NovelToon NovelToon
Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Status: tamat
Genre:Romantis / Petualangan / Misteri / Cintamanis / Tamat
Popularitas:127.1k
Nilai: 5
Nama Author: Black_queen

Sekuel dari Supir untuk Sang Nyonya.
Ervino Prayoga, anak dari Malik dan Elisa yang mulai beranjak dewasa. Tanpa sengaja Ervin bertemu dengan Clara Adeline disebuah tempat wisata. Seorang gadis cantik nan manis itu membuat Ervin jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia mulai mencari tahu identitas lengkap gadis yang telah mencuri hatinya.

Nasib baik berpihak padanya. Ia mengirimkan lamaran kerja pada keluarga Clara untuk menjadi supir pribadi Clara. Dan akhirnya dengan cara curang ia menyuap orang yang menerima surat lamaran kerja dari orang lain sehingga hanya dialah satu-satunya yang mengirimkan berkas itu. Setelah mulai bekerja, ia sangat tak menyangka bahwa kepribadian dan watak Clara tak seperti yang ia kira.
Clara sangat jutek, keras kepala, pemarah dan tak segan mengutuknya. Masihkah Ervin menggapai cintanya dan menerima kepribadian Clara dengan lapang dada ataukah ia akan mencari cinta yang lain??

Simak terus kisah anak-anak dari novel pertama yang berjudul Supir untuk Sang Nyonya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black_queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19 Welcome Home

"Hey, jangan menceburkan diri! nyawa kalian akan lebih terancam lagi kalau berada di laut lepas!" seru pak tua.

"Jadi kami harus bagaimana Pak? sementara kapal ini saja membuat kami mual karena goncangannya," keluh salah satu pria.

"Tetap di atas deck! jangan bergerak berlebihan! tetap memegang benda yang tidak gampang tertiup angin," perintah pria tua.

Mereka semua patuh, akan tetapi ada yang tidak dan mengumpat dengan kencang di tengah lautan.

Ah, anak ini tidak akan lulus ujian terakhir.

Entah kenapa satu jam kemudian kapal dan ombak berhenti bersamaan, kini laut sudah tenang dan kapal sudah melaju dengan baik.

Ternyata bos Toni sudah tahu siapa saja diantara mereka yang akan menjadi anggota eksklusifnya, kini waktunya memulangkan mereka dengan aman.

Pria tua memperhatikan satu persatu pria berotot yang tengah duduk di atas dek. Dia teralihkan oleh Ervin yang sedang menengadah ke langit biru.

Anak itu sedari awal memang istimewa, keras kepala tapi tidak pantang menyerah.

Kriiiiinnnggg

Dering telepon seluler membuat perhatian mereka teralihkan. Ternyata pak tua mendadak menerima panggilan.

"Pak, jangan lupa berikan mereka satu persatu amplop yang sudah aku siapkan, dan katakan untuk membuka amplop itu ketika mereka sudah sampai rumah. Dan ingat cuma satu orang yang tidak lulus kali ini, keluarkan saja isinya dan ganti dengan kertas kosong," titah Toni pada pak Tua.

Pak tua hanya menyahut 'iya' tanpa berkata apa-apa lagi. Semua orang menjadi penasaran kenapa ekspresi pak Tua berubah drastis. Kapal mulai mendekati daratan. Ervin bersemangat untuk kembali berkumpul bersama keluarganya.

"Mas, itu kapal anak kita sudah mendekat," Elisa bersemangat.

"Iya, aku tahu," jawab suaminya santai.

Kapal berlabuh dan satu persatu penumpang turun diselingi gelak tawa kegirangan.

"Vin, kapan-kapan aku main ke rumah ya! untuk sementara waktu kita tidak bisa bertemu karena jarak," Royan tersenyum getir.

"Santai Bro, bisa video call walaupun belum bisa bertemu," mereka saling berpelukan.

"Sepertinya anak kita mendapatkan sahabat dekat," Elisa tersenyum pada suaminya.

Malik tidak menyangka bahwa anak lelakinya cepat menjadi dewasa. Kini dia bisa bernafas lega untuk membiarkan anaknya mengelola Apotek yang dia punya.

"Ma, Pa," Ervin memeluk kedua orangtuanya sekaligus.

Tangannya yang kekar membuat mereka terkagum-kagum.

"Ini otot semua Vin? wah anak Mama udah jadi pria macho," Elisa mencium kening anaknya.

Mereka pulang setelah berpamitan dengan anggota yang lainnya. Kini, tinggallah seorang Royan yang menatap kepergian sahabatnya.

"Semoga kamu tidak tahu siapa aku sebenarnya," Royan menyeringai lebar dan berlalu dari tempatnya berdiri.

****

"Masuklah! di dalam banyak orang yang menunggu kepulanganmu," Elisa menarik lengan anaknya.

"Apa-apaan ini Mam," Ervin terbelalak melihat aneka hiasan dinding dan bunga-bunga yang berada di area ruang tamu.

"Pesta penyambutan buat kamu sayang, orang-orang sudah ada yang datang, terus nanti malam kita lanjutkan lagi pestanya," ia tersenyum lebar.

"Buang waktu banget lho Mam," Ervin terpaksa masuk dan menyapa para tamu yang datang.

Dengan senyum terkembang ia menyalami mereka satu persatu.

Heboh bener si Mama, padahal cuma dua tahun aja aku gak di rumah.

Pria itu langsung duduk di sofa yang kosong, banyak teman-teman mamanya yang terpesona dengan keindahan tubuh Ervin yang berubah drastis.

"Dasar tante genit," lirihnya ketika banyak pasang mata seolah ingin menerkamnya.

"Wait, mana nih si Ervino?" terlihat seorang wanita mencari keberadaan dirinya.

"Ervin, aku kangen banget," tiba-tiba Jasmine memeluk tubuh Ervin.

"Woi jadi cewek gak usah bar-bar gini! gak usah meluk juga," pria itu melepaskan pelukan Mimi.

"Kamu itu bukan orang lain, kan kita udah seperti saudara sendiri," jelas Mimi, nada suaranya yang kecewa ia tutupi dengan pernyataannya.

"Udahlah aku capek mau ke kamar dulu," pria itu meninggalkan para tamu dan Mimi.

Ervin masuk ke dalam kamarnya, ia merindukan kamarnya yang besar dan mewah itu. Akan tetapi perhatiannya teralihkan oleh sebuah amplop coklat yang menyembul dari tas punggung yang ia bawa.

"Aku lupa kalau dapat ini tadi," dengan cepat tangannya meraih amplop dan menyobek ujungnya.

Ada tulisan besar yang menyatakan ia berhasil lulus dari ujian. Dan ada juga sertifikat yang berhasil ia dapatkan selama berlatih bersama Toni.

"Latihan yang memang menguji mental," ia tersenyum getir mengingat kenangan.

"Aku juga tidak akan diijinkan Papa kalau harus bekerja di tempat lain, pasti aku harus mengurus Apoteknya," Ervin menggaruk rambutnya yang tidak gatal.

Kini ia harus memilih jalannya sendiri selain mengurus usaha keluarga besarnya.

...----------------...

"Non Clara, Tuan memanggil di ruang kerja!" seru si Bibi.

"Okey Bi, aku ke sana sekarang!" dengan santai Clara melangkah.

"Ada apa Pi?" tanyanya tanpa basa-basi.

"Ambil ini!" sebuah amplop papinya lempar tepat di depan mejanya.

"Apa sih ini?" Clara membuka amplop itu karena penasaran akan isinya.

Matanya terbelalak tak percaya, tangannya menutupi mulutnya yang ingin berteriak. Sudah lama sekali ia tidak berlibur ke negara tetangga itu.

"Buat aku Pi?" tanyanya bersemangat.

"Iya, tiket liburan ke Singapura, asalkan kamu mau menuruti kemauan Papi," pria itu mengajukan syarat.

"Syarat apalagi sih Pi? bukannya Rara udah lulus kuliah dan bekerja di perusahaan Papi?" ia merengut kesal.

"Kamu harus mau di awasi oleh dua orang bodyguard, itu saja syaratnya," ucapnya tegas.

"Kalau begini bukan liburan namanya," gerutunya.

"Mau apa Enggak?"

"Mau Pi, gak masalah asalkan aku bisa mengajak sahabatku," imbuhnya.

"Boleh, bawa satu atau dua orang sahabatmu, tapi ingat jangan terlalu percaya dengan mereka," Mr D mengingatkan anaknya.

"Siap dong Pi," Rara berbalik arah dan meninggalkan ayahnya.

"Yes, aku liburan," Rara menari kecil.

Dia tidak tahu bahwa ada sepasang mata yang memandangnya dengan tatapan penuh arti. Lengan orang itu bersedekap dan bahasa tubuhnya menyiratkan kesombongan.

Anaknya aja diijinkan pergi, kalau aku gak boleh kemana-mana kecuali bersamanya. Kapan sih mampusnya itu orang.

Bruagh...

"Ma-ma-af Nyonya besar, saya tidak sengaja," bibi menabrak majikannya.

"Makanya kalau jalan pake mata Bi!" sahutnya cepat.

"Saya buru-buru sekali mau ngasih cemilan ini pada Nona, Nyonya," jelasnya.

"Ya sudah pergi sana! nanti Nona kesayangan kamu itu udah pergi jauh," wanita itu mendengus sebal dan meninggalkan tempatnya berdiri.

Kriiiiinnnggg...

"Apa lagi sih? sudah aku bilang jangan pernah menelepon aku di nomer ini!" ia menepi ke sudut kamar.

"Memangnya kenapa? gak boleh?" suara di seberang tak mengindahkan.

"Aku tidak akan pernah membiarkan kamu merasakan kekayaan itu sendirian! kita harus bertindak secepat mungkin agar si tua itu bisa bangkrut," seru suara diujung telpon.

"Slow, jangan gegabah! aku sudah memikirkan cara jitu," wanita itu menyeringai licik.

"Apa caramu?" tanya suara di seberang.

"Caraku menyelesaikan tugas ini dengan....

*

*Bersambung

1
Sulaiman Efendy
GAK ADA ROMANTIS ROMANTISNYA, INTRIK SEMUA JLN CERITANYA..
Sulaiman Efendy
INI AHKLAK& ATITUDE ERVIN KOQ GK BAIK BANGET,, KYK GK DI DIDIK AGAMA,, DGN ORTU SUKA NGELAWAN...
ⓛⓤⓟⓐ ⓝⓐⓜⓐ 🤯☄️
Ervin sama Clara itu karakternya 11 12 sih. Udah kayak cermin dan pantulannya lho
Your 𝓑𝓪𝓼𝓽𝓪𝓻𝓭
🥶🥶
Pa'tam
menarik
zamal78901
😎😎😎😎😎😎😎
👍 so cool! 👍
💋😏😏😏😏😏💋
👌🚀🚀🚀🚀🚀👌
🚗📷📷📷📷📷🚗
😈😈😈😈😈😈😈
zamal78901
kereeen
zamal78901
teruuusss kan
zamal78901
dasar iblis tua yg tak tau berterima kasih... 😄😁
zamal78901
😊👍✨😊👍✨😊👍✨
zamal78901
mantabs
zamal78901
🦾🦾🦾🦾💪💪💪💪
zamal78901
tetap semangat
zamal78901
berikutnya
zamal78901
teruuusss kan
zamal78901
lanjuuuuuts lagi
zamal78901
nah lho ??
zamal78901
next
zamal78901
lanjuuuuuts
zamal78901
teruuusss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!