Reynand Adam merupakan Adik kelas dari Naura Jovanka. Mereka terlibat cinta, namun Jovanka dijodohkan dengan laki-laki lain dan Rey meneruskan sekolah di sekolah penerbangan untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang pilot. Akankah cita-cita Rey menjadi seorang pilot terlaksana? dan bagaimana ceritanya Rey sampai menikahi seorang Janda?
Ikuti kisahnya dan jangan lupa LIKE/KOMEN/VOTE cerita Gue, ya? Itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis.
Hatur Nuhun,
Boezank Jr. (Darren_Naveen)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dareen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19 (Salah Paham)
Jo duduk di meja yang berdekatan dengan Alexy. Memang, tidak terlalu dekat sekali. Tapi, bagi Alexy bisa puas untuk memandang Jovanka yang ia tahu sebagai Naura.
Tak berselang lama waitress dengan buku catatan menu cafe, mendatangi meja Jovanka.
“Selamat siang, Mbak Naura? Mau pesan apa siang ini?” Waitress bertanya sembari siap mencatat.
“Iced Shaken Lemon Tea, Grande. Ya, Mbak. Kamu mau pesan apa, Sa?” tanya Jovanka.
“Samain aja, Jo.” jawab Salsa.
“Ya udah. Iced Shaken Lemon Tea, Grande-nya, dua Mbak.”
“Oke! Ditunggu ya, Mbak Naura?” Waitress tersenyum dan berlalu pergi.
“Sebenarnya ada apa, Jo?” Salsa mulai menginterogasi.
“Aku bingung sama Rey.”
“Kenapa?”
“Rey susah banget diajak jalan. Gak seperti pasangan lain yang selalu bersama. Tadi aja, Aku ajakin ke sini ia menolaknya. Aku harus gimana? Kadang Aku bosan dengan keadaan ini!” Keluh Jovanka.
“Jo. Rey itu kan sekolah sambil kerja. Masa, kamu sebagai pacarnya gak ngerti sih?” ucap Salsa yang berniat menengahi.
“Iya, Aku ngerti, Sa. Tapi, Aku mulai bosan dengan semua ini. Aku juga ingin menjadi prioritasnya dia!” Jo meruncingkan bibirnya.
Salsa memperhatikan ekspresi temannya yang sedang kesal. Jo masih seperti kekanak-kanakan, dalam hal ini. Mestinya, Jo mengerti dengan keadaan Rey saat ini. Dari sini, pemikiran Salsa jauh lebih dewasa dari pada Jovanka.
Bagaimana tidak? Sedari kecil Jovanka selalu merasakan hidup enak. Apa pun yang ia mau selalu dituruti oleh kedua orang tuanya. Walau ia kurang kasih sayang. Mungkin, hal itulah yang membuat Jo menjadi sosok yang keras kepala.
“Iced Shaken Lemon Tea, Grande.” Waitress menyajikannya di atas meja.
“Makasih, Mbak.” Ucap Jo dan Salsa.
Salsa belum mengetahui kalau Rey kerja di sini. Ia hanya mengetahui kalau Rey telah kembali mendapatkan pekerjaan baru di cafe. Bahkan, Jo tidak menanyakan nama cafe-nya pada waktu itu.
Dari sini sudah jelas. Jo kurang care terhadap Rey. Berbeda dengan Rey, ia memperhatikan dari mulai hal-hal yang kecil. Rey selalu memberikan rasa nyaman ketika Jo bersama dirinya.
Jo selalu menginginkan diprioritaskan. Sedangkan sikap dirinya? Jo belum bisa bercermin. Mungkin, Jo memang membutuhkan figur cowok yang selalu mengertikannya.
.
Emillia menghampiri meja Jovanka yang tengah duduk dan menikmati Iced Shaken Lemon Tea bersama sahabatnya.
“Hai ... semua?” Emillia menyapa ponakan dan sahabatnya yang sedang bercerita.
“Tante Emi?” Mata Jo membulat, kaget.
“Ngapain tante di sini?” timpal Jo lagi.
“Tante lagi ada perlu sama teman.”
“Oh ....” jawab Jovanka datar.
“Boleh tante gabung dengan kalian?” Emillia meminta ijin.
Jo melirik. Meminta pendapat sahabatnya. Salsa tersenyum menggantikan kata tak apa untuk menerima mereka bergabung bersama di satu meja.
Emillia memanggil Alexy untuk pindah ke meja Jovanka.
Jo pun terpana ketika melihat sosok pria dewasa yang tampan berkarisma dan mempunyai postur tubuh yang cukup tinggi. Walau tidak setinggi postur tubuh Reynand.
Alexy tersenyum, membuat Jo sedikit oleng karena hati yang telah semrawut. Terbesit di hatinya untuk berpura-pura menyukai orang ini agar Rey cemburu.
“Jo kenalin. Ini Alexy, teman tante. Ia seorang dokter.” Emillia tersenyum menatap Alexy. Dalam hatinya, ia berniatendekatkan Alexy dengan keponakannya.
Alexy tersenyum seraya menjulurkan tangan kanannya untuk berkenalan.
Emmm cocok nih, buat manas-manasin si Rey! Belum terlalu tua, seorang dokter lagi. Terbesit dalam hati Jovanka.
“Jo?” Sapa Emillia yang sedang melihat ponakannya melamun.
“Eh ... iya. Aku Naura Jovanka, Om.” Jo meraih lengan Alexy dan berjabat tangan.
Salsa merasa aneh dengan sabatnya. Karena, Jo bukan tipikal cewek yang gampang berkenalan dengan cowok. Tapi, mungkin Jo mau berkenalan karena tantenya sendiri yang mengenalkan. Salsa berusaha bersikap positif thinking terhadap sahabatnya.
Akhirnya mereka ngobrol bareng dalam satu meja. Percakapan antara Alexy dan Jovanka yang lebih mendominasi. Sementara Emillia dan Salsa hanya tersenyum mendengarkan perbincangan dua insan yang berbeda generasi.
Akhirnya. Jo dan Salsa pamit untuk pulang dengan alasan masih ada tugas sekolah yang harus dikerjakan.
***
“Nana?” Netra Rey terbelalak ketika adiknya ada di depan pintu kost-nya.
Rhiena tersenyum.
“Kok ke sini gak bilang-bilang?” Wajah Rey terlihat heran.
“Maaf, Bang. Mama memaksa Nana melihat abang secara langsung.”
“Tapi, mama gak ngikutin, kan?” ucap Rey sambil melihat kondisi di sekitar kost.
Rhiena menggelengkan kepalanya. "Aman, bang!" Rhiena mengangkat satu jempol tangannya.
“Tapi, Na. Abang mesti gawe (kerja) sekarang.”
“Ya udah, Nana anter. Nana ajak kak Vicky juga, ya? Nanti Nana nyasar lagi baliknya kalau enggak ada temen.” Rhiena terkekeh.
“Hem ... Modus!” Rey ngeloyor pergi.
“Abang! Mau ke mana? Nana ikut!” Sahut Rhiena sambil mengekor dari belakang.
Kaki Rey terhenti mendengar ada langkah kaki lain yang mengikuti.
“Kamu mau ikut abang mandi?” Rey mengernyitkan dahi.
“What? Mandi? Nana kira, abang mau gawe.”
“Bukan. Abang belum mandi. Ya udah sana, ajak Vicky. Kamu tau kan kamarnya di mana?”
Rhiena mengangguk dan ngeloyor pergi keluar dari kost Reynand.
Rey mengambil baju dalam kamar yang ia tumpuk. Karena, sampai detik ini, ia belum bisa membeli perabotan rumah tangga. Ia baru mampu membeli magicom untuk memasak nasi. Semua tampak sama seperti awal Rey memasuki kost.
Rey bergegas mandi dan berganti pakaian untuk kembali bekerja.
.
Di perjalanan, Rey yang membawa mobil merah itu.
Rey berpapasan dengan mobil yang dikendarai oleh Jovanka ketika mobil yang ia kendarai memasuki area cafe. Namun, Jo tidak mengetahui kalau yang ada di dalam mobil itu ternyata kekasihnya.
Rey sengaja tidak langsung keluar dari dalam mobil untuk menghindari Jovanka. Ia tidak ingin ada kesalahpahaman lagi antara Jo, dirinya dan Nana yang tak lain adiknya sendiri.
Rey belum bisa memberitahu tentang Rhiena yang tak lain adik kembarnya sendiri. Rey terlalu takut kalau jati dirinya akan terbongkar. Terlebih, papanya Jovanka juga seorang pengusaha. Kemungkinan besar untuk mengetahui tentang ayahnya Reynand.
Setelah mobil Jo menghilang dari pandangannya. Rey segera turun dari mobil merah itu. Yang diikuti oleh langkah kaki Vicky dan Rhiena.
“Kalian mau ngapain?” Mata Rey menyipit.
“Kita mau nongkrong di cafe, Rey.”
“Haduhhhh ... Kagak ada cafe laen, apa?” Rey memutar bola mata.
“Rey, Gue itu sahabat yang bae. Gue mau jagain adek Lu tapi gak jauh dari pengawasan Lu sebagai abangnya. Iya gak, Na?” Jawab Vicky.
Rhiena tersenyum.
“Ya udahlah. Tapi, jangan ganggu Gue kerja!”
“Idddiiihhhh ... Abang ke’pedean!” ucap Rhiena.
“Bukan ke’pedean, Na. Abangmu itu kecakepan!” Timpal Vicky.
“Kalau kecakepan, emang udah bawaan dari orok!” Rey memainkan alisnya.
.
Ting! Suara bel pintu berbunyi seraya pintu cafe yang terbuka.
Vicky, Rhiena dan Reynand masuk ke dalam cafe. Rekan-rekan kerjanya menyambut kedatangan Vicky dan Rhiena dengan tersenyum dan mengucapkan salam.
“Rey?” Mata Emillia membulat melihat paras tampan si barista baru.
Pertemuanku bersama Rey yang kedua kalinya di sini. Tapi, kenapa debar ini selalu ada ketika mata ini melihat wajahnya? Pekik dalam hati Emillia.
“Mi?” Alexy mencoba menyadarkan Emillia yang terlihat melamun.
“Hah?” Terlihat Ekspresi kaget pada dokter yang menyabet status janda cantik itu.
“Mulai deh, terpesona lagi.” Alexy tersenyum.
“Entah, Lex. Kok debar itu selalu ada ketika melihat dia, ya?” Emillia menyanggah dagunya dengan tangan kanan, seraya mata menatap lekat kepada pemuda bermata sipit itu.
Emillia tampak kaget ketika seorang wanita yang sepertinya seumuran Rey tiba-tiba memeluk.
Siapa gadis itu, ya? terbesit dalam hati Emillia.
Emillia meliat gadis cantik dengan postur tubuh yang tinggi. Jauh di atasnya. Gadis itu berpakaian menarik, serba branded. Dengan usia yang masih muda. Mungkin, bagi penglihatan kaum adam terlihat sempurna. Ada rasa penasaran pada Emillia ketika gadis cantik itu memeluk laki-laki yang ia sukai saat ini.
“Kamu cemburu, ya?” tanya Alexy.
“Enggak lah! Masa aku cemburu sama gadis kecil?” Emillia tersenyum sinis.
Alexy bisa menerka kalau memang Emillia sedang cemburu walau ia menyanggahnya. Tadi, sorot mata Emillia sangat terlihat ketika melihat gadis muda itu memeluk Reynand.
Akhirnya, Alexy dan Emillia memutuskan untuk pulang meninggalkan pertanyaan besar untuk Emillia tentang siapa gadis yang telah memeluk Reynand.
Sedangkan Rhiena dan Vicky duduk di meja cafe. Mereka mengobrol sambil memesan secangkir kopi panas di sore itu.
***
Jovanka akhirnya sampai di rumah Salsa. Ia memarkirkan mobilnya di depan pintu gerbang rumah sahabatnya.
Salsa masih terdiam di dalam mobil Jovanka.
“Kamu gak mau balik, Sa?” Jovanka mengernyitkan dahi.
“Aku masih bingung sama kamu ketika di cafe, Jo.”
“Bingung kenapa?”
“Kok, kamu mau berkenalan sama dokter Alexy? Padahal dia kan udah om-om.”
“Hahaha .... Terus?”
“Jangan-jangan, kamu mau dijodohin tante Emi sama dokter itu?”
“Terus?”
“Emang kamu mau? Atau, itu hanya trik biar Rey cemburu?”
“Cerdas!” Jo mencubit hidung Salsa.
“Aduh! Sakit, tau!” Bibir Salsa meruncing dan lengannya mengusap hidung yang ditarik Jovanka.
Jovanka tersenyum melihat Salsa kesakitan karena hidungnya ia tarik.
“Tapi, Jo. Gimana kalau om dokter malah suka sama kamu?”
“Biarin aja.”
“Terus, Rey gimana?”
“Salahnya sendiri. Kenapa aku bukan menjadi prioritas utamanya? Aku kan pacarnya!” ucap Jo menggebu.
Salsa menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari Jovanka. Mungkin, Jo lagi kesal terhadap Rey. Makanya ia menjawab seperti itu.
“Jo. Ati-ati loh, ucapan itu do’a.” Salsa mengingatkan.
Salsa membuka handle pintu mobil Jovanka. Ia melangkahkan kakinya, keluar dari dalam mobil itu. Ia memandang ke arah Jo, tapi Jo langsung melesat pergi tanpa ada satu patah kata pun yang terucap.
Apa Jo marah sama aku? Terbesit dalam hati Salsa.
***
Jo mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Di sepanjang jalan hatinya telah kesal. Kesal terhadap kekasih dan juga sahabatnya yang terasa mengguruinya.
Padahal, Salsa hanya mengingatkan Jovanka. Tapi, Jo tidak menerima dengan hati yang terbuka dan akhirnya terjadilah kesalahpahaman antara ia dan sahabatnya.
.
Jo menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang seraya memandangi langit-langit kamar. Angannya melayang, membayangkan ucapan Salsa sore tadi.
..
Bersambung..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁
mending pacaran sm yg dewasa bg Rey 🤭🤭