Laila adalah seorang wanita cantik dan sederhana yang bekerja di sebuah perusahaan terbesar di kota, sang CEO yang memimpin perusahaan tersebut begitu menyukai nya.
Dia sering membelikan perhiasan dan tentu nya memberikan perhatian, dan yang pasti yang membuat Laila suka adalah perhatian nya.
Dia pun selalu berusaha untuk menjadikan Laila milik nya, tapi sayang nya di saat Laila sudah jatuh cinta pada nya bahkan sudah menyerahkan kehormatan nya, kedua orang tua sang CEO tak menyetujui nya.
Laila pun di ancam, akhirnya dia pun pergi dan menghindar dari pujaan hati nya.
Yuk, bantu baca karya ku si penulis yang masih amatiran ini.. Mohon dukungan nya ya..
IG @suliani_cucu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apakah Om Ayahku?
Adam masih setia memandangi pria itu, di lihat dari sisi mana pun dia begitu tampan menurut Adam. Walupun mata nya terlihat sangat lelah dan bahkan di bawah matanya terlihat lingkar hitam, pria itu tetap terlihat sangat tampan di mata Adam.
Adam pun tersenyum, dia pun duduk di samping pria itu. Tanpa di duga Adam memeluk pria itu dari samping dan menyandarkan kepala nya di dada nya, hal itu membuat Devano mengernyit heran.
Devano merasa jika Adam terlalu berlebihan, Adam bahkan tak mengenal adik angkat nya. Tapi dengan mudah nya dia memeluk nya dengan sayang, bahkan tatapan nya pun begitu teduh saat melihat adik angkat nya itu.
"Kenapa anak itu begitu dekat dengan adikku?"
Mata pria yang sedari tadi hanya memancarkan tatapan kosong itu, kini beralih melihat Adam yang sedang memeluk nya dengan erat.
Tangan kecil Adam melingkar manja di perut pria itu, sebuah kehangatan kini menghampiri pria itu. Senyum yang sudah lima tahun tak terlihat di bibir nya, kini terulas dengan sempurna.
"Kamu siapa?"
Adam pun mendongak kan kepala nya, dia memberikan senyuman termanis nya untuk pria itu. Pria itu terlihat kaget, bahkan pria itu langsung melepaskan pelukan Adam dan berusaha untuk menjauh dari Adam, tapi pria itu malah jatuh dan tersungkur ke tanah.
Devano pun terlihat kaget melihat respon dari adik angkat nya, dia pun segera menghampiri nya dan membantu nya berdiri.
"Kamu nggak apa apa Dek?" tanya Devano khawatir.
Bukan nya menjawab, pria itu malah balik bertanya, karena dia baru bertemu kembali dengan Devano.
"Bang, sejak kapan Abang di sini? "
Devano pun langsung tersenyum, dia begitu senang dengan respon adik angkatnya itu. Adik angkat itu langsung mengenali dirinya dan menyapa dirinya dengan baik.
"Alhamdulillah, Ade Abang ini rupa nya sudah mulai mau berbicara kembali."
"Memang nya aku kenapa?"
"Sudah empat tahun ini kamu seperti orang keder, tak pernah berbicara. Hanya diam mematung, seperti patung yang tak bernyawa."
Pria itu terlihat begitu keheranan dengan apa yang dikatakan oleh Devano, karena dia merasa tidak seperti itu.
"Benarkah? Lalu dia siapa? Kenapa saat melihat nya aku merasa melihat diri ku?"
Devano ingin tertawa dan juga ingin marah, karena adiknya malah berkata seperti itu. Adam masih sangat kecil, tapi dibilang oleh pria itu kalau Adam seperti dirinya.
"Kau bercanda? Dia masih kecil, tapi kau bilang seperti diri mu?"
Pria itu pun merasa penasaran dan dengan cepat dia menghampiri Adam lalu menggendong nya, Adam pun dengan senang hati memeluk leher pria itu dengan erat.
"Nama Kamu siapa Sayang?"
"Adam Putra Pratama, nama ku bagus kan Om?"
Pria itu nampak kaget mendengar marga Adam, dia yang juga merasakan rasakan langsung bertanya kembali kepada anak kecil itu.
"Pratama? Apa kah ibu mu bernama Laila Natalie Pratama?"
Seperti yang Adam duga, pria itu kemungkinan besar adalah Ayah kandungnya. Karena saat ada menyebutkan nama komplitnya, pria itu terlihat kaget dan juga penasaran.
Bahkan sesuai dengan yang Adam simpulkan, pria itu mengenal ibunya. Bahkan, pria itu menyebutkan nama ibunya dengan tepat.
"Benar, Om sangat pandai. Apa Om kenal dengan ibu ku? "
Bukan nya menjawab, pria itu malah menangis. Dia pun menciumi wajah Adam ,sedangkan Devano kini terlihat bingung karena ternyata adik nya mengenal Laila.
"Om kenapa menangis?" tanya Adam.
Bukannya menjawab pertanyaan Adam, pria itu malah kembali bertanya kepada Adam. Devano semakin terlihat kebingungan.
"Apa Om boleh bertemu dengan ibu mu?"
Adam bisa melihat rasa penasaran yang tinggi dari sorot mata pria itu, dia juga bisa melihat terasa rindu yang begitu besar. Bahkan, dia bisa melihat penyesalan yang begitu besar dari sorot mata pria tersebut.
"Tentu saja boleh," jawab Adam.
Pria itu pun melihat ke arah Devano, karena menurutnya hanya Devano yang bisa membantu dirinya untuk mempertemukan Laila dan dia.
"Bang, tolong antarkan aku ke rumah Laila."
Ada rasa takut yang begitu besar ketika adik angkatnya itu meminta dirinya untuk mengantarkan ke tempat Laila, tetapi dia juga tidak bisa mengabaikan permintaan dari adik angkatnya tersebut.
"Baiklah, tapi kamu harus menjelaskan semua ini pada ku."
"Nanti aku jelaskan di mobil, sekarang tolong antarkan aku?"
"Iya cerewet, Ayo."
Akhirnya Devano pun mengajak Pria itu ke rumah Laila, sedangkan Adam terlihat tak ingin lepas dari pria yang baru dia temui itu.
Adam terus saja memeluk pria itu sambil memandang nya dengan intens, sedangkan pria itu terlihat sedang memberikan senyuman terbaik nya pada Adam.
"Dek, tolong jelaskan pada Abang sebenar nya ada apa ini?"
"Kalau dugaanku benar, Adam adalah putraku dengan Laila."
Devano terlihat syok dengan penuturan Adik angkat nya, sedang kan Adam terlihat sangat senang. Bahkan wajah nya pun langsung berbinar, dan senyum nya kian mengembang.
Dia sudah sangat lama sekali ingin bertemu dengan ayahnya, walaupun Laila berkata jika ayahnya sudah meninggal, tetapi Adam merasa tidak percaya.
"Apa Om sungguh Ayah aku?" tanya Adam tanpa mau mengalihkan pandangannya dari pria itu.
"Seperti nya begitu, apa kamu tidak sadar kalau kita begitu mirip." Pria itu berkata sambil tersenyum.
Devano pun nampak memperhatikan wajah mereka berdua, dan benar saja mereka memang sangat mirip. Dari sisi manapun sama, Devano mulai patah semangat.
"Kalau Adam adalah anaknya Arkana, berarti sudah tidak ada harapan untuk ku mendekati Laila." Devano hanya bisa mengatakan hal itu di dalam hatinya saja.
Mobil Devano pun sudah terparkir tepat di depan rumah Laila, mereka pun langsung turun . Arkana dan Devano terlihat berjalan beriringan, sedangkan Adam masih setia di gendongan Arkana.
"Assalamu'alaikum!"
Devano pun mengucap kan salam, karena dia tidak mungkin langsung masuk begitu saja ke dalam kediaman wanita itu.
"Waalaikum salam!"
Terdengar Laila menyahut dari dalam. Tak lama kemudian, Laila pun keluar dari dalam rumah nya. Tubuh nya langsung terpaku saat melihat Arkana yang sedang menggendong putra nya, sedangkan Arkana terlihat melebarkan senyum nya saat melihat Laila.
Arkana menurun kan Adam dari gendongan nya, dia pun langsung memeluk Laila dengan erat. Dia seolah tidak ingin melepaskan wanita itu kembali, dia terlihat begitu takut kehilangan.
"Laila, aku rindu. Kenapa kamu begitu tega meninggal kan aku, aku sudah mencari mu ke mana mana tapi tak pernah ketemu."
Arkana menatap Laila dengan penuh rindu, dia bahagia tapi juga sedih karena Laila seakan tak menginginkan dirinya. Wanita itu pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada dirinya.
Laila hanya diam saja mendengar ucapan Arkana, hanya air mata yang mampu menjawabnya. Dia juga begitu rindu, tetapi bingung untuk mengatakannya.
"Laila Sayang, kenapa kamu diam saja?Bicaralah Sayang, Mas rindu." Arkana berkali-kali mengungkapkan perasaannya, dia menangis sambil mengutarakan isi hatinya.
Laila pun melepaskan pelukan Arkana, dia terlihat sendu saat menatap lelaki yang sudah lima tahun lebih dia tinggal kan.
"Maaf Mas, maaf kan aku. Aku tidak mungkin sanggup melawan ke dua orang tua mu, mereka mengancam akan membunuh ku dan bayi yang ada di kandungan ku kalau aku tak meninggal kan kamu kala itu." Laila seraya terisak.
Arkana tentunya tahu kalau kedua orang tuanya tidak setuju dengan hubungannya dengan Laila, bahkan kedua orang tuanya itu berkali-kali mengancam Laila untuk meninggalkan dirinya.
Namun, dari dulu pun Arkana selalu bertekad akan selalu bersama dengan Laila. Dia akan memperjuangkan Laila, terlebih lagi ada bayi yang sedang berkembang di dalam rahim Laila.
"Aku tahu itu, tapi kamu kan juga tahu jika aku akan selalu bersama dengan mu dan juga anak kita."
"Ya, tapi tetap saja aku takut dengan ancaman kedua orang tua kamu."
"Aku paham, tapi kamu benar-benar menyiksa aku."
Laila hanya bisa menundukkan kepalanya, dia tidak bisa menjawab lagi ucapan dari Arkana. Pandangan Arkana lalu beralih pada Adam, anak itu sangat lucu dan juga menggemaskan.
"Dia anak kita kan?"
"Hem em, dia sangat mirip dengan mu."
Arkana merasa bangga sekali karena ternyata dia memiliki seorang putra yang begitu tampan, dia langsung menolehkan wajahnya ke arah Devano.
"Bang, sudah ku bilang kan saat aku melihat nya, aku seperti melihat diri ku." Arkana berkata pada Devano dengan begitu percaya diri.
Devano yang masih syok mengetahui hal ini hanya bisa manggut manggut, dia merasa tak percaya jika wanita yang sudah menyita perhatian nya adalah ibu dari anak adik nya.
"Jadi Om beneran Ayah ku?" tanya Adam.
Walaupun dia begitu yakin kalau Arkana adalah ayahnya, tetapi tetap saja dia ingin menanyakan kebenarannya kepada pria itu.
"Yes, aku Ayah mu Nak." Arkana berkata sambil mencubit gemas hidung Adam.
"Sudah ku duga jika kau adalah Ayah ku." Adam berkata dengan percaya diri, dia bahkan sampai menepuk-nepuk dadanya.
Devano, Laila dan juga Arkana terlihat bingung dengan apa yang di ucap kan oleh Adam. Karena bisa-bisanya anak kecil itu berkata demikian.
"Maksud kamu Boy?" tanya Devano.
"Tentu saja aku minta Om membujuk ibu ku untuk datang ke sini karena Ayah ku, aku ingin memastikan jika Ayah ku masih hidup. Karena saat aku melihat foto kebersamaan Om kala di kantor itu, aku yakin jika itu adalah Ayah ku."
Adam menjelaskan analisisnya, semua orang yang ada di sana nampak kagum dengan apa yang dikatakan oleh Adam. Anak kecil itu benar-benar sangat jenius.
"Ya ampun, anak Ayah sangat pintar." Arkana kembali menggendong putranya, dia begitu bangga sekali memiliki putra seperti Adam.
"Bukan hanya pintar, tapi dia sangat jenius. Kamu tahu Mas, dia sudah pandai mencari uang. Bahkan hidup kami kini sangat lah baik, karena penghasilan yang di dapat kan oleh Adam. "
Laila menjelaskan tentang kehidupannya saat ini, kehidupan yang berubah drastis setelah Adam bekerja dengan begitu keras.
"Ayah bangga sama kamu sayang," ucap Arkana seraya menghujani wajah Adam dengan ciuman.
Laila terlihat mengembangkan senyuman nya, dia merasa sangat bahagia saat melihat Adam bisa bertemu dengan Ayah nya. Tapi Laila juga merasa khawatir, jika nanti orang tua Arkana mengetahui keberadaannya dengan Adam.
'Akan seperti apa kehidupanku dan juga Adam setelah diketahui oleh kedua orang tuanya Mas Arkana?' tanya Laila dalam hati.