NovelToon NovelToon
Istri Seksi Gus Ibra

Istri Seksi Gus Ibra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elma Grace

​"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"


Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.

​Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.

Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.

​​Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

​Keheningan yang tersisa di dalam kamar tidur itu terasa jauh lebih menenangkan. Di luar jendela besar, langit Jakarta yang semula terik perlahan mulai melembut, berganti semburat jingga sore yang hangat. Bita menyandarkan punggungnya di sofa, meluruskan kakinya yang terasa pegal sehabis ketegangan beruntun sejak pagi.

​Ibra berjalan ke arah dispenser pintar di sudut ruangan, menuangkan air hangat ke dalam cangkir keramik, lalu mencelupkan kantung teh chamomile yang aromanya langsung menyeruak menenangkan. Ia melangkah mendekat, lalu mengulurkan cangkir itu kepada Bita.

​"Minum dulu. Biar detak jantungmu benar-benar relaks," kata Ibra sembari duduk di ruang kosong di samping Bita.

​Bita menerima cangkir itu, merasakan kehangatan yang menjalar dari telapak tangannya. "Makasih, Gus. Rasanya aneh banget... setelah berbulan-bulan aku selalu dikejar rasa bersalah, dalam waktu satu jam semuanya langsung berbalik."

​"Hukum digital itu adil bagi mereka yang tahu cara menggunakannya," jawab Ibra tenang. Pria itu menyandarkan punggungnya, menatap Bita dengan tatapan teduh. "Reno terlalu meremehkan fakta bahwa kita hidup di era di mana jejak digital tidak bisa dihapus hanya dengan uang."

​Bita menyesap tehnya perlahan, membiarkan kehangatan cairan itu menenangkan kerongkongannya. "Gus, aku mau nanya sesuatu, boleh?"

​"Boleh, tanyakan saja. Apa yang membuatmu penasaran?"

​"Soal kata-kata kamu di telepon tadi... yang soal dokumen ke KPK. Itu... kamu beneran serius atau cuma gertakan biar dia panik?" Bita menoleh, menatap suaminya dengan mata bulatnya yang penuh rasa ingin tahu.

​Ibra tersenyum tipis, sebuah binar jenaka melintas di matanya yang tajam. "Menurut kamu bagaimana?"

​"Ih, ditanya malah nanya balik!" Bita mengerucutkan bibirnya spontan. "Ya kalau melihat muka kamu yang lempeng dan dingin kayak es balok tadi, kayaknya kamu gak lagi bercanda. Tapi... apa gak berlebihan sampai bawa-bawa KPK?"

​"Aku tidak pernah menggertak untuk hal-hal yang menyangkut keselamatan keluarga, Bita," tutur Ibra serius, nadanya kembali merendah. "Tim legal Pesantren tidak hanya mengurusi sertifikat tanah pondok. Kami mengelola yayasan besar dengan audit internasional. Ketika tim IT melacak aliran dana Reno ke agensi buzzer, mereka tidak sengaja menemukan kejanggalan pada laporan keuangan perusahaan cangkang ayahnya yang terhubung dengan proyek pengadaan publik. Jadi, aku hanya menyerahkan apa yang seharusnya diserahkan kepada pihak yang berwenang."

​Bita menelan ludah dengan kaku. Ia menaruh cangkir tehnya di atas meja dengan pelan. "Kamu... ternyata serem juga ya kalau lagi marah."

​"Aku tidak marah," bantah Ibra lempeng.

​"Masa? Tadi suara kamu di telepon dingin banget, sampai Reno yang biasanya hobi teriak-teriak langsung gagap gitu." Bita terkekeh kecil, mengingat betapa puasnya ia melihat sang mantan pacar yang toxic itu akhirnya kena batunya. "Tapi beneran, Gus. Aku merinding dengarnya."

​Ibra menggeser duduknya menjadi lebih dekat, hingga lengan mereka saling bersentuhan. Ia menatap Bita lekat-lekat, membuat semburat merah muda kembali muncul di kedua pipi istrinya. "Aku hanya akan menjadi menyeramkan pada orang-orang yang mencoba mengusik ketenangan hidupku. Terutama... orang yang mencoba membuat istriku menangis."

​Bita langsung membuang muka, pura-pura tertarik memandangi gorden kamar yang bergerak pelan ditiup angin AC. "Gombal banget. Sejak kapan seorang Gus pinter ngomong kayak begini, sih?"

​"Aku tidak sedang menggombal, Tsabita," panggil Ibra lembut, tangannya bergerak meraih jemari tangan Bita, menggenggamnya dengan jemari kekarnya yang hangat. "Oh iya, aku baru sadar sesuatu."

​"Sadar apa?" Bita menoleh kembali, menatap suaminya bingung.

​"Panggilan kamu sudah berubah," goda Ibra dengan senyuman jahil yang jarang sekali ia tunjukkan di depan orang lain. "Sejak kapan 'gue-lo' yang biasa kamu gunakan itu pensiun?"

​Wajah Bita seketika memerah sempurna sampai ke leher. Ia mencoba menarik tangannya dari genggaman Ibra, namun Ibra justru mempererat kuncian jemarinya. "Apaan sih, Gus! Lepasin gak!"

​"Tidak mau sebelum kamu jawab. Tadi di depan wartawan, lalu di telepon dengan Reno, kamu bilang 'aku-kamu'. Rasanya... sangat sejuk didengar," bisik Ibra, sengaja mendekatkan wajahnya hingga Bita bisa merasakan embusan napas suaminya.

​"Ya... ya kan situasi tadi darurat!" kilih Bita panik, matanya bergerak gelisah ke segala arah asal tidak menatap mata Ibra. "Masa di depan kamera media nasional aku mau ngomong 'gue-lo'? Nanti dikira menantu Kiai gak punya sopan santun."

​"Lalu kalau sedang berdua dengan aku di dalam kamar sekarang? Kenapa masih pakai 'aku-kamu'?" kejar Ibra, tidak memberikan celah bagi istrinya untuk berkelit.

​Bita menggigit bibir bawahnya, merasa benar-benar terpojok oleh taktik interogasi suaminya. "Gus Ibra... ih! Kamu sengaja banget ya nyudutin aku?!"

​"Aku tidak menyudutkan, Bita. Aku hanya meminta kejelasan," sahut Ibra santai, namun binar matanya memancarkan rasa bahagia yang tidak bisa disembunyikan.

​Bita menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-siga harga dirinya yang sudah compang-camping sejak semalam. Ia menatap langsung ke mata Ibra dengan berani, meski dadanya bergemuruh hebat. "Ya udah! Memangnya kenapa kalau aku mau panggil 'aku-kamu'? Kamu kan suami aku! Gak boleh?!"

​Hening sejenak. Ibra tertegun mendengar penuturan tegas yang keluar dari bibir istrinya. Kata-kata "Kamu kan suami aku" mendarat dengan begitu indah di hatinya.

​Perlahan, senyuman hangat yang sangat tulus merekah di wajah tampan Gus Ibra. Ia melepaskan genggaman tangannya, lalu bergerak merangkul pundak Bita, menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukan dadanya yang bidang.

​"Boleh, Sayang. Sangat boleh," bisik Ibra lembut, mengecup puncak kepala Bita dengan penuh rasa syukur. "Bahkan itu adalah kata-kata terbaik yang aku dengar sepanjang hari ini."

​Bita awalnya sempat menegang, namun perlahan tubuhnya merelaksasi diri. Ia menyandarkan kepalanya di dada Ibra, mendengarkan detak jantung suaminya yang berdegup dengan ritme yang sama cepatnya dengan detak jantungnya sendiri.

​"Gus," panggil Bita lirih dari balik dada Ibra.

​"Iya? Ada apa?"

​"Makasih ya... untuk semuanya. Untuk konfrensi pers tadi, untuk perlindungan kamu, dan... untuk tidak pernah meragukan aku bahkan saat seluruh internet menghujat aku." Suara Bita terdengar sedikit parau karena haru.

​Ibra mengusap lengan Bita dengan gerakan naik turun yang menenangkan. "Sama-sama, Bita. Kita sudah berjanji di depan Abi, di depan orang tua kamu, dan di hadapan Allah untuk saling melengkapi. Badai yang tadi itu baru permulaan dari riak pernikahan kita. Ke depannya, mungkin akan ada badai lain yang berbeda. Tapi selama kita menghadapinya bersama, tidak akan ada yang bisa merubuhkan kita."

​Bita tersenyum di dalam pelukan Ibra. Tangannya bergerak naik, membalas pelukan suaminya dengan erat. Rasa hangat yang menjalar di antara mereka sore itu seolah menjadi tanda bahwa langit mendung di atas Pesantren telah sepenuhnya sirna, digantikan oleh berkas sinar baru yang siap menuntun langkah pernikahan mereka menuju babak yang sesungguhnya.

1
Anita Rahayu
kapan ni buat dedek bayi yg gemoy
Elma Grace: eh tenang aja. ada kok nanti. tunggu yaa, bikin sedikit konflik biar makin deket dulu merekanyaa
total 1 replies
merry
kyky reno ngk bergerak sndrian dehh,, x Safira itu terlibat krn iri sm bita x y
Clarisa Putri: aku juga mikir gini
total 1 replies
Sri Jumiati
apa safira suka sm gus ibra ya
Elma Grace
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!