NovelToon NovelToon
Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Akademi Sihir
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: Benhard Ayub Simanjuntak

Aku dilahirkan tanpa mana. Dijuluki "Sampah Magic" dan dikeluarkan dari Akademi Sihir Kerajaan.

Saat hampir mati di hutan iblis, aku mendapatkan [Sistem Archmage].

Setiap mengalahkan monster = dapat skill sihir baru.
Api, Petir, Ruang, Waktu... semua sihir bisa kupelajari!

Sekarang, aku akan kembali ke akademi itu.
Dan membuat mereka semua berlutut di hadapanku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benhard Ayub Simanjuntak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: NAMA BARU, NOEL

Angin sore menampar wajah Kael saat gerbang besi Akademi Sihir Valthera terbuka di hadapannya.

Sudah satu tahun. Satu tahun sejak dia diusir seperti anjing, dengan label "0 Mana" ditempel di punggungnya oleh para profesor. Satu tahun sejak namanya dicoret dari papan murid berprestasi dan dipindah ke papan "Murid Terbuang". Satu tahun sejak Elara, tunangannya, meludah ke tanah tepat di depan kakinya dan berkata dengan suara lantang agar semua orang dengar, "Aku malu punya sampah sepertimu, Kael."

Kini dia kembali.

Bukan sebagai Kael.

Topeng perak menutupi setengah wajahnya. Jubah abu-abu murid biasa membungkus tubuh yang sekarang dipenuhi bekas luka dan "Warisan Api" yang menggelegak di dalam nadinya. Di dadanya, pin nama baru berkilau di bawah cahaya matahari senja: *NOEL*.

"Senang bertemu kembali... Akademi," bisik Kael. Suaranya serak, sengaja dia ubah satu oktaf lebih rendah.

Langkahnya berat saat melewati gerbang. Batu paving yang dulu dia sapu setiap pagi karena hukuman kini terasa berbeda di bawah sol sepatunya. Dulu dia berjalan menunduk. Sekarang punggungnya tegak.

Akademi berubah.

Patung Pendiri Valthera yang dulu retak di bagian lengan kini sudah diperbaiki. Lapangan latihan diperluas dua kali lipat. Bahkan aroma di udara pun beda. Dulu baunya debu dan putus asa. Sekarang baunya kertas, tinta, dan ambisi anak-anak bangsawan.

`[Ding!]`

Suara di kepalanya membuat Kael berhenti sejenak.

`[Sistem Penyihir Sampah Aktif]`

`[Lokasi: Akademi Sihir Valthera terdeteksi]`

`[Misi Tersembunyi Terbuka: Kembali Sebagai Pemenang]`

`[Deskripsi: Masuk 10 Besar Akademi dalam 3 bulan. Hadiah: Pecahan Api Kedua + Akses Perpustakaan Terlarang]`

`[Gagal: Mana akan disegel permanen]`

Kael mengepalkan tangan di balik jubahnya. "Gagal berarti mati," gumamnya.

Dia menarik napas dalam-dalam dan melangkah ke Aula Utama. Tempat pendaftaran murid baru. Tempat dia dulu berdiri 3 jam hanya untuk dinyatakan "tidak layak".

Aula itu masih sama. Langit-langitnya tinggi, dengan lampu kristal yang menggantung seperti bintang. Tapi ada satu hal baru yang membuat darah Kael mendidih.

Di dinding paling kiri, dipajang sebuah plakat kayu hitam.

Di atasnya tertulis dengan huruf emas:

*"DAFTAR MURID TERBUANG TAHUN INI"*

Dan nama paling atas, dengan tinta merah yang belum luntur:

*1. KAEL VEYN - 0 MANA - DIKELUARKAN*

Tangan Kael bergetar. Rasa malu, marah, dan sakit hati bercampur jadi satu. Api di dalam dirinya menggeram, minta dilepaskan. Tapi dia menahannya.

"Belum saatnya," bisiknya pada dirinya sendiri. "Noel belum boleh marah."

"Nyasar ya?"

Sebuah suara mengejek memecah lamunannya.

Seorang murid laki-laki dengan lencana kelas A menghampirinya. Rambut pirang, dagu terangkat. Kael ingat wajah itu. Aldric. Salah satu anjing peliharaan dewan akademi. Dulu dia yang paling sering melempar Kael dengan bola salju sihir pas jam istirahat.

"Ini tempat buat murid baru, bukan tempat pemulung," lanjut Aldric sambil melirik topeng Kael dari atas ke bawah. "Beli topeng di pasar loak mana? Murah banget keliatannya."

Teman-teman Aldric tertawa.

Kael hanya tersenyum tipis di balik topeng. Senyum yang dulu dia pakai saat dipukuli. Senyum yang bilang "terserah kalian".

"Aku murid baru," jawab Kael pelan. "Nama... Noel."

"Noel? Nama kampungan," cibir Aldric. "Denger ya, Noel. Di sini yang lemah akan diinjak. Paham?"

Sebelum Kael bisa jawab, bel lonceng besar berbunyi. _DONG... DONG... DONG..._

Tanda pendaftaran akan ditutup.

"Beruntung kau," desis Aldric. "Nanti kita lanjut di kelas." Dia pergi bersama gerombolannya, masih tertawa.

Kael menghela napas. Bagus. Dia butuh Aldric meremehkannya. Semakin rendah mereka memandangnya, semakin tinggi dia bisa melompat nanti.

Dia berjalan ke meja pendaftaran. Seorang wanita paruh baya dengan kacamata tebal mendongak.

"Nama?" tanyanya tanpa melihat.

"Noel."

"Asal?"

"Desa pinggiran. Mana... rendah." Kael sengaja berbohong. Dia hanya akan menunjukkan 20% dari kekuatannya.

Wanita itu mencatat. "Kelas D. Asrama Barat. Ujian masuk ulang minggu depan. Ambil seragam di gudang."

"Terima kasih."

Saat dia berbalik, jantungnya berhenti sedetik.

Di seberang aula, berdiri seorang gadis.

Rambut perak panjang tergerai. Gaun biru akademi dengan lencana emas berbentuk bintang tiga di dadanya. Mata biru sedingin es yang dulu pernah menatapnya dengan cinta... kini menatapnya dengan datar, seolah dia tidak ada.

Elara.

Top 3 Akademi.

Mantan tunangannya.

Elara sedang berbicara dengan dua orang pengawal. Dia tertawa. Tawanya sama seperti dulu. Tapi bukan untuk Kael lagi.

Untuk sesaat, Kael lupa bernapas. Api di dalam dirinya bergejolak, ingin membakar seluruh aula ini. Ingin berteriak "Itu aku!"

Tapi dia tidak.

Dia hanya menunduk sedikit dan berjalan melewatinya.

Tidak ada yang terjadi. Elara bahkan tidak melirik.

Dan itu lebih sakit daripada semua hinaan Aldric.

Kael keluar dari aula dengan tangan mengepal. Di luar, langit mulai gelap. Bintang pertama muncul.

`[Catatan Sistem: Emosi Terdeteksi. Stabilkan Mana]`

"Stabil..." Kael mengulang. "Aku harus stabil."

Malam pertama sebagai Noel.

Malam pertama dari balas dendam elegannya.

Dari kejauhan, di lantai 3 gedung fakultas, seorang wanita berambut hitam mengamati semuanya dari balik jendela. Prof. Selene.

Dia menyipitkan mata melihat sosok bertopeng itu.

"Matanya..." bisiknya. "Matanya mirip Kael."

Pagi di Akademi Sihir Valthera dimulai dengan dentang lonceng yang sama seperti setahun lalu.

Kael berdiri di depan Kelas D. Pintu kayu itu dulu adalah gerbang neraka baginya. Tempat dia ditertawakan, dilempari kapur, dan disebut "sampah" 7 jam sehari.

Sekarang dia mendorongnya masuk.

"Aku Noel. Murid baru."

20 pasang mata menatapnya. Beberapa berbisik saat melihat topeng peraknya.

"Udah jelek pake topeng segala,"

"Gaya banget sih"

Dan di bangku paling depan, Aldric sudah duduk dengan senyum miring.

"Oh, si kampungan topeng. Duduk sini," katanya sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya. "Biar aku ajarin cara jadi manusia."

Kael berjalan pelan. Sengaja duduk. Dia butuh musuh di dekat.

"Terima kasih... senior," jawab Kael, suaranya datar.

Belum semenit, pintu kebuka lagi.

Suasana kelas langsung berubah. Yang tadinya ribut jadi hening.

Elara masuk.

Lencana bintang tiga di dadanya berkilau. Aura mana di sekitarnya padat, dingin, dan elegan. Dia tidak melirik siapapun. Langsung duduk di barisan paling depan.

Tapi saat melewati Kael, langkahnya terhenti 0.5 detik.

Alisnya sedikit berkerut. Seperti mencium bau yang familiar.

Lalu dia melanjutkan jalan.

Dada Kael sesak. "Dia... hampir ngeh," pikirnya.

Guru masuk. Prof. Marlow, guru sihir dasar yang dulu paling benci Kael.

"Hari ini kita tes praktek. Yang nilainya paling rendah, bersihkan toilet sebulan."

Kelas bergemuruh.

"Tes pertama: Kendalikan mana di telapak tangan selama 10 detik."

Satu-satu murid maju. Api kecil, air, angin. Rata-rata.

Giliran Aldric. Dia menciptakan 3 bola api sekaligus. Kelas bertepuk tangan.

"Bagus! 90 poin!" puji Prof. Marlow.

"Giliranmu, Topeng," bisik Aldric. "Jangan nangis ya kalau nilainya 0."

Kael maju. Dia menutup mata. Di dalam tubuhnya, "Warisan Api" mengaum. Tapi dia hanya mengambil setitik. Seujung kuku.

Sebuah percikan api kecil muncul di telapak tangannya. Berkedip 3 kali... lalu padam.

"5 detik. 10 poin," kata Prof. Marlow datar. "Menyedihkan."

Kelas tertawa.

Elara yang dari tadi diam, akhirnya melirik. Sekilas. Matanya menilai Kael dari atas ke bawah. Tidak ada pengenalan. Hanya penilaian: "Lemah."

Itu yang Kael mau.

"Bagus Noel," bisik Aldric sambil nyikut lengannya. "Emang tempatmu di got."

Kael menahan. Tapi di dalam kepalanya: `Satu bulan lagi. Di turnamen. Aku akan injak kepalamu di depan semua orang.`

Selesai kelas, pengumuman ditempel.

*"UJIAN MASUK ULANG: 3 HARI LAGI. YANG GAGAL AKAN DIKELUARKAN."*

Kael tersenyum di balik topeng. Ini dia.

Lapangan latihan penuh. Semua murid baru dan lama menonton.

Ini hiburan mereka. Melihat yang lemah dipermalukan.

"Peserta pertama: Noel dari Kelas D!"

Kael melangkah ke arena. Lawannya: 3 orang. Semua Kelas C. Semua pernah mengejek Kael setahun lalu.

"Aturan: Bertahan 5 menit. Atau buat 1 dari mereka menyerah."

Wasit meniup peluit.

Ketiganya langsung nyerang. Bola air, tombak angin, rantai tanah.

Kael menghindar. Lambat. Sengaja kena beberapa.

"Kasihan banget," sorak penonton.

2 menit. Kael terpojok. Jubahnya robek. Topengnya retak.

Di tribun, Elara menonton tanpa ekspresi. Aldric tertawa paling keras.

"Menyerah, Sampah!" teriak salah satu lawan.

Kael terengah. Dia menatap tangannya.

`Cukup. 20% saja.`

Dalam sekejap, dia bergerak.

Bukan api. Hanya sihir dasar yang disempurnakan.

Langkah kaki dipercepat 2x. Tinju dengan lapisan mana tipis.

_DUG! DUG! DUG!_

Tiga orang itu terpental dalam 4 detik. Pingsan.

Lapangan hening.

"Pe...menang? Dengan teknik dasar?" gumam wasit.

"Hasil: Noel. Lulus. Nilai: 85. Masuk 10 Besar Kelas D Sementara."

Sorak kecil terdengar. Nama "Noel" mulai disebut.

Kael berjalan turun. Napasnya diatur. Seolah itu sulit.

Saat melewati tribun, dia mendengar suara pelan.

"...mirip"

Itu Elara. Dia menatap punggung Kael.

"Mana dasarnya... mirip Kael."

Kael tidak menoleh. Jantungnya berdebar. Hampir ketahuan.

Tapi dia terus jalan.

Malamnya, di asrama, pengumuman baru ditempel.

*"TURNAMEN KELAS AKAN DIMULAI MINGGU DEPAN. 10 BESAR AKAN DAPAT AKSES PERPUSTAKAAN TERLARANG."*

`[Ding!]`

`[Misi Diperbarui: Masuk 10 Besar Turnamen. Waktu: 7 Hari]`

Kael duduk di tempat tidur. Dia melepas topeng. Wajahnya penuh luka lama.

"Warisan Api... waktunya tumbuh," bisiknya. Api kecil menyala di telapak tangannya. Kali ini, tidak padam.

Dari luar jendela, bayangan seseorang pergi.

Aldric. Dia melihat semuanya.

"Siapa kau sebenarnya, Noel..."

Atap Asrama Barat. Angin malam dingin menusuk tulang.

Kael duduk bersila. Topeng peraknya tergeletak di samping. Di bawah cahaya bulan, luka-luka lama di tubuhnya terlihat jelas. Luka cambuk. Luka bakar. Luka dari kata-kata.

"Setahun..." bisiknya.

"Setahun aku hidup seperti tikus got. Makan sisa. Tidur di kandang. Digonggongin goblin."

Dia mengepalkan tangan. Api kecil menyala di sela jarinya. Tidak panas. Hanya hangat.

"Tapi aku bertahan. Karena aku punya satu hal yang kalian tidak punya."

Dia menatap langit.

"Dendam."

`[Ding!]`

`[Deteksi: Emosi Negatif Level Tinggi. Konversi ke Mana...]`

`[Warisan Api: 12% Tersinkronisasi]`

Sebuah ingatan menusuk.

_Suara Elara: "Aku malu punya sampah sepertimu"_

_Suara Dewan: "Kael Veyn. Dengan ini kau dikeluarkan. 0 Mana tidak layak di Akademi."_

_Tawa Aldric: "Sapu yang bersih ya, sampah!"_

Api di tangan Kael bergetar. Hampir meledak.

"Tidak..." Kael menggigit bibirnya sampai berdarah. "Belum. Noel belum boleh marah."

Dia memejamkan mata. Mengatur napas. Mengubah dendam itu jadi bahan bakar.

`[Sinkronisasi: 15%]`

"Bagus," gumam suara dari belakangnya.

Kael langsung bangkit dan mengenakan topeng. Berbalik.

Prof. Selene. Guru sihir tingkat lanjut. Wanita berambut hitam yang dulu satu-satunya yang tidak menertawakannya.

"Latihan tengah malam? Berbahaya, anak muda," kata Selene. Matanya menatap Kael dari atas ke bawah. Menilai.

"Aku... hanya mencoba mengendalikan mana, Profesor," jawab Kael, mengubah suaranya.

"Dengan teknik pernapasan kuno?" Selene melangkah mendekat. "Teknik itu sudah punah 200 tahun lalu. Dari mana kau mempelajarinya, Noel?"

Jantung Kael berhenti. Hampir ketahuan.

"Dari... buku bekas di pasar, Profesor. Aku suka baca."

Selene diam 3 detik. Lalu tersenyum tipis.

"Menarik. Api mu... tidak liar. Terkontrol. Seperti seseorang yang kukenal."

Dia berbalik pergi. Tapi berhenti di tangga.

"Turnamen minggu depan. Tunjukkan padaku. Siapa sebenarnya kau, Noel."

Kael menelan ludah. "Hampir saja."

Dia kembali duduk. Malam masih panjang.

`[Ding!]`

`[Misi Harian: Meditasi dengan Warisan Api. Hadiah: +50 EXP]`

Kael menutup mata. Kali ini dia tidak menahan. Dia membiarkan "Warisan Api" mengalir.

Rasanya seperti lahar di dalam pembuluh darah. Sakit. Tapi nikmat.

Di benaknya muncul gambar: Menara Langit. 4 Raja Iblis. Dewa Sihir yang tertawa.

"Suatu hari... aku akan ke sana," bisiknya.

Jam menunjukkan tengah malam.

Tiba-tiba, ` [Ding! DING! DING!]`

`[PERINGATAN!]`

`[Pecahan Api Pertama Terdeteksi di Sekitar!]`

`[Lokasi: 200m Barat - Hutan Terlarang Akademi]`

`[Misi Darurat: Ambil sebelum fajar. Gagal \= Sinkronisasi mundur 10%]`

Kael membuka mata. Pupilnya menyala merah sesaat.

"Hutan Terlarang? Tempat yang dulu aku dilarang masuk..."

Dia tersenyum di balik topeng. "Sempurna."

Dengan cepat dia melompat turun dari atap. Menggunakan sihir angin dasar untuk mendarat tanpa suara.

Hutan Terlarang gelap. Pohon-pohonnya setinggi 20 meter. Konon di sini disegel monster-monster gagal eksperimen akademi.

Kael berjalan. Sistem menuntunnya dengan panah cahaya biru.

20 menit kemudian, dia berhenti. Di tengah tanah kosong, mengambang sebuah kristal. Merah. Berdenyut seperti jantung.

"Pecahan Api..."

Saat tangannya hampir menyentuh, _SHING!_

Sebuah belati air melesat dari balik pohon.

Kael menghindar. Berbalik.

Aldric. Dengan 4 orang anak buahnya.

"Kutahu kau mencurigakan, Noel," geram Aldric. "Mencuri ke Hutan Terlarang tengah malam? Ini bukti! Kau mata-mata!"

"Kau salah," kata Kael tenang. "Aku hanya... murid rajin."

"Omong kosong! Ambil dia!"

Pertarungan pecah.

4 lawan 1. Tapi Kael berbeda sekarang.

Dia tidak pakai Api. Hanya kecepatan + teknik.

_DUG!_ Satu tumbang.

_BUK!_ Dua lagi.

Sisa Aldric. Wajahnya pucat.

"Kau... kau bukan murid baru!"

Kael berjalan pelan ke arahnya. Api kecil menyala di ujung jarinya. Sengaja.

"Aku siapa, tidak penting. Yang penting..."

Dia menempelkan 2 jari ke dahi Aldric.

"Tidur."

Aldric pingsan.

Kael akhirnya menyentuh kristal itu.

`[Ding!]`

`[Pecahan Api Pertama Berhasil Diserap!]`

`[Warisan Api: 30% Tersinkronisasi]`

`[Skill Baru Terbuka: `Nyala Pertama` - Ledakan api terkontrol radius 5m]`

Rasa panas menjalar ke seluruh tubuh. Bukan sakit. Tapi seperti terlahir kembali.

Kael mengangkat tangan. Di telapaknya, api merah menyala. Kali ini tidak padam. Tidak goyah.

Ini api miliknya.

Fajar mulai menyingsing.

Kael kembali ke asrama sebelum bel pagi. Dia membuang tubuh Aldric dan anak buahnya di pintu gerbang dengan catatan: "Mereka tersesat. -Noel".

Dia mandi. Mengenakan seragam. Memakai topeng.

Saat bel berbunyi, dia sudah duduk di kelas. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Pengumuman pagi: "Turnamen Kelas dimulai 3 hari lagi. 10 Besar akan diumumkan hari ini."

Nama pertama yang disebut:

"1. NOEL - KELAS D"

Kelas hening. Lalu bisik-bisik.

"Siapa itu Noel?"

"Dia yang ngalahin 3 orang kemarin?"

Aldric masuk dengan wajah babak belur. Melihat Kael, dia langsung menunjuk.

"Dia! Dia yang nyerang aku!"

Prof. Marlow menatap Kael. "Bukti?"

Aldric terdiam. Tidak ada bukti. Hanya luka.

"Jangan menuduh tanpa bukti, Aldric. 10 poin pengurangan."

Kael hanya menunduk. Di balik topeng, dia tersenyum.

Siang harinya, di lorong, Elara menghadangnya.

"Noel."

"Ya, Nona Elara?"

Elara menatap matanya lama. Mencari sesuatu.

"Tidak ada. Lupakan." Dia pergi.

Tapi sebelum berbelok, dia berbisik pelan. Hanya Kael yang dengar.

"...Kael?"

Kael tidak menjawab. Tangannya mengepal.

`Belum. Belum waktunya kau tahu, Elara.`

Malam itu, di kamarnya, Kael menulis di jurnal.

_Hari pertama sebagai Noel.

Aku masuk 10 Besar.

Aku dapat Pecahan Api Pertama.

Aku membuat Aldric takut.

Aku membuat Elara ragu._

_Arc Akademi... baru dimulai._

`[Ding!]`

`[Misi 'Kembali Sebagai Pemenang': 30% Selesai]`

`[Peringatan Sistem: 4 Raja Iblis telah memilih Wadah pertama mereka.]`

Kael menutup jurnal. Di luar, bulan purnama.

"Biarkan mereka memilih Wadah. Aku akan memilih diriku sendiri."

Dia mengepalkan tangan. Api di dalamnya menyala lebih terang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!