Ketika langit malam berkedip dan suara mekanis yang dingin bergema di benak miliaran manusia, Bumi tidak lagi sama. Kiamat tidak datang membawa api dari neraka atau wabah mematikan, melainkan sebuah layar biru transparan yang melayang di udara.
Era damai telah dihancurkan oleh "Sistem". Manusia secara paksa ditarik ke dalam arena kelangsungan hidup semesta, di mana monster bermunculan dari bayang-bayang dan hukum rimba menjadi satu-satunya aturan. Beradaptasi, berevolusi, atau mati.
Yudha, seorang mekanik penyendiri yang lebih nyaman berbicara dengan mesin daripada manusia, secara tidak sengaja meretas anomali sesaat sebelum kiamat dimulai. Berkat sebuah kubus hitam misterius yang ia temukan di pasar loak, Sistem salah mengidentifikasinya dan memberikannya kelas yang belum pernah tercatat dalam sejarah integrasi: Mekanik Kosmik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Meriam Penghancur dan Pasukan Langit Putih
Cahaya biru yang menyilaukan akhirnya meredup di dalam bengkel utama Tatanan Besi Hitam. Bau ozon bercampur dengan aroma logam cair memenuhi udara ruangan tertutup itu.
Yudha menarik napas panjang, menghapus titik keringat di dahinya. Di atas meja kerjanya, sebuah mahakarya brutal telah lahir dari peleburan Inti Batu Darah dan baja padat peninggalan peradaban kuno.
Benda itu berbentuk silinder raksasa sepanjang satu meter, terlalu besar untuk disebut sebagai pistol, namun cukup ringkas untuk dipanggul dengan satu tangan. Warnanya hitam kelam, dengan urat-urat merah yang berdenyut layaknya pembuluh darah, mengalirkan energi panas dari ruang pembakaran di bagian pangkal menuju laras heksagonal di ujungnya.
[Perakitan Selesai!]
[Benda Dibuat: Meriam Genggam Penghancur Formasi (Peringkat Menengah - Atas)]
Berat Total: 45 Kilogram.
Daya Hancur Fisik: Sangat Ekstrem.
Kemampuan Aktif (Tembakan Bintang Jatuh): Memampatkan energi batu darah dan menembakkannya dalam bentuk peluru magma padat. Mampu menghancurkan pertahanan zirah dan meledak dalam radius sepuluh meter seketika setelah terjadi benturan.
Kapasitas Hawa Panas: 3/3 Tembakan (Membutuhkan waktu pendinginan dan penyerapan energi alam selama dua belas jam setelah kapasitas habis).
Yudha mengangkat meriam seberat empat puluh lima kilogram itu hanya dengan tangan kirinya. Berkat Atribut Kekuatan yang telah mencapai angka 22, senjata berat itu terasa seringan senapan angin biasa.
"Senjata yang sempurna untuk menyambut tamu agung," gumam Yudha, matanya berkilat dingin.
Malam berganti pagi tanpa terasa. Saat sinar matahari pertama menyentuh tembok logam hitam benteng, Yudha melangkah keluar dari bengkelnya. Meriam barunya tergantung santai di punggung, diikat dengan rantai baja tebal yang melintang di dadanya.
Halaman pabrik sudah dipenuhi oleh rutinitas. Para pekerja kasar menyortir sisa material, sementara kelompok penjaga di bawah pimpinan Bara berlatih formasi pertahanan di dekat gerbang.
Namun, perhatian Yudha langsung tertuju pada dua sosok yang duduk bersila di atas atap barak penyimpanan.
Pusaran angin kecil tampak terbentuk di sekeliling tubuh Lin Tian dan Lin Chen. Udara di sekitar mereka beriak, menandakan bahwa kepadatan energi di sana jauh lebih tinggi daripada area sekitarnya. Tiba-tiba, kedua bersaudara itu membuka mata mereka serentak. Hembusan napas putih panjang keluar dari mulut mereka, membelah udara pagi layaknya anak panah uap.
Yudha tersenyum tipis. Mata Sistemnya langsung membaca perubahan pada kedua murid intinya.
[Entitas Pengikut: Lin Tian - Berhasil menembus Tingkat 4]
[Entitas Pengikut: Lin Chen - Berhasil menembus Tingkat 4]
[Pencapaian Khusus: Pengendalian Aliran Energi (Peringkat Dasar) berhasil dibentuk secara mandiri.]
Kedua pemuda itu melompat turun dari atap setinggi lima meter seringan sehelai bulu, tidak menimbulkan suara pendaratan sama sekali. Mereka bergegas menghampiri Yudha dan menangkupkan kepalan tangan dengan penuh hormat.
"Ketua!" sapa Lin Tian, matanya bersinar penuh semangat juang. "Petunjuk Anda benar-benar membuka jalan kami. Kami tidak lagi menyerap energi secara membabi buta ke dalam otot. Kami telah memusatkannya di titik pusat perut. Tenaga kami kini mengalir layaknya air sungai, stabil dan tidak mudah habis."
Lin Chen mengangguk setuju, tangannya mengelus gagang sepasang pedang lengkungnya. "Saya merasa bisa memenggal leher Anjing Neraka Tingkat 3 tanpa perlu menggunakan tenaga penuh."
"Bagus. Sebuah sekte hanya bisa berdiri jika pilar-pilarnya kokoh," ucap Yudha. "Pemahaman kalian tentang aliran energi akan menjadi fondasi bagi teknik bela diri kalian selanjutnya. Tapi untuk sekarang, simpan euforia kalian."
Yudha menoleh ke arah tembok gerbang timur. Atribut Kecerdasannya yang berfungsi sebagai indra radar berkat keterikatannya dengan Inti Pengendali Wilayah mulai menangkap fluktuasi energi yang masif dari kejauhan.
"Bara!" panggil Yudha menggelegar.
Pria botak itu segera berlari mendekat. "Siap, Ketua!"
"Bunyikan lonceng peringatan. Tarik semua pekerja kasar masuk ke bungker penyimpanan," perintah Yudha dengan nada tanpa kompromi. "Tamu kita dari pusat kota sudah tiba."
Wajah Bara menegang. Ia segera berlari menuju menara pantau dan memukul sebuah drum besi besar yang digantung di sana. Suara dentangan keras bergema, membuat para pekerja berlarian panik mencari perlindungan sesuai prosedur yang telah dilatih.
Yudha, diikuti oleh Lin Tian dan Lin Chen, melesat naik ke atas tembok benteng.
Dari atas sana, pemandangan di jalan raya utama yang mengarah ke wilayah mereka tampak sangat jelas. Kabut pagi mulai tersibak, memperlihatkan lautan manusia yang berbaris dengan formasi rapi. Bukan sekumpulan penyintas yang putus asa, melainkan sebuah pasukan militer sejati era baru.
Jumlah mereka mencapai lebih dari dua ratus orang. Setiap dari mereka mengenakan kain putih yang diikatkan di lengan kanan sebagai lambang fraksi. Mereka membawa senjata yang telah dimodifikasi dengan Inti Energi Tingkat 2 dan 3, memancarkan berbagai pendaran warna yang mematikan.
Di barisan paling depan, sebuah tandu baja yang ditarik oleh empat ekor monster banteng yang telah dijinakkan bergerak perlahan. Di atas tandu itu, duduk seorang pria dengan pakaian serba putih. Rambutnya panjang berkibar, meski tidak ada angin kencang yang bertiup. Udara di sekelilingnya berputar membentuk pusaran badai kecil yang menolak debu dan kotoran.
Itu adalah Dirgantara, penguasa Serikat Langit Putih, pria yang duduk di peringkat pertama Papan Peringkat Wilayah.
Pasukan itu menghentikan langkah mereka tepat di perbatasan radius satu kilometer—batas jangkauan Benteng Penekan milik Tatanan Besi Hitam. Dirgantara jelas memiliki informasi atau setidaknya insting yang tajam untuk tidak gegabah memasuki wilayah perlindungan inti epik.
Dirgantara berdiri dari takhtanya. Ia melangkah maju, membiarkan energi badai mengangkat tubuhnya hingga melayang beberapa meter di atas tanah, memastikan sosoknya terlihat jelas oleh para penjaga tembok.
"Yudha! Sang Mekanik Anomali!" Suara Dirgantara menggema ke seluruh penjuru, diperkuat oleh gelombang angin sehingga terdengar layaknya guntur di telinga setiap orang di dalam benteng. "Aku, Dirgantara, Ketua dari Serikat Langit Putih, datang untuk menuntut apa yang seharusnya menjadi milik kami!"
Di atas tembok, Bara mengertakkan gigi, urat lehernya menonjol menahan amarah karena wilayah pimpinannya direndahkan. Lin Tian dan Lin Chen sudah mengalirkan tenaga murni ke senjata mereka, menunggu satu perintah untuk terjun ke medan perang.
Yudha tetap diam. Ia bersandar santai pada dinding pelindung menara lontar, menatap pria sombong di kejauhan itu layaknya melihat seekor serangga yang berteriak pada gunung.
Melihat tidak ada balasan, Dirgantara menyeringai meremehkan.
"Kau mencuri Inti Pengendali dari reruntuhan saat kami mempertaruhkan nyawa membersihkan jalan utama! Itu adalah tindakan pengecut!" lanjut Dirgantara, memprovokasi moral lawannya. "Tapi aku adalah penguasa yang murah hati. Serahkan Inti Wilayah itu, matikan sistem pertahananmu, dan berlutut di hadapanku. Aku akan mengizinkan kalian bergabung dengan Serikat Langit Putih sebagai prajurit garis depan kami!"
Pasukan serba putih di belakang Dirgantara bersorak, mengangkat senjata mereka tinggi-tinggi, mencoba mengintimidasi Tatanan Besi Hitam dengan jumlah dan aura membunuh mereka.
Yudha akhirnya bergerak. Ia melangkah naik ke pijakan tertinggi di atas tembok, angin pagi menerpa jubah tebalnya.
Bukan suara balasan yang ia berikan, melainkan tindakan mutlak.
Yudha menarik Meriam Genggam Penghancur Formasi dari punggungnya. Ia menopang pangkal silinder berat itu di bawah lengan kanannya, sementara telapak tangan mekanisnya mencengkeram gagang pelatuk dengan erat. Inti Batu Darah di dalam senjata itu langsung merespons aliran Daya Komputasinya, berputar gila-gilaan dan memancarkan cahaya merah yang menyilaukan dari dalam laras.
Suhu di atas tembok seketika melonjak drastis, membuat Bara dan Lin bersaudara harus mundur selangkah akibat hawa panas yang menyengat kulit mereka.
"Peringkat pertama atau bukan," ucap Yudha pelan, suaranya dingin dan tidak diperkuat oleh teknik apa pun, namun niat membunuhnya menembus jarak satu kilometer layaknya pisau es.
Yudha mengarahkan moncong meriamnya yang menyala lurus ke arah kumpulan pasukan di belakang Dirgantara.
"Terima kasih telah mengantarkan lebih banyak bahan bakar untuk pabrikku," desis Yudha, dan ia menarik pelatuknya.