Menjadi Single Daddy tak pernah terbayangkan oleh Adrian Malvero. Karena memang dia belum pernah menikah, ataupun memiliki anak.
Hanya saja, dia terpaksa menerima gelar itu untuk menggantikan orang tua bayi mungil yang baru saja berumur satu tahun. Bayi itu adalah anak kakanya, yang meninggal bersama istrinya saat mengalami kecelakaan tunggal.
Dari kecelakaan itu, hanya anak mereka yang selamat, dan keluarga dari istri kakaknya juga menolak kehadiran bayi tak berdosa itu. Apakah Adrian mampu merawat seorang bayi, atau malah menyerah dan mencarikan orang tua adopsi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kolom Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SD - 18. Debat
Pagi hari sesuai sholat subuh, Sekar langsung pergi begitu saja tanpa pamit. Pikiran Sekar sekarang tertuju pada Abiyan, bahkan setiap jam Sekar bangun demi melihat waktu apakah sudah pagi atau belum.
Dengan cepat, Sekar memesan Taxi dan langsung berangkat ke rumah Adrian. Karena langsung masih petang, jalanan juga gak begitu rame seperti siang hari. Jadi, Sekar hanya membutuhkan waktu satu jam agar sampai di rumah Adrian.
"Assalamu'alaikum, Bik. Apakah semua masih tidur, atau sudah ada yang bangun?" tanya Sekar pada pembantu rumah Adrian.
"Semua orang masih tidur, Nyona. Tapi, tuan Adrian sama sekali belum tidur. Beliau ada di teras belakang, dari semalam." Sekar pun langsung mengernyitkan keningnya.
Bisa-bisanya Adrian gak tidur semalaman, dan duduk di teras belakang. Memang dia mau uji nyali apa, gak takut di gerogoti hantu? gumam Sekar sambil menuju teras belakang. Saat sampai di sana, Sekar melihat putung rokok begitu banyak, dan bisa di lihat ada dua pak bungkus rokok yang sudah kosong.
Karena sangat kesal, akhirnya Sekar langsung mengambil rokok yang di hirup Adrian. Bahkan Sekar gak perduli kena putung rokok tersnyum, karena Sekar terlalu marah. Sedangkan Adrian, dia langsung terkejut saat rokok yang dia hirup lenyap seketika.
"Kamu apa-apaan sih, Sekar! Apakah aku mengganggumu, sampai kamu merampas rokok yang aku hirup?" tanya Adrian sangat kesal. Bahkan kini Adrian berdiri, dan langsung menatap tajam Sekar.
"Rokok gak baik untuk kesehatan, Adrian! Apakah kamu mau sakit, dan berakhir menelantarkan Abiyan?" Sekar pun berbalik tanya. Sekar ingin sekali mencakar muka Adrian, di saat seperti ini. Sikap angkuhnya, membuat Sekar geram dan sangat kesal.
"Bukannya kamu sendiri yang akan meninggalkan, Abiyan? Kamu ingin mengungkapkan segalanya kan, pada Abiyan. Jadi yang ingin meninggalkan siapa, aku atau kamu!" Adrian pun berkata dengan sangat keras, dan mendorong tubuh Sekar ke dinding.
Adrian sangat kesal, dan marah. Semalaman Adrian memikirkan ucapan Ica, yang berkata jika Sekar akan mengungkapkan segalanya hari ini. Tak tau kenapa, hati Adrian merasa tak terima. Apalagi sampai berpisah dengan Sekar, bisa-bisa dia kualahan mengurus Abiyan.
"Aku lakukan ini demi kebaikan, Abiyan. Tidak baik membohongi dia terus-menerus, apakah kamu mau Abiyan hidup dalam kebohongan?" tanya Sekar gak kalah sinis.
Kebaikan apa? Yang ada nanti dia makin tertekan, kamu ini bagaimana sih! Sudah tau Abiyan sangat ingin kita bersama, tapi bukannya semakin menyembunyikan semua malah ingin membongkar segalanya!" seru Adrian lagi dan lagi. Hingga membuat Sekar kesal.
"Maka nikahi aku, Adrian Malvero! Aku butuh kepastian, dan juga butuh pendamping. Ibu sudah menyuruh aku menikah, dan jika kamu sendiri gak ada niatan untuk menikahi aku. Untuk apa kita teruskan sandiwara ini, Tuan Adrian!"
Seketika Adrian langsung terdiam. Adrian tak menyangka, Sekar akan mengajukan permintaan seperti ini. Bahkan setelah mendengar Sekar berkata seperti itu, Jantung Adrian langsung berdetak sangat kencang seakan mau lepas dari tempatnya.
"Kamu bercanda kan, Sekar?" tanya Adrian. Tapi dengan cepat Sekar menggeleng, bahwa dia serius bukan bercanda.
"Aku serius, Adrian! Semalam ibulah yang melarang aku kesini, dan sedikit mengutarakan isi hatinya. Ibu ingin menjodohkan aku dengan Affan, jika kamu gak ada niatan membuat aku serius. Aku tau kita gak pernah ada rasa sama sekali, tapi mendengar ucapan ibu, aku jadi takut kehilangan Abiyan." Tanpa terasa Air mata Sekar pun menetes.
Sekar merasa takut kehilangan mereka berdua. Apalagi saat dia menikah nanti, pasti Affan gak akan pernah memperbolehkan dirinya bersama dengan Abiyan. Karena otomatis akan selalu bertemu, dengan Adrian.
"Kenapa ibumu, jadi seperti ini?"
"Karena ibuku ingin anaknya menikah, Adrian! Ibuku juga ingin menimang cucu, dan bisa melihatku menikah dengan seseorang. Jadi kalau kamu sendiri gak bisa menikahi aku, walaupun hanya sebatas pernikahan status. Maka aku harus menerima lamaran Affan, dan aku mungkin gak akan pernah bisa menjenguk Abiyan." Sekar berkata dengan sangat lesu. Sungguh dia gak mau ada di posisi ini, tapi kenapa Tuhan menempatkan dia di posisi yang sangat rumit.
"Kamu tau kan, jika seorang istri harus menurut pada suaminya. Jadi kemungkinan besar, Affan akan melarangku untuk berdekatan denganmu. Semua keputusan ada di tanganmu, aku hanya akan menerima apa yang ingin kamu lakukan," ucapan Sekar sekali lagi.
Sekar akan pasrah dengan keputusan Adrian. Jika Adrian ingin menikahnya, maka dia akan menikah. Tapi, jika Adrian gak mau. Maka, dia akan menurut pada ibunya.
"Aku bingung, aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Kalau aku gak akan menikah, sampai Abiyan berumur 21 tahun. Aku gak bisa melanggar janji itu, Kar." Adrian pun langsung melepaskan cengkeraman nya pada Sekar.
Adrian kembali duduk, sambil memegang kepalanya sendiri. Entah kenapa ucapan Sekar membuat kepalanya berdenyut sangat kencang, dan membuat dia berkunang-kunang.
"Maka jalan satu-satunya, kita harus jujur dengan Abiyan. Aku gak berani durhaka pada ibu, dan ibu menginginkan aku menikah. Jadi aku putuskan, hari ini juga kita harus jujur pada Abiyan, jika kita bukan orang tua kandungnya," ucap Sekar sambil berlalu pergi meninggalkan Adrian.
Hati Sekar sangat sakit sekali mendengar jawaban, Adrian. Padahal jawaban yang di tunggu Sekar, adalah dia mau menikahi nya dan hidup bahagia. Tapi ternyata harapan Sekar tak sesuai kenyataan. Adrian tetap memilih hidup melajang, daripada menikah.
Bodoh sekali kamu, Sekar. Kamu dengan PD-Nya bilang semua itu, dan berharap Adrian akan menerima kamu sebagai istrinya. Tapi nyatanya Adrian sama sekali tak pernah menganggap kamu spesial, dan sikapnya yang selama ini dia berikan padamu hanya pelampiasan semata saja. Sudahlah Sekar, sekarang kamu harus moveon dan hidup bahagia bersama Affan. gumam Sekar sambil berjalan masuk kedalam ruangan Abiyan.
Namun saat dirinya baru masuk, Sekar sudah melihat Abiyan duduk di atas ranjang dengan derai air mata yah menetes begitu banyak. Sekar sangat khwatir hingga dia langsung memeluk Abiyan.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Sekar sambil memeluk erat Abiyan. Namun Sekar sama sekali tak mendapatkan jawaban, hingga Sekar mendongakkan wajah Abiyan.
"Kamu kenapa, Nak. Coba bicara sama Mommy, apakah kamu sakit atau apa?" Lagi-lagi Sekar tak mendapatkan jawaban. Sekar sangat khwatir hingga dia beranjak pergi dari duduknya, untuk memanggil Adrian.
Sekar ingin tanya kenapa Abiyan seperti ini, dan tak mau bicara sama sekali. Sekar merasa ada yang aneh, tapi dia mau memastikan pada Adrian. Tapi saat Sekar akan pergi. Tangan Sekar di pegang Abiyan, dan Abiyan mengungkapkan sesuatu yang membuat Sekar terdiam.
"Abiyan mohon, jadilah Mommy Abiyan seutuhnya. Abiyan hanya ingin Mommy, bukan yang lain. Abiyan juga hanya ingin Daddy Adrian, bukan Daddy Affan."
.
.
.
Happy Reading