Kirana, gadis berusia 20 tahun yang baru saja menginjak semester tiga di kampusnya, ternyata sudah pernah menikah dan bercerai.
Rian, Dosen Fisika paling killer se-kampus yang biasanya hanya mengajar mahasiswa tingkat akhir dan S2, malah tiba - tiba menjadi dosen Kirana.
Siapa sangka, dosen killer itu adalah Rian yang sama yang pernah menikahi dan menceraikannya tiga tahun yang lalu.
Saat hatinya sudah mantap melupakan masa lalu, Kirana justru bertemu kembali dengan orang yang paling dia hindari selama ini.
Apakah Kirana masih mengharapkan cinta Rian?
Atau Kirana justru berpaling pada Radit, sang Ketua BEM yang menaruh hati padanya?
Mungkinkah Kirana justru bermain hati dengan Raka, mahasiswa baru dari luar negeri yang tiba - tiba jadi pacar pura - puranya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hermosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Sakit?
Suasana kelas di pagi hari di sebuah kampus negeri di kota besar. Begitu sepi, dalam satu kelas hanya terlihat 3 sampai 5 orang mahasiswa yang duduk. Ada yang sambil membaca buku dan sisanya mempelajari bahan sebelum diajarkan.
Sedangkan beberapa orang yang lain berkumpul di kantin mengerjakan tugas bersama. Mereka berkolaborasi untuk soal - soal yang menurut mereka sulit untuk dipecahkan sendiri.
“Eh ... lo kan yang tabrak gue di toko aksesoris kompuiter waktu itu? Lo, Raka, kan? Mahasiswa yang baru pindah dari luar negeri itu.”
Hal langka yang sangat jarang terjadi. Hari ini Kirana berangkat begitu pagi ke kampus. Biasanya dia memang senang datang pagi, tetapi kalau memang hari itu, dia memiliki kelas pagi.
Tetapi, hari ini jelas dia tidak memiliki kelas pagi sama sekali. Kelasnya baru akan dimulai pukul 1 siang nanti.
Hal yang pertama diincar oleh Kirana saat datang pagi ke sekolah adalah ruangan BEM. Dia merasa banyak sekali meninggalkan to do list yang harus dia lakukan. Namun, kumpulan beberapa mahasiswa di kantin menarik perhatiannya. Alhasil, dia menemukan Raka yang masih seorang diri di jalan penghubung menuju kantin. Laki - laki itu sedang mendengarkan musik menggunakan earphonenya.
“Kenapa tiba – tiba lo?”, Raka melepas earphone nya karena kesal Kirana terus memandangi kakinya.
“Gue tahu elo yang tabrak gue di toko aksesoris komputer begitu aja. Kenapa lo main pergi gitu aja? Udah tukang nguping, main nabrak orang sembarangan, terus selalu saja muncul di tempat - tempat yang tidak di duga. Kaki lo kenapa?”, entah sedang marah atau tidak.
Kirana tiba - tiba menurunkan volume suaranya saat melihat kaki Raka yang diperban.
“Bukannya elo yang nabrak, elo yang jalan nggak liat – liat?”, balas Raka menyeimbangkan volume suara Kirana.
“Kaki lo kenapa? Waktu itu juga lo kesakitan banget, padahal kena kaki gue dikit. Seharusnya, gue yang mengaduh kesakitan, karena jelas - jelas elo yang nabrak duluan. Kenapa malah bilang gue jalannya yang ga hati - hati.”, Kirana segera mengalihkan pembicaraan begitu dia terlihat bersalah.
“Dikit lo bilang, ini hampir aja udah bikin kulit betis gue robek.”, balas Raka.
Kali ini dia seolah tidak mau kalah. Raka bahkan berdiri tegak untuk menyeimbangkan tinggi Kirana. Tidak, tentu saja dia yang lebih tinggi dibandingkan dengan Kirana.
“Kaki lo kenapa di perban? Lagi cosplay jadi mumi. Sekarang buktinya, lo bisa berdiri tegak sempurna. Ikut upacara juga kayanya lo ga masalah. ”, Kirana segera duduk di bangkunya dan memutar pandangannya masih menghadap ke arah Raka.
“Kena pecahan kaca. Kenapa? Bisa berdiri, tapi sakit.”, balas Raka menjawab dengan setengah hati.
Melihat Kirana duduk, dia juga ikut duduk di sampingnya.
“Oh. Berarti bukan salah gue dong. Ngomong – ngomong lo selalu datang pagi – pagi gini? Buat nguping pembicaraan orang?”, komentar Kirana sekarang menyerang poin lain yang membuatnya kesal dan curiga dengan Raka.
“Enak aja lo. Lagian, kuping juga kuping gue. Kalau gue dengar, berarti gue hanya memfungsikan kuping gue dengan baik. Kalau ga mau omongan lo di dengar orang lain, lebih baik bicara sambil berbisik - bisik. Bicara seperti pakai toak begitu. Orang lain di radius 1 km juga bisa dengar.”, balas Raka kembali.
“Hah.. capek juga ya, bicara sama lo. Sudahlah. Gue bilangin, apa yang lo lihat itu bukan berarti seperti yang lo pikirkan. By the way, kejadian kemarin gimana? Kenapa lo bisa jalan bareng ama pacarnya si Radit.”, Kirana menanyakan pertanyaan lain yang tiba - tiba teringat di kepalanya.
“Yang harusnya nanya itu gue, kenapa lo bisa jalan ama pacarnya Fay.”, alih - alih menjawab, Raka malah balik bertanya.
“Ada hubungan apa lo ama pacarnya Radit?”, Kirana begitu tertarik menanyakannya.
Ia hanya merasa mereka seperti punya hubungan khusus dan memang itu yang diharapkannya. Jika Fay juga selingkuh, toh masalah dia jalan bareng Radit juga kelar. Cewek satu itu harus tahu diri.
“Dia punya nama.”, balas Raka seolah membela Fay.
“Lo cemburu gue panggil dia dengan PACAR RADIT.”, Kirana memberikan sedikit penekanan pada kata itu.
“Ngajak ribut ya lo. Dia temen gue kenapa?”, balas Raka.
“Dari perancis juga?”, tanya Kirana.
“Enggak temen gue dulu waktu masih tinggal di Indonesia.”, Raka membalas sambil menolak untuk berhadapan dengan Kirana.
“Oh ... cinta lama bersemi kembali.”, Kirana berkata sesuka hatinya. Ia juga tak berniat melanjutkan obrolannya karena beberapa teman kelasnya sudah mulai berdatangan. Termasuk Ghea.
Hanya dalam waktu 15 menit, seluruh mahasiswa sudah banyak yang mengerumuni area kantin. Kirana tidak ingin terlihat dekat dengan Raka. Nanti malah menimbulkan pertanyaan lagi. Dia jalan dengan Radit saja, Ghea sudah heboh seperti menang lotre. Apalagi kalau dia terlihat berbicara dengan Raka.
“Ran… Kok lo tumben udah datang pagi - pagi. Hari ini bukannya kelas lo siang, ya? Kenapa udah datang aja?”, tanya Ghea bingung.
Di tangannya, Ghea memegang dua buah buku. Kelas yang hanya beberapa putaran dari kantin itu adalah kelasnya. Kirana sudah mengambil kelas ini semester lalu. Sementara Ghea harus rela mengulang.
“Barusan lo ngomong sama anak baru itu? Wah.. ada apa nih? Ada kedekatan apa?”, tanya Ghea kembali.
Kirana belum lagi menjawab pertanyaannya tapi Ghea sudah menghujaninya dengan banyak pertanyaan.
“Bukan urusan lo.. Heboh lagi nih entar. Udah sana masuk kelas.”, ucap Kirana mendorong Ghea untuk segera berhembus dari sana.
“Jadi, lo ngapain disini pagi - pagi?”, tanya Ghea lagi.
“Gue ada urusan. Udah sana.”, ucap Kirana.
“Jangan bilang lo mau ketemu Pak Rian lagi.”, tebakan Ghea memang selalu benar.
‘Tidak.. Bukan.. Tebakan Ghea tidak selalu benar, kok.’, Kirana langsung menggeleng - gelengkan kepalanya.
“Gue hari ini sibuk. Ga punya waktu untuk meladeni imajinasi gosip dari lo. Udah sana. Telat, lo ngulang lagi loh semester depan.”, kata Kirana menakut - nakuti.
“Ih.. ga seru banget sih, pake ngancem segala.”, Ghea langsung berlari menuju kelasnya.
Perkataan Kirana tadi jelas membuatnya sangat takut.
************
Tok tok tok tok
Tidak seperti biasanya, pintu ruangan dosen Fisika tertutup. Padahal, biasanya meski masih pagi pun, pintu itu masih terbuka.
“Yaa masuk.”, teriak seseorang dari dalam sana.
Kirana membuka pintu itu perlahan karena mengantisipasi siapa dosen yang sedang berada di dalam.
‘Oh?’, Kirana sedikit bingung karena tidak ada Rian disana.
Hanya ada dua orang dosen. Satunya dia tidak kenal. Mungkin dosen Fisika tapi untuk mahasiswa S2.
“Cari siapa?”, tanya seorang dosen wanita yang tidak dikenal oleh Kirana.
“Maaf, Bu. Pak Riannya sudah datang?”, tanya Kirana hati - hati.
“Oh.. Rian izin sakit hari ini. Kemarin dia juga tidak datang.”, ucap dosen yang satu lagi. Dosen pria yang duduknya pas di samping meja Rian.
“Oh? Rian sakit? Sejak kapan?”, tanya dosen wanita itu kaget.
“Kemarin. Dia sempat masuk untuk mengajar S2 kemudian mengeluh demam dan pulang.”, jawab dosen yang laki - laki.
“Kenapa tidak mengatakannya dari tadi.”, kata dosen wanita.
“Kamu tidak tanya. Memangnya kenapa?”, balas dosen pria.
“Kamu gak mau jenguk?”, tanya dosen yang wanita.
“Memangnya kamu tahu rumahnya dimana?”
Kedua dosen itu seolah melupakan keberadaan Kirana yang sudah berdiri disana menyaksikan percakapan mereka.
“Permisi, Pak, Bu. Kalau begitu saya pamit dulu.”, ucap Kirana langsung undur diri teratur sambil menutup pintunya kembali.
‘Hm.. Kak Rian sakit?’, pikirnya dalam hati.
udah nunggu stgh tahun kyknya...
hihiii wkwkwk
ayo thor kirananya cpt2 dikasih hidayah
aqu pusinggg lht ego Rana..
lbh pusingggg lg nunggu kak. mosa nih..
up nya luamaaaaaaaa🤭🤣
kak Mosa..
dikit amat...
nunggunya luamaaaa.... 😩
ditunggu up nya
kpn la ini MPnya???
maju mundur trussss
😏😃🤣