Ferdi Nichol Aditya Atmaja, seorang pria tampan berusia 27 tahun. Sangat suka meledek temanya Nova, yang kecanduan membaca novel online.
Bagi Ferdi cerita novel online yang dibaca oleh Nova sangatlah basi. Berbicara seputar perempuan miskin yang dinikahi oleh CEO dengan jalur di lecehkan terlebih dahulu.
Ferdi menilai itu semua adalah sebagai bentuk merendahkan kaum wanita. Ia mengkritik hampir semua novel online yang Nova baca. SAMPAI KEMUDIAN HIDUP FERDI BERUBAH SEPERTI CERITA NOVEL ONLINE.
Ya, ia diminta oleh ayahnya untuk menyelamatkan perusahan keluarga mereka. Dengan menikahi seorang janda kaya beranak tiga. Tentu saja Ferdi menolak, namun keadaan semakin hari semakin menghimpit.
Hingga akhirnya memaksa Ferdi untuk menempuh jalan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pratiwi Devyara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deep Talk
Ferdi tidur dengan gelisah dan mengigau malam itu. Frans yang masuk ke kamar Ferdi untuk mengambil charger handphonenya yang tertinggal tersebut, memperhatikan Ferdi.
"Fer."
Frans memanggil Ferdi, namun Ferdi masih berada di alam bawah sadar yang penuh kecemasan. Frans melihat keringat di area sekitar wajah, kemudian meraba kening adiknya itu.
"Astaga panas banget." ujarnya penuh keterkejutan.
"Ferdi, Fer?"
"Hmmh."
Ferdi sempat mengeluarkan suara, namun itu tak membuat ia sadar ataupun bangun dari tidurnya.
"Fer?"
Ferdi tak lagi menjawab, Frans buru-buru turun ke bawah. Mengambil mangkuk stainless dan mengisinya dengan air dingin. Kemudian pria itu mencari dan mengambil saputangan dari dalam kamarnya.
Jika kemarin-kemarin Ferdi di rumah sakit, tetapi ia berdusta akan sakitnya pada Clara. Kali ini Ferdi menang benar-benar sakit, ia sakit setelah pulang ke rumah.
"Hmmh."
Ferdi kembali seperti orang yang mengigau. Frans masuk lalu mencoba mengompres kening adiknya itu dengan air dingin. Frans juga tadi sempat mengambil tablet penurun panas di kotak obat di dekat tangga.
"Jes."
"Hmmh."
Ferdi menyebut nama Jessica. Frans paling tau jika adiknya tersebut bisa sakit hanya karena terpikir akan sesuatu. Sudah barang tentu Jessica lah penyebab demam Ferdi malam ini, meski Frans tidak tau sesungguhnya apa yang telah terjadi dengan hubungan mereka.
"Jo, Ferdi kenapa sama Jessica?"
Frans mengirim pesan singkat pada Jordan. Ia tau meski telah larut, Jordan belum tidur di jam segitu. Sebab Jordan dan Ferdi sejatinya sangat suka bermain game online hingga menyentuh fajar.
"Kenapa emangnya bang?" Jordan balik bertanya.
"Ferdi sakit, dia ngigau nyebut nama Jessica." balas Frans.
"Tadi tuh mereka berantem. Jessica marah karena Ferdi udah nggak menghubungi dia lagi. Ferdi juga ngomongin soal perselingkuhan Jessica. Intinya dia udah nggak mau ketemu Jessica lagi, bang."
Frans membaca pesan tersebut. Mungkin Ferdi memang marah pada Jessica, dan tak bisa memaafkan perempuan itu lagi. Namun Ferdi bukan orang yang gampang melupakan seseorang dalam hidupnya. Ia bukan orang yang mudah membuang rasa sakit hati yang ia miliki.
Ia juga merupakan orang yang selalu memikirkan apa saja. Kadang Frans marah padanya dan mengingatkan, agar Ferdi bisa mensortir isi pikirannya. Tak perlu memikirkan banyak hal sampai dalam, sebab itu bisa saja membuat kondisi pikiran dan fisik kita menjadi drop.
"Ya udah Jo, thank you." ujar Frans lagi.
"Sama-sama, bang. Ferdi kasih aja penurun panas. Besok gue sama Sean hibur dia deh, biar nggak kepikiran Jessica terus." balas Jordan.
"Oke, thank you ya Jo."
"Sip."
Frans menyudahi pesan tersebut dan kini kembali fokus pada Ferdi. Ia membalikkan sapu tangan yang menempel di kening sang adik. Beberapa saat kemudian ia merendam lagi sapu tangan itu ke dalam air dan kembali menempelkannya.
Waktu berlalu, Ferdi akhirnya terbangun. Frans memberikan air minum serta tablet penurun panas padanya. Usai meminum obat tersebut Ferdi kembali tidur, karena ia masih berada dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar.
Ketika fajar menyingsing, Ferdi kembali bangun dan telah sadar secara penuh. Suhu tubuh pemuda itu pun telah menurun, namun ia terkejut melihat Frans yang terlelap sambil duduk disisi tempat tidur. Tepatnya pada sebuah kursi, dengan kepala yang tertumpu pada tangan.
"Frans."
Ferdi membangunkan sang kakak.
"Kenapa Fer, lo butuh sesuatu?" tanya Frans kemudian.
"Nggak, lo pindah ke sini." ujar Ferdi menawarkan sisi tempat tidur yang masih lebar.
Frans melirik jam dinding. Jam masih menunjukkan pukul 04:01 dini hari. Ia pun beranjak dan pindah ke sisi Ferdi.
"Masih panas nggak badan lo?"
Frans meraba kening Ferdi, ternyata panasnya sudah turun. Pria itu kemudian berbaring, dan Ferdi membagi selimutnya. Frans kemudian menghadap ke samping, membelakangi Ferdi.
"Frans."
"Hmm?"
Frans sedikit menoleh ketika matanya sudah nyaris terpejam.
"Kalau nanti gue nikah, berarti kita nggak serumah lagi dong?"
"Lo mau emangnya kita serumah?. Terus kalau lo lagi begituan sama bini lo, gue sama mama dan papa denger. Hmmm?"
Ferdi diam, matanya menatap langit-langit kamar. Frans mengajaknya bercanda, namun Ferdi serius kali ini.
"Gue bakalan jauh dari lo dong?" tanya Ferdi lagi.
Frans benar-benar menghela nafas dan menoleh kali ini. Ia mengerti pastilah berat bagi Ferdi, sebab sejak kecil mereka tak pernah terpisahkan.
Saat Frans sekolah di luar negri, sebulan atau dua bulan sekali Ferdi pasti ada datang mengunjunginya. Saking tak bisanya Ferdi jauh dari kakaknya itu.
"Setiap orang yang menikah pasti tinggal terpisah, Ferdi. Karena kan pasangan kita itu orang lain, belum tentu dia cocok sama kebiasaan keluarga kita." ucap Frans.
"Daripada tersinggung atas sikap satu sama lain, lebih baik memang memisahkan diri. Lagipula kalau masih campur sama orang tua, bisa canggung. Entah kita mau ngapain, atau mungkin lagi berantem." lanjutnya lagi.
"Tapi di drama Turki, semua yang nikah pada campur satu rumah gue liat."
Ferdi mengatakan soal drama dari sebuah negara yang pernah ia tonton secara tak sengaja.
"Fer, budaya di negara orang nggak bisa kita terapkan secara serta merta di negara kita. Cewek-cewek Turki mungkin udah terbiasa melihat orang tuanya serumah sama nenek mereka dari mereka kecil. Di negara kita kan nggak begitu. Ada sebagian yang nebeng orang tua, sisanya tinggal sendiri kalau udah nikah."
Ferdi kembali diam.
"Lagian lo kenapa sih?. Takut apaan coba?. Gue aja nih kalau nikah nanti, otomatis gue akan angkat kaki dari rumah ini." ujar Frans.
"Kalau kita jauh, siapa yang ngurusin gue kalau gue sakit kayak gini?" Ferdi kembali bertanya.
"Ya, kan ada bini lo nanti."
"Kalau dia nggak mau ngurusin gue gimana?. Kan katanya kalau perempuan kaya-raya, biasanya nggak mau ngurusin suami sampe segitunya. Lo tau standar tiktok kan?. Sekarang ngurus suami itu udah dianggap bagian dari budaya patriarki." ujar Ferdi.
"Jangankan cewek kaya, cewek low value aja udah pada nggak mau repot dalam rumah tangga. Maunya jadi ratu yang duduk doang, bunting, lahiran di singgasana." imbuh pemuda itu.
Frans agak menahan tawa demi mendengar hal tersebut. Apa yang dikatakan Ferdi mengenai standar perempuan jaman sekarang memang begitulah adanya.
"Cobalah don't judge book by the cover. Siapa tau dia orang kaya yang baik, yang mau ngurus suami dengan tangannya sendiri." ujarnya.
"Kalau dia baik, kenapa janda?"
Ferdi melontarkan pertanyaan yang membuat Frans sedikit terdiam.
"Sekarang gue tanya, emang konotasi janda itu negatif?"
Frans menoleh pada Ferdi, dan Ferdi tak bisa menjawab.
"Orang jadi janda itu banyak faktor, Fer. Nggak melulu salah perempuan, ada juga yang salahnya di laki-laki. Misalkan laki-lakinya selingkuh, atau nggak kerja, judi online, pecandu narkoboy, melakukan kejahatan yang nggak bisa dimaafkan. Bisa aja kan?"
Ferdi menghela nafas panjang.
"Jangan keburu menilai sesuatu buruk, kalau kita belum tau pasti kebenarannya." ujar Frans lagi.
"Ya kan gue nggak kenal sama itu cewek. Tau-tau udah di suruh nikah aja sama papa. Iya kalau dia beneran baik, kayak kata lo tadi. Kalau zonk gimana?"
"Ya lo tinggal ceraikan setelah tujuan kita tercapai, simpel kan?. Lo cowok, Ferdi. Kendali rumah tangga ada di tangan kita. Talak itu kita yang mengucapkan, kenapa mesti takut."
Untuk yang kesekian kali Ferdi menarik nafas, kali ini ia sudah cukup mengerti.
"Udah ah, gue mau tidur." ujar Frans.
Ia kembali berbalik membelakangi Ferdi, lalu memejamkan mata. Sementara Ferdi masih mengawang menatap langit-langit kamar.
s2 gak kau thor...
s2 yaaaaa🙏🙏🤣🤣🤣🤣
s2 gak kau thor...
s2 yaaaaa🙏🙏🤣🤣🤣🤣
😍😍😍😍😍😍