Terbelenggu dalam pernikahan yang tidak diinginkan, mampukah pernikahan itu bertahan?
Bagaimana bila yang selalu berjuang justru menyerah saat keduanya sudah disatukan dalam ikatan suci pernikahan?
“Cinta kita seperti garis lurus. Bukan segitiga atau bahkan persegi. Aku mencintai kamu, kamu mencintai dia dan dia mencintai orang lain. Lurus kan?” ucap Yuki dengan tatapan nanar, air mata yang mulai merembes tertahan di pelupuk mata. “Akan lucu dan baru menjadi bangun datar segi empat bila sosok yang mencintai aku nyatanya dicintai orang yang kamu cintai.”
“Di kisah ini tidak ada aku, hanya kamu dan kita. Bukankah kita berarti aku dan kamu? Tapi mengapa kisah kita berbeda?” Ucapan lewat suara bergetar Yuki mampu menohok lawan bicaranya, membungkam bibir yang tiba-tiba beku dengan lidah yang kelu.
Ini adalah cerita klise antara pejuang dan penolak hadirnya cinta.
*
*
*
SPIN OFF Aara Bukan Lara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesak yang Menghadirkan Tawa
‘Di sini aku pikir perjuangan cinta ku akan berbuah manis. Seandainya mata ini bisa menembus ke masa depan, mengintip kisah kita yang sekacau cakaran kucing oren.’ Gumam Yuki sendu sembari mengerjap lesu.
Huufft..
Menghela nafas panjang, Yuki meremas jemarinya yang bertumpu di atas paha. ‘Ternyata sulit mengulik isi hati kamu.’
“Maaf, Mbak, ini kita lanjut perjalanan lagi tidak?”
Terperanjat dari lamunan dan gumaman sendunya, Yuki kembali menghela nafas panjang, menegakkan punggung dan menolehkan kepala menyauti ucapan supir taksi. “Eh, iya lanjut Pak. Hampir lupa saya kalau-.. Ha?? Argo nya bener itu Pak?” Terbelalak dengan mulut terbuka lebar yang membeku, kelopak mata yang sempat malas dikerjapkan itu kini seakan enggan terkatup.
“Bener, Mbak.” Jawaban singkat itu semakin membuat Yuki mendesah kecewa. Dompetnya akan bertambah tipis, bukan ketebalannya yang menipis, tapi akumulasi jumlah dana yang menipis.
“Mahal banget udah 240 ribu 900 rupiah..” Gumam Yuki lirih, kembali menyandarkan punggungnya dengan lemah.
“Mbak hampir setengah jam melamun.” Balas sang supir yang rupanya masih mampu mendengar suara bergumam Yuki.
“Mungkin kalau saya gak panggil makin lancar rejeki saya.” Imbuhnya lagi sambil membelokkan laju kendaraan ke kiri jalan di persimpangan.
“Bukan makin lancar, Pak. Tapi Bapak bakalan saya kasih buku catatan hutang, lengkap sama stempel cap jempol pakai lipstick.” Seloroh Yuki asal, mana mungkin dirinya akan mengutang biaya taksi. Lebih baik turun dan berjalan kaki dibandingkan mempermalukan diri dan menyulitkan rejeki orang lain.
“Ada-ada aja Mbak nya ini. Jadi ini lanjut sampai terminal kan mbak?”
“Iya, Pak.” Jawab Yuki cepat, menanti dengan tidak sabar untuk segera menuju terminal bus. Rasanya ingin cepat-cepat sampai ke rumah orang tuanya, meminta pelukan Mama dan Papa yang cukup sulit didapatkannya.
Sayangnya harapan Yuki tidak langsung dikabulkan. Terbukti kini Yuki harus menahan kantuk sambil menjaga barang-barang bawaannya yang cukup sedikit.
Mendongakkan kepala sambil melebarkan kelopak mata, Yuki menggeleng cepat dan asal, menghalau kantuk yang terus merajarela. Kepala Yuki sedikit berdenyut, mungkin selain karena mengantuk juga efek dari menangis sebelumnya yang Yuki lakukan selama perjalanan pulang ke rumah mertuanya.
“Permisi Mas.”
“I-Iya..?”
‘Lah kaget dia.’ Gumam Yuki sedikit mengulum senyum. Jika yang tersentak kaget hingga salah tingkah di dekatnya ini Dimas, pasti sangat seru menjahilinya, begitu pikir Yuki pada sosok asing yang tampak gelagapan.
“Bus tujuan Kota S beneran berangkat jam sebelas malam ini ya?” Tanya Yuki tanpa menanyakan perihal tujuan orang asing yang sedang ditanyainya. Sedari tadi Yuki sudah menangkap gelagat resah seseorang yang terus menatap lajur bus tujuan Kota S, sama seperti dirinya yang tidak patah semangat menatap jalur kedatangan dan keberangkatan bus dari Kota S yang masih sepi.
“Iya, Mbak. Jam sebelas.” Jawabnya jelas, lugas, singkat dan tanpa basa-basi yang hanya diangguki canggung oleh Yuki.
Kedua orang asing itu kini kembali pada kondisi semula, hening tanpa ada pembicaraan lagi. Tidak ada perkenalan atau kelanjutan dari basa-basi yang sebenarnya tidak penting, bahkan saat tiba waktu keberangkatan keduanya sudah membaur dengan orang-orang baru yang tentunya sama asingnya.
‘Dulu saat aku sendiri, aku gak pernah membayangkan menyusul Mama dan Papa. Terlalu nikmat rebahan dan menanti mereka ada waktu untuk aku. Sekarang saat status aku udah istri orang, aku malah menyusul mereka karena aku merasa sendiri.’ Gumam Yuki sembari mengukirkan jari telunjuknya pada kaca bus antar Kota.
Memeluk erat tas selempang berisi seluruh hartanya, memejamkan mata yang sesekali kembali terbuka karena tidak tenang. Meski di sampingnya hanya wanita tua renta, namun tidak mengapa kan Yuki sedikit waspada. Bisa gawat jika imajinasi liar bawaannya dirampas saat tidur benar-benar terjadi.
Ciiit..
Suara ban berdencit saat tuas rem ditarik menarik perhatian Yuki. Tubuh yang sempat terhuyung menumpukan tangan kanan pada kursi penumpang di depannya. Menoleh pada keadaan sekitar, Yuki sadar dirinya harus turun untuk berganti bus lagi.
Meski kepergian Yuki kali ini adalah pertama kalinya, namun Yuki cukup tau pada hal apa yang harus dilakukan. Sudah ada petunjuk arah dan alur perjalanan yang bisa ia pelajari terlebih dahulu.
“Sakit semua badan aku. Kalau naik pesawat sebentar aja pasti udah sampai.” Keluh Yuki sambil meregangkan badannya. Tulang-tulang di tubuhnya seolah berteriak kelelahan.
Uang tabungan dari jatah bulanan yang sudah lama terkumpul memang cukup untuk Yuki membeli tiket pesawat, namun jika dipikirkan lagi lebih baik menempuh perjalanan jauh itu dengan bus. Yuki sudah memiliki rencana ingin memanjakan diri dengan wisata kuliner setelah disemprot amarah Mama dan Papa nya.
Yuki yakin tidak akan lama dirinya juga akan ketahuan sudah pergi tanpa pamit dari rumah Papa Leigh dan Mama Agni. Tidak mungkin kedua mertuanya itu berdiam diri saat tau Yuki tidak ada di rumah dan tidak bisa dihubungi.
Sebegitu percaya dirinya Yuki, tapi di sudut hatinya sedang merintih pilu pada sosok yang pasti akan mencarinya dalam keadaan emosi memuncak dan kembali menggores luka untuknya. Yuki sudah membayangkan dirinya akan disalahkan karena menimbulkan masalah dari aksi kaburnya. Memang salah, namun mau bagaimana lagi jika Yuki sudah muak menatap manusia batu yang hingga kemarin malam masih berbagi ranjang dengannya.
“Besok pagi bukan kopi susu buatan aku yang kamu minum.” Gumam Yuki sambil menelan saliva nya, dirinya kehausan, namun melihat kopi susu yang baru saja disajikan membuat Yuki teringat pada kebiasaan sang suami.
Menengguk sebotol air mineral dengan mata yang sesekali melirik ke sebuah warung sederhana, Yuki sedang menanti bus terakhir yang akan membawanya ke pemberhentian terakhir. Saat ini tepat pukul 3 pagi dan dirinya sudah sangat mengantuk. Jika saja di terminal itu ada perlombaan menguap, mungkin Yuki akan masuk dalam kategori menguap teratas.
“Biasa jam segini kamu bangun, mata masih terpejam tapi jalan ke kamar mandi gak pernah nabrak. Udah setiap malam aku doakan moga tersungkur juga kamu masih aman-aman aja, mungkin karena itu kamar kamu ya..” Ucap Yuki lirih seorang diri, tersenyum bodoh hingga nyaris disangka orang gila baru.
“Hish!! Ngapain sih mikirin orang itu!” Ucap Yuki kesal sambil menghentakkan kaki, meremas botol bekas minum yang masih setia tergenggam oleh tangan kanan.
‘YUKI SADAR..!!’ Membatin Yuki menjerit, meski tidak mengeluarkan suara, namun jelas Yuki sedang bergejolak hebat melawan rasa menusuk tak kasat mata dalam batinnya.
Berdiam dengan mata terpejam erat, urat di pelipis menonjol, dahi mengerut dan rahang mengeras, Yuki mencoba meredakan nafasnya yang memburu. Bergelut hebat dengan perasaan rindu menyakitkan yang sekuat tenaga ia hempaskan.
Sekelebat bayangan pertemuan yang sengaja Yuki lakukan membuat Yuki menyesali tindakannya di masa lalu. Seandainya dan jika saja adalah kata yang terus terulang dalam benak Yuki. Hanya sebuah kata-kata biasa yang memiliki makna tajam dan menohok melukai relung hati terdalam.
Melangkahkan kakinya kembali pada sebuah bus berwarna biru, Yuki tersenyum getir pada kenangan yang kembali berputar. Ingin menangis menumpahkan sesak yang menghadirkan tawa, namun Yuki terlalu malu penampilan mirisnya disaksikan banyak pasang mata.
...****************...
*
*
*
Ada yang terus menanti kelanjutan kisah ini?
Jika berkenan mohon bantuannya ya untuk share kisah Yuki, biar makin rame pembacanya😄 Terima kasih😘