NovelToon NovelToon
The CEO'S Secret Architect

The CEO'S Secret Architect

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blaze Onyx

Aureline Vance mengira pernikahan kontrak dua tahun dengan Zayyan El-Ghazali—sang CEO berdarah dingin penguasa imperium bisnis terbesar—hanya sekadar transaksi demi keselamatan diri. Namun, yang tidak diketahui dunia adalah kehadiran Xavi, putra rahasia mereka yang berusia tujuh tahun dengan kecerdasan siber tingkat genius.
Saat ancaman dari kartel informasi global, *Valerius Syndicate*, dan intrik pengkhianatan dalam keluarga El-Ghazali mulai membidik Xavi sebagai target eliminasi, Zayyan dan Olin terpaksa meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka. Di tengah desing peluru dan konspirasi tingkat tinggi, kertas kontrak dua tahun itu akhirnya dibakar menjadi abu. Kini, tidak ada lagi jalan mundur. Zayyan siap mengerahkan seluruh kekuatan imperiumnya demi melindungi takhta, wanita yang dicintainya, dan sang pewaris rahasia yang tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blaze Onyx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Kabut di Balik Halogen

Debu kapur yang melayang tipis di udara laboratorium bawah tanah membuat cahaya lampu halogen tampak seperti pilar-pilar putih yang memotong ruangan. Di sudut, seorang pekerja tampak menyapu serpihan batako dengan ritme yang monoton, menciptakan bunyi gesekan kasar yang konstan di atas lantai semen yang baru dikupas.

Olin tidak mengalihkan pandangannya dari sepasang mata elang Zayyan. Kalimat pria itu tentang 'membangun benteng' terdengar seperti janji yang manis, namun di telinga seorang wanita yang pernah ditinggalkan dalam kesunyian tujuh tahun lalu, kata itu tak lebih dari bentuk kurungan baru yang dilapisi baja dan serat optik.

"Benteng selalu memiliki dua fungsi, Zayyan," Olin bersuara, nadanya rendah, bergetar tipis di antara deru mesin pengisap debu yang baru dinyalakan di sudut lain. Dia melangkah selangkah lebih dekat ke meja kerja portabel, membiarkan jemarinya menyentuh tepian besi meja yang dingin. "Menjaga yang di dalam agar tidak tersentuh luar, atau memastikan yang di dalam tidak memiliki celah untuk melarikan diri."

Zayyan tidak bergerak. Guratan urat di lengan bawahnya yang kokoh menegang sesaat ketika dia melipat cetak biru digital di atas meja, membuat layar pendar hijau itu meredup hingga menyisakan kegelapan reflektif. "Jika aku ingin mengurung kalian, Aureline, aku tidak akan membiarkan anakmu memegang kendali atas kunci gerbang digital seluruh mansion ini sejak semalam."

Xavi, yang tampaknya sama sekali tidak terpengaruh oleh ketegangan orang dewasa di sekitarnya, sudah berjongkok di dekat kotak kayu palet yang dikirim dari Singapura. Jemari mungilnya meraba lapisan pelindung kabel serat optik berwarna biru terang, menguji kelenturan karetnya dengan kerutan serius di keningnya.

"Isolasi tembaganya cukup tebal, Mommy," panggil Xavi tanpa menoleh, suaranya yang cempreng memecah konfrontasi sunyi di dekat meja kerja. "Ini bisa menahan interferensi elektromagnetik jika faksi Tuan Albert mencoba memasang alat penyadap frekuensi radio di dinding luar paviliun."

Zayyan berjalan mendekati Xavi, meninggalkan Olin yang masih berdiri mematung dengan sisa amarah yang tertahan di dada. Pria tegap itu berlutut dengan satu kaki di atas lantai semen yang kotor, menyelaraskan tingginya dengan sang putra tanpa memedulikan lutut celana kain mahalnya yang kini ternoda debu putih.

"Instalasi panel utamanya akan selesai sebelum makan siang, Jagoan," ucap Zayyan, suaranya bariton rendah, memiliki kelembutan ganjil yang hanya dia tunjukkan pada bocah di hadapannya. "Kau bisa mulai memindahkan basis datamu dari laptop kuno itu setelah Malikh menyelesaikan sinkronisasi peladen cadangan."

Xavi mendongak, menyesuaikan letak kacamata bundarnya dengan ujung telunjuk yang sedikit berdebu. "Aku butuh tiga monitor tambahan dengan resolusi empat-k, Tuan CEO. Dan aku tidak mau ada kamera pengawas internal yang menghadap ke arah kiborku. Itu melanggar privasi pengodean."

Zayyan menegakkan tubuhnya kembali, memberikan isyarat pendek dengan gerakan dagu pada pengawas proyek yang sejak tadi berdiri tak jauh di belakang mereka. "Catat itu. Tiga monitor tanpa interkoneksi umpan balik ke ruang kendali utama sayap timur."

Olin hanya bisa menyaksikan interaksi itu dengan perasaan yang campur aduk. Ada bagian dari dirinya yang merasa terancam oleh kemudahan Xavi menerima keberadaan Zayyan, namun ada pula rasa lega yang aneh melihat putranya mendapatkan ruang yang layak untuk kejeniusannya—sesuatu yang tak pernah bisa dia berikan sepenuhnya di dalam galeri seni kecil mereka yang pengap.

Dia berjalan mendekati Xavi, meraih pundak kecil putranya untuk menuntunnya kembali ke arah tangga besi. Blus katun kasualnya kini ikut terkena serpihan debu semen, namun Olin tidak peduli.

"Pekerjaan mereka masih kotor, Xavi. Mari ke atas, sarapanmu pasti sudah dingin," ucap Olin, suaranya sengaja dibuat datar, memberi batas tegas yang tak kasat mata antara dirinya dan pria yang kini kembali menatap mereka dari tengah ruangan.

Zayyan tidak menahan mereka. Dia hanya berdiri mematung di bawah pendar halogen, mengambil kembali cetak biru digitalnya dengan gerakan lambat. Namun, sebelum tumit sepatu Olin menginjak anak tangga pertama, suara bariton sang CEO kembali terdengar, dingin dan penuh peringatan.

"Firma hukum independen yang kau minta sore kemarin sudah menyelesaikan draf pemisahan aset, Aureline. Malikh akan mengantarkan berkas fisiknya ke ruang tengahmu dalam satu jam. Bersiaplah, karena Kakek Albert baru saja menjadwalkan makan malam keluarga di kediaman utama besok malam."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!