Haris tidak menyangka akan dijodohkan dengan seorang gadis yang tidak dikenalnya sama sekali bernama Hana. Ia di jodohkan oleh seorang ulama kharismatik bernama haji Zakaria yang sudah dianggap seperti ayah kandungnya sendiri. Padahal ia sudah memiliki gadis pilihannya sendiri bernama Arini untuk dijadikan calon istri. Tidak mendapat respon dari sang ibu akan gadis pilihannya dan juga ia berhutang budi terhadap sang ulama karena telah membiayainya dari kecil hingga dewasa, menjadikannya dilemma untuk membuat keputusan sehingga ia terpaksa menikahi gadis pilihan sang ulama.
Bagaimanakah nasib pernikahan Haris dan Hana? Bagaimana pula kisah pernikahan mereka dan nasib orang-orang yang tersakiti oleh pernikahan ini, apakah mereka akan Bahagia?
Simak ceritanya pada novel ini, dengan judul “Pernikahan karena Perjodohan (Haris dan Hana)” by Alana Alisha.
Ig: @alana.alisha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alana alisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Insiden Ulat Bulu
Matahari telah menjulang tinggi. Hana sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya. Mulai dari memasak sarapan, menyapu, mengepel, sampai menyapu halaman sudah ia kerjakan. Ia pun berniat untuk mandi dan shalat dhuha.
Hari ini hari minggu. Haris juga sedang libur kantor, ia sedari selesai shalat subuh juga sudah sibuk berolahraga, menyiram tanaman, mencuci mobil, membawa pakaian ke laundry, mengisi air gallon dan pekerjaan lainnya yang sekiranya dapat dikerjakan.
“Mas air di kamar mandi kenapa bisa mati ya?” Hana bertanya pada Haris yang tengah menikmati jus alpukat buatannya sambil membaca koran.
“Sebentar coba aku cek dulu” Haris langsung bergerak mengikuti Hana ke kamar.
Ternyata air di dalam kamar mandi yang berada di kamar utama memang lagi macet.
“Kamu mandi di kamar mandi luar saja ya. Besok aku panggilkan tukang, sepertinya ada kerusakan”
“Baiklah kalau begitu” Hana berkata sambil mengangguk.
Haris belum juga beranjak pergi dari kamar Hana, padahal Hana mau mengambil handuk dan pakaian ganti. Haris terus saja menatapnya. Hana jadi salah tingkah. Haris seperti tengah memikirkan sesuatu.
“Hana.,” panggil Haris kemudian. Haris pun berjalan mendekati Hana.
“I, iya, ada apa mas?” Hana menjawab gugup. Ia merasa ada gelagat aneh dari Haris yang tidak biasa.
“Itu… itu” Haris terus mendekat seraya menatap Hana. Gadis ini pun berjalan mundur.
“Hmh, sebentar…” Haris mencoba menggapai Hana. Hana semakin tak karuan.
“Maaf ya…” Haris merogoh sapu tangan di saku celana nya dan mengambil sesuatu di kepala Hana lalu membuangnya keluar. Hana bingung melihat apa yang Haris lakukan.
“Mas, itu tadi apa?”
“Oh, bukan apa-apa. Itu tadi ada ulat bulu dikepalamu” Haris berkata santai.
Bukan main terkejutnya Hana. Refleks tanpa sadar ia menarik kerudungnya dan meletakkan ke lantai. Haris tercengang melihat reaksi Hana. Ia sedikit terpana melihat leher jenjangnya.
“Mana mas, dimana ulat bulunya. Ulat bulunya mana?!!” Hana bertanya setengah berteriak sambil celingak celinguk melihat ke sekeliling badannya. Ia gemetaran dan bergidik ngeri. Ia tidak memperdulikan kerudungnya lagi.
Mereka tengah berada didekat pintu yang terbuka sebab Haris baru saja selesai membuang ulat bulu yang tadi bertengger di kerudung Hana. Lalu, dengan sigap Haris mengambil handuk yang dijemur didekatnya lalu menutupi kepala Istrinya itu. Ia masih gemetar. Wajahnya memucat. Sanking takutnya dengan ulat bulu, ia sampai tidak bisa berpikir jernih.
Haris menarik tangan Hana masuk ke dalam dengan sebelumnya ia masih sempat menutup pintu. Haris mendudukkan Hana di sofa dan ia pun duduk disebelahnya.
“Ulat bulunya sudah tidak ada. Sudah mas buang. Sama sekali sudah tidak menempel dimana-mana” Haris menatap mata Hana seraya menggenggamnya untuk meyakinkan bahwa ia tidak berbohong. Perlahan gemetar tubuh Hana menghilang.
“Terima kasih, Mas! ” Hana berkata lirih sambil menunduk dan kini memegang erat handuk yang menempel dikepalanya.
Hana terlalu malu sekarang. Ia tidak menyangka phobia nya terhadap ulat bulu bisa sampai bereaksi berlebihan seperti ini. Sampai dilevel ini. Anehnya ia hanya phobia terhadap ulat bulu. Ya. Hanya ulat bulu saja. Beruntung rambutnya masih tidak terlihat, sebab dibawah kerudungnya, Hana masih mengenakan inner kecil penutup rambut.
”Kamu takut ulat bulu, hm?” Tanya Haris mengeryitkan kening nya.
Hana mengangguk dengan masih menunduk.
“Itu hal manusiawi, beberapa orang memang mengalami hal seperti ini….” Haris memberi jeda pada kata-katanya lalu melanjutkan,
“Namun mas minta tolooong sekali untuk sedikit memperhatikan tindakan yang kamu ambil. Aku tau kamu refleks dan dalam keadaan panik. Namun tetap saja tindakan membuka kerudung seperti tadi tidak bisa dibenarkan. Beruntung tadi tidak ada orang yang lewat. Hanya ada aku yang notabene nya adalah suamimu. Kalau sampai ada yang melihat auratmu walau hanya sehelai rambut, Jujur aku tidak ridho. Hana, Aku cemburu! Dan Allah mengharamkan dayyuts, haram suami yang tidak memiliki rasa cemburu terhadap istrinya.” Haris berkata pelan dan lembut namun menekankan kalimat terakhir pada suaranya.
Mata Hana berkaca-kaca. Ia menyesal. Namun tadi itu, ia benar-benar berada dialam bawah sadar.
“Semoga kamu bisa mengingat ini dan tidak mengulangi lagi” Haris menutup kalimatnya.
***
“Kalau sampai ada yang melihat auratmu walau hanya sehelai rambut, Jujur aku tidak ridho. Hana, Aku cemburu!”
Hanya membolak-balikkan tubuhnya dikasur. Hanya sekedar ingin beristirahat saja tidak bisa. Sungguh kata-kata Haris terngiang-ngiang memenuhi isi kepalanya. Layaknya siaran yang diputar berulang-ulang tanpa jeda, sihir kata tersebut berhasil menghipnotis seluruh isi kepalanya. Sampai teralihkan ketika ia mendengar dering telepon berbunyi. Nama Yura bertengger di halaman depan layar,
“Assalamu’alaikum Ra..” Hana menjawab panggilan dari sahabatnya.
“Wa’alaikumsalam. Besok sekitaran siang kamu ada waktu?”
“Alhamdulillah kosong, ada apa Ra?”
“Besok siang mas Gibran tiba di bandara, ia memintaku mengajakmu juga untuk menjemputnya”
Deg deg deg
Jantung Hana berpacu cepat. Esok Gibran tiba. Ia menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Bagaimana ini…
“Aku tidak bisa menolak untuk tidak mengajakmu ke bandara, Hana. Mas Gibran hanya belum mengetahui pernikahanmu saja. Sebentar lagi jika beliau mengetahuinya, pasti akan menjauhimu” Lanjut Yura.
“Baiklah Yura. Besok insya Allah aku akan ikut denganmu ke bandara. Aku akan meminta izin dulu ke mas Haris”
Hhhhhhhhhhh, Hana menghela nafas panjang. Bukannya ia keberatan untuk menjemput Gibran, hanya saja ia tidak siap untuk melihat laki-laki itu kembali. Terlalu sakit dan pedih. Ia takut tidak bisa mengontrol perasaannya. Ia masih belum terlalu matang untuk menghadapi situasi seperti ini.
Hana beranjak membuka pintu kamarnya menuju ruang kerja Haris. jam sudah menunjukkan pukul 20.30. Hana melihat Haris tengah focus pada kerjaan-kerjaannya membuat laporan.
“Mas, maaf aku menganggu sebentar” Haris menoleh,
“Ada apa Hana? Duduk lah”
“Mas, aku ingin meminta izin keluar besok siang. Aku akan pergi bersama Yura untuk menjemput kakaknya yang baru pulang dari Maroko. Ia meminta tolong untuk menemaninya”.
“Kakaknya laki-laki atau perempuan?”
“Laki-laki mas”
Haris berfikir sejenak. Entah mengapa ia merasa seperti tidak senang mendengarnya.
“Hmh, baiklah. Hati-hati, jangan terlalu Lelah, jika urusanmu telah selesai, lekaslah pulang”
“Baik mas, terima kasih”
“O iya, kunci rumah kamu bawa saja, aku akan membawa kunci serap”
“Baik” Hana hampir meninggalkan Haris menuju kamarnya. Namun,
“Hana, sebentar!” Gadis itu menoleh kembali
“Besok malam aku akan mengajakmu makan di luar, insya Allah besok aku akan pulang cepat. Kamu juga tolong pulanglah sedikit lebih cepat" titah Haris.
Hana mengangguk setuju. Lalu bayangannya menghilang dibalik pintu.
Haris memijit mijit kepalanya yang tidak sakit. Ia masih pusing dengan permintaan ibu Arini. Dan Hana sama sekali tidak mengetahui permasalahan yang menimpanya. Ia berharap dengan besok mengajak Hana untuk makan diluar akan mengurangi sedikit beban dikepalanya. Atau, apakah sebenarnya ia hanya tidak ingin agar Hana berlama-lama diluar menemui kakaknya Yura?
***
Haris dah sedikit tenang krn tdk ada lg tekanan utk menikahi Arini 😊😊😊😊
kebih baik di cintai dr pd mencintai.
maka terimalah cinta ny Romi 😋😋😋😋😋
pasti ada sesuatu yg memaksa atau mengancam Ummi Fatma 😬😬😬😬
semangkin seru ... dan memaksa emosi ikutan kesel 😆😆😆😆😆
sy yg gk sabar gmn reaksi nya Haris 😚😚😚😚😚😚
sy gk suka dgn Hj Aisya yg terlalu memaksa kehendak.
Hana ajak aja je New york biar Lisa gk bisa berkutik 😊😊😊😊😊