Berawal dari tabrakan di koridor sekolah saat terlambat, hidup Alya yang tenang mendadak berubah jadi penuh drama gara-gara Raka, si kapten basket populer yang hobi mengganggunya. Situasi makin kacau saat foto candid Alya tak sengaja masuk ke story Instagram Raka dan membuat satu sekolah gempar.
Namun, dari benci jadi chattingan. Di balik sikap usil Raka, Alya pelan-pelan menemukan sisi rapuh cowok itu yang tersembunyi dari dunia.
Sayangnya, saat benih perasaan mulai tumbuh, kehadiran Kevin—murid baru yang mendekati Alya—menyalakan api cemburu Raka. Ditambah rumor sekolah dan kesalahpahaman masa lalu, Alya mulai ragu dengan perasaan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon grayen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjauh
Setelah kejadian salah paham soal Sinta, Alya dan Raka memang sempat kembali akrab. Mereka bercanda seperti biasa, saling bertukar pesan, dan masih sering pulang di waktu yang hampir bersamaan.
Tapi semua berubah perlahan.
Awalnya hanya hal-hal kecil.
Raka tidak lagi datang ke kelas Alya setiap jam istirahat. Chat yang biasanya dibalas dalam hitungan menit sekarang baru dibalas beberapa jam kemudian. Bahkan kadang hanya dibaca tanpa respons sampai malam.
Alya mencoba berpikir positif.
“Mungkin lagi sibuk latihan.”
Namun, alasan itu mulai terasa kurang masuk akal ketika hal yang sama terjadi hampir setiap hari.
---
Senin siang, Alya sengaja mampir ke lapangan basket karena Nadya ingin mengembalikan botol minum milik Dion.
Di sana, Raka sedang latihan bersama timnya.
Begitu melihat Alya datang, Dion melambaikan tangan.
“Lya, sini!”
Alya membalas lambaian itu sambil tersenyum.
Namun Raka hanya menoleh sekilas sebelum kembali fokus latihan.
Tidak ada sapaan.
Tidak ada candaan.
Bahkan setelah latihan selesai, ia langsung mengambil tas dan pergi ke ruang ganti.
“Raka kenapa?” tanya Nadya pelan.
Alya mengangkat bahu.
“Nggak tahu.”
Untuk pertama kalinya sejak mereka dekat, Alya merasa seperti orang asing.
---
Malam harinya, Alya memberanikan diri mengirim pesan.
> Alya:
Besok jadi bawa buku fisika?
Beberapa menit berlalu.
Tidak ada balasan.
Satu jam.
Masih sepi.
Baru hampir pukul sepuluh malam, ponselnya berbunyi.
> Raka:
Jadi.
Hanya satu kata.
Tidak ada emoji.
Tidak ada pertanyaan balik seperti biasanya.
Alya menatap layar beberapa saat sebelum akhirnya membalas singkat.
> Alya:
Oke, makasih.
Percakapan selesai begitu saja.
Ia meletakkan ponselnya di meja dan memandang keluar jendela.
Angin malam berembus pelan, tapi pikirannya justru semakin ramai.
“Kenapa jadi begini?”
---
Keesokan harinya, guru Bahasa Indonesia membagi kelas menjadi beberapa kelompok untuk presentasi.
Secara kebetulan, Alya dan Raka berada di kelompok yang sama.
Dulu, mereka pasti langsung duduk berdekatan dan mulai berdiskusi.
Sekarang berbeda.
Raka memilih duduk di ujung meja bersama Dion, sementara Alya berbicara dengan anggota kelompok yang lain.
Pembagian tugas berlangsung cepat.
“Bagian desain siapa?” tanya salah satu teman.
“Alya aja,” jawab Raka tanpa melihat ke arahnya.
“Terus presentasi?”
“Biar gue.”
Semua selesai dalam waktu singkat.
Aneh, karena tidak ada satu pun percakapan pribadi di antara mereka.
Saat rapat kelompok bubar, Alya sempat ingin memanggil Raka.
Namun melihat cowok itu langsung pergi keluar kelas, niatnya urung.
---
Jam istirahat kedua, Nadya akhirnya tidak tahan.
“Lya, jujur deh. Kalian lagi berantem?”
“Enggak.”
“Terus kok kayak saling menghindar?”
“Gue juga bingung.”
“Udah coba tanya langsung?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Alya mengaduk minumannya pelan.
“Takut jawabannya bukan yang pengin gue dengar.”
Nadya terdiam.
Ia paham maksud sahabatnya.
Kadang yang membuat seseorang ragu bukan pertanyaannya, melainkan kemungkinan jawaban yang akan diterima.
---
Di sisi lain sekolah, Dion berjalan berdampingan dengan Raka menuju gudang olahraga.
“Lo sengaja, ya?”
“Sengaja apa?”
“Jaga jarak sama Alya.”
Raka tidak langsung menjawab.
Beberapa langkah kemudian ia menghela napas.
“Kayaknya lebih baik gitu.”
“Kenapa?”
“Gue takut jadi terlalu berharap.”
Dion menatap temannya heran.
“Bukannya selama ini malah makin dekat?”
“Itu dia masalahnya.”
Raka menunduk.
“Kalau ternyata perasaan gue cuma bertepuk sebelah tangan, setidaknya gue belum terlalu jauh.”
Dion tidak membalas.
Ia hanya menepuk pelan bahu Raka.
---
Sore itu, hujan turun cukup deras saat bel pulang berbunyi.
Alya berdiri di teras sekolah sambil menunggu reda.
Beberapa menit kemudian, Raka muncul membawa payung hitam.
Biasanya, ia akan langsung mengajak Alya berteduh bersama.
Namun kali ini, ia hanya mengangguk kecil lalu berjalan melewatinya.
“Rak…”
Suara Alya membuat langkahnya berhenti.
“Iya?”
“Lo marah sama gue?”
Raka menoleh. Wajahnya terlihat tenang, tapi matanya menyimpan banyak hal yang tidak diucapkan.
“Enggak.”
“Terus kenapa akhir-akhir ini kayak menjauh?”
Hening beberapa saat.
Suara hujan menjadi satu-satunya yang terdengar.
Akhirnya Raka tersenyum tipis.
“Kadang… ada orang yang milih mundur satu langkah bukan karena benci.”
“Tapi?”
“Karena lagi berusaha ngerti isi kepalanya sendiri.”
Jawaban itu membuat Alya semakin bingung.
Sebelum ia sempat bertanya lagi, Raka membuka payungnya.
“Hujannya makin deres. Jangan pulang terlalu sore.”
Lalu ia berjalan pergi.
Alya tetap berdiri di tempatnya, memandangi sosok Raka yang perlahan menghilang di balik hujan.
Ada perasaan aneh yang mengendap di dadanya.
Ia tidak marah.
Tidak juga kecewa.
Hanya sedih karena jarak yang dulu nyaris tidak terasa kini mulai muncul di antara mereka.
Malam itu, Alya membuka ruang obrolan dengan Raka berkali-kali.
Jarinya sudah mengetik banyak kalimat, lalu menghapusnya lagi.
Sementara di rumahnya, Raka melakukan hal yang sama.
Ia menulis, “Maaf kalau belakangan ini berubah.”
Lalu menghapusnya sebelum terkirim.
Mereka sama-sama ingin saling mendekat.
Namun karena terlalu banyak berpikir, justru tanpa sadar mereka memilih untuk saling menjauh.