Cerita ini adalah tentang Regenerasi Hidayah. Dari Zain yang Bertaubat Karna pergaulan yang Salah saat masa remaja, Dan dikaruniai Anak yang bernama Zavier yang Pintar dan Tegas, Hingga Putri Kemnarnya Zavier Bernama Ziana dan Ayana yang menyempurnakan warisan tersebut. Dan Ditutup Dengan Kisah Anak Ayana, Gus Abidzar.
Ini adalah bukti bahwa meski darah berandalan mengalir dalam tubuh, cahaya agama mampu mengubahnya menjadi kekuatan untuk melindungi dan mengayomi sesama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangan Yang Terulur
Abigail kembali ke kamar dengan langkah yang dihentak-hentakkan ke lantai kayu asrama. Wajahnya merah padam, dan hatinya terasa seperti air mendidih. Dia langsung melempar jilbab instannya ke atas kasur dan mulai mondar-mandir seperti macan dalam sangkar.
"Siapa sih dia?! Merasa paling punya kunci surga aja!" gerutu Abigail dengan bahasa campuran yang keluar begitu saja.
Sarah, yang sedang asyik membaca kitab di sudut kamar, sampai tersedak saking kagetnya. Ia menurunkan kitabnya dan menatap Abigail dengan mata membelalak.
"Abby? Kamu kenapa? Habis ketemu setan?" tanya Sarah hati-hati.
"Lebih parah dari setan, Sar! Aku habis ketemu Ustadzah Najwa-si-Paling-Sempurna itu!" Abigail berhenti mondar-mandir dan berdiri di depan Sarah dengan tangan di pinggang. "Maksudnya apa coba? Pakai bilang aku Debu yang kebetulan mampir? Terus dia bilang dia yang paling tahu apa yang Gus Zayn butuhin karena udah bertahun-tahun di sini. Excuse me? Dia itu Ustadzah atau GPS? Kok merasa tahu jalan hidup orang banget!"
Sarah buru-buru menutup mulut Abigail dengan tangannya. "Sssttt! Abby, pelan-pelan! Kalau kedengeran pengurus lain, kamu bisa kena takzir (hukuman) lho."
Abigail menepis tangan Sarah, meski suaranya sedikit mengecil tapi tetap penuh kekesalan. "Aku nggak peduli, Sar. Dia itu sok berkuasa banget. Mentang-mentang pakai cadar dan hafal banyak hadist, dia pikir dia bisa claim Gus Zayn jadi miliknya? Dia bilang dia istrinya masa depan? In her dreams! Dia itu bukan mau jadi istri, tapi mau jadi diktator."
Sarah menghela napas panjang, lalu menarik Abigail untuk duduk di sampingnya. "Abby, dengerin aku. Ustadzah Najwa itu emang sudah lama diincar buat jadi menantu Abi-nya Gus Zayn. Dia pintar, dari keluarga kyai besar, dan pengabdiannya di sini nggak main-main. Makanya dia agak... protektif sama Gus Zayn."
"Protektif atau posesif?" Abigail mendengus sinis. "Gus Zayn itu manusia, bukan barang inventaris pesantren yang bisa dia tandai pakai label nama. Dia pikir aku bakal takut? Semakin dia nyuruh aku menjauh, semakin aku pengen bikin Gus Zayn melirik aku. Lihat aja nanti, bakal aku bikin Langit itu jatuh ke Debu New York ini!"
Sarah hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Kamu itu nekat banget, Abby. Gus Zayn itu dinginnya kayak kutub utara. Dan Ustadzah Najwa itu saingan yang berat banget. Kamu yakin?"
Abigail menyunggingkan senyum miring khas gadis rebel Amerika-nya. "Sar, di New York, aku belajar kalau kita mau sesuatu, kita harus fight. Dan jujur aja, ngelihat mukanya yang sok bener itu, jiwa kompetisiku malah makin meronta-ronta."
Tanpa mereka sadari, di balik dinding kamar yang tidak terlalu tebal itu, seseorang baru saja lewat. Umi Khadizah yang sedianya ingin mengantarkan mukena baru untuk Abigail, tanpa sengaja mendengar seluruh omelan itu.
Bukannya marah, Umi Khadizah justru tersenyum tipis. Beliau melihat sesuatu yang tidak dimiliki Najwa dalam diri Abigail, Kejujuran.
Pagi itu, saat santri lain mulai masuk ke kelas masing-masing, Abigail berdiri di tengah lapangan pesantren. Di tangannya ada sebuah sikat kayu dan ember berisi air sabun. Tugasnya? Membersihkan seluruh area tempat wudhu putri dan mencabut rumput liar di sepanjang pagar pembatas yang luasnya hampir setengah lapangan bola.
Ustadzah Najwa berdiri di selasar, melipat tangan di dada dengan tatapan dingin. "Ini bukan Amerika, Abigail. Di sini, kesombongan dibersihkan dengan keringat. Jangan berhenti sampai semua lumut itu hilang."
Abigail tidak menjawab. Ia hanya menatap Najwa dengan pandangan menantang, lalu mulai berjongkok dan menyikat lantai semen yang kasar. Matahari mulai naik, menyengat kulitnya yang tidak terbiasa dengan cuaca tropis tanpa sunscreen mahal.
Dua jam berlalu. Tangan Abigail mulai memerah dan lecet. Peluh membanjiri wajahnya, membuat rambut pirangnya yang mencuat dari balik kerudung jadi lepek. Ia merasa sangat haus, tapi ia terlalu gengsi untuk meminta izin minum pada Najwa yang terus mengawasinya seperti elang.
Tiba-tiba, sebuah bayangan panjang menutupi tempatnya bekerja.
"Berhenti."
Suara itu. Abigail mendongak. Gus Zayn berdiri di sana, menatapnya dengan raut wajah yang sulit diartikan—antara marah dan kasihan.
"Gus Zayn?" suara Abigail parau.
"Gus, ini adalah takzir untuk kedisiplinannya," sahut Najwa yang langsung turun dari selasar, mencoba menjelaskan. "Dia sudah melanggar adab dan berbicara tidak pantas."
Zayn beralih menatap Najwa. "Takzir itu untuk mendidik, Ustadzah Najwa, bukan untuk menyiksa. Lihat tangannya, dia tidak terbiasa dengan pekerjaan ini. Luka itu bisa infeksi."
"Tapi Gus, aturan tetap aturan..."
"Saya yang akan mengambil alih sisanya," potong Zayn tegas. Ia lalu beralih ke Abigail. "Bangun. Ikut saya ke kantor kesehatan."
Abigail mencoba berdiri, tapi kakinya yang kram membuatnya limbung. Refleks, Zayn mengulurkan tangannya. Untuk sepersekian detik, tangan mereka nyaris bersentuhan sebelum Zayn dengan cepat menariknya kembali menyadari batasan mereka dan menyodorkan ujung sorban yang tersampir di bahunya untuk dipegang Abigail sebagai tumpuan.
"Pegang ini. Saya antar kamu," ujar Zayn pelan.
Di sepanjang jalan menuju UKS, para santri berbisik-bisik. Najwa berdiri terpaku di lapangan, wajahnya pucat karena malu dan marah. Gus Zayn, pria yang tidak pernah mau ikut campur urusan takzir santriwati, baru saja membela "si debu dari New York" itu di depannya.
Sesampainya di UKS yang sepi, Zayn mengambil kotak P3K. Ia duduk di kursi seberang Abigail, membiarkan seorang pengurus UKS junior yang mengobati luka Abigail, namun matanya tidak lepas memantau proses itu.
"Kenapa kamu tidak protes?" tanya Zayn tiba-tiba. "Biasanya kamu paling jago membela diri."
Abigail meringis saat alkohol menyentuh lecet di tangannya. "Aku nggak mau ngasih dia kepuasan dengan cara ngeliat aku nangis atau nyerah, Gus. Dia pikir aku lemah karena aku dari luar negeri."
Zayn terdiam sebentar, lalu menghela napas. "Kamu memang keras kepala. Tapi, Abigail... di sini kamu tidak perlu berperang dengan semua orang. Terkadang, diam adalah jawaban yang paling berwibawa."
"Aku bukan tipe pendiam, Gus. Kamu tahu itu," sahut Abigail sambil menatap Zayn dalam.
"Kenapa kamu nolongin aku? Tadi itu kamu terang-terangan bikin Ustadzah Najwa malu, lho."
Zayn bangkit berdiri, merapikan duduknya. "Saya tidak menolongmu. Saya hanya menegakkan keadilan. Dan satu lagi..." Zayn berhenti di pintu, "setelah ini, temui Umi Khadizah di dapur. Beliau sudah menyiapkan es sirup yang kamu inginkan kemarin."
Setelah Zayn pergi, Abigail tersenyum lebar meski tangannya perih. Ia menyadari satu hal, Gus Zayn mungkin dingin seperti es, tapi es itu perlahan mulai mencair tepat di hadapannya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Author ucapkan banyak -banyak Terimakasih yah untuk yang sudah mampir.
Happy Reading😍😍😍😍