Bagi Celeste Delacroix, sinar matahari adalah vonis mati. Mengidap penyakit langka, hidupnya terkurung dalam kegelapan dan selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Caelia, yang dipuja bagai dewi.
Ketika Caelia menolak dijodohkan dengan Lucian St. Claire, milyarder dingin yang bisu akibat trauma, keluarga Delacroix secara licik menumbalkan Celeste untuk menggantikan posisinya di altar pernikahan.
Di balik gaun pengantin dan rahasia besar penyakitnya, Celeste masuk ke kediaman St. Claire. Namun, Lucian yang tak bersuara justru menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bahasa luka Celeste. Di tengah kebohongan yang rapi, akankah cinta mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merubah pengantin wanita
Napas Celeste masih tersengal-sengal saat kakinya berhasil menyeberangi ambang pintu belakang kediaman Delacroix. Tepat tiga menit sebelum matahari terbit sempurna menembus ufuk timur. Beruntung, situasi rumah masih amat sepi. Orang-orang di rumah besar ini belum ada yang terbangun, kecuali Bi Sumi, kepala pelayan paruh baya yang sudah merawat Celeste sejak kecil.
Melihat Celeste masuk dalam keadaan acak-acakan dan panik, Bi Sumi yang sedang mengelap meja dapur langsung membelalakkan mata.
"Nona Celeste! Ya ampun, kok jam segini baru pulang?" berbisik Bi Sumi cemas, menyambut Celeste dengan setengah berlari.
"Ssshh... Bibi, pelan-pelan," bisik Celeste memohon. "Aku aman, Bi. Untung belum ada yang bangun."
Bi Sumi menggeleng-gelengkan kepala, menghela napas lega seraya merapikan rambut Celeste yang kusut. "Nona ini benar-benar bikin Bibi cemas setiap malam. Ya sudah, cepat masuk kamar sebelum yang lain keluar."
Celeste tersenyum tipis. Bi Sumi adalah satu-satunya pelayan yang tulus menyayanginya. Pelayan-pelayan lain di rumah ini rata-rata bersikap dingin, memandangnya sinis seperti melihat kuman yang bisa menular. Tapi Celeste tidak pernah memasukkannya ke dalam hati. Ia sudah terbiasa diabaikan dan dipandang sebelah mata.
Setelah mandi dan mengganti gaun malamnya dengan kaos kain lembut bertangan panjang serta celana santai, Celeste melangkah ke ruangan kecil yang bersambung langsung dengan kamarnya. Ruangan itu adalah studio lukis pribadinya.
Di sana, puluhan kanvas terpajang rapi. Celeste sangat suka melukis. Semua hal yang ia temui di luar, baik yang ia benci maupun yang ia cintai selalu ia tuangkan ke dalam guratan warna.
Di dalam sebuah lemari kaca khusus, terjangkau dua lukisan yang paling ia jaga, lukisan wajah Roxy dengan senyum cantiknya dan lukisan Bi Sumi yang sedang tersenyum hangat. Dua orang yang paling berharga dalam hidupnya.
Celeste mengambil kuas dan palet warna. Dengan sisa-sisa ingatan semalam, jemarinya mulai menorehkan cat di atas kanvas kosong. Ia melukis sosok Lucian St. Claire. Pria yang tak pernah ia sangka akan membagi malam paling liar bersamanya. Saat sketsa garis rahang dan mata tegas pria itu selesai dibuat, suara ketukan pintu terdengar tiga kali.
Tok! Tok! Tok.
Celeste hapal betul iramanya. Itu Bi Sumi.
Bi Sumi membuka pintu slowly, menyunggingkan senyum hangat. "Nona muda, ayo sarapan dulu. Yang lain sudah menunggu Anda di ruang makan."
"Baik, Bibi. Aku langsung turun," sahut Celeste ramah.
Ini salah satu kebiasaan aneh keluarga Delacroix. Meski mengabaikannya, mereka selalu mewajibkan Celeste ikut makan bersama. Keluarga ini belum pernah menggunakan kekerasan fisik padanya. Uang jajan Celeste pun tetap mengalir lancar setiap bulan. Hal itu yang membuat Celeste tidak bisa sepenuhnya membenci mereka.
Celeste menyusuri lorong menuju ruang makan. Lorong itu dibuat khusus dengan pencahayaan remang-remang tanpa jendela kaca terbuka, agar Celeste bisa lewat tanpa terpapar sinar matahari. Sebenarnya Celeste tahu alasan di balik perhatian aneh keluarganya, mereka hanya tak ingin Celeste sakit parah, karena sekali saja penyakit langkanya kambuh, uang keluarga akan terkuras habis untuk biaya pengobatan rumah sakit yang fantastis.
Di ruang makan, seluruh anggota keluarga sudah duduk rapi.
Ada kedua orang tuanya, Alexander Delacroix, sang kepala keluarga yang wajahnya mulai digerogoti usia namun tetap tegas, dan Chintya, ibunya yang selalu tampil elegan. Ada Caelia, kembarannya yang sangat feminin dengan rambut ditata sempurna. Lalu ada kakak perempuannya, Valerie yang berumur 25 tahun, yang baru saja menikah dengan seorang dokter bedah papan atas.
Dan terakhir, duduk di ujung meja, abang tertuanya Julian berusia 32 tahun. Pria itu memiliki wajah dingin dan pendiam. Julian sudah menikah, dan istrinya duduk di sampingnya sambil memangku anak mereka yang berumur tiga tahun. Di balik sikap dinginnya, Julian adalah satu-satunya anggota keluarga Delacroix yang sering memberi perhatian kecil secara diam-diam pada Celeste.
Celeste duduk di samping Valerie tanpa bersuara. Tak ada sapaan hangat. Mereka semua mulai makan dengan khidmat dalam keheningan yang canggung.
Setelah piring-piring dibersihkan, Alexander menaruh sendoknya dan menghembuskan napas berat.
"Nanti malam, kita akan kedatangan tamu penting," ujar Alexander memecah kesunyian. "Keluarga St. Claire akan datang ke rumah kita."
Caelia mendongak, alisnya bertaut. "Mau apa mereka ke sini, Pa?"
"Membahas pernikahanmu," jawab Alexander tegas. "Caelia, kamu akan dijodohkan dengan Lucian St. Claire."
Brak!
Caelia menepuk meja dan langsung berdiri, wajahnya memerah. "Aku tidak mau! Papa bercanda ya?! Caelia masih muda, Pa! Bakat Caelia sebagai model lagi naik-naiknya! Caelia tidak mau menikah muda!"
"Jangan membantah, Caelia!" suara Alexander meninggi. "Perusahaan kita di ujung tanduk. Kalau kita menolak, kita benar-benar bangkrut! Cuma keluarga St. Claire yang bisa menyelamatkan bisnis Papa. Papa juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba mereka mau membahas perjodohan ini lagi, padahal tadinya sudah dibatalkan."
"Tapi Caelia tetap tidak mau, Pa!" jerit Caelia frustrasi. "Masa Caelia harus menikah dengan pria bisu?! Caelia tidak mau punya suami cacat!"
Deg!
Celeste tersentak hebat di tempat duduknya. Lucian?! Pria bisu yang dimaksud Caelia... Lucian St. Claire yang semalam dengannya?!
Jantung Celeste berdegup kencang secara mendadak. Tangannya gemetaran di bawah meja, meremas kain celananya dengan sangat erat. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya yang mendadak makin pucat.
Di sudut meja, Julian secara diam-diam memperhatikan reaksi aneh Celeste. Sepasang mata tajam milik sang abang meneliti jemari Celeste yang meremas kain, lalu bibir Julian terangkat tipis membentuk senyum miring yang penuh arti.
"Kamu harus tetap menerima perjodohan ini, Caelia. Keputusan Papa sudah bulat," tekan Alexander tak ingin dibantah.
"Kenapa tidak Celeste aja, Mas?" celetuk Chintya tiba-tiba, membuat seluruh arah pandang di meja makan itu langsung tertuju pada Celeste.
Valerie tertawa sinis mendengar ucapan ibunya. "Mama bercanda? Tak ada yang mau menerima gadis berpenyakit kayak dia, Ma. Keluarga St. Claire mana mau mempunyai menantu cacat dan terkurung seperti Celeste?"
Kata-kata Valerie menghantam hulu hati Celeste bagai pukulan telak. Dada Celeste rasanya sesak dan panas. Ia ingin membalas, tapi lidahnya terasa sangat kaku.
"Valerie benar," potong Alexander dingin. "Celeste tidak bisa menggantikan Caelia karena dari awal keluarga St. Claire cuma minta Caelia. Kecuali kalau pihak sana sendiri yang minta diubah, baru Celeste bisa menggantikan."
Alexander kemudian berpaling menatap putra tertuanya. "Bagaimana menurutmu, Julian?"
Ruang makan mendadak hening. Semua menunggu tanggapan dari pewaris utama keluarga itu. Julian terdiam sejenak, menyesap kopi hitamnya dengan tenang sebelum meletakkan cangkirnya kembali.
Ia memutar pandangannya, menatap lurus ke arah Celeste yang sedang menunduk ketakutan.
"Celeste yang lebih cocok," kata Julian singkat, namun nada suaranya begitu dalam dan sarat akan penekanan.
Celeste tersentak dan mendongak, matanya bertabrakan langsung dengan tatapan Julian. Tatapan penuh arti yang membuat bulu kuduk Celeste berdiri. Kenapa Bang Julian mengatakan itu? Dan... tatapan apa itu?!