Althaf Sarfaraz Xaquil (AL)
Bara Arsenio Khasaf (BARA)
Christian Xaverio Smith (CHRIS)
Tiga orang pria tampan, mapan dan memiliki kepribadian, rumah mewah pribadi, mobil mewah pribadi, semua yang sifatnya pribadi dan mewah.
Satu yang tidak mereka miliki, ISTRI!
Trio Duda bercerita tentang kehidupan sehari-hari 3 orang duda yang relah bersahabat sejak dibangku SMA.
Mereka pernah membina rumah tangga namun berujung dengan nasib yang sama alias ketiganya kini menyandang status DUDA!
Bagaimana keseruan TRIO DUDA dalam keseharian mereka yang tentu saja msmbuat kaum hawa disekitarnya ketar-ketir.
Apakah mereka kembali dipertemukan oleh jodohnya?
Semoga dapat menghibur readers semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pradana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stase Ilmu Penyakit Dalam
Sesuai kesepakatan yang telah dibuat Bianca yang biasa dipanggil Bia sudah datang sejak jam 06.30 pagi berdasarkan perintah PA nya siapa lagi, Direktur RS Tiara Medika, dr. Althaf Sarfaraz Xaquil atau biasa di kenal dengan dr. Althaf.
Bia yang sudah menunggu di luar ruangan Al setelah ia mengisi absen dan tentu saja beramah tamah dengan dokter lain dan pegawai RS tersebut.
Tepat pukul 07.00 tak kurang tak lebih Al sudah datang dan kini hendak menuju ruangan kerjanya.
Al melihat Bianca sudah datang dan menunggunya dengan sengaja tak menghiraukan keberadaan koas cantik di hadapannya.
Bianca mengusap dadanya memberikan penyabaran bagi dirinya sendiri.
"Sabar Bia, orang sabar disayang suami!" entah darimana ia mendapat motivasi tersebut.
"Pagi Dokter!" Bia menyapa Al lebih dulu mengikuti sang Direktur yang kini terlihat sedang menggunakan sneli miliknya.
"Pagi!" singkat jelas dan padat.
"Pagi dok, hari ini seperti biasa ada jadwal praktek di poli, kemudian visit pasien rawat inap di ruang VVIP." suster yang biasa mendampingi Al praktek mengingatkan jadwal praktek sang Direktuk RS tersebut.
Bia yang bagai kambing congek keberadaannya dianggap bagai kasat mata memilih buka suara agar keberadaannya disadari.
"Permisi dok, tugas Saya apa ya?" Bia buka suara memberanikan diri bertanya apa yang harus dia lakukan.
Tanpa banyak bicara Al bangkit dari kursinya segera keluar ruangan tak lupa ia segera meminta Bia untuk berjalan mengikutinya.
"Kamu ikuti Saya!" Al dengan wajah flatnya cenderung jutek saat mengatakan hal tersebut.
Bia berjalan beriringan dengan Al dan suster yang mendampingi mereka.
Bia memperhatikan manakala Al sedang memeriksa pasiennya.
Tampak berbeda dengan Al saat berkomunikasi dengan dirinya atau pegawai lain.
Dengan para pasiennya Al menjadi sosok dokter yang ramah dan sigap dalam memberikan saran medis.
Karakter pasien yang beragam di hadapi oleh Al dengan profesional meski terlihat Al membangun komuniasi yang baik.
Hari pertama menjalani stase ilmu penyakit dalam, Bianca masih sekedar memperhatikan, Bia juga mencatat hal-hal yang dianggap perlu serta menjawab pertanyaan yang diajukan oleh dokter Al.
Sedikit banyak Bia menangkap Al adalah dokter yang memang paket komplit, pembawaannya sebagai dokter serta cara Al mendiagnosis gejala yang dialami pasien membuat pasien jelas dan tidak ambigu untuk mengambil langkah medis.
Namun berbeda saat tidak ada pasien, Al kembali dalam mode jutek bin menyebalkan bagi Bia.
"Dok, boleh Saya tanya?" Bia memiliki sedikit catatan setelah ia mengikuti Al saat memeriksa pasiennya tadi.
"Ya memang kamu harus banyak tanya, biar pinter! Memang disini kamu mau hang out!" Al dalam mode jutek menanggapi ucapan Bia.
"Huh, Sabar Bia, " batin Bia kembali mengingatkan takut dirinya khilaf ingin menyuntik mati dokter Al.
"Tadi salah satu pasien dokter menanyakan bagaimana mendeteksi bahwa seseorang mengalami serangan jantung sedangkan pada umumny masyarakat awam banyak yang tidak mempunyai peralatan medis walau hanya yang sederhana. Lalu apa yang harus dilakukan?" Bia melihat beberapa catatan yang ia akan tanyakan pada Al.
Al menghentikan pekerjaannya membuat report setelah ia selesai praktek di poli.
"Dengarkan penjelasan Saya baik-baik. Buka telinga kamu lebar-lebar, catatan yang kamu anggap perlu. Karena Saya tidak suka mengulang apa yang sudah Saya katakan." Al dengan tatapan tegas membuat Bianca sedikit ngeri namun ia menatap balik wajah Direktur meski terkesan horor.
"Serangan jantung disebabkan oleh faktor yang berbeda-beda. Meskipun begitu, biasanya masalah pada jantung menunjukkan gejala yang sama. Nyeri dada bukan menjadi satu-satunya tanda serangan jantung." lebih lanjut Al menjelaskan pada Bianca yang masih fokus mendengarkan penjelasannya.
"Ada sejumlah gejala lainnya yang bisa muncul yang tergantung pada jenis kondisi yang dialami diantaranya adalah :
Jantung berdebar atau detak jantung justru melambat.
Pusing.
Demam.
Irama jantung berubah.
Nyeri di bagian leher, rahang, tenggorokan, punggung, dan lengan.
Mual.
Ruam di kulit.
Sesak napas atau napas menjadi pendek.
Tangan dan kaki terasa dingin.
Pingsan atau terasa mau pingsan.
Batuk kering yang tak kunjung membaik.
Mudah lelah saat beraktivitas.
Warna kulit membiru (sianosis).
Pembengkakan di lengan, perut, tungkai, ataupun sekitar mata."
Bia mencatat poin penting penjelasan Al dengan tetap memperhatikan penjelasan sang Dokter.
Dokter Al kembali melanjutkan penjelasannya.
"Penyakit jantung yang tak ditangani dengan tepat, tak menutup kemungkinan bisa menimbulkan berbagai komplikasi. Berikut beberapa komplikasi yang bisa terjadi pada pasien:
Gagal jantung. Terjadi saat jantung tidak mampu memompa cukup darah ke seluruh tubuh. Kondisi ini bisa terjadi akibat penyakit jantung koroner (PJK), infeksi jantung, hingga penyakit kelainan jantung.
Stroke. Kondisi ketika arteri ke otak tersumbat, sehingga tak menerima aliran darah yang cukup.
Aneurisma. Kondisi ketika terjadinya pembesaran di dinding arteri yang bila pecah dapat menyebabkan kematian.
Jantung berhenti mendadak. Dapat terjadi saat fungsi jantung berhenti mendadak. Alhasil, pengidapnya tak bisa bernapas dan kehilangan kesadaran. Namun yang bikin resah, bila tak ditangani dengan cepat, maka hal ini bisa mengakibatkan kematian."
"Jadi kita kita atau orang sekitar kita ada yang mengalami gejala seperti yang Saya sebutkan tadi segera dibawa ke RS dan langsung ditangani dokter. Karena bangak masyarakat yang menganggap sepele gejala yang timbul dan mendiagnosa sendiri apa yang dialami. Dan banyak pula yang melakukan tindakan tradisional seperti di pijat, diurut di kerok padahal hal tersebut justru akan membuat pasien mengulur waktu mendapatkan pertolongan dengan segera."
Wajah serius Bianca yang tanpa sadar menggigit bibir bawahnya membuat naluri kelakian Al berdesir.
Al Reflek membuat Bianca memegang dahinya.
"Pletak!"
"Aoww! Kenapa dokter jitak Saya sih!" Bianca mengusap dahinya yang menjadi sasaran Al.
"Kamu dijelasin panjang-panjang malah ngelamun, bengong! Percuma Saya ngomong panjang lebar!"
Al yang grogi malah melempar batu sembunyi tangan.
Al yang salting malah dahi Bianca yang jadi sasaran.
"Dok, lama-lama Saya koas distase dokter kayaknya Saya bakal kena gegar otak!" Bianca mendengus kesal melawan tak berani takut nilai dan kelulusan terancam hanya bisa mendumel kesal atas kelakuan sang PA.
"Mana ada begitu! Otak beku kamu akan semakin encer dengan jitakan Saya! Sudah sekarang ga usah banyak ngeluh, kamu dampingi Saya visit pasien rawat inap. Sus berikan Koas Bia rekam medis pasien. Sambil jalan pelajari!"
Al bangkit dari kursi di ruang praktek menuju ruang rawat inap pasien diikuti suster dan tentunya Bianca.
Langkah Al yang lebar membuat Bianca sedikit terseok mengikuti.
"Sus, Dokter Al kalo jalan kayak dikejar setan ya!" bisik Bianca pada suster yang mendampingi mereka.
"Dokter Bia harus terbiasa, Saya juga dulu begitu, lama-lama jadi makanan sehari-hari." keduanya berbisik namun masih dapat didengar oleh Al.
"Kalau mau gosip bukan disini tempatnya!" Al menekan tombol lift setelah terbuka bergegas masuk disusul oleh Bianca dan suster.
Bianca dengan nafas ngos-ngosan semaksimal mungkin mengatur degup jantung bagai selesai cardio.
Sekilas Al melihat dari pantulan lift yang seperti kaca wajah lelah dan ngos-ngosan Bianca.
"Cantik, menggemaskan!" batin Al tanpa sadar ia tersenyum simpul meski segera ia kendalikan agar tak ada yang melihatnya.
😘😘😘
melasseh....rek..!