NovelToon NovelToon
Surat Wasiat Kakek Robert

Surat Wasiat Kakek Robert

Status: tamat
Genre:Obsesi / Nikah Kontrak / Romansa / Tamat
Popularitas:29.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Irma

Kakek Robert memang orang yang senang melucu, saking lucunya sampai membuat surat wasiat yang mensyaratkan musuh bebuyutan, Jenson dan Rachel, harus tinggal dalam satu atap dan mereka harus menikah.

Padahal setiap kali mereka bertemu, kata-kata setajam pisau akan melesat dan menusuk harga diri mereka. Enam bulan bukan waktu yang singkat dan 150 miliar bukan jumlah yang sedikit. Apalagi warisan sebesar itu hanya diturunkan kepada mereka berdua, bukan kepada saudara-saudara kakek Robert.

Bulan pertama merupakan bulan yang terberat di mana mereka harus saling bertoleransi. Di bulan itu pula juga mereka mulai menyadari percikan gairah yang muncul. Tapi tidak semuanya berjalan lancar karena ternyata ada seseorang yang menginginkan kematian mereka berdua dan memperoleh warisan Kakek Robert…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chaper 19

Rachel mulai menggertak, sejenak tertegun, lalu tersenyum. Senyum perlahan nan licik yang selalu membuat Jenson terkagum. “Tidak,” akunya. “Kau kan menulis cerita detektif jadi bagaimana haruskah kita mencari petunjuk?”

Bibir Jenson tersenyum tipis ingin mengolok-olok. “Aku tak sempat membawa kaca pembesarku.”

“Kau bisa nyaris mengagumkan kalau menempatkan pikiranmu di sana.” Sambil beranjak bangkit, Rachel mulai menyorotkan senternya ke sana kemari. “Mungkin dia menjatuhkan sesuatu.”

“Selembar kartu nama?”

Rachel, tiba-tiba berlutut dan melongok ke kolong tempat tidur. “Aha!” Masih melongok, ia meraih sesuatu.

“Apa itu?” Jenson sudah berada di sampingnya sebelum gadis itu meluruskan tubuh.

“Sepatu.” Rachel menggenggamnya dengan kedua tangan. “Bukan apa-apa. Ini milik Kakek Robert.”

“Aku merindukannya," ujar Jenson.

Rachel duduk sejenak dengan sepatu butut di pangkuannya. “Kau tahu, terkadang seolah-olah aku bisa merasakannya. Seakan-akan dia ada di pojokan, di kamar sebelah, menunggu untuk muncul dan menertawakan lelucon hebat yang dimainkannya.”

Tertawa singkat, Jenson mengusap-usap punggung Rachel. “Aku paham maksudmu.”

Rachel menatapnya, mantap, mengira-ngira. “Mungkin kau memang paham,” gumamnya. Diraihnya sepatu itu dari kolong tempat tidur dengan cepat, kemudian bangkit. “Aku mau melihat-lihat isi lemari.”

“Beritahu aku kalau kau menemukan kue.” Jenson membalas tatapan Rachel dengan mengangkat bahu. “Pada tahap awal berhenti merokok."

“Kau mestinya mencoba mengunyah permen karet.” Rachel membuka lemari dan menyorotkan senternya ke beberapa stoples dan kaleng yang ada di dalamnya. Terdapat selai kacang, wadahnya bulat pendek, dan kaviar Rusia. Dua kudapan favorit kakek. Pandangannya menyapu saus taco dan koktail buah ukuran besar, mengenang kakeknya yang berusia sembilan puluh tiga tahun itu punya selera makan sebesar seorang remaja. Ia mengulurkan tangan, Rachel meraih salah satu kaleng dan mengangkatnya.

“Aha!”

“Lagi?”

“Ikan tuna,” Rachel mengumumkan seraya mengacung-acungkan kaleng itu ke arah Jenson. “Ini sekaleng tuna.”

“Kau benar sekali. Ada mayo-nya, tidak?”

“Jangan berpikir dangkal begitu, Jenson. Kakek Robert benci tuna.”

Jenson mulai merutukkan sesuatu yang sarkastis, lalu berhenti. “Dia memang membencinya, kan?” ucapnya lirih. “Dan dia tak pernah menyimpan Sesuatu yang tidak disukainya.”

“Tepat sekali.”

“Selamat, Sherlock. Sekarang siapa dari para tersangka yang senang pada ikan kaleng?”

“Kau cuma iri karena aku menemukan petunjuk dan kau tidak.”

“Itu cuma petunjuk,” Jenson menekankan, agak kesal karena dikalahkan seorang amatir, “kalau kau bisa melakukan sesuatu terhadapnya.”

Jenson tak pernah memberinya pujian, pikir Rachel, terhadap segalanya, tidak terhadap karyanya, intelektualitasnya, bahkan juga kewanitaannya. Ada nada sebal dalam nada suara Rachel saat ia mulai berbicara. “Kalau kau begitu pesimis, kenapa jauh-jauh datang ke sini?”

“Aku berharap menemukan seseorang.” Gelisah, Jenson menyorotkan senternya dari satu sisi dinding ke sisi yang lain. “Sejauh ini yang telah kita lakukan hanyalah membuktikan bahwa seseorang pernah ada di sini dan sekarang tidak lagi.”

Rachel mencampakkan kaleng tuna itu dengan kesal. “Buang-buang waktu.”

“Seharusnya kau tidak mengikutiku.”

“Aku tidak mengikutimu.”

Rachel mengarahkan senternya pada Jenson. Ia tampak terlalu lelaki, terlalu berbahaya dalam bayangan. Rachel berharap, ia sendiri yang memiliki tubuh bagus dan gaya menakjubkan yang sanggup membuat Jenson terenyak lemas di lututnya. Napas mereka menderu-deru, seolah menyatu.

“Setahuku, kau yang mengikutiku.”

“Oh, begitu. Itulah kenapa aku lebih dulu sampai di sini.”

“Lupakan itu. Kalau kau berencana datang ke sini malam ini, kenapa kau tidak mengatakannya kepadaku?”

Jenson datang mendekat. Tapi jika ia terlalu dekat dengan Rachel, cermatnya, ia mulai merasakan sesuatu, semacam getaran di sekujur tubuhnya. “Dengan alasan yang sama dengan mengapa kau tidak mengatakannya kepadaku. Aku tidak percaya padamu, Sepupu. Kau tidak percaya padaku.”

“Setidaknya kita sepakat pada satu hal.” Rachel mulai melangkah meninggalkannya dan mendapati lengannya dicekal. Dalam satu gerakan cepat, ia menundukkan wajahnya untuk mengamati tangan Jenson, lalu mendongak untuk menatap wajahnya. “Itu kebiasaan yang mestinya kau coba hilangkan, Jenson.”

“Kata pepatah, jika kau menghilangkan satu kebiasaan, kau menciptakan kebiasaan lain.”

Nada dingin dalam suara Rachel tak pernah berubah, tapi darahnya terasa memanas. “Begitu?”

“Kau lebih mudah disentuh dari pada yang kukira, Rachel.”

“Jangan sembarangan kalau bicara, Jenson. Aku tidak pernah di sentuh oleh pria mana pun.” Rachel mengambil satu langkah ke belakang, bukan langkah mundur, katanya pada diri sendiri. Itu cuma sebuah gerakan yang menyerang. Tapi tetap saja Jenson mengikuti geraknya.

“Aku tidak pernah bertanya soal kehidupan se*smu.” Saat Rachel mundur selangkah lagi, Jenson memojokkannya dengan cantiknya. Sebelah tangan Rachel diselipkan ke saku, kaleng hair spray itu digenggamnya erat-erat. “Biar kutebak. Kau memilih pria dengan serangkaian inisial di belakang namanya yang lebih banyak berfilosofi tentang se*s dibandingkan dengan melakukannya.”

“Jangan sok tahu, aku tidak pernah tidur dengan pria mana pun, meski aku terlihat sering jalan dengan pria.....”

Jenson membungkam mulut Rachel dengan cara yang sering dibayangkannya. Dengan mulutnya sendiri.

Kali ini ciuman itu bukan sebuah ujian, tapi sesuatu yang panas, menggairahkan, nyaris mendekati keputusasaan. Apa pun yang mungkin dirasakan Rachel, akan dikemukakannya nanti saja. Sekarang ia akan menerima pengalaman itu. Mulut Jenson terasa hangat, kokoh, dan ia menggunakannya dengan keyakinan diri khas lelaki yang pada saat lain pasti akan membuat Rachel marah besar. Kali ini Rachel menyambutnya dengan mulutnya sendiri.

Jenson sungguh kuat, melakukannya bertubi-tubi. Untuk pertama kalinya Rachel merasakan dirinya berhadap-hadapan dengan seorang pria yang takkan memperlakukannya dengan lembut. Jenson menuntut, mengharap, dan memberikan raga yang sungguh tak terbatas. Rachel tidak perlu berpikir matang-matang selama ciuman itu. Ia bahkan tak perlu memikirkan apa pun.

Jenson mengharapkan Rachel memukul balik dan balas meninjunya. Respons cepat dan sigap Rachel membuatnya terhuyung-huyung. Sesudahnya ia akan terkenang pada sesuatu yang teramat mendasar dan sederhana seperti sebuah kecupan yang membuat kepalanya berputar.

Rachel mempersiapkan pukulannya, tapi ia melakukannya dengan bibirnya yang lembut. Kalau ia tahu betapa cepatnya ia bisa meng-KO Jenson, akankah ia berbangga hati? Jenson takkan memikirkan itu sekarang. Pria itu takkan memikirkan apa pun sekarang. Tanpa keraguan sedikit pun, dikuburnya akal sehatnya dalam diri Rachel dan membiarkan perasaannya berkuasa.

Pondok itu dingin dan gelap tanpa secercah pun sinar rembulan percintaan. Bau asap mati serta debu merebak di setiap sudutnya. Angin berembus, membuat jendela-jendelanya berderak. Tak ada seorang pun dari mereka berdua yang memperhatikan. Bahkan ketika saling melepaskan diri, tak ada seorang pun yang memperhatikan.

Keadaan Jenson tidaklah mantap. Itu sesuatu yang akan dipikirkannya nanti. Setidaknya ia mendapatkan kepuasan melihat Rachel juga tidak mantap. Wanita itu terlihat seperti yang dirasakan Jenson, terkesima, tidak seimbang, dan tak mampu menyiapkan diri untuk mendaratkan pukulan selanjutnya. Membutuhkan sedikit keseimbangan diri, Jenson menyeringai padanya.

“Tadi kau mengatakan apa?”

Rachel ingin menghantamnya. Ia ingin mencium Jenson lagi sampai pria itu tak punya kekuatan lagi untuk menyeringai. Jenson mengharapkannya berlutut di kakinya seperti yang mungkin dilakukan oleh wanita lain. Ia mengharapkan Rachel mendesah dan tersenyum serta menyerah supaya ia mendapatkan satu korban lagi. Tapi Rachel malah membentak, “Idiot.”

“Aku suka kalau kau berterus terang.”

“Ingat peraturan nomor lima,” sebut Rachel sambil memasang tampang pembunuh, “Tidak boleh ada kontak fisik.”

“Tidak ada kontak fisik,” Jenson mengiyakan saat Rachel bergegas menuju pintu keluar, “kecuali kedua belah pihak menikmatinya.”

Rachel membanting pintu dan meninggalkan Jenson yang menyeringai.

1
Christ Mlg
👍🏻
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Wahh Rachel punya bodyguard sekarang siapa yang mengganggu Rachel akan berhadapan dengan Bruno si anjing jelek dan kejam 😊
🏡s⃝ᴿ 🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
Happy ending, cerita nya menarik. di mana mana yg nama harta warisan pasti di perebutkan. ku alami sendiri dalam keluarga suamiku, itu harta sedikit, apalagi kalau harta nya banyak. kalau berurusan dgn harta warisan orang pun pasti menginginkan nya. meributkan.

selamat kk irma, sukses selalu 🥰🥰🥰
🏡s⃝ᴿ 🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
jebakan nya langsung mengena, good
🏡s⃝ᴿ 🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
aku membayangkan kalung dan anting nya Rachel, aku yg pakai cantik kali ya🤭🤭🤭🤭
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
mereka bersekongkol & saling membongkar. tapi pemenangnya tetap jenson & Rachel. keren kakIR
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
gempar, gaduh. tapi pembunuh belum ditemukan
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
moment luar biasa. mengundang pembunuh ke rumah.
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
pasti Rachel panik akan bertemu para saudara
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
jangan pernah mikir cerai Rachel. itu cinta ❤
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
semua di sketsa itu bersekongkol.
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
kalian harus semakin waspada. pondok yg dulu belum lagi diperiksa
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
para lawan semakin brutal. semoga mereka bisa bertahan
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
pelan2 harapan jessica & nyoman berjalan lancar
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
jaga2 dengan bor. pinter Rachel.. 😁😁
🏡s⃝ᴿ 🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
mungkin dgn mengundang mereka, siapa tau akan terbongkar semua misteri selama ini
🏡s⃝ᴿ 🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
demi harta orang melakukan berbagai hal utk mendapatkan nya, apa lagi harta warisan yg mudah di dapat tampa bekerja
🏡s⃝ᴿ 🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
jenson dan Rachel pasangan anehh
🏡s⃝ᴿ 🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
Rachel wanita kuat, hebat dan keras kepala 🤭
🏡s⃝ᴿ 🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
mana ada orang siap mau mati🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!