Dien Moretz adalah sarjana pengangguran yang selalu gagal dalam wawancara kerja, karena memiliki kekurangan bibir sumbing yang menyebabkan komunikasinya tidak lancar dan dianggap sebuah beban. Suatu hari saat sedang mencari pekerjaan, tiba-tiba ada monster yang muncul dan memangsa orang-orang. Dien yang selamat akhirnya menyadari bahwa ada dunia lain, dunia yang berbeda dari yang dia jalankan selama ini. Dien yang tertarik dan tidak mendapatkan pekerjaan akhirnya memilih menjadi bagian dari dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YT FiksiChannel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangan Putus X Regenerasi
Demma menjauh sembari menahan sakit tangannya yang putus dan mengeluarkan banyak darah. Demma menghindari tusukan lurus Aamon, lalu menggumamkan mantra sihir regenerasi di dalam hati sembari menghindari setiap serangan Aamon dan Dien yang terus menyerang.
Setelah mantra sihir regenerasi selesai diucapkan didalam hati, Demma mengelus tangannya yang putus sebagai kode sihir regenerasi diaktifkan dan bagian tubuh mana yang ingin disembuhkan.
“Ini… apa yang terjadi?” Demma bingung tangannya tidak regenerasi seperti yang diharapkan.
Pukulan keras!
Dien melompat dan melancarkan pukulan keras yang menghancurkan pohon besar dunia roh yang berada di belakang Demma (Demma sendiri menghindar). Demma mundur menghindar, lalu menangkis tebasan Aamon yang diarahkan ke lehernya.
Demma kembali mundur menjaga jarak. Keningnya yang mengkerut bingung semakin mengkerut seakan-akan tidak percaya dengan suatu hal.
"Kenapa tanganku tidak regenerasi? Apakah sihir ku gagal?" Gumam Demma terus menggunakan sihir regenerasi yang dikuasainya.
“Kenapa? Kau tidak dapat regenerasi?” Tanya Aamon tersenyum dingin, lalu melepaskan tebasan pedangnya yang beraura kegelapan dan disusul tebasan energi.
Demma menghindari tebasan pedang dan menangkis tebasan energi Aamon secara beruntun, lalu menahan tinju Dien dengan tangan kanannya. Demma melancarkan tendangan energi, memaksa Aamon mundur menjauh, lalu menghindari setiap tinju yang dilepaskan Dien.
“Wahai dewi penyembuhan! Luka yang mengalirkan darah dan memberi rasa takut adalah favoritmu. Kamu menyembuhkan luka dengan keajaiban spiritual! Kamu adalah dewi sejati yang berbeda dari manusia yang mengaku-ngaku sebagai dewi. Berikan berkahmu! Sembuhkan lukaku! Regenerasi Olivia!” Ucap Demma mengucapkan mantra sihir regenerasi dengan lantang, karena mengira sihir regenerasi tidak aktif karena terus diucapkan dalam hati.
Note: Olivia adalah nama penyihir yang menciptakan sihir regenerasi yang dikuasai Demma.
“Percuma saja! Sihir regenerasi tidak akan pernah meregenerasi tanganmu!” Pekik Aamon melancarkan tebasan silang.
Demma menghindar dan mengambil tangannya yang terpotong. Demma menyatukan tangannya dan mulai mengalirkan energi sembari mengucapkan mantra sihir regenerasi.
“Wahai dewi penyembuhan! Luka yang mengalirkan darah dan memberi rasa takut adalah favoritmu. Kamu menyembuhkan luka dengan keajaiban spiritual! Kamu adalah dewi sejati yang berbeda dari manusia yang mengaku-ngaku sebagai dewi. Berikan berkahmu! Sembuhkan lukaku! Regenerasi Olivia!” Demma sangat berharap tangannya kembali pulih, namun sayangnya tangannya tetap terpotong dan tidak regenerasi.
BANG!
Demma menangkis tebasan pedang Aamon dengan tangan yang diperkuat energi spiritual. Aamon menendang tangan kiri Demma yang terjatuh. Tangan itu menghantam wajah Demma, memaksa pria itu mundur menjauh dan menjaga jarak.
“Apa yang terjadi? Sebenarnya sihir apa yang orang ini gunakan?” Demma menatap tajam Aamon dan menghindari hantaman tinju Dien yang menyerang disetiap kesempatan.
Freya menonton pertarungan tiga orang itu dari samping sembari menjaga lukisan. Freya tidak berencana menggunakan kekuatannya, karena belum melihat kemampuan Demma yang misterius.
“Mereka berdua praktisi spiritual dasar. Dia ahli pedang dan memiliki kekuatan aneh yang dapat menekan regenerasi, sementara yang lainnya sepertinya tahu semua pergerakanku. Dan wanita itu, sepertinya mengandalkan senjata sihir dan pistol.” Batin Demma menilai ulang kekuatan lawannya sembari menghindari tebasan Aamon dan pukulan Dien, lalu melancarkan serangan balik.
Tendangan keras!
Dien menendang dada Demma dengan sangat telak, memaksa pria itu mundur menjauh.
Tebasan energi!
Tinju keras!
Aamon melancarkan tebasan energi, Demma menghindar ke samping kanan, dan menerima tinju keras Dien yang entah sejak kapan berada di depannya.
Demma terhempas jauh, dan bibirnya mengeluarkan darah.
Tebasan!
Hantaman tinju!
“Pelindung!” Pekik Demma menggunakan pelindung energi menahan serangan kombinasi Dien dan Aamon.
Aamon dan Dien melancarkan serangan bertubi-tubi tanpa henti. Tujuan mereka jelas, yaitu menghancurkan pelindung energi dan melumpuhkan Demma. Sementara Demma melirik Freya yang sejak awal diam, seakan-akan tidak berniat ikut dalam pertarungan.
Dinding pelindung energi pada akhirnya hancur, membuat serangan Aamon dan Dien langsung diarahkan kepada Demma. Demma tersenyum kecil, lalu berubah menjadi jiwa yang dapat menembus objek apapun, berhasil menjebak Aamon dan Dien yang terlanjur menyerang.
Mata Freya bersinar melihat kemampuan Demma, dan berkata dengan dingin. “Tubuh jiwa dilarang disini!”
“Aku sudah menduga, dia merupakan praktisi jiwa baru lahir!” Ucap Freya tersenyum senang, lalu melepaskan tembakan.
Praktisi spiritual jiwa baru lahir mampu membuat tubuh fisiknya menjadi tubuh jiwa yang dapat menembus apapun. Karena batasan Freya, Demma tidak bisa lagi menggunakan tubuh jiwanya.
Demma menghindar, dan mundur menjauh menjaga jarak sembari menggumamkan mantra sihir, lalu menunjuk Aamon dan Dien yang menyerangnya. Jari telunjuknya memercikkan petir biru yang sangat pekat.
“Elemen petir: tembakan peluru petir!” Pekik Demma meneriakkan kalimat mantra terakhir untuk melepaskan serangannya.
Serangan itu berbentuk energi petir yang sangat besar hingga menutupi tubuh Dien dan Aamon.
Serangan itu membuat Aamon dan Dien terhempas jauh, dan tubuh mereka hancur seperti disambar petir. Dua orang itu masih hidup, namun Demma sudah mengucapkan mantra sihir selanjutnya, siap mengakhiri mereka berdua.
“Sihir dilarang disini! Melanggar ada konsekuensi!” Pekik Freya menambahkan aturan kedua.
Demma melirik Freya sekilas, tidak peduli dengan aturan yang ditetapkan wanita itu. Demma menyelesaikan mantra sihir, siap membunuh Dien dan Aamon.
Di udara kosong tiba-tiba muncul sebuah tombak energi yang mengandung kekuatan angin. Tombak energi itu seakan-akan menarik angin untuk bergabung dengannya.
“Tombak pembunuh angin!” Pekik Demma meneriakkan kalimat terakhir mantra sihir sebagai kode melepaskan sihirnya.
Dien menarik Aamon menjauh, menghindari tombak angin yang menghancurkan tanah dan menciptakan kawah kecil.
Demma sendiri terkena hukuman, karena melanggar aturan yang memiliki konsekuensi yang ditetapkan Freya.
Hukuman yang diterima Demma adalah serangan yang sama, sebuah tombak pembunuh angin. Demma tidak menduga mendapatkan hukuman seperti itu. Demma tertusuk tombak pembunuh angin tepat di dada kanannya setelah kedua tangannya putus karena mencoba menahan tombak angin tersebut.
Demma sekarat dan hampir mati.
Demma tersenyum kecil menatap tajam Freya yang melepaskan tembakan.
DOR!
DOR!
DOR!
Tiba-tiba seekor kelabang raksasa muncul entah darimana, melindungi Demma yang sekarat dan muntah darah. Kelabang itu menahan semua tembakan Freya, seperti melindungi anaknya sendiri.
“Kekuatan yang unik!” Ucap Demma tersenyum mengerikan, lalu melepaskan belasan kelabang di dalam kotak plastik dengan tangan energi spiritual.
Belasan kelabang itu langsung berubah menjadi monster raksasa, mengepung Freya yang tidak menduganya.
“Aku akan membalas penghinaan ini.” Ucap Demma dingin, lalu merobek kehampaan dan kabur dari dunia roh dengan mengorbankan setengah umurnya.
Belasan kelabang raksasa bergerak cepat dan mencoba memangsa Freya, membuat Freya mundur menjauh. Freya dengan susah payah melawan belasan monster kelabang, dan dia membutuhkan satu tembakan untuk membunuh satu monster, namun sayangnya monster kelabang tidak diam ditempat.
DOR!
DOR!
DOR!
Freya melepaskan beberapa tembakan, namun tembakan itu sia-sia saja karena sang lawan menghindarinya dengan mudah. Freya kembali menembak, membuat tubuh monster itu terluka tembakan, namun tidak membunuhnya.
Tiba-tiba Dien menghantam salah satu monster kelabang dan membunuhnya, menyelamatkan Freya yang terpojok.
“Dien, terima kasih!” Freya lega, lalu melepaskan tembakan membunuh monster kelabang yang menyerang Dien dari belakang.
Dien mengangguk, lalu menghindar ke samping dan memukul kepala monster kelabang yang muncul dari bawah tanah mencoba menerkamnya. Dien dapat melihat masa depan dengan jelas, lalu mengantisipasinya dengan mudah.
“Jika aku masih manusia biasa, kalian mungkin bisa membunuh dan memakan ku. Tapi sekarang tidak mungkin!” Pekik Dien membunuh belasan kelabang dengan pukulan berselimut energinya.
Dengan kemampuannya melihat 7 detik masa depan, Dien membantai semua monster kelabang dengan mudah dan tanpa masalah sedikitpun.
Dalam waktu singkat semua monster kelabang terbunuh oleh kombo dua orang tersebut.
Bersambung