PERHATIAN! INI ADALAH KISAH LANJUTAN DARI KARYAKU LOVE BY PSYCHOPATH 1, JADI BUAT KALIAN YANG AKAN MEMBACA KARYA INI LEBIH BAIK MEMBACA YANG SEASON 1 AGAR DAPAT MEMAHAMI CERITANYA.
.
.
.
.
Kau mencoba berlari, tapi semakin berlari semakin aku menginginkanmu kembali. Jika kau lihat ke belakang sebuah kisah kita akan terulang. Suatu keberuntungan bisa melihat sang Dewi berhasil aku taklukkan.
-Darrel
Ini adalah kisah cinta psychopath yang selalu mencari cara bagaimana agar bisa menyembunyikan cintanya. Cerita ini menunjukkan bagaimana seorang psychopath mencintai seseorang dengan sudut pandang berbeda. Tapi apakah ada perbedaan antara posesif dan cinta, menurut Darrel sama saja. Jika bisa membuat cintanya si Dea Mahesa berada di pelukannya, itulah cara dia mengekspresikan cintanya.
HALLO SEMUANYA!! Makasih yang udh mampir ke cerita author. Semoga kalian menikmati cerita dari awal hingga akhir. Jangan lupa dukung author dengan tinggalkan jejak di setiap babnya. Dan author hanya terbit di noveltoon ataupun mangatoon ya, selain itu author tak menerbitkan di apk manapun. terimakasih!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuriko Harumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 18 •LBP2• : PULANG
Aku mengalihkan tangan Darrel dari kepalaku, hingga aku bisa berdiri dan duduk dengan wajah panik ku.
"Darrel aku takut" ucapku dengan nada gemetar.
Darrel hanya tersenyum padaku, sambil terus mengelus kepalaku.
"Tidak apa-apa, ada aku disini" ucap Darrel dengan gampangnya.
Aku terdiam seketika. Mencoba menelan ludah untuk menenangkan detak jantungku, sampai aku mengalihkan lagi tangan Darrel yang masih mengusap rambutku.
"Justru karena kau disini Darrel, itu yang membuatku takut" ucapku sambil memegang tangan Darrel yang aku singkirkan dari tadi, dengan gemetaran.
Aku masih mengontrol nafasku. Dengan mengingat apa yang terjadi dulu, saat aku bersama Darrel. Melihat untuk saat ini aku pikir Darrel melakukan hal yang sama dengan lelaki tua tadi.
Darrel diam sambil menatapku, yang masih gemetaran melihatnya. Tidak lama kemudian Darrel hanya berdiri, kemudian langsung memeluk tubuhku.
"Tidak apa, sungguh itu tidak apa-apa" ucap Darrel dengan nada datar nya.
Entahlah aku merasa antara takut dan nyaman. Apalagi pelukan Darrel, dan sedikit elusan di kepala membuatku merasa nyaman. Aku mulai menggigit kuku milikku, tak selang berapa lama keluar tangisanku dengan sesungukan tanda ketakutan.
"Kau tau Dea, andaikan aku bisa bersamamu lebih lama... Aku harap aku benar-benar bisa bersamamu lebih lama" ucap Darrel.
...***...
Pagi hari menyeruak ke dalam kamar ini. Saat aku mulai menerjapkan mata, saat aku tersadar aku tengah tertidur di kamar Darrel.
Tidak ada seseorang pun disini. Ingatanku sangat jelas, apalagi saat Darrel memelukku itu masih terlihat jelas di ingatanku. Aku mulai bangun, dah menuruni tangga, masih tidak ada tanda-tanda Darrel di sana. Hingga aku sampai di tempat sofa kemarin, tapi dengan keadaan rumah yang sudah seperti sedia kala bahkan tanpa tanpa bau anjr atau noda.
"Selamat pagi nona Dea" ucap seseorang yang ternyata Raffyn yang sudah terduduk di meja makan yang sudah penuh akan makanan.
"Selamat pagi, tuan Raf-fyn?" ucapku ragu untuk memanggilnya.
"Pfftt... Sebenarnya saya lebih muda darai anda jadi panggil saja saya Raf, dan bisakah anda jangan terlalu formal pada saya itu terlalu canggung untuk didengar" ucap Raf dengan senyumannya.
Aku hanya mengangguk, sambil memakan beberapa roti lapis yang ada di meja. Bukankah ini aneh, seharusnya aku mengatakan itu semua. Tapi karena bahkan Raf sendirilah yang memanggil ku dengan sebutan nona.
"Raf... Dimana Darrel" ucapku setelah beberapa lama makan, tetapi masih tidak menemukan Darrel.
"Ah... Mengapa anda menyarinya? Bukankah anda ingin cepat pulang?" ucap Raf lagi-lagi dengan kata-kata formalnya.
Aku hanya mengangguk pelan, kemudian meminum jus yang telah di sediakan.
"Mari, aku sudah selesai" ucapku sambil bersiap berdiri.
"Apa anda ingin pulang dengan pakaian seperti itu?"
"Iya, memang kenapa?"
"Tidaklah nanti kakak anda bisa tau selama seminggu anda tidur dengan seseorang laki-laki, jika anda hanya memakai kaos atasan dan itu juga tanpa dalaman" jelas Raf sambil menunjuk ke arahku.
Seketika aku sadar apa yang Raf maksudkan. Langsung saja aku terduduk, dan mulai menutupi tubuhku khususnya bagian dada. Pipiku memerah seketika, apalagi saat Raf mengatakan itu semua.
"Tidak apa-apa, saya sudah bawakan pakaian anda" ucap Raf sambil menunjukkan paper bag yang dia bawa.
Dengan cepat aku mengambil paper bag yang ada di tangan Raf, kemudian menuju kamar mandi yang sebelumnya pernah aku gunakan berendam.
"Oh Raf, bisakah panggil aku Dea aku masih belum terbiasa dengan sebutan anda" ucapku sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar mandi.
Beberapa saat kemudian aku selesai mandi. Raf hanya berdiri, kemudian masuk ke dalam mobilnya. Sungguh sayang sekali sebenarnya pemandangan di sini sangat indah, tapi aku bahkan tidak bisa menikmatinya. Aku terus memandang keluar, dimana banyak hamparan rumput liar hingga Raf melajukan mobilnya untuk mengantarkan aku pulang.
"Dea..." ucap Raf tiba-tiba saat mengemudi.
"Heum? Aku?" ucapku spontan karena terkejut.
"Iya, bukankah tadi kamu bertanya dimana Darrel"
"Iya, karena tadi aku sedikit melupakannya"
"Dia sebenarnya masih di dalam villa, dia hanya bersembunyi dan tidak ingin melihatmu pergi. Kau tau jika dia melihatku membawamu, mungkin aku yang sudah di pukuli saat ini" jelas Raf yang sambil terus memandang ke depan.
.
.
.
.
.
Auth : Tips pemanggilan silent readers
//membuat lingkaran mantra
//duduk sinden dan menakupkan kedua telapak
//mulai menutup mata dan berdoa
Oummmmm.......
DUAR!!!!! //Suara petir.
[Auth : canda meng yang di atas. Btw pasti dari kalian ada yang lagi PTS ya... Semangat Mina!!! Ingat lebih mengutamakan pendidikan daripada berhalu-haluan, ya meskipun aku sendiri bahkan gk peduli Ama tugas yang gk di kerjain. Bukan itu intinya dan jangan di tiru juga, karena aku kebal dengan kecaman dari guru-gurunya ya meskipun kadang nangis juga. Astaghfirullah! Maksudnya tetep semangat ajadah, kalian bosen daring? Sama saya juga bukan hanya kalian yang rasain. Jadi tetep semangatlah Mina meskipun semakin lama semakin stress juga. Gomen malah cerita, pokoknya see you in the next chapter Mina!!!]