Ia hanyalah seorang "murid sampah" di Sekte Pedang Giok, pemuda tanpa masa depan yang hidup dalam kehinaan dan penindasan. Hingga suatu hari ia mendapatkan kembali ingatan masa lalunya, ketika ia masih seorang Kaisar Agung di alam atas dan pernah memimpin jutaan pasukan di atas medan perang berdarah.
Namun, karena mendapatkan pengkhianatan yang kejam dari murid kepercayaannya sendiri, Ia kini harus memulai segalanya dari awal.
Sampah? Tidak! Ia menggunakan seluruh memori masa lalunya dan mengubah dirinya menjadi sosok tak tertandingi yang dapat menyapu bersih semua semut pengganggu dari jalannya.
"Aku adalah ... Qin Xiang."
Genre: Aksi, Kultivasi, Reinkarnasi, Balas Dendam, Harem.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#21: Jenius Sekte
Aula Misi Sekte Pedang Giok nampak lebih riuh dari biasanya. Aroma dupa yang menenangkan berbaur dengan hawa panas dari ratusan murid yang mengantre untuk menukarkan hasil keringat mereka. Di balik meja besar yang terbuat dari kayu gaharu hitam, Tetua Chu sibuk menggoreskan kuasnya, menilai satu per satu lencana lencana murid yang kembali dari misi penyelamatan desa.
Namun, ketenangan sang tetua seketika buyar saat Qin Xiang melangkah maju. Tanpa sepatah kata pun, Qin Xiang meletakkan tas kulitnya yang menggembung di atas meja. Dengan satu sentakan tangan, ia menumpahkan isinya.
Sret!
Brak!
Ratusan telinga kiri binatang buas tumpah ruah, menumpuk seperti gunung kecil di hadapan Tetua Chu. Suasana di sekitar mereka mendadak hening. Qu Long, yang baru saja menerima hadiahnya dengan bangga, kini hanya bisa berdiri tercengang. Mulutnya menganga lebar, seolah jiwanya baru saja terbang meninggalkan raga saat melihat tumpukan bukti pembantaian tersebut.
“Kau... kau yang membunuh semua makhluk ini?” Tetua Chu bertanya dengan suara yang bergetar karena rasa tidak percaya.
Jemari tuanya yang gemetar mulai memilah tumpukan itu. Matanya membelalak saat menemukan beberapa pasang telinga Binatang Buas tingkat tiga yang masih menyisakan sisa-sisa energi spiritual yang tajam. Sisanya adalah tingkat dua dalam jumlah yang tak masuk akal, dan untuk tingkat satu—sang tetua seolah kehilangan minat untuk menghitungnya karena terlalu banyak.
“Apakah sebagian dari ini milik Duan Du?” tanya Tetua Chu dengan tatapan interogasi yang tajam, mencoba mencari logika di balik kegilaan ini. Ia sudah melihat Xiao Jing dan kedua pengikutnya kembali seminggu yang lalu dengan hasil yang biasa saja, namun Duan Du belum menampakkan batang hidungnya.
“Duan Du...?” Qin Xiang menggelengkan kepala perlahan, ekspresinya sedatar permukaan telaga di tengah malam. “Aku tidak tahu di mana dia. Setahuku, dialah yang meninggalkan desa paling awal di antara kami semua.”
Tetua Chu mengangguk pelan, meski gurat kecurigaan masih membayang di keningnya. Namun, sebagai seorang tetua, ia tidak ingin berbelit-belit tentang keberadaan seorang murid di tengah hutan yang ganas. “Berikan plat identitasmu. Aku akan memberikan penilaian hadiah yang setimpal untuk kontribusi yang... luar biasa ini,” katanya sembari menyapu tumpukan bukti itu ke dalam wadah khusus.
Qin Xiang hanya diam, matanya menatap kosong ke depan. Di sampingnya, Qu Long akhirnya berhasil menemukan kembali suaranya. “Kakak Qin... aku tidak menyangka kau sekuat ini,” bisik Qu Long dengan rasa kagum yang meluap-luap. “Bahkan jika si sombong Duan Du itu membunuh banyak, tidak mungkin ia bisa melampaui tumpukan mayat yang kau buat ini!”
Qin Xiang hanya melirik Qu Long dengan santai, membiarkan kesalahpahaman itu mengakar. Ia tidak perlu menjelaskan bahwa sebagian dari telinga itu memang "sumbangan" paksa dari Duan Du sebelum pemuda itu menjadi santapan cacing tanah di hutan. Itu pun kalau dia bisa kembali ke sini untuk menuntutnya, batin Qin Xiang dingin.
Keheningan melanda mereka selama beberapa waktu sebelum Tetua Chu kembali. Kali ini, sebuah senyum tipis tersungging di wajah keriputnya. Ia menyerahkan kembali plat identitas Qin Xiang, namun ada yang berbeda. Plat itu kini tidak lagi berwarna perak kusam, melainkan memancarkan pendar keemasan yang mewah dan agung.
“Aku telah menambahkan 7.500 poin sekte ke dalam platmu,” ujar Tetua Chu.
“Kenapa warnanya berubah menjadi emas?” Qin Xiang menerima plat itu, merasakan bobot energinya yang berbeda.
“Kakak Qin, kau benar-benar tidak tahu apa artinya ini?!” Qu Long menyela dengan nada suara yang naik beberapa oktav karena rasa iri dan terpana. “Plat Emas hanya diberikan kepada murid-murid Qi Fondasi tahap sembilan yang dianggap sebagai jenius mutlak sekte luar! Ini adalah pengakuan tertinggi! Bagaimana mungkin kau bisa menerimanya padahal kau baru saja menapakkan kaki di Qi Fondasi tahap pertama?”
Tetua Chu tidak marah meski ucapannya dipotong. Ia justru menatap Qin Xiang dengan pandangan penuh minat, seolah sedang melihat sebongkah batu giok yang baru saja dipoles.
“Kau adalah orang pertama dalam sejarah sekte ini yang mematahkan per tersebut, Nak. Bahkan catatan sejarah kita harus ditulis ulang hari ini.”
Sang tetua bersandar di kursinya, sejenak bernostalgia. “Beberapa tahun yang lalu, ada seorang senior kalian yang mencatat rekor serupa. Ia dinobatkan sebagai jenius sekte luar saat masih berada di ranah Qi Fondasi tahap ketiga, setelah ia berhasil menyapu bersih kelompok bandit gunung yang menyandera puluhan murid sekte saat itu.”
“Oh?” Qin Xiang mengangkat alisnya sedikit. Ketertarikannya mulai terusik. Jika seseorang bisa mendapatkan plat emas di tahap ketiga, itu berarti kekuatan tempur aslinya setara dengan tahap sembilan atau bahkan lebih. Di mata Qin Xiang, senior tersebut memiliki bakat yang cukup untuk diperhitungkan.
“Siapa namanya?” tanya Qin Xiang penasaran. Bahkan Qu Long pun ikut condong ke depan, telinganya terpasang tegak seolah-olah nyawanya bergantung pada jawaban sang tetua.
Tetua Chu mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja, mencoba menggali memori dari ingatannya yang sudah mulai memudar ditelan usia. Setiap hari ia bertemu dengan ribuan murid, sehingga detail kecil sering kali tumpang tindih dalam benaknya.
“Aku... aku sedikit lupa nama lengkapnya,” gumam sang tetua.
Wajah Qin Xiang kembali datar, sementara Qu Long tampak seperti ingin meledak karena rasa penasarannya digantung di udara. Namun, sedetik kemudian, mata Tetua Chu berbinar saat kilasan memori itu kembali.
“Ah, benar. Aku ingat sekarang,” Tetua Chu menatap Qin Xiang dengan tatapan yang sulit diartikan. “Jika ingatan tuaku tidak menipu, dia adalah kakak perempuan dari rekan satu kelompokmu yang bermulut besar itu... Xiao Jing.”
“Kakaknya...” Qu Long menyahut dengan suara tercekat.
“... Xiao Jing?” Qin Xiang bergumam pelan. “Di mana dia sekarang?”
Tetua Chu menjawab, “Ia sudah menjadi murid elite sekte dalam. Dan kekuatannya mungkin sudah melampaui lekaki tua ini.”
“...” Qin Xiang berpikir sejenak. Jika Tetua Chu saja adalah seorang Inti Formasi Tahap 7 yang kuat, maka senior tersebut kemungkinan sudah berada di ranah Kesengsaraan Ilahi.
Ia tidak tahu apakah sosok sekuat itu akan menjadi lawan atau tidak, tetapi Qin Xiang tidak pernah berpikir untuk merasa takut. Sebab di masa lalu yang jauh ia sudah membunuh banyak kultivator Abadi, apalagi hanya Kesengsaaran Ilahi belaka—itu tidak layak untuk diperhitungkan.
Qin Xiang dan Qu Long pun berpamitan dan akan pergi dari sana, tetapi Tetua Chu tiba-tiba memberi peringatan keras kepadanya untuk berhati-hati.
“Mungkin akan ada beberapa individu yang tidak menerima status jeniusmu saat ini dan berniat merebut atau menjatuhkanmu. Jadi, jangan lalaikan kultivasimu,” ujar Tetua Chu dengan nada menasehati.
“Terima kasih atas nasehatmu, Tetua. Aku akan mengingatnya.”
“Ya, pergilah.”
Bersambung!