NovelToon NovelToon
Ibu Susu untuk Putra CEO

Ibu Susu untuk Putra CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Pengasuh
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Di malam persalinannya, Aisha diusir oleh suami dan mertuanya yang kejam setelah bayinya dinyatakan meninggal. Luntang-lantung di tengah hujan dengan dada yang sesak karena terus memproduksi ASI, Aisha pingsan di jalanan.

Di sisi lain, Adrian—seorang CEO dingin—sedang frustrasi karena bayinya yang baru lahir kritis dan menolak semua susu formula.

Takdir mempertemukan mereka. Saat bayi Adrian didekap oleh Aisha, sang bayi langsung tenang dan mau menyusu. Adrian akhirnya mempekerjakan Aisha sebagai ibu susu rahasia lewat kontrak ketat. Namun, seiring berjalannya waktu, Aisha mulai menyadari sebuah rahasia kelam: bayi yang ia susui memiliki ikatan batin yang sangat kuat, mirip dengan darah dagingnya sendiri yang hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggung Sandiwara dan Kilat Amarah

Malam yang dinantikan sekaligus ditakuti itu akhirnya tiba. Langit Jakarta diguyur rona keunguan yang pekat, sementara lampu-lampu kota mulai menyala, memantulkan kemewahan di atas aspal basah setelah hujan sore. Gedung Arkan Group Tower yang menjulang megah di kawasan segitiga emas Sudirman tampak bersolek dengan kemegahan yang luar biasa. Karpet merah membentang sepanjang lima puluh meter dari pelataran lobi utama hingga ke pintu masuk *ballroom* raksasa di lantai lima.

Puluhan fotografer dari berbagai media nasional dan internasional telah berbaris rapi di balik pagar pembatas. Kilatan cahaya kamera berkedip tanpa henti setiap kali pintu mobil mewah terbuka, menurunkan para konglomerat, pejabat tinggi negara, hingga jajaran direksi asing yang mengenakan pakaian formal terbaik mereka. Ini adalah malam *Gala Dinner* Tahunan Arkan Group—malam di mana reputasi, kekuasaan, dan kasta dipamerkan tanpa sensor di bawah sorot lampu kristal.

Di dalam mobil limosin hitam yang bergerak perlahan membelah antrean karpet merah, suasana begitu sunyi, hampir-hampir mencekam.

Aisha duduk di kursi penumpang dengan punggung kaku yang tidak menyentuh sandaran kulit. Jemarinya yang dingin meremas tas genggam kecil berlapis perak yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia menatap pantulan dirinya di kaca mobil yang gelap. Gaun malam berwarna biru dongker satin pilihan Adrian melekat sempurna di tubuhnya. Potongan gaun itu begitu anggun—sederhana di bagian bawah namun memiliki detail payet halus yang berkilau mewah di bagian dada, membingkai leher jenjangnya dengan sempurna. Rambut hitamnya disanggul modern dengan beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajahnya yang dipulas riasan natural namun berkelas.

Ia terlihat seperti seorang putri dari kalangan elite. Namun, di dalam hatinya, Aisha merasa seperti seorang terdakwa yang sedang diantar menuju panggung eksekusi.

"Aisha."

Sebuah suara bariton yang berat memecah lamunan wanita itu. Aisha menoleh pelan. Di sampingnya, Adrian duduk dengan keanggunan seorang penguasa sejati. Pria itu mengenakan setelan tuksedo hitam pekat dengan kemeja putih bersih dan dasi kupu-kupu yang terpasang sempurna. Rambutnya disisir rapi ke belakang, menonjolkan rahangnya yang kokoh dan sepasang mata elang yang malam ini memancarkan kilat ketegasan yang mutlak.

Adrian mengulurkan tangannya yang besar, lalu dengan lembut namun pasti, ia menggenggam jemari Aisha yang sedingin es. Sengatan kehangatan langsung menjalar, membuat detak jantung Aisha yang semula berpacu liar mulai sedikit melambat.

"Tarik napasmu, Aisha. Kamu tidak sedang berjalan ke medan perang," ucap Adrian, suaranya terdengar tenang namun sarat akan kekuatan yang protektif.

"Bagi saya... ini lebih mengerikan daripada medan perang, Tuan Adrian," bisik Aisha, suaranya bergetar halus. "Semua orang di luar sana... mereka adalah orang-orang hebat. Sementara saya? Saya hanya seorang wanita yang bersembunyi di paviliun belakang Anda. Jika mereka tahu siapa saya—"

"Mereka tidak perlu tahu apa pun kecuali fakta bahwa kamu adalah orang yang paling berjasa dalam hidup putraku, Kael," potong Adrian dengan nada mutlak yang tidak membantah. "Malam ini, aku membawamu bukan sebagai pekerjaku. Aku membawamu sebagai tamuku. Angkat dagumu, jangan biarkan siapa pun di dalam ruangan itu berpikir bahwa mereka bisa menginjakmu."

Mobil limosin akhirnya berhenti tepat di depan ujung karpet merah. Hendra yang berada di kursi depan segera turun dan membukakan pintu mobil dari luar. Kilatan lampu kamera langsung menyerbu celah pintu yang terbuka, menciptakan kilauan putih yang membutakan sejenak.

Adrian turun terlebih dahulu. Pria itu berdiri tegap di bawah sorot lampu, menerima seruan kekaguman dari para pencari berita. Namun, alih-alih langsung berjalan menyusuri karpet merah seperti tahun-tahun sebelumnya, Adrian berbalik. Ia mengulurkan tangan kanannya ke dalam mobil, menunggu dengan sabar.

Aisha menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa, lalu menyambut uluran tangan Adrian. Ketika kaki berbalut sepatu hak tinggi beludru birunya menyentuh karpet merah, dunia seolah berhenti berputar bagi para fotografer. Bisik-bisik penasaran langsung menjalar di sepanjang barisan media.

*“Siapa wanita itu?”*

*“Apakah itu kekasih baru Sang CEO?”*

*“Adrian Arkan membawa wanita setelah setahun menduda?”*

Adrian tidak memedulikan badai pertanyaan yang dilemparkan padanya. Dengan tangan yang melingkar kokoh di pinggang Aisha—sebuah gestur posesif yang sangat langka ditunjukkan oleh seorang Adrian Arkan—ia menuntun Aisha melangkah dengan anggun memasuki gedung, meninggalkan kehebohan besar di belakang mereka.

---

*Ballroom* utama Arkan Group Tower dipenuhi oleh ratusan tamu undangan. Denting gelas sampanye, alunan musik klasik dari kelompok orkestra di sudut ruangan, dan tawa basa-basi para sosialita memenuhi udara yang harum oleh aroma bunga lili mahal.

Di salah satu sudut meja bundar VIP, Farida Arkan sedang berdiri bersama Valerie. Farida mengenakan gaun sutra marun yang megah dengan kalung berlian bertingkat yang berkilau angkuh, sementara Valerie terlihat sangat mencolok dengan gaun merah menyala berpotongan rendah yang mempertegas lekuk tubuhnya.

"Tante, lihat itu," bisik Valerie tiba-tiba, matanya menyipit penuh kebencian, menatap ke arah pintu masuk utama *ballroom*.

Farida menoleh, dan senyuman anggun di wajahnya seketika membeku.

Dari balik pintu, Adrian berjalan masuk dengan langkah tegap, beriringan dengan Aisha yang tampak begitu memukau di sampingnya. Cara Adrian menatap Aisha—meski hanya sekilas—dan bagaimana tangan pria itu tidak pernah lepas dari pinggang sang wanita, membuat darah di dalam tubuh Farida mendidih.

"Berani-beraninya dia membawa pelayan itu ke sini," desis Farida, suaranya bergetar menahan amarah yang luar biasa. "Adrian benar-benar telah mengibarkan bendera perang terhadap ibunya sendiri."

Valerie meremas gelas sampanye di tangannya hingga jemarinya memutih. "Tenang, Tante Farida. Biarkan janda miskin itu menikmati impian indahnya selama beberapa menit ke depan. Amplop yang kita siapkan sudah berada di tangan orang yang tepat. Begitu acara sambutan selesai, pertunjukan utama kita akan dimulai."

---

Adrian membawa Aisha menuju meja utama VIP. Sepanjang jalan, beberapa rekan bisnis internasional menghentikan Adrian untuk menyapa, dan di setiap kesempatan itu, Adrian mengenalkan Aisha dengan tenang sebagai "Nona Aisha, bagian penting dari keluarga Arkan saat ini." Pengakuan tersirat itu membuat posisi Aisha mendadak naik di mata para kolega, meski Aisha sendiri merasa tubuhnya semakin kaku karena canggung.

"Tuan Adrian, jika Anda ada urusan dengan para direksi, saya bisa menunggu di sudut meja sendirian," bisik Aisha pelan saat melihat beberapa pengusaha asing mendekati Adrian dengan dokumen di tangan mereka.

Adrian menatap Aisha sejenak, lalu mengangguk pelan. "Hendra akan berdiri tidak jauh darimu. Jangan menerima makanan atau minuman dari siapa pun kecuali pelayan resmi yang ditunjuk Hendra. Aku akan kembali dalam lima menit."

Aisha mengangguk patuh. Ia melangkah mundur menuju sudut area VIP yang sedikit lebih sepi, dekat dengan dekorasi taman dalam ruangan. Ia mengembuskan napas lega, mencoba meredakan ketegangan di pundaknya yang terasa pegal.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Sebuah aroma parfum mahal yang menyengat mendadak mendekat, diikuti oleh suara langkah kaki yang disengaja.

"Menikmati gaun mahalmu, Nona Aisha?"

Aisha tersentak, membalikkan badannya cepat. Valerie sudah berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan mata yang dipenuhi penghinaan yang teramat sangat. Di sampingnya, Farida Arkan menatap Aisha seolah-olah wanita itu adalah seonggok sampah yang tidak sengaja terbawa masuk ke dalam istana.

"Nyonya Besar... Nona Valerie..." Aisha menundukkan kepalanya, mencoba tetap sopan meski jantungnya kembali berdegup kencang.

"Jangan sebut namaku dengan mulut kotarmu itu, Pelayan," desis Valerie, melangkah maju hingga jarak mereka hanya satu jengkal. "Kamu pikir dengan memakai gaun rancangan Paris dan menggandeng tangan Adrian malam ini, kasta rendahmu bisa berubah? Kamu hanyalah wanita kampung yang menjual air susumu demi uang! Kamu tidak lebih dari parasit yang memanfaatkan kelemahan Adrian setelah kehilangan istrinya!"

"Cukup, Valerie. Tidak perlu membuang energimu untuk berbicara dengan wanita yang sebentar lagi akan diusir seperti anjing," sela Farida dengan nada suara yang tenang namun sangat dingin. Wanita paruh baya itu menatap Aisha dengan senyuman kemenangan. "Aisha... kamu pikir putraku bisa melindungimu dari segalanya? Di dunia bisnis, reputasi adalah segalanya. Malam ini, aku akan menunjukkan kepadamu apa yang terjadi pada orang miskin yang berani bermain api dengan keluarga Arkan."

Sebelum Aisha sempat mencerna arti dari kata-kata kejam tersebut, lampu *ballroom* mendadak meredup. Sorot lampu utama (*spotlight*) langsung mengarah ke atas panggung megah di depan ruangan. Pembawa acara naik ke atas panggung dengan mikrofon di tangannya, meminta perhatian dari seluruh hadirin.

"Selamat malam, para hadirin yang terhormat. Sebelum kita memulai jamuan makan malam utama, ada sebuah agenda khusus yang ingin disampaikan oleh salah satu pemegang saham utama Arkan Group. Kami persilakan Nyonya Farida Arkan untuk naik ke atas panggung."

Gemuruh tepuk tangan membahana. Farida melemparkan pandangan mata yang penuh arti pada Valerie, lalu dengan langkah yang sangat anggun dan penuh kemenangan, ia berjalan membelah kerumunan tamu menuju atas panggung.

Aisha mendadak merasakan firasat yang sangat buruk. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, mencari sosok Adrian. Pria itu tampak sedang berdiri di barisan depan dekat meja direksi, mengernyitkan keningnya tajam saat melihat ibunya mengambil alih panggung tanpa ada di dalam susunan acara resmi.

Di atas panggung, Farida menerima mikrofon, tersenyum lebar ke arah kamera media.

"Terima kasih atas kehadiran para kolega sekalian," suara Farida menggema berwibawa melalui pengeras suara. "Malam ini, selain merayakan pencapaian bisnis Arkan Group, saya sebagai ibu dan perwakilan keluarga besar Arkan, merasa memiliki kewajiban untuk menjaga integritas dan nama baik keluarga kami dari segala bentuk penipuan dan konspirasi hitam yang mencoba merusak masa depan pewaris tunggal kami, Kael Arkan."

Suasana *ballroom* mendadak sunyi senyap. Bisik-bisik penasaran mulai terdengar. Adrian yang berada di bawah panggung langsung menegakkan tubuhnya, sepasang mata elangnya menyipit tajam, memancarkan aura berbahaya yang sangat pekat. Ia memberi isyarat dengan tangannya agar Hendra bergerak, namun Farida bergerak lebih cepat.

"Baru-baru ini," lanjut Farida, suaranya meninggi dengan nada yang sarat akan drama. "Putra saya, Adrian Arkan, karena rasa duka yang mendalam, telah ditipu oleh seorang wanita asing yang menyusup ke dalam rumah kami. Wanita ini mengaku sebagai ibu susu yang tulus, namun di balik itu semua..."

Farida menjeda kalimatnya, lalu menunjuk langsung ke arah sudut VIP tempat Aisha berdiri di bawah sorot lampu yang mendadak dipindahkan oleh operator atas perintah rahasia Valerie.

"...dia adalah seorang janda dari latar belakang kriminal, yang bekerja sama dengan mantan suaminya yang penjudi untuk memeras keluarga Arkan! Kami memiliki bukti otentik bahwa wanita bernama Aisha ini telah merekayasa latar belakangnya dan memanfaatkan bayinya sendiri untuk menguras uang ratusan juta dari putra saya!"

*Blar!*

Dunia Aisha serasa runtuh seketika. Seluruh mata di dalam *ballroom* raksasa itu—ratusan pasang mata yang dipenuhi rasa muak, terkejut, dan menghina—kini tertuju lurus ke arahnya. Kilatan lampu kamera dari para wartawan mendadak berbalik arah, menyerbu wajah pucat Aisha dengan bertubi-tubi. Air mata Aisha tumpah seketika. Tubuhnya bergetar hebat, ia merasa telanjang dan tak berdaya di depan penghakiman dunia yang kejam.

Valerie yang berdiri tidak jauh dari Aisha tersenyum puas, bersiap melihat Aisha berlari menangis meninggalkan ruangan dalam kehancuran total.

Namun, kejutan terbesar malam itu baru saja dimulai.

Dari barisan depan, sebuah langkah kaki yang berat dan penuh amarah yang bergemuruh membelah kerumunan. Adrian Arkan tidak diam. Pria itu melangkah menaiki tangga panggung dengan kecepatan yang mengintimidasi. Aura dominan dan kemarahan yang mematikan terpancar dari setiap jengkal tubuhnya, membuat para pengawal panggung tidak ada yang berani menghalanginya.

Adrian merebut mikrofon dari tangan ibunya dengan sentakan kasar yang membuat Farida tersentak mundur karena terkejut.

Adrian berdiri di tengah panggung, menatap ratusan tamu undangan dengan pandangan mata elang yang mampu membekukan darah siapa saja yang menatapnya. Rahangnya mengeras sempurna, urat-urat di lehernya menegang menahan gejolak amarah yang siap menghancurkan ruangan itu.

"Dengar baik-baik, semuanya!" suara bariton Adrian menggelegar, bergaung sangat keras melalui pengeras suara, membungkam seluruh bisik-bisik di dalam ruangan dalam satu detik.

"Apa yang baru saja kalian dengar dari mulut ibuku... adalah fitnah murahan yang didasari oleh dokumen palsu yang direkayasa oleh orang-orang yang haus kekuasaan!" Adrian menunjuk tajam ke arah Valerie yang berada di bawah, membuat wanita itu mendadak pias seketika.

"Wanita yang kalian tatap dengan pandangan menghina di sudut sana," lanjut Adrian, suaranya merendah namun penuh dengan penekanan yang bergetar hebat oleh rasa hormat dan proteksi yang mutlak. "Adalah Aisha. Dia adalah wanita yang mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk memberikan kehidupan bagi putraku, Kael, di saat tidak ada satu pun dari keluarga besarku yang peduli! Dia bukan penipu. Dia adalah bagian dari hidupku sekarang."

Adrian menurunkan pandangannya dari panggung, menatap langsung ke arah Aisha yang sedang menangis tersedu-sedu di bawah kawalan ketat Hendra yang kini sudah berdiri membentengi wanita itu dari jepretan kamera.

"Dan untuk kalian semua yang berada di ruangan ini, termasuk media..." Adrian menjeda kalimatnya, memberikan tatapan mengancam yang absolut. "...siapa pun yang berani menulis, menyebarkan, atau bahkan mempercayai satu kata pun fitnah tentang Aisha setelah malam ini... aku pastikan besok pagi Arkan Group akan menggunakan seluruh aset dan kekuasaannya untuk menghancurkan bisnis dan hidup kalian hingga tidak tersisa. Jangan pernah menguji batas kesabaranku saat aku melindungi apa yang menjadi milikku."

Setelah melemparkan ancaman mutlak yang membuat seluruh isi *ballroom* gemetar ketakutan, Adrian melempar mikrofon ke lantai panggung hingga menimbulkan suara dengingan keras yang memekakkan telinga. Pria itu turun dari panggung dengan langkah lebar, mengabaikan ibunya yang berdiri terpaku dengan wajah yang memerah menahan malu karena rencananya justru berbalik menjadi bumerang yang menghancurkan harga dirinya sendiri.

Adrian berjalan membelah kerumunan tamu yang kini otomatis membuka jalan untuknya dengan kepala tertunduk takut. Ia melangkah lurus menuju ke arah Aisha.

Tanpa memedulikan ratusan pasang mata yang masih menatap mereka, Adrian langsung meraih tubuh rapuh Aisha yang sedang terguncang hebat ke dalam dekapannya yang kokoh. Ia membungkus tubuh Aisha dengan jaket tuksedo besarnya, menyembunyikan wajah sembap wanita itu di dada bidangnya.

"Kita pulang, Aisha. Tidak ada yang bisa menyentuhmu di sini," bisik Adrian lembut di telinga Aisha, sebelum menuntun wanita itu keluar dari *ballroom* dengan langkah tegap, meninggalkan panggung sandiwara yang hancur berantakan di belakang mereka. Malam itu, di depan seluruh dunia, Sang CEO dingin telah resmi mengumumkan bahwa ia siap menjadi perisai hidup bagi Sang Ibu Susu, mengabaikan segala batasan kasta yang selama ini memisahkan mereka.

---

Bersambung

1
Sumining 123
luar BB biasa
Aera_yong
Wah gays terimakasih udah baca karya aku yang ini ya gays udah nembus 3k hehheeh😍😍🥳🥳
Sumining 123
lanjutkan cerita nya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!