Ameer Alfatih adalah seorang ustaz muda yang menolak dijodohkan dengan Hana Karimah. Sepupunya yang cantik dan penghafal Qur'an.
Satu-satunya alasan Ameer menolak wanita yang hampir sempurna itu adalah Meizia, seorang wanita yang terkesan misterius tetapi berhasil merebut hati Ameer di pertemuan mereka.
Namun, sebuah kenyataan pahit harus Ameer terima ketika ia tahu Meizia adalah seorang wanita malam bahkan putri dari seorang mucikari.
Maukah Ameer memperjuangkan cintanya dan membawa Meizia keluar dari lembah dosa itu?
Dan maukah Meizia menerima pria yang merupakan seorang Ustaz sementara dirinya penuh dosa?
Lalu bagaimana dengan nasib Hana?
"Aku terlahir dari dosa, membawa dosa, sebagai dosa bagi ibuku dan hidupku pun penuh dosa. Kau terlalu suci untukku." Meizia
"Tak ada manusia yang luput dari dosa, tetapi juga tak ada manusia yang lahir membawa dosa meski ia terlahir dari dosa." Ameer Alfatih
"Ikhlas dengan takdir Tuhan adalah kunci ketenangan hidup." Hana Karimah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 - Mencarinya
Keputusan orang tua Ameer seolah sudah bulat, mereka tak mau lagi mendengarkan penjelasan apapun dari putra mereka itu dan Ameer tentu tak ingin melawan lagi.
Sementara kedua kakak perempuan Ameer pun tak bisa apa-apa, meski mereka dapat memahami perasaan Ameer tetapi mereka juga tak bisa melawan perintah orang tua.
Walaupun demikian, Keesokan harinya Ameer tetap menepati janjinya pada Meizia. Ia dan sang kekek mendatangi rumah Meizia tetapi sayangnya di sana tampak tidak ada orang.
"Assalamualaikum," seru Ameer sekali lagi sembari mengetuk pintu.
"Sepertinya tidak ada orang, Meer," kata Kakek.
"Tapi kemana mereka? Tidak mungkin Meizia pergi sementara kita sudah berjanji akan menemuinya," pungkas Ameer.
Tak berselang lama, Ameer melihat ada tetangga Meizia yang baru keluar dari rumah. Ameer langsung bertanya tentang keberadaan Meizia.
"Apa kau tahu kemana orang yang tinggal di sini?" tanya Ameer dengan sopan.
"Mana aku tahu," jawab tetangganya itu dengan ketus.
"Terima kasih," ucap Ameer sambil tersenyum lembut meskipun orang itu tak ramah sedikitpun padanya.
"Kenapa cari mereka sih, Mas? Mau jajan, ya?" tanya orang itu sembari menatap penampilan kaki yang cukup religious. "Atau kalian mau mendakwahi mereka?"
"Kami ada keperluan penting," jawab Ameer. "Apa kau punya nomor telpon mereka? Aku lupa tidak menyimpanya," tukas Ameer.
"Sebenarnya jika mereka tidak ada di sini biasanya mereka ada di rumah bordil," ujar orang itu kemudian.
"Apa kau tahu dimana itu?" tanya Ameer lagi yang membuat orang itu cukup terkejut.
"Kau tidak tahu?" pekik orang itu dan Ameer hanya bisa menggeleng pelan.
"Sebenarnya kalian siapa? Sudah tiga kali aku melihatmu di komplek ini," kata orang tersebut.
"Aku hanya orang yang ingin membawa Meizia pergi dari sini."
...🦋...
"Astagfirullah, Bi, apa keputusan Ameer masih belum jelas? Keputusanku adalah keputusan Ameer, jadi hubungan kami tidak bisa dipaksakan," tukas Hana penuh penekanan.
Ia sungguh tidak habis pikir kenapa para orang tua itu masih terus membicarakan tentang perjodohannya dan Ameer.
"Tapi abinya Ameer bilang Ameer tidak akan menikahi wanita pilihannya, jadi dia bilang perjodohan kalian masih bisa dilanjutkan."
Hana menghela napas berat, melawan perintah orang tuanya sangat tidak mungkin tetapi menerima perjodohan itu juga jauh lebih tidak mungkin.
"Maafkan aku, Abi, tapi aku tidak mau menikahi pria yang mencintai wanita lain karena itu akan sangat menyiksa hidupku. Tidak akan ada dalam kebahagiaan dan ketenangan dalam pernikahan kami nanti," pungkas Hana berharap sang ayah mengerti.
"Jadi kamu mau menolak perjodohan ini?" tanya sang Ayah dan Hana mengangguk yakin. "Baiklah, kita ke rumah Ameer nanti malam. Kita harus berbicara dengan mereka secara terbuka."
...🦋...
Kakek melarang Ameer mencari Meizia ke rumah bordil, sebab ia merasa mereka tidak seharusnya masuk ke tempat seperti itu.
Mau tak mau Ameer harus patuh, ia pun mengantar kakek pulang sebelum ia kembali ke tempat kerjanya.
"Kakek yakin nanti Meizia akan pulang, kita datangi rumah mereka lagi nanti," ujar Kakek.
"Tapi perasaanku tidak enak, Kek," kata Ameer. "Entah kenapa sejak tadi malam aku terus memikirkan Meizia, aku mencemaskan dia, Kek."
"Kamu takut dia melakukan pekerjaan itu lagi?" tanya Kakek.
Ameer terdiam, tentu ia tak mau Meizia kembali melayani seorang pria lagi apalagi setelah Meizia memutuskan akan ikut pergi dengannya.
"Entahlah, Kek," lirih Ameer.
"Semoga saja tidak, Meizia sudah memutuskan berhenti jadi tidak seharusnya dia kembali ke tempat itu."
"Semoga saja tidak," gumam Ameer.
Beberapa menit kemudian Ameer sudah sampai di depan rumah Kakek.
"Hati-hati, Nak," seru Kakek sebelum Ameer pergi.
"Iya, Kek," sahut Ameer.
Dalam perjalanan kembali ke kantor, Ameer tak bisa menyingkirkan nama Meizia dari benaknya. Ia terus memikirkan wanita itu karena Ameer sangat yakin Meizia takkan melakukan pekerjaan itu lagi setelah Ameer meminangnya.
...🦋...
Saat sore menjelang, Ameer bersiap pulang ke rumahnya apalagi ia sudah mendapatkan pesan dari sang ibu agar segera pulang.
Namun, Ameer kembali teringat dengan Meizia sehingga ia memutuskan untuk kembali ke rumahnya.
Akan tetapi, sesampainya di sana Ameer masih tak menemukan ada orang di rumah itu.
"Cari dia lagi, Mas?" Ameer langsung menoleh saat mendengar suara itu. Ternyata tetangga Meizia yang tadi siang ia temui.
"Iya, Bu," jawab Ameer.
"Orangnya belum datang," tukas Ibu itu.
"Bisa minta alamat rumah bordil itu?"