Misya dan Reyden menikah selama dua tahun. pernikahan yang mereka jalani karena perjodohan, tak ada masalah dalam rumah tangga mereka yang monoton itu.
namun menjelang pernikahan ke dua mereka, ternyata Misya baru tahu kalau Reyden belum menerima dan bisa mencintai dia bukan karena belum siap. tapi karena hatinya masih ada pada wanita masa lalunya yang akhirnya kembali.
apakah Reyden akan kembali kepada wanita di masa lalunya atau mungkin dia mulai menyadari cintanya kepada Misya?
ikuti terus kelanjutan kisah cinta mereka ya kak...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misya 5
Misya memilih untuk kembali menatap ke luar jendela, membiarkan lampu-lampu jalanan kota yang berpendar buram menemani isi kepalanya yang berkecamuk. Rasa penasaran itu memang masih menyiksa, bercampur dengan sedikit rasa nyeri di dadanya. Namun, ia tahu betul karater suaminya. Memaksa Reyden berbicara di saat pria itu sedang menutup diri hanya akan memperkeruh keadaan.
Tak lama kemudian, kendaraan roda empat itu memasuki halaman rumah mereka. Mesin dimatikan, dan lampu kabin padam.
Tanpa sepatah kata pun, Reyden keluar lebih dulu dari mobil, berjalan mendahului masuk ke dalam rumah. Misya menyusul di belakangnya dalam diam. Langkah kaki mereka terdengar bergeming di lantai rumah yang sunyi.
Tidak ada ucapan selamat malam. Tidak ada pelukan seperti malam-malam sebelumnya. Hanya ada jarak nyata yang membentang di atas ranjang yang sama. Misya menatap punggung suaminya dalam gelap, mengerjap pelan menahan sesak di tenggorokannya, sebelum akhirnya ikut memejamkan mata, membiarkan lelah fisik dan mental membawanya ke alam tidur.
Pagi menjelang. Sinar matahari pagi merangsek masuk melalui celah gorden kamar, menyinari lantai kamar yang bersih.
Alarm ponsel berdering nyaring. Misya membuka matanya, mengerjap beberapa kali untuk mengumpulkan kesadaran. Di sampingnya, tempat tidur sudah kosong. Sisa kehangatan tubuh Reyden di bantal sebelahnya sudah menguap, menandakan suaminya sudah bangun lebih awal.
Seperti biasa, meski hatinya masih menyimpan sisa-sisa ganjalan dari semalam, kewajiban Misya sebagai seorang istri tidak luntur sedikit pun. Ia bergegas mencuci muka, mengambil wudu, menunaikan salat subuh, lalu turun ke lantai bawah menuju dapur.
Ditemani Mbak Atin, Misya mulai meracik bahan-bahan untuk sarapan pagi. Pagi ini ia menyiapkan menu kesukaan Reyden, nasi goreng spesial dengan telur mata sapi setengah matang dan segelas kopi hitam hangat.
"Pagi, Bu... Tadi Pak Reyden sudah turun duluan ke ruang makan," sapa Mbak Atin ramah sambil merapikan piring di meja makan.
"Oh, iya, Mbak. Terima kasih infonya," balas Misya tersenyum tipis.
Misya berjalan menuju ruang makan dengan membawa nampan berisi kopi dan sepiring sarapan hangat. Di sana, Reyden tampak duduk rapi mengenakan kemeja kantor berkerah kaku, jemarinya sibuk menggulung lengan kemeja hingga siku sambil membaca berita lewat tabletnya.
"Selamat pagi, Mas..." sapa Misya lembut, menempatkan piring sarapan di hadapan suaminya dengan hati-hati.
Reyden mendongak sejenak. Matanya menatap wajah Misya yang tampak tenang namun menyuratkan kelelahan sisa semalam. Pria itu tidak langsung menyentuh makanannya. Ia meletakkan tabletnya di atas meja, lalu menatap istrinya lekat-lekat.
"Kamu marah sama saya?" tanya Reyden to the point, suaranya terdengar datar namun menyiratkan rasa bersalah yang tertahan.
Misya yang sedang menuangkan air putih ke dalam gelas menghentikan gerakannya sejenak. Ia menarik napas pelan, lalu menatap suaminya dengan senyuman tipis yang dipaksakan.
"Marah? Kenapa aku harus marah, Mas?" jawab Misya tenang, berusaha menyembunyikan getar di suaranya.
"Semalam... Kamu diam sepanjang perjalanan setelah kita bicara soal itu. Kamu bahkan tidak bicara sepatah kata pun sampai pagi ini," tanya Reyden.
"Apa karena saya menolak menceritakan masa lalu saya?"
Misya meletakkan teko air di atas meja, lalu menarik kursi dan duduk di hadapan suaminya. Ia menatap Reyden lurus-lurus, tidak ingin lagi ada kesalahpahaman di antara mereka.
"Mas... jujur, kemarin aku memang sempat penasaran. Kenapa sepupu-sepupumu begitu mengagungkan wanita itu sampai-sampai merendahkan aku?" ucap Misya pelan namun tegas.
"Tapi, setelah kamu bilang kalau masa lalu adalah urusan kamu dan kamu tidak mau membahasnya... aku sadar."
Alis Reyden sedikit bertaut. "Sadar apa?"
"Sadar kalau setiap orang punya hak untuk menyimpan bagian hidupnya yang tidak ingin dibagi, termasuk kamu, Mas," lanjut Misya dengan mata yang mulai berkaca-kaca namun ditahannya sekuat tenaga.
"Kalau kamu tidak mau cerita, aku tidak akan memaksa. Aku istri kamu, Mas, bukan hakim yang berhak mengadili masa lalu kamu sebelum mengenal aku. Jadi... buat apa aku marah?"
Mendengar kalimat bijak yang meluncur dari bibir wanita di hadapannya, Reyden tertegun hebat. Tenggorokannya mendadak terasa keluh. Ia menatap wanita yang selama dua tahun ini dinilainya pasif dan penurut, ternyata memiliki kedewasaan berpikir yang jauh melampaui dugaannya.
"Terima kasih. Kalau ada apa-apa bicarakan kepada saya jangan diamkan saya lagi seperti semalam!" Ucap Reyden.
"Iya, Mas. Hari ini aku izin pergi bertemu dengan Febby. Dia meminta bantuan aku memilih undangan pernikahannya," Misya meminta izin.
"Baiklah, jangan pulang terlalu sore. Saya hari ini akan pulang cepat karena tidak banyak pekerjaan di kantor,"
"Iya Mas, terima kasih sudah mengizinkan aku bertemu dengan Febby,"
Reyden mengangguk kecil, memberikan lampu hijau atas izin yang diminta istrinya. Jemarinya kembali meraih sendok dan garpu, mulai menikmati sarapan nasi goreng buatan Misya yang selalu pas di lidahnya. Suasana ruang makan kembali tenang, namun kali ini tanpa ada ganjalan dingin seperti malam sebelumnya.
Setelah berpesan kepada Mbak Atin untuk menjaga rumah dan menyiapkan keperluan sore nanti, Misya berangkat menuju salah satu kafe tempat ia berjanji bertemu dengan Febby, sahabat karibnya sejak masa kuliah dulu.
Setibanya di kafe bernuansa vintage tersebut, Misya langsung disambut oleh lambaian tangan Febby dari sudut dekat jendela.
"Misya! Sini!" seru Febby heboh sambil melambaikan setumpuk katalog kertas berwarna pastel.
Misya tersenyum lebar, lalu menghampiri sahabatnya dan langsung memeluknya erat.
"Udah lama nunggu, Feb?"
"Nggak kok, baru sepuluh menit," jawab Febby antusias setelah mereka duduk berhadapan. Tanpa buang waktu, Febby langsung menyodorkan sebuah album kecil berisi sampel undangan.
"Nah, lo harus bantu gue pilih, Sya. Pusing banget kepala gue milih desain. Si Rian malah nyerahin semuanya ke gue, katanya 'terserah kamu yang penting jadi'!"
Tawa Misya lepas mendengar keluhan sang sahabat. Ia pun mulai membuka lembar demi lembar katalog undangan tersebut, memberikan pendapat jujur dengan mata berbinar-binar. Suasana siang itu diisi dengan obrolan hangat, canda tawa, serta cerita-cerita seru seputar persiapan pernikahan Febby.
Namun di tengah keasyikan mereka memilih tema rustic untuk undangan, Febby tiba-tiba menghentikan gerakannya. Mata sahabatnya itu menyipit, menatap lekat ke arah wajah Misya yang duduk di seberangnya.
"Sya... tunggu dulu," potong Febby serius. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan meja.
"Mata lo rada sembab. Lo habis nangis ya? Jangan bilang rumah tangga lo sama Pak Reyden dingin lagi?"
Misya refleks meraba kelopak matanya sendiri. Ia menghela napas pelan, tersenyum kecut menyadari ketajaman insting sahabatnya itu.
"Ketahuan ya?"
"Jelas ketahuan lah! Kita temenan udah berapa tahun, Sya," protes Febby.
"Cerita ke gue, ada apa? Suami dingin lo itu berulah lagi? Kalau dia aneh-aneh, bilang ke gue, biar gue samperin kantornya!"
Mendengar ancaman gemas dari Febby, Misya justru terkekeh kecil.
"Eh, jangan sembarangan! Mas Rey nggak berulah apa-apa kok."
"Terus kenapa muka lo sembab gitu? Masalah kemarin di rumah keluarganya ya?" kejar Febby tak mau kalah.
Akhirnya, dengan suara pelan, Misya menceritakan seluruh kejadian semalam, mulai dari sindiran telak para sepupu Reyden tentang wanita di masa lalu suaminya.