NovelToon NovelToon
Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Penyesalan Suami
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"

....

Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 #Pahit dibalik kenangan manis

Erika mengusap pundak Bening sekali lagi sebelum akhirnya pamit pulang untuk bersiap berangkat kerja. Setelah sahabatnya itu menghilang di belokan koridor, Bening berdiri diam di depan pintu kamar VVIP selama beberapa menit. Dia mengusap sisa-sisa air mata di pipinya, menarik napas dalam-dalam, dan memaksakan wajahnya kembali tenang. Dia tidak boleh memperlihatkan kerapuhannya di depan sang putra.

Dengan langkah pelan, Bening mendorong pintu kamar rawat.

Di dalam, suasana tampak begitu kontras dengan hatinya yang hancur. Gibran sedang duduk di tepi ranjang, merakit bagian-bagian sayap pesawat kendali jarak jauh bersama Kaivan. Jemari tangan Gibran yang biasa menggenggam pena mahal kini dengan sabar menuntun jemari kecil Kai untuk memasang baut-baut plastik kecil. Binar antusiasme memancar sempurna dari wajah kecil anaknya.

"Mama! Lihat!" seru Kai riang begitu menyadari kehadiran ibunya. "Pesawatnya sudah hampir jadi! Kata Papa, nanti kalau baterainya sudah diisi, baling-balingnya bisa berputar cepat sekali!"

Namun, saat Bening mendekat ke sisi ranjang, binar kegembiraan Kai mendadak terhenti. Bocah enam tahun yang peka itu memiringkan kepalanya, menatap lekat-lekat wajah ibunya.

"Mama... matanya kenapa merah sekali? Mama habis menangis lagi ya?" tanya Kai polos dengan raut khawatir.

Jantung Bening berdesir. Dia buru-buru mengusap sudut matanya dan mengibaskan tangan. "Ah... tidak, sayang. Mama tidak menangis. Tadi di luar ada angin kencang, mata Mama hanya kelilipan debu."

Kai mengangguk-angguk percaya, lalu teringat sesuatu yang sejak kemarin mengusik rasa ingin tahunya. "Oh iya, Mama! Mama belum jawab pertanyaan Kai yang waktu itu!"

Bening mengernyitkan dahi pelan, mengambil duduk di kursi sebelah ranjang. "Pertanyaan yang mana, sayang?"

"Itu... waktu Mama sedang menghias kue di dapur rumah kita," jawab Kai bersemangat. "Awalnya kan Kai tanya kue itu untuk acara apa, kata Mama untuk ulang tahun pernikahan pelanggan Mama. Terus Kai nanya... kalau ulang tahun pernikahan Mama dan Papa kapan?"

Pertanyaan jujur dari mulut anak kecil itu seketika membuat keheningan yang membekukan melingkupi ruangan VVIP tersebut. Gerakan tangan Gibran yang sedang mengencangkan baut pesawat mendadak terhenti total.

Bening membeku. Tenggorokannya terasa tersumbat. Bagaimana bisa dia menjawab pertanyaan itu di saat kondisi hubungan mereka berada di jurang kehancuran?

Sebelum Bening sempat mengarang kebohongan baru, suara berat Gibran memecah keheningan. Pria itu mendongak, melayangkan tatapan mata yang dipenuhi oleh luka lama yang teramat dalam lurus ke arah Bening. Gibran masih mengingatnya dengan sangat jelas—setiap detail, setiap detik dari hari paling bahagia dalam hidupnya yang kini berubah menjadi tragedi.

"15 Februari," sahut Gibran dingin, menatap Bening tanpa berkedip. "Tujuh tahun yang lalu."

Bening menahan napasnya. Hari ini... hari ini adalah tanggal 15 Februari.

"Wah! Itu kan hari ini, Papa!" seru Kai membelalakkan matanya gembira setelah melirik kalender di meja sebelah ranjangnya, tidak menyadari ketegangan hebat yang melilit kedua orang tuanya. "Hari ini ulang tahun pernikahan Papa dan Mama! Tapi... Mama kenapa tidak membuat kue tart yang besar seperti biasanya? Kan Papa sudah ada di sini! Papa tahu tidak, kue buatan Mama itu enak sekali! Rasanya manis dan lembut!"

Bening memaksakan seulas senyum tipis yang amat rapuh di bibirnya. Tangannya terulur mengusap lembut rambut ikal Kai. "Kue itu tidak terlalu penting untuk hari ini, Kai... Yang paling penting, Mama bisa menemani Kai di sini sampai Kai benar-benar sembuh."

Gibran terdiam, matanya perlahan bergerak menatap jemari Bening yang mengusap kepala anak mereka. Kata kue yang diucapkan Kai secara otomatis menarik pangkas kesadaran Gibran mundur ke masa lalu. Bayangan memori yang selama enam tahun ini berusaha dia kubur dalam-dalam, kini bangkit kembali menyerbu pikirannya tanpa ampun.

Flashback on ~ Tujuh Tahun Lalu...

Dapur di apartemen mewah milik Gibran dipenuhi oleh aroma harum adonan roti yang baru matang. Bening, yang saat itu masih berusia 22 tahun dan berstatus sebagai istri Gibran, sedang fokus meratakan krim putih di atas permukaan kue tart buatannya. Rambut panjangnya diikat asal, dan ada sedikit coretan tepung di pipi mulusnya.

Tiba-tiba, sepasang lengan kekar melingkar hangat di pinggangnya dari arah belakang. Gibran menyandarkan dagunya di bahu Bening, memeluk istrinya dengan erat dan posesif.

"Mas Gibran... jangan peluk-peluk terus, ih! Bening susah gerak ini," protes Bening manja sambil mencoba menggeser tubuhnya, namun senyum bahagia tidak bisa sembunyi dari wajah cantiknya.

"Kenapa, sayang?" bisik Gibran lembut di dekat telinga Bening, menyiratkan rasa kepemilikan yang mendalam. "Bukankah kue tart ini dibuat khusus untuk merayakan ulang tahunku? Jadi aku harus melihat langsung setiap proses pembuatannya dari dekat."

Bening memanyunkan bibirnya dengan menggemaskan, menoleh sedikit ke arah suaminya. "Yah... tidak jadi kejutan dong kalau Mas lihat terus dari awal sampai selesai menghiasnya!"

Gibran terkekeh pelan. Dikecupnya pelipis Bening dengan penuh kasih sayang dan kehangatan yang tulus. "Tidak apa-apa, sayang. Dapur bisa berantakan dan kejutan bisa gagal, tapi kamu... kamu sendiri sudah menjadi kejutan terbaik yang dikirim Tuhan dalam hidupku."

Bening tertawa renyah, berbalik lalu memeluk leher Gibran tanpa memedulikan noda tepung yang akhirnya mengotori jas mahal suaminya. Dunia terasa begitu manis dan sempurna.

Flashback off....

"Papa... Papa kenapa melamun?"

Suara cempreng Kai menyentak Gibran kembali ke realita yang dingin. Pandangan matanya yang sempat melamun kini kembali fokus pada sosok Bening yang duduk diam di depannya wanita yang sama, namun kini dipisahkan oleh tembok kebencian yang teramat tinggi.

Gibran melepaskan hembusan napas berat yang terasa menyesakkan dada. Dia menatap Bening dengan sudut bibir yang terangkat membentuk senyuman sinis yang menyakitkan.

"Tidak apa-apa, sayang..." jawab Gibran melirik Kai, namun kalimat selanjutnya dengan sengaja dia layangkan sebagai sindiran tajam untuk Bening. "Papa hanya sedang mengingat sebuah memori masa lalu yang sangat manis bersama Mamamu... Sampai-sampai rasa manisnya berubah menjadi sangat pahit karena terlalu manis."

Bening mengepalkan jemarinya di atas pangkuan hingga kuku-kukunya memutih. Dia mengerti betul arti sarkasme di balik kalimat Gibran. Pria itu sedang menyindirnya menganggap seluruh kenangan cinta mereka dulu hanyalah kepalsuan dan kemanisan manis yang berujung pada rasa pahit akibat pengkhianatan.

Gibran menyandarkan punggungnya di kursi yang dia duduki, melipat kedua tangannya di dada. Tatapannya tidak pernah lepas dari Bening, menelanjangi rasa bersalah dan kesedihan yang coba disembunyikan oleh wanita itu.

"Tapi tenang saja, Kai," lanjut Gibran dengan nada suara yang sengaja dibuat santai namun dingin. "Masa lalu yang pahit itu tidak akan terulang lagi. Mulai sekarang, hanya ada Papa dan Kai. Papa yang akan memastikan hidupmu dipenuhi oleh hal-hal manis yang nyata, bukan kepalsuan."

Bening menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan aliran air mata yang kembali mendesak keluar. Dada sebelah kirinya terasa seperti dihantam belati tak kasat mata. Begitu besar kebencian yang ditanamkan oleh fitnah tujuh tahun lalu, hingga hari ulang tahun pernikahan yang harusnya penuh kenangan manis kini hanya menyisakan kebohongan dan dendam yang tak bersudut.

Namun, di balik rintihan batinnya yang hancur, Bening tetap memilih untuk bungkam. Dia menerima setiap bilah kata tajam dari Gibran, demi satu hal, memastikan Kai tetap aman di bawah bayang-bayang perlindungan keluarga Aditama.

1
Akun Maisarah
jahat banget Wira nih.orang tua apa yg Setega itu.kasihan bening😪
Lisa
👍👍 bagus Gibran tangkap pria itu lalu urus papamu yg membayar pria itu..ntar lg kebenaran terungkap.
Lisa
Kalian harus rujuk kembali..
Lisa
Syukurlah Gibran segera menyuruh asistennya utk menyelidiki pria itu setlh semuanya terungkap mereka ber3 dpt bersatu lg..
Lisa
Gibran selidiki masa lalu itu kamu harus tegas terhadap ayahmu
Lisa
Ayo Gibran sadarlah bahwa Papamu itu yg menghasutmu
Lisa
Udh Gibran jgn keraskan hatimu..Bening msh mencintaimu & ga pernah selingkuh..
Lisa
Makanya kamu harus menyelidiki kasus itu Gibran..
Lisa
Makanya kamu harus bersikap tegas Gibran terhadap ayahmu..dia itu yg udh menyusun skenario jahat ttg Bening
Lisa
Makanya kamu harus tegas Gibran selidiki masalah 7 thn yg lalu itu..
Lisa
Kapan Gibran & Bening dapat rukun lagi ☺️
Lisa
Wira ini jahat banget moga aj kelakuannya diketahui oleh Gibran
Lisa
Sadarlah Gibran..anakmu aj sangat taat beribadah..kamu harus berubah dan mencontoh sikap anakmu.
Lisa
ya nih Gibran koq g sadar slm 6 thn di atur oleh ayahnya
Lisa
Ceritanya menarik 👍
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Sama² Kak Nova..aku suka ceritanya..
total 2 replies
Yani Tan
bagus...sangat bagus
partini
ck ck ck ternyata ortu lacknat
ga bakal ketauan ortu sendiri
partini
pak CEO bego masa iya di bantai terus sama lawan 🤦🤦
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!