~DALAM TAHAP REVISI~
Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia sembunyikan nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, dan memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.
Hingga suatu malam Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.
Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang justru merendahkan Raras. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka Danang pantas mendapat wanita lebih cantik, lebih bergengsi, dan menguntungkan.
Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas dan pulang ke Yogyakarta.
Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini ia sembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, dan jaringan perdagangan milik keluarga Raras selama ini yang diam diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.
Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 — Ruang Sidang Pertama (Revisi)
“Mbak, Mas Danang rawuh piyambak (datang sendiri). Pengacaranya malah di sana, bareng Pak Surya.”
Pak Sumarno berbisik sambil menunjuk dengan dagu. Senin pagi, pukul delapan lewat dua puluh, lorong depan ruang sidang berbau lantai yang baru dipel. Di bangku kayu panjang, Danang duduk sendirian dengan tas ransel di pangkuan. Di ujung lorong, Surya berdiri bersama Marlina dan seorang lelaki berjas abu-abu yang memegang map tebal.
“Itu Pak Haryanto?” tanya Raras.
“Nggih, Mbak. Pengacara keluarga Prasetya. Beliau yang mendaftarkan gugatan itu atas nama Mas Danang.”
“Mas Danang tahu isinya?”
“Kalau tahu, mestinya beliau tidak duduk sendirian, Mbak.”
Raras mengangguk. Telapak tangannya dingin. Ia menyelipkan jari-jarinya ke lipatan kain supaya tidak terlihat gemetar. Di jarinya tidak ada cincin, dan sejak Rabu ia masih sesekali meraba tempat kosong itu, seolah tangannya belum terbiasa.
“Ras.”
Marlina sudah berdiri di depannya. Kebayanya ungu tua, rapi, tetapi matanya sembap.
“Selamat pagi, Bu.”
“Kamu tega, ya.” Suara Marlina bergetar. “Kamu bikin anakku duduk di bangku lorong tanpa keluarga.”
“Saya tidak menyuruh Mas Danang duduk di mana pun, Bu. Saya datang karena dipanggil.”
“Kamu bisa mencabut ini semua kalau mau.”
“Gugatan itu bukan dari saya, Bu.” Raras menjaga suaranya tetap rendah. “Kalau Ibu ingin tahu siapa yang mendaftarkannya, Ibu bisa bertanya kepada Bapak.”
Marlina membuka mulut, lalu menutupnya. Ia menoleh ke arah suaminya. Sesaat, bahunya turun, seolah baru menyadari bahwa ada hal yang tidak bisa diselesaikan dengan menyalahkan Raras.
“Ras.” Danang sudah berdiri dari bangkunya, ranselnya dipeluk di depan dada. “Aku sudah baca bukunya sampai halaman terakhir.”
“Semuanya, Mas?”
“Semalam, sampai subuh. Aku hitung ulang tiga catatan Bu Warsih.” Ia tertawa kecil, tetapi tawanya cepat hilang. “Angkanya benar. Semua benar, Ras.”
“Bu Warsih memang tidak pernah salah hitung.”
“Aku datang pagi-pagi supaya Bapak tidak sempat bicara denganku.”
“Bapak tetap datang.”
“Iya.” Danang melirik ke ujung lorong. “Tapi hari ini aku mau bicara sendiri. Apa pun yang terjadi, kamu lihat aku bicara sendiri.”
Raras mengangguk. Ia belum tahu apakah Danang akan sanggup mempertahankan sikapnya setelah berhadapan langsung dengan Surya. Namun, pagi ini ia tidak ingin mendahului keputusan Danang dengan prasangka. Ia hanya meraba tempat cincin yang kosong itu sekali lagi.
“Perkara Danang Setiawan dan Raras Pramesti!” seru petugas dari pintu.
Ruangan itu lebih kecil dari yang Raras bayangkan. Meja hakim di depan, kursi-kursi kayu di sisi kiri dan kanan, kipas angin berputar lambat di langit-langit. Raras duduk di sisi kanan bersama Pak Sumarno. Di seberang, Danang duduk sendiri. Surya dan Pak Haryanto berada di baris belakangnya.
Hakim ketua, seorang perempuan paruh baya berkacamata, membuka berkas tanpa tergesa.
“Sebelum sidang dimulai, saya periksa kehadiran. Penggugat, Saudara Danang Setiawan?”
“Hadir, Yang Mulia.”
“Kuasa hukum penggugat hadir?”
Pak Haryanto berdiri. “Haryanto, Yang Mulia. Kami mewakili Saudara Danang.”
“Saudara Danang.” Hakim menurunkan kacamatanya. “Benar Anda memberi kuasa kepada beliau?”
Danang berdiri. Kursinya berderit, dan Raras melihat jari-jarinya mengepal di sisi celana.
“Tidak, Yang Mulia.”
Ruangan mendadak hening. Di belakangnya, Surya bergerak.
“Maksud Saudara?”
“Saya tidak menandatangani surat kuasa itu. Gugatan itu didaftarkan tanpa sepengetahuan saya.” Danang menelan ludah. “Mulai hari ini saya mencabut kuasa itu, dan saya mohon dicatat.”
“Nang!” Suara Surya terdengar tajam. “Kowe ojo goblok (Kamu jangan bodoh)!”
“Pak Surya, harap tenang,” kata hakim tanpa menaikkan nada.
“Maaf, Yang Mulia. Dia anak saya, dia sedang tidak waras.”
“Saudara Danang, Anda sadar apa artinya mencabut kuasa?”
“Sadar, Yang Mulia.” Danang menegakkan bahunya. “Artinya yang berbicara di ruangan ini hanya saya.”
Raras menekan kuku ibu jarinya ke telapak tangan. Matanya panas, tetapi ia mengedip sekali dan kembali memandang meja hakim. Danang sudah mengambil langkahnya sendiri. Ia tidak ingin mengganggu dengan menunjukkan apa yang sedang dirasakannya.
“Baik.” Hakim membuka halaman lain. “Pak Haryanto, silakan duduk. Saudara Danang, saya perlu bertanya satu hal. Anda masih ingin bercerai?”
“Yang Mulia, bolehkah saya menjelaskan?”
“Silakan.”
“Surat cerai itu memang saya yang menulis. Saya yang minta, Senin malam, sebelum surat ini ada.” Suaranya serak, tetapi tidak goyah. “Saya tidak akan menyangkal. Tapi sekarang saya tidak lagi yakin itu keputusan yang benar, dan saya tidak mau keputusan itu diambil orang lain atas nama saya.”
“Jadi Anda ingin mencabut gugatan?”
“Saya ingin waktu, Yang Mulia. Dan saya ingin Raras yang menentukan.”
“Yang Mulia!” Surya berdiri lagi, kali ini tanpa menunggu izin. “Perempuan itu hanya diam saja dari kemarin, karena dia sudah punya cukup. Makanya dia tidak minta apa-apa!”
“Pak Surya, Anda belum dipersilakan bicara.”
“Saya ayahnya, Yang Mulia!”
“Dan saya hakim di ruangan ini, Pak.” Nada hakim tetap datar, tetapi Pak Haryanto langsung menarik lengan baju Surya. “Duduk, atau saya minta petugas mengantar Anda keluar.”
Surya duduk dengan napas berat. Raras mendengar kursinya berderak, tetapi ia sengaja tidak menoleh.
Pak Sumarno menyentuh siku Raras. Hakim menoleh kepadanya.
“Saudari Raras. Sebagai tergugat, bagaimana sikap Anda?”
Raras berdiri. Kainnya bergesek di lutut, dan tenggorokannya menyempit, seperti pada pagi-pagi pertama setelah Senin malam itu. Ia menarik napas dan menunggu sampai rasa sesak itu mereda.
“Yang Mulia, saya tidak menggugat dan tidak menuntut apa pun.”
“Tidak ada tuntutan?”
“Tidak ada, Yang Mulia. Soal harta, soal nafkah, soal nama. Saya tidak minta apa-apa.” Ia berhenti sebentar. “Saya hanya meminta satu hal. Kalau perkara ini berjalan, berjalanlah dengan benar. Lewat mediasi, dengan keputusan dari orang yang bersangkutan sendiri, bukan dari keluarganya.”
“Anda menolak bercerai?”
“Saya tidak menolak, Yang Mulia. Permintaan itu datang dari suami saya, dan saya menjawabnya dengan tidak mengambil apa pun.” Suaranya sedikit bergetar di ujung. “Tapi saya juga tidak mau menjadi alasan seseorang dipaksa memilih.”
Hakim memandangnya lama, lalu mencatat sesuatu.
“Saudari Raras, Anda yakin?”
“Yakin, Yang Mulia.”
“Yang Mulia, izinkan saya keberatan.” Pak Haryanto berdiri lagi. “Tergugat tidak menuntut apa pun justru mencurigakan. Biasanya ada alasan di baliknya.”
“Alasannya sudah ia sebutkan, Pak Haryanto. Atau Anda keberatan dengan alasan yang jujur?”
“Bukan begitu, Yang Mulia ...”
“Kalau begitu catat saja.” Hakim kembali menunduk ke berkas. “Saudara Danang, Anda boleh mengusulkan mediator. Saudari Raras, apakah Anda keberatan jika yang menentukan nama mediator itu penggugat?”
“Tidak, Yang Mulia.”
“Tidak keberatan sama sekali?”
“Tidak, Yang Mulia. Kalau Mas Danang yang memilih, dia tidak akan bisa bilang ia dipaksa.”
Hakim menahan sesuatu di sudut bibirnya, mungkin senyum, mungkin hanya batuk kecil.
“Pak Surya.” Hakim mengangkat wajah. “Gugatan ini diajukan atas nama pihak yang tercantum, tetapi penggugat sendiri belum menegaskan keinginannya. Saya perintahkan mediasi. Sidang saya tunda dua minggu.”
“Yang Mulia, ini penghinaan ...”
“Ini prosedur, Pak. Silakan duduk.”
Palu kecil mengetuk meja satu kali.
Orang-orang berdiri. Raras merapikan tasnya. Jemarinya baru berhenti gemetar setelah ia menggenggam gagang tas itu kuat-kuat.
“Mbak, kuat?” bisik Pak Sumarno.
“Kuat, Pak. Tapi nanti saya minta teh.”
“Njenengan mboten nuntut punapa-punapa (Anda tidak menuntut apa-apa). Panjenengan tahu itu bikin Pak Haryanto kehilangan pijakan?”
“Saya tahu, Pak. Saya tidak datang untuk menang di ruangan ini.”
“Lalu untuk apa, Mbak?”
“Supaya semua yang bicara di sini bicara dengan namanya sendiri.”
“Nggih, Mbak.” Pak Sumarno tersenyum kecil. “Itu mungkin kemenangan yang paling sulit dihitung.”
Di lorong, Danang melangkah ke arahnya. Raras berhenti saat ia mendekat.
“Dua minggu, Ras. Aku akan cari mediator yang netral sendiri.”
“Pilihlah siapa pun yang adil, Mas. Aku ikut.”
“Kamu tidak takut aku berubah pikiran lagi?”
“Takut,” jawab Raras jujur. “Tapi aku lebih takut kalau kamu berubah pikiran karena aku yang menyuruh.”
“Itu bukan jawaban yang gampang dibantah.”
“Memang bukan.”
Danang baru membuka mulut lagi ketika tangan Surya mencengkeram lengannya.
“Ikut Bapak, Nang.”
“Pak, saya belum selesai bicara dengan Raras.”
“Kamu sudah bicara cukup di dalam, Nang! Ojo mempermalukan Bapak maneh (Jangan mempermalukan Bapak lagi)! Kamu bikin malu bapakmu di depan hakim!” Wajah Surya merah, urat di lehernya menonjol. “Pulang sekarang. Kalau kamu pilih dia, jangan pernah injak rumah itu lagi!”
Danang memandang tangan ayahnya yang mencengkeram lengan, lalu menatap wajah Surya.
“Saya sudah lama tidak merasa pulang di rumah itu, Pak. Bapak tidak tahu, karena Bapak tidak pernah bertanya.”
“Nang, ayo, Nak,” bisik Marlina di belakang suaminya, suaranya nyaris hilang. “Jangan di sini.”
“Bu, saya ...”
“Ayo, Nang.” Marlina tidak berani memandang Raras.
Surya terdiam sesaat. Lalu ia menarik Danang sekuat tenaga ke arah tangga. Danang sempat menoleh ke belakang, tepat ke mata Raras, sebelum tubuhnya hilang di tikungan.
Raras tetap berdiri di tempatnya. Ia tidak memanggil Danang dan tidak mengejarnya. Dua minggu bukan waktu yang lama, tetapi untuk pertama kalinya, keputusan berikutnya harus datang dari Danang sendiri.
lanjuut
🙏💪