NovelToon NovelToon
Mantan Suamiku Tak Tahu Aku CEO

Mantan Suamiku Tak Tahu Aku CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.

Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.

Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: RASA RINDU YANG HARUS DIPADAMKAN

Setelah kepergian Siska, suasana di dalam ruangan itu terasa begitu hening namun menyesakkan. Rian masih berdiri terpaku di tempatnya, menatap sosok Nadia yang kini kembali menunduk menatap tumpukan dokumen di hadapannya, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun Rian tahu, di balik ketenangan yang ia tampilkan, pasti masih tersisa luka yang belum sembuh sempurna—luka yang ia torehkan sendiri dengan seenaknya dua tahun silam.

"Maafkan ucapan sahabat saya tadi," ucap Nadia tiba-tiba tanpa mendongak, suaranya datar namun tak lagi setajam biasanya. "Dia hanya melindungi saya. Dia tidak tahu bahwa saya sudah lama belajar untuk tidak lagi membiarkan rasa sakit menguasai diri saya."

Rian menggeleng perlahan, langkah kakinya perlahan melangkah maju setapak, namun berhenti ragu seolah ada tembok tak kasat mata yang memisahkan mereka. "Tidak usah minta maaf untuk hal yang benar, Nad. Semua yang dia katakan itu benar. Aku memang pantas mendengarnya, bahkan pantas mendapatkan yang lebih buruk dari itu."

Nadia akhirnya mengangkat wajahnya, menatap lurus ke manik mata Rian yang mulai berkaca-kaca. Jantungnya berdenyut tak beraturan, namun ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap tegar. "Jangan panggil aku begitu di sini, Tuan Rian. Di ruangan ini, aku adalah pemimpin perusahaan dan kamu adalah mitra kerjaku. Hanya itu."

Kata-kata itu seperti jarum yang menusuk tepat ke ulu hati Rian. Ia menelan ludah dengan susah payah, berusaha menahan gejolak emosi yang meluap-luap di dadanya. "Aku tahu aku tidak berhak memanggilmu begitu lagi. Tapi percayalah... setiap detik yang berlalu sejak hari aku memintamu pergi, aku selalu merindukanmu. Rindu pada senyummu, rindu pada kesabaranmu, rindu pada wanita yang selalu ada untukku saat aku belum memiliki apa-apa."

Nadia terdiam sejenak, napasnya tersengat meski tak terlihat. Kenangan tentang masa-masa itu kembali menyeruak masuk ke dalam ingatannya—saat mereka berbagi sepiring nasi sederhana, saat saling memeluk di tengah hujan, saat berjanji untuk selalu bersama dalam suka maupun duka. Namun bayangan surat perceraian dan kata-kata kasar Rian segera menepisnya kembali.

"Rindu itu tidak ada artinya jika disertai dengan penghinaan," jawab Nadia pelan namun tegas. "Dulu aku merindukanmu setiap kali kau pulang terlambat, aku merindukan perhatianmu yang perlahan hilang, aku merindukan pria yang dulu berjanji akan menjagaku seumur hidup. Tapi kau yang menghancurkan semua itu, Rian. Kau yang membuatku sadar bahwa rinduku hanyalah kesia-siaan belaka."

"Aku sadar aku salah! Aku sadar aku bodoh!" seru Rian tak sanggup lagi menahan emosinya. "Aku buta oleh ambisi dan janji manis dunia luar. Aku pikir harta dan nama besar bisa membuatku bahagia, tapi ternyata tidak. Semakin aku mendekati semua itu, semakin aku sadar bahwa kebahagiaanku dulu justru ada di rumah kecil itu, bersamamu. Dan sekarang... saat aku akhirnya menemukanmu kembali, kau berdiri begitu jauh dan tak tersentuh."

"Aku menjauh bukan karena aku ingin, tapi karena aku harus," balas Nadia, air mata mulai menggenang namun tak jatuh. "Aku menjauh agar aku tidak kembali menjadi wanita yang lemah yang kau injak-injak. Aku menjauh agar aku bisa belajar mencintai diriku sendiri terlebih dahulu, sebelum mengharapkan cinta orang lain yang tak pernah bisa menghargai apa adanya."

Rian maju selangkah lagi, tangannya terulur seolah ingin menyentuh wajah yang dulu begitu ia kenal, namun terhenti di udara saat tatapan Nadia yang tegas menghentikannya.

"Jangan," perintah Nadia pelan namun tegas. "Jangan kembalikan rasa rindu yang sudah lama aku kubur dalam-dalam. Jangan buat aku merasakan sakit yang sama untuk kedua kalinya. Rindu itu harus dipadamkan, sama seperti api yang kau nyalakan sendiri lalu kau biarkan membakar diriku sampai hangus."

Rian menurunkan tangannya perlahan, tubuhnya terasa lemas seketika. Ia tahu ia tak punya kuasa lagi untuk menuntut apa pun dari wanita di hadapannya. Ia hanya orang asing yang kebetulan memiliki masa lalu yang kelam dengannya.

"Aku janji," ucapnya parau, "Aku tidak akan memaksamu merasakan hal yang sama. Aku hanya ingin kau tahu... penyesalan ini akan menghantuiku seumur hidup. Dan aku akan melakukan apa saja, sekecil apa pun itu, untuk membuktikan bahwa aku berubah. Bahwa aku berusaha menjadi pria yang pantas setidaknya untuk kau hormati, meski tidak lagi untuk kau cintai."

Nadia memalingkan wajah, menatap keluar jendela kaca yang memandang ke arah kota yang sibuk. "Buktikan lewat pekerjaanmu, bukan lewat kata-kata. Jika kau benar-benar berubah, biarkan waktu dan tindakanmu yang berbicara. Sekarang, kembalilah bekerja. Kita punya banyak hal yang harus diselesaikan."

Rian mengangguk pelan, menundukkan kepala sejenak sebagai tanda hormat sekaligus permohonan maaf yang tak terucap. Ia berjalan keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang campur aduk—ada rasa sakit yang mendalam, namun juga ada secercah harapan kecil yang tak mau padam: harapan bahwa suatu hari nanti, luka itu mungkin tidak akan sembuh sepenuhnya, namun setidaknya mereka bisa berdamai dengan takdir yang telah mempertemukan mereka kembali dengan cara yang begitu menyakitkan namun tak terduga.

Di dalam ruangan itu, setelah Rian pergi, Nadia akhirnya membiarkan satu butir air matanya jatuh membasahi pipi. Ia meremas dadanya yang terasa sesak, berusaha sekuat tenaga untuk memadamkan rasa rindu yang masih tersisa di sudut hatinya—rindu pada pria yang dulu ia cintai sepenuh jiwa, namun kini harus ia hadapi sebagai orang asing yang telah melukainya begitu dalam.

 

(Lanjut ke Bab 17 jika kau siap)

1
Reni Anjarwani
lanjut thor
Ayu Gerimis: Siap, akan dilanjutkan segera ya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!