Apa salah jika memiliki kakak yang super posesif, ini tidak boleh itu tidak boleh?
Bahkan Papa dan Mama juga tidak pernah membatasi apa yang kulakukan. Hampir semua laki-laki yang mendekatiku akan mundur secara perlahan karena kakak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru Blerina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Possessive Brother| 19
Suara alarm yang berdering sangat nyaring memenuhi kamar gadis cantik itu, ia tidak ingat memasang alarm sebelum tidur. Kedua matanya terbuka perlahan, membuat matanya menyipit karena cahaya matahari yang tanpa malu menerobos masuk ke mata.
Sudah terlihat begitu siang, gorden-gorden bermotif flora itu juga sudah terbuka lebar. Tetapi, yang paling membuatnya terkejut adalah seorang laki-laki jangkung, berbadan tegap yang biasanya akan ditakuti bawahannya itu. Tangannya sibuk menyapu lantai yang penuh dengan debu, dan sisa-sisa serpihan kaca kecil.
Aletha hampir saja menjatuhkan bola matanya, melihat kakak yang kemarin membuatnya ketakutan kini sedang berlagak seperti seorang pembantu.
“Kak Elang? Ngapain kakak dikamar Aletha?”, Elang tetap melanjutkan kegiatan menyapunya, sama sekali tidak menoleh ke arah gadis yang bermuka bantal. Ada sisa-sisa sedikit kotoran disudut mata dan bibirnya, rambutnya juga sudah seperti singa jantan.
“Membersihkan kamar putri tidur yang pemalas!”.
Aletha mengerucutkan bibirnya, pipinya juga ia gembungkan seperti ikan buntal. Pagi-pagi ia sudah dibuat kesal oleh kakaknya, padahal yang kemarin saja Elang belum meminta maaf. Atau mungkin tidak berniat untuk meminta maaf sama sekali.
“Cepet mandi nanti kakak ajak kamu jalan-jalan!”. Kedua mata Aletha berbinar, jarang sekali kakaknya itu mau mengajaknya jalan-jalan. Seketika gadis itu bangun dari kasur, menghampiri kakaknya yang masih asyik dengan sapunya. Tidak pernah melihat seorang direktur utama Wijaya's group sedang menyapu bukan? Pagi ini ia sedang menyapu kamar seorang gadis yang sudah tidak sopan memporak-porandakan jagat rayanya, berhasil mendirikan sebuah tembok penghadangan yang begitu kokoh hingga sang pemilik jagat raya itu tidak bisa mengalihkan pandangan barang sedikitpun dari gadis kecil itu.
“Kakak serius? Waa makasih kak!”.
“Cepat mandi! Setengah jam lagi belum siap rencana batal,” gadis yang entah sejak kapan sudah berhasil mencuri barang berharga milik laki-laki yang berstatus sebagai kakak itu, berlari kekamar mandi yang berada dikamar besarnya. Tanpa terlupa sedikit pun dengan jalan-jalan yang dijanjikan kakaknya.
Sementara Elang yang sudah selesai membersihkan kekacauan
dikamar Aletha juga pergi, bersiap untuk mengajak adiknya jalan-jalan. Ia sendiri belum terpikir akan mengajak ke mana, tadi hanya menemukan ide yang kebetulan sedang melintas diotaknya.
Weekend seperti ini jarang sekali ia nikmati, apalagi dengan Aletha. Pasti weekend kali ini akan terasa sangat menyenangkan, baiknya Aletha diajak kemana?
Elang asyik dengan pikirannya sendiri, bertanya-tanya apa yang akan membuat Aletha bahagia dan melupakan kejadian kemarin yang mungkin keterlaluan. Ia sebenarnya sudah mandi pagi tadi, hanya tinggal mengganti pakaian yang lebih casual dari biasanya yang sering ia pakai.
Pilihannya jatuh pada kemeja berbahan dingin dengan corak abstrak, lengannya sengaja digulung sampai batas siku. Tidak lupa ia menggenakan jam berwarna cokelat yang harganya mahal, seorang Elang tidak akan memakai sesuatu yang murah.
Setelah siap laki-laki itu segera keluar dari kamarnya, tepat baru saja keluar didepan kamarnya Aletha sudah menunggu. Gadis itu tampil seperti biasanya, terlihat cantik dan manis. Entah disengaja atau tidak, warna baju mereka senada. Aletha yang selalu bergerak lincah kesana-kemari mengingatkan gadis kecil yang dulu selalu ia gendong, sungguh momen yang ternyata sangat Elang rindukan.
"Ma, Pa Aletha pergi sama Kak Elang ya?".
Pamit Aletha yang membuat sepasang suami istri itu saling bertukar pandangan, bingung? tentu saja, baru kemarin mereka bersikap seperti kucing dan tikus sekarang justru sebaliknya. Elang juga terlihat tidak terlalu kaku, bibirnya bisa dilihat dengan jelas jika ia sedang tersenyum tipis.
"Kalian mau kemana?", Renata mengajukan pertanyaan lebih dulu, sungguh wanita itu sangat penasaran dengan mimik wajah riang Aletha yang sudah jarang sekali diperlihatkan jika ada Elang tentunya.
"Jalan-jalan ma, tapi Aletha nggak tau kemana. Kak Elang yang ajak, boleh kan?".
"Tentu saja, asalkan nanti pulangnya jangan ada acara menangis dan berteriak. Oke sayang?".
"Siap ma." Aletha yang penuh semangat itu lebih dulu menyalami kedua orangtuanya. Elang juga melakukan hal yang sama, Elang sempat mendengar bisikan dari sang ayah yang mengatakan hati-hati dengannya. Ia mengangguk mantap dan segera menyusul Aletha yang begitu antusias, gadis itu sepertinya sudah tidak sabar . Terlihat sekali ia sedang berusaha mengetuk pelan mobil Elang yang masih terparkir sempurna dipekarangan rumah mewah ini.
"Aletha seneng banget kah?".
"Iyalah jarang banget kakak mau ajak Aletha jalan-jalan, apalagi kakak nggak keliatan galak", gadis itu terkikik pelan saat melihat mimik wajah kakaknya yang terlihat bingung, sejak kapan kakaknya berubah menjadi orang lain. Atau memang selama ini sikap kakaknya yang sangat mengekang hanyalah sebuah mimpi buruk? jika benar Aletha akan sangat bersyukur.
_____________________________________________
Gadis itu merengut, tatapannya datar. Aletha sedang kesal atau lebih bisa disebut kecewa, ia kira kakaknya akan mengajak ke suatu tempat yang asyik ternyata Elang mengajak Aletha ke Museum. Karena kesal, Aletha berjalan dengan menghentakkan kakinya. Kadang meninggalkan Elang yang sedang mengatakan sesuatu, Aletha mengerutu kesal.
"Kakak itu emang nggak asyik! Masa' Aletha diajak ke Museum sih kak?", Elang tersenyum singkat, sejak sampai ditempat parkir bangunan lama yang masih berdiri dengan kokoh itu, Aletha mulai menampakkan mimik wajahnya yang kesal. Terkadang ia meninggalkan Elang yang sedang memberitahu Aletha tentang sejarah sebagian benda yang terpajang dimuseum, Aletha bahkan terus mengoceh meminta pergi ke tempat yang lain.
"Museum itu tempat menyimpan benda bersejarah, jika kamu menghormati para pejuang kamu juga wajib mengerti sejarah tentang mereka. Termasuk berkunjung ke museum, selain sebagai tempat untuk menyimpan benda bersejarah juga bisa menjadi sumber inspirasi."
"Aletha itu tau kalo kakak pinter tapi jangan ajak Aletha ke sini juga, ajak ke pantai atau ke taman hiburan nggak pa-pa deh. Yang penting jangan ke tempat yang bosenin dong!".
Gadis itu berjalan ke arah pintu keluar, membuat Elang mengikuti Aletha yang sudah menghilang di telan kerumunan pengunjung museum lainnya. Dengan langkah lebar-lebar Elang segera menyusul Aletha.
🍁🍁
ini kok rasanya lama-lama jadi kaya masak sayur kurang garem.. Nggak kerasa bgt ceritanya .. mohon dukungannya ya kakak",,
terimakasih selamat membaca,,
jangan ada pelakor lah....
tak masuk di akal????
ini aku yg bodoh apa thoor nya yg ngelantur????