mau menikah.

Satu orang tidak terima dibantah. Argo Romanov, bos mafia Australia sekaligus calon mertuanya, pria dingin yang tak pernah ditentang siapa pun. Gadis keras kepala itu langsung dia tahan di rumahnya, "sampai tahu aturan".

Namun semakin sering mereka bertengkar, semakin sulit Fiorella menjelaskan kenapa tubuhnya bereaksi setiap kali pria itu mendekat. Dan semakin keras Argo berusaha menjauh, semakin ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Di tengah peperangan antar mafia, kontrak pernikahan yang membelenggu dua keluarga, dan rahasia yang menunggu terbongkar, siapa yang sebenarnya sedang menaklukkan siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larissa Marcelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19 - Menyelinap Keluar

...FIORELLA FERRAZ...

Menurutku idenya tidak buruk, dia ganteng banget dengan handuk di pinggang itu.

"Aku cuma bercanda, cantik. Aku pakai baju dulu di sini." Dia masuk ke kamar mandi.

Apa dia pakai celana dalam di balik handuk tadi? Jared kembali memakai celana jin, tapi masih bertelanjang dada. Dia duduk di sampingku di ranjang untuk bicara. Aku berusaha menahan mataku di mata kehijauan Jared.

"Aku langsung saja, bagaimana caranya aku keluar tanpa dilihat para penjaga?" Dia mulai tertawa.

"Rapunzel mau kabur, ya? Ayahku memang mencekik semua orang."

"Jangan bicara begitu soal ayahmu, Jared." Begitu aku bilang begitu, tawanya langsung berhenti.

"Iya, iya, maaf. Tapi memang tidak ada cara keluar diam-diam, apalagi dengan pengawal yang menempel terus padamu."

"Iya."

"Kamu mau keluar sendirian?"

Aku menatapnya dan bisa membaca pikirannya. Dia mengira aku mau keluar dan bertemu laki-laki lain padahal sudah jadi tunangannya. Ya, dia benar.

"Bukan begitu, Jared, aku cuma ingin keluar sendiri. Pasti enak rasanya bebas."

"Fiorella." Dia mendekat, aku bisa mencium aroma sabun di kulitnya. Lenganku merinding. "Tidak apa-apa kalau kamu mau keluar, aku percaya padamu."

"Percaya?" Aku sendiri saja tidak percaya pada diriku.

"Ya. Aku bukan tipe pria yang melarang perempuan bersenang-senang dengan teman-temannya." Dia menyentuh wajahku. "Kamu kelihatan manis sekali, sayang ayahmu mengekangmu dari banyak hal."

"Soal itu aku harus setuju."

"Jam 20.00 malam, mereka ganti giliran jaga. Gerbang cuma dijaga dua orang selama sekitar 15 menit, setelah itu giliran dini hari masuk, dan habislah kita."

"Dua orang, Jared? Bagaimana aku bisa lewat dua orang?" Dia berpikir beberapa detik, lalu kupotong pikirannya.

"Bagaimana kalau kita kasih mereka makanan, entahlah, obat tidur?" Ide itu kulempar, dan Jared tertawa lagi.

"Mereka tidak akan tertidur dalam 15 menit, dan kalaupun iya, penjaga lain akan datang, memanggil organisasi, dan urusannya jadi kacau. Sebelum sempat kita jelaskan, penembak jitu sudah menyebar di seluruh rumah."

"Jadi tidak ada cara?"

"Ada satu, tapi mungkin gagal."

"Cara apa?"

"Aku bantu kamu 'kabur'." Dia tersenyum manis. Aku membuang muka dari Jared, dia memang tampan, tapi aku tidak mau jatuh cinta. Mungkin setelah menikah, sekarang jangan.

"Bantu bagaimana?" tanyaku.

"Nanti kuceritakan, tapi bagaimana dengan pengawalmu?"

"Dia urusanku."

"Kalau si bos besar tahu, kita habis."

"Kalau bergantung padaku, dia tidak akan tahu."

"Jangan sampai dia curiga, Fiorella. Kalau dia periksa kamera, dia akan tahu apa yang kita lakukan."

"Wah, aku merasa seperti Jonas Brothers."

"James Bond, dasar gila." Kami tertawa gara-gara ucapanku.

Aku mulai merasa nyaman dengan Jared. Dia benar-benar beda dari ayahnya. Sebuah pikiran melintas di kepalaku. Mungkin kami bisa jadi pasangan yang serasi. Siapa sangka tunanganku sendiri yang membantuku menyelinap keluar rumah.

* * *

Aku mandi dengan cemas setengah mati. Rencanaku dan rencana Jared harus berhasil. Aku gelisah bukan hanya karena itu, tapi juga karena aku akan keluar sendirian, pertama kali seumur hidup ke klub malam, minum dan berdansa. Aku ingin melepaskan diri sepuasnya, mungkin ini pertama dan terakhir kalinya sebelum menikah.

Berjam-jam aku di kamar mandi, mencukur bulu, keramas sampai bersih. Aku memakai baju biasa supaya Blake tidak curiga. Obat yang sudah kuhaluskan jadi bubuk kumasukkan ke saku, lalu aku turun ke dapur untuk minum kopi sore. Kubilang pada Grace aku lapar, jadi dia menyiapkan kopi.

"Sebentar lagi waktunya makan malam."

"Ah, malam ini aku tidak makan malam, Grace."

Dia selesai lalu pergi, Blake berdiri di pintu.

"BLAKE?" Dia langsung masuk. "Grace bikin banyak pancake, bisa bantu aku menghabiskannya?"

"Saya tidak lapar, Nona, terima kasih!"

"Ya sudah." Aku duduk dan mulai makan.

"Dia bikin kopi?"

"Iya."

"Boleh saya minum secangkir? Saya suka kopinya."

"Tentu boleh." Dia mengisi cangkir, meniupnya, lalu meneguk sedikit. Aku mengawasinya dari sudut mata. Dia meneguk lagi, kali ini banyak.

"Kopi ini baru dibuat?"

"Iya, kenapa?"

"Tidak apa-apa."

* * *

Aku menunggu di kamar sampai Blake tertidur oleh kopi yang "diracuni obat tidur". Lelaki mana yang menolak kopi? Aku sudah siap sepenuhnya. Kupakai gaun hitam pendek dengan belahan dada rendah. Di film-film yang pernah kutonton, perempuan tampil cantik dengan gaun begitu. Jared pasti sebentar lagi datang. Sudah hampir pukul 20.00. Sebelumnya aku bilang pada Loretha mau tidur lebih awal, makanya tidak ikut makan malam. Seharian tidak ada tanda-tanda Argo Romanov, lebih bagus lagi kalau dia tidak ada. Dia tidak akan tahu aku keluar rumah.

Aku kaget mendengar ketukan di pintu.

"Fiorella?" Itu suara Jared. Aku memakai jubah mandi dan membuka pintu. "Kamu belum siap?" Aku membuka jubahku dan memperlihatkan pakaianku padanya. Jared memaku matanya ke tubuhku. Aku tidak sanggup menahan diri, senyum puas muncul di wajahku.

"Jared?" Kulakukan hal yang tadi pagi dia lakukan padaku, kupanggil dia untuk menyadarkannya dari hipnotis. Dia mengerjap dan menatapku.

"Mana pengawalmu?"

"Entah, bukannya dia di sana?" Aku melongok ke luar pintu, Blake tidak ada. "Sial, Jared, harusnya dia pingsan, bukan menghilang."

"Malah bagus, tunangan. Kalau dia pingsan, ayahku pasti tahu. Ayo." Dia menarik tanganku.

"Tunggu." Aku mengambil tas berisi ponsel dan mengunci pintu dari luar, lalu mengikuti Jared ke pintu belakang, ternyata tempat parkir. "Kita ngapain di sini?"

"Kamu tidak keberatan masuk bagasi, kan?"

"Hah? Begini?"

"Tidak ada cara lain, cantik."

"Oke, ayo."

"Tunggu lima menit lagi."

"Jangan-jangan Blake mati?"

"Kamu apakan dia?"

"Kumasukkan satu strip penuh obat tidur ke kopinya."

"Astaga! Kalau dia mati, jadi masalah besar. Dilarang keras membunuh prajurit tanpa izin Capo."

"Jangan bercanda, Jared."

"Santai, orang itu tidak akan mati cuma gara-gara obat, maksudku, semua obat itu." Dia tertawa dan membantuku masuk ke bagasi mobil.

Begitu bagasi ditutup, aku terkurung dalam gelap pekat. Mobil mulai melaju, lalu berhenti, terdengar beberapa suara, kemudian melaju lagi. Tidak sampai dua menit, Jared menghentikan mobil.

"Kamu baik-baik saja?" tanyanya sambil membuka pintu bagasi.

"Baik."

"Ayo, duduk di depan."

"Tidak usah, Jared. Di sini sudah cukup."

Dia memaksa mengantarku, jadi aku duduk di depan dan minta diturunkan di sebuah jalan tertentu. Kota ramai sekali, padahal masih sore. Australia indah. Rasanya ringan dan bahagia akhirnya bisa bernapas bebas dan berbuat sesukaku. Aku boleh bicara dengan siapa saja, minum apa saja. Aku boleh mendekati laki-laki mana pun tanpa dihalangi Papa. Rasanya aku penguasa dunia, setidaknya malam ini.

"Kamu akan baik-baik saja? Janji padaku kamu akan jaga diri."

"Aku akan jaga diri, Jared. Terima kasih banyak, aku tidak akan lupa apa yang kamu lakukan untukku."

"Kalau terjadi apa-apa denganmu, aku tidak akan pernah memaafkan diriku."

"Aku bisa jaga diri." Kuberikan senyum terbaikku. Kami bertukar pandang penuh sayang, lalu dia ikut tersenyum, memperlihatkan giginya yang putih dan rapi. Aku berani bersumpah beberapa detik itu ada getaran di antara kami. "Oke, aku pergi dulu."

"Telepon aku kalau ada apa-apa."

"Siap."

Jared menjalankan mobilnya. Dia menurunkanku dekat tempat yang kucari di internet. Karena aku tidak tahu apa-apa soal negara ini, aku mencari rekomendasi klub malam di Google, dan klub ini punya ulasan yang bagus sekali.

Aku berjalan beberapa blok dan sampai di tempat itu. Bagian luarnya terang dengan lampu neon. Musik menggelegar dari dalam. Ada antrean pendek di luar dan beberapa penjaga yang memeriksa sesuatu.

"Identitas." Penjaga itu meminta ketika tiba giliranku. "Orang Jerman?"

"Ya."

Dia menatapku, lalu dokumenku.

"Silakan masuk." Dia mengembalikan dokumen itu dan memberi isyarat agar aku masuk.

Aku harus mengantre lagi untuk membayar tiket masuk. Begitu akhirnya masuk, dadaku seperti tersentak. Banyak orang menari liar. Musiknya keras sekali, lampu berkedip-kedip. Persis seperti di film, aku suka. Beberapa cowok melewatiku sambil tersenyum. Malam ini aku akan bahagia, aku ingin mengingat hari ini seumur hidup, pertama kalinya aku keluar dan bisa hidup dengan caraku sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!