Untuk mengukuhkan kerja sama dan persahabatan yang sudah terjalin cukup lama, Bara dan Elang menjodohkannya anak sulung mereka, Nathan dan Zea. Namun, pada kenyataannya, justru Zio-putra ketiga Baralah yang akhirnya menikahi Zea. Kok bisa?
"Gue bakal tanggung jawab, lo nggak usah nangis lagi," ucap Zio.
"Aku nggak butuh tanggung jawab kamu, pergi!" usir Zea.
Zio berdecak, "terus, lo mau abang gue yang tanggung jawab? Itu benih gue! gue yang bakal tanggung jawab!"
Tangis Zea semakin pecah," semua gara-gara kamu, aku benci kamu Zio!"
"Bukannya lo emang udah benci sama gue?"
" Aku makin benci sama kamu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon embunpagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Zio menghentikan motor sportnya di pinggir jalan hanya untuk menghirup udara dalam-dalam, berharap udara yang menyesakkan dadanya bisa berganti dengan yang lebih segar. Tapi, nyatanya sama saja. Tak ada yang mampu membuat rasa sesak itu menguar.
Kepulangan Nathan, persiapan pernikahan yang mulai di lakukan bahkan gaun pengantin yang sudah mulai di rancang, menyadarkannya jika pernikahan itu benar-benar sudah di depan mata.
"Aaarrrrgghhh! Sial" Zio menyugar rambutnya frustrasi sebelum akhirnya memakai kembali helm full facenya dan kembali melajukan motor sport kesayangannya tersebut.
Sejak hari itu, tak ada yang berubah, masih sama seperti sebelumnya. Tak ada interaksi apapun antara Zea dan Zio. Bahkan pria itu benar-benar tak pernah lagi mengusik Zea. Seolah di telan bumi, Zio benar-benar menghilang dari peredaran di sekitar Zea. Dan gadis itu juga tak peduli, seperti sebelumnya.
"Dueeer!" Miranda mengagetkan Zea yang sedang melamun di kantin seorang diri. Gadis itu hanya menoleh tanpa ekspresi.
"melamun aja, buk? Ntar jodoh di patuk pelakor, loh!" seloroh Miranda sembari duduk di depan Zea.
"Mulutmu, Mir!" tegur Zea dan Miranda hanya nyengir.
"Kenapa sih? Mau nikah bukannya aura kelihatan fresh, ini malah aur-auran. Kamu sakit, Ze? Pucat amat tuh bibir!" ucap Miranda.
"Nggak enak badan aja, tapi aneh beberapa hari selera makan malah bertambah!" sahut Zea.
"Maklum sih, pasti kepikiran banget ya buat acara pernikahan, nggak kebayang seribet apa. Beberapa Orang stres biasanya emang nafsu makan jadi ugal-ugalan. Tapi, kamu harus tetap jaga kesehatan, jangan sampai sakit, kan nggak lucu nanti pas hari-H pengantinnya semaput!" ujar Miranda terkekeh.
Entahlah, mungkin apa yang di katakan oleh Miranda ada benarnya. Ia terlalu kepikiran hingga membuat badannya meriang seperti ini. Tapi, anehnya dirinya pengin makan terus rasanya, mungkin efek karena stres banyak pikiran.
Apalagi, kini semakin dekat dengan pernikahan, Zea bukannya semakin melupakan dan semakin mantab menikah dengan Nathan, namun justru ia semakin ingat akan kesalahannya dan itu membuatnya takut. Ia ragu apakah Nathan bisa menerima kekurangannya nanti setelah tahu jika dirinya bukanlah yang pertama.
Zea kembali melamun, memikirkan langkah apa yang akan ia ambil setelah ini. Sungguh, dirinya benar-benar tidak sanggup menahan beban itu sendirian dengan terus membohongi Nathan. Katakanlah, soal malam pertama, banyak alasan yang bisa ia berikan untuk meyakinkan Nathan jika selaput daranya robek saat jatuh dari sepeda atau lainnya karena ia tahu Nathan bukan orang kuno yang berpatokan pada masih utuh atau tidaknya selaput dara sebagai penanda seorang gadis masih perawan atau tidak. Banyak hal yang bisa menjadi alasan robeknya selaput dara tanpa adanya proses hubungan intim. Ia yakin Nathan tahu hal itu.
Tapi, apakah ia bisa hidup tenang berdampingan dengan Nathan yang notabennya adalah kakak dari pria yang sudah merenggut kesuciannya. Apakah ia bisa menjadi isteri yang baik bagi Nathan sedangkan rasa bersalahnya terus menghantui. Mungkin akan berbeda cerita jika Zio bukanlah adiknya Nathan, tapi ini mereka adalah saudara.
Jika awalnya Zea menggebu tetap ingin menikah dengan Nathan, kini keinginan itu mulai goyah.
"Nah, kan! Melamun lagi, bisa kesambet beneran loh, Ze!" ujar Miranda sambil mengaduk mie ayamnya.
Zea mengerjap, melihat mie ayam Miranda membuat ia menelan air liurnya sendiri, "Kayaknya enak tuh, Mir!" ucapnya.
Miranda yang sedang memasukkan mie ke mulut langsung menatapnya heran, "Kamu baru makan kan, Ze? Tumben ngiler lihat ginian, biasa gak suka mie ayam kamu. Makanmu juga banyak, benar-benar ya, stres bikin kamu doyan makan!" ucapnya dengan mulut penuh mie.
Zea tertegun, ia memang biasanya tak suka mie ayam, tapi melihat Miranda makan kenapa begitu menggiurkan," Bagi sedikitlah, icip doang!" ucapnya sok memelas. Tanpa menunggu ijin Miranda, Zea mengambil sumpit lalu mengambil sedikit mie ayam milik Miranda.
"Ntar aku ganti dua kali lipat! Aku cuma pengin nyoba aja, kayaknya punyamu enak!" ucap Zea yang di tatap heran oleh sahabatnya tersebut.
"Ya udah kalau mau, habisin aja sekalian. Biar aku pesan lagi, Ze," kata Miranda. Namun, Zea menggeleng, "Nggak usah, aku udah kok, cuma icip doank," ucapnya.
"Aneh deh, kamu Ze. Kayak orang ngidam aja!" ucap Miranda.
Uhuk-uhuk!
Zea langsung tersedak saat mendengar ucapan Miranda.
"Ini minum minum! Biasa aja kali, sampai tersedak gitu, Ze. Aku kan cuma bilang kayak orang ngidam doang, segitunya," ucap Miranda.
Zea langsung minum, ia berusaha menyingkirkan pikiran negatifnya. Ya, dia tidak mungkin hamil, pikirnya.
..............
Zio memang tak pernah lagi mengusik Zea. Tapi, bukan berarti ia kehilangan kabar gadis itu. Masih ada Agas yang setia menjadi informannya. Apapun yang Agas tahu tentang Zea, pasti sampai ke Zio. Termasuk obrolan dua gadis itu di kantin tadi. Secara sengaja Agas menguping obrolan mereka dan kini sampailah ke telinga Zio saat mereka berada di studio musik.
"Serius lo dia pucat?" tanya Zio.
"Ya yang gue lihat sih, gitu. Kayaknya stres banyak pikiran dia, sampai makannya banyak!" cerita Agas.
"Terus?" Zio ingin Agas cerita lebih.
"Lo kepo ya? Katanya nggak peduli, tapi tiap hari minta gue cerita, udah macam pengasuhnya aja gue harus tahu dia ini itu," goda Agas.
"Bang sat lo!" sarkas Zio yang mana membuat Agas terkekeh.
"Ya, aneh aja sih, Zea yang biasanya makan aja di jaga, ini kelihatan rakusnya, yo. Sampai sahabatnya siapa tuh namanya? Miranti?"
"Miranda be go!" Zio membenarkan.
"Oh iya Miranda, sampai Miranda bilang kalau Zea macam orang ngidam aja katanya. Haha!" ujar Agas dengan terbahak di akhir kalimatnya, "Geli aja gue dengarnya, sampai Zea aja tersedak tadi. Emang udah lo apain tuh anak orang?" lanjutnya bercanda setengah menyindir.
Zio tersentak mendengarnya, namun ia langsung bisa menguasai diri. Belum tentu juga Zea hamil, mereka melakukannya hanya sekali. Bisa saja memang karena Zea banyak pikiran yang membuatnya stres dan lari ke makanan.
"Terus?" Tanya Zio.
"Terus terus, nabrak gue!" seloroh Agas.
"Breng sek lo!"
"Ya cuma gitu doang yang gue dengar, oya satu lagi, sore ini katanya Zea sama Miranti mau ke toko buku," ucap Agas. Yang mana membuat Zio gemas sendiri, "Miranda be go! Miranti Miranti, itu mantan lo!" sentaknya.
"Haha, iya kah? Pantas familiar namanya!" Agas cengengesan.
"Mereka mau ngapain?" tanya Zio lagi pandangannya lurus ke arah pintu dimana dua teman mereka baru datang.
Agas menoleh, "Ya ngebandlah, mau ngapain lagi, ngapelin lo masa?" celotehnya.
Zio menatap Agas tajam, "Maksud gue Zea sama Miranti! Ujarnya kesal sampai salah sebut.
" Haha Miranda be go!".balas Agas. Zio hanya mendengus sebal," Mereka mau ngapain?" tanyanya sekali lagi.
" Beli buah kali!" sahut Agas enteng. Zio langsung menatapnya sebal.
" Ya beli bukulah, namanya juga ke toko buku! Emang ya, orang kalau jatuh cinta jadi gini ya, be gonya kebangetan. Otak jadi jungkir balik, IQ mendadak jongkok, ke toko buku pakai tanya mau ngapain," seloroh Agas.
Tanpa bicara lagi apalagi menanggapi ocehan Agas, Zio langsung menyambar jaketnya.
" Eh lo mau kemana?"
Terik Agas tapi Zio tak menyahut. Saat dirinya membuka pintu, Claudya hendak masuk," Mau kemana, yo? Aku datang buat kamu," ucapnya.
" Gue ada urusan, lo tolong minggir!" ucap Zio karena Claudya menghalanginya.
Claudya menggeleng," Nggak mau kalau nggak boleh ikut," ucapnya.
"Minggir atau gue..." tak melanjutkan kalimatnya, Zio memilih mendorong paksa Claudya hingga tubuhnya bergeser dari depan pintu dan ia langsung pergi.
"Ck kasihan, nggak ada manis-manisnya ya ke cewek yang katanya pacar," sindir Agas.
"Berisik lo!" umpat Claudya tapi Agas masa bodoh.
.....
Zea tengah memilah buku yang akan ia beli. Ada satu buku yang ia cari tapi letaknya di atas hingga ia kesusahan buat mengambilnya. Zea menoleh ke kanan kiri, tak melihat penjaga toko tersebut. Miranda yang sedikit lebih tinggi darinya yang mungkin bisa membantu juga entah dimana.
Zea berjinjit, mencoba meraih buku itu namun tetap kesusahan. Hingga ada tangan yang menjangkau buku itu dengan mudah lalu memberikannya kepada Zea.
"Terima kas..." suara Zea tercekat begitu ia menyadari orang itu adalah Zio. Pria yang akhir-akhir ini hilang dari peredaran.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Zea.
"Lo sakit? Muka lo pucat!" Zio tak mempedulikan pertanyaan Zea, ia malah balik bertanya.
...----------------...
hampir tiap hari nyari2 notif barangkali nyempil /Sleep//Sleep//Sleep/
ternyata hari ini kesampaian juga
makasih kak author
sehat" selalu 😘
🌸🏵️🌼 tetap semangat 💪
Zio cinta Zea tapi Zea tunangan dgn Nathan, kakaknya Zio. Karena suatu hal, Zio tidur dengan Zea akhirnya mereka menikah.
alhamdulillah semoga terus lanjut ya kka smpai tamat...
di tunggu up beriktnyaa