NovelToon NovelToon
Kapten Basket Itu Suamiku

Kapten Basket Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Perjodohan
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilazahra

Nikah muda? ✅
Nikah online? ✅

Satu kelas sama suami sendiri yang ternyata idola sekolah? Nah, yang ini di luar prediksi BMKG!


Satu tahun lalu, sebuah ijab kabul via video call mengikat takdir Ellea dengan seorang pria di kota. Tanpa cinta, tanpa tatap muka langsung.

Kini, Ellea harus menyusul sang suami ke kota setelah kepergian neneknya. Namun, saat tiba di sana, justru pria itu kabur dari rumah dan takdir membawa mereka untuk bertemu kembali di koridor sekolah.

Pria itu bernama Albiru, pria yang paling dielu-elukan, sang kapten tim basket yang dingin dan tak tersentuh, ternyata adalah pemilik cincin yang sama dengan yang melingkar di jari Ellea.

Bagaimana cara Ellea menyembunyikan rahasia besar ini di depan teman-teman barunya? Dan mampukah sang kapten basket mengenali istrinya sendiri yang bercadar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilazahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kita Cerai

"W-waalaikumsalam," balas Albiru dengan lidah yang mendadak kelu.

Ia berdiri mematung di samping tempat tidur, berusaha menyembunyikan kedua telapak tangannya di balik punggung. Semburat merah di wajahnya belum sepenuhnya pudar, dan detak jantungnya masih berpacu tidak karuan akibat kepanikan konyol beberapa detik lalu.

Ellea melangkah masuk ke dalam kamar, namun langkahnya langsung terhenti. Sepasang mata abu-abunya membelalak sempurna di balik sekat kain hitamnya. Pandangannya menyapu seisi ruangan yang kini tampak seperti kapal pecah. Pakaian-pakaian gamisnya mencuat keluar dari koper yang terbuka paksa, dan yang paling membuat darahnya berdesir hebat, beberapa potong pakaian dalam rendanya terhampar begitu saja di atas kasur.

"Astaghfirullah, Kak Al, kamu apakan baju-bajuku!" pekik Ellea dengan suara yang bergetar karena terkejut sekaligus malu yang luar biasa.

Ia segera berlari mendekat, dengan cekatan menyambar pakaian-pakaian pribadinya dan memasukkannya kembali ke dalam laci dengan gerakan panik. Tatapannya yang tajam langsung mengarah pada Albiru, menuntut penjelasan atas tindakan tidak sopan tersebut.

Albiru mencoba menguasai dirinya. Ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahunya untuk mengembalikan wibawa yang sempat runtuh, lalu memasang wajah sedingin mungkin demi menutupi rasa bersalah yang menggerogoti dadanya.

"Heh, suruh siapa elo tidur di kamar gue!" cetus Albiru dengan nada suara yang sengaja meninggi, mencoba membalikkan keadaan.

Ellea menatap suaminya dengan rasa tidak percaya. "Ini bukan kemauan saya, Kak. Bunda Mahira yang menyuruh saya untuk tinggal di kamar ini. Kalau Kak Al tidak suka, tidak perlu mengobrak-abrik barang saya seperti ini."

Mendengar nama ibunya disebut, ego Albiru semakin tersulut. Ditambah lagi, bayangan Ellea yang asyik berbincang dan tertawa bersama Andra di depan gerbang rumah beberapa menit lalu kembali melintas di benaknya, membakar seluruh akal sehatnya.

"Halah, nggak usah bawa-bawa Bunda! Bilang aja lo emang sengaja, kan? Lo mau cari kesempatan buat dekat-dekat sama gue?" tuduh Albiru dengan senyum sinis yang meremehkan.

Albiru melangkah maju, mengikis jarak di antara mereka. "Asal lo tahu ya, Ellea. Lo itu nggak pantas bersanding sama gue. Lo nggak berkaca di sekolah tadi? Lo itu cuma jadi beban dan perusak pemandangan di hidup gue!"

Deg.

Dada Ellea berdenyut nyeri. Kalimat-kalimat kasar itu meluncur bebas dari bibir pria yang tepat satu tahun lalu berjanji pada neneknya, mengucapkan kalimat ijab kabul suci di hadapan para saksi dan malaikat. Satu tahun pernikahan rahasia ini berjalan, Ellea selalu mencoba bersabar menghadapi sikap abai Albiru, namun dihina secara terang-terangan seperti ini benar-benar meruntuhkan pertahanan dirinya.

"Ingat ya Ellea, gue benci sama lo! Gue benci situasi ini, dan gue benci takdir yang bikin gue harus terikat sama cewek kayak lo!" seru Albiru keras, meluapkan seluruh rasa frustrasi yang salah alamat di dalam dadanya.

Air mata yang sejak di sekolah tadi ditahan kuat-kuat oleh Ellea, kini akhirnya luruh tanpa bisa dibendung lagi. Bahunya bergetar hebat. Dengan tangan yang gemetar, ia berlutut di lantai, mulai memunguti satu per satu jilbab dan gamisnya yang berserakan akibat ulah kasar Albiru.

Cacian dan hinaan pria itu benar-benar membuat hatinya terasa seperti disayat sembilu. Namun, Albiru yang telanjur dikuasai oleh rasa cemburu buta yang menjelma menjadi amarah, belum berniat untuk berhenti. Melihat Ellea yang hanya terdiam dalam tangisnya justru membuat ego cowok itu semakin merajalela.

"Kenapa diam? Bener, kan, ucapan gue?" cibir Albiru lagi, berdiri tegak di atas Ellea yang sedang memunguti pakaian. "Elo pikir, Andra benar-benar suka sama elo di kantin tadi? Jangan mimpi, Ellea! Cowok kayak Andra itu cuma penasaran. Ngaca, Ellea. Wajah elo disembunyikan di balik kain seperti itu ... paling-paling karena aslinya buruk dan menakutkan!"

Isakan Ellea semakin mengeras. Kalimat terakhir Albiru tidak hanya menyerang statusnya sebagai istri, melainkan sudah menginjak-injak harga dirinya sebagai seorang wanita. Ia menghentikan gerakannya di lantai, menggenggam erat salah satu gamisnya hingga kain itu meremuk di dalam cengkeramannya.

Ia tidak bisa terus-menerus mengemis penghormatan dari pria yang hatinya telah membatu.

Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, Ellea bangkit berdiri. Ia menghapus air mata yang membasahi pipinya di balik cadar, lalu menatap lurus ke dalam manik mata elang Albiru. Tidak ada lagi ketakutan atau rasa gugup di sepasang mata abu-abu jernih itu, yang tersisa hanyalah kekecewaan yang teramat dalam dan kehampaan.

"Kak Al," tutur Ellea, suaranya terdengar begitu parau namun sarat akan ketegasan yang mutlak di sela tangisnya yang mulai mereda. "Kalau memang Kakak sangat membenci saya ... kalau memang kehadiran saya hanya menjadi beban dan noda di hidup Kakak ... kenapa Kakak tidak ceraikan El saja?"

Pertanyaan itu terlontar begitu saja, memotong keheningan kamar yang mencekam.

Albiru tersentak, matanya sedikit membelalak mendengar kata yang tabu itu keluar dari bibir istrinya.

"Kita bisa akhiri pernikahan ini sekarang juga," lanjut Ellea dengan dada yang naik turun menahan sesak. "Saya akan bicara pada Bunda dan Papah, bahwa pernikahan kita tidak bisa dilanjutkan. Dengan begitu, Kakak bisa bebas kembali bersama Sandra, dan tidak perlu repot-repot melihat wajah buruk saya lagi."

Mendengar tantangan yang tak terduga dari Ellea, ego kekanakan Albiru kembali mengambil alih kendali tubuhnya. Ia menolak untuk terlihat lemah atau kalah di depan wanita ini.

"Oke, siapa takut! Elo pikir gue takut?" sambut Albiru dengan nada angkuh yang menggelegar, menantang balik dengan dagu yang terangkat tinggi. "Gue malah bersyukur kalau pernikahan sialan ini selesai secepatnya!"

Namun, tepat setelah kalimat persetujuan itu lolos dari bibirnya, sebuah letupan rasa sakit yang asing mendadak menghantam ulu hati Albiru. Jantungnya berdenyut sangat kencang, menyisakan rasa nyeri yang teramat pekat di dalam dadanya. Ada bagian dari dirinya yang tiba-tiba merasa hampa dan ketakutan secara instan, seolah-olah ia baru saja menjatuhkan sebuah barang berharga yang tidak akan pernah bisa ia temukan kembali.

Albiru memegangi dadanya sekilas, menatap Ellea yang kini kembali berbalik membelakanginya untuk merapikan sisa pakaian dengan gerakan kaku. Kata-kata cerai yang tadi ia ucapkan dengan mudah, kini mendadak terasa seperti batu besar yang menyumbat tenggorokannya, menyisakan penyesalan tak kasat mata yang mulai merayap di antara kobaran egonya, sementara otaknya berputar cepat menafsirkan kebodohan yang baru saja lolos dari lisannya.

"Ya Tuhan ... apa yang baru saja gue katakan? Bukannya kalimat tadi itu ... secara nggak langsung gue sudah mengiyakan talak?" batin Albiru dengan kepanikan yang mulai merayap naik ke lehernya.

Keangkuhan yang beberapa menit lalu menguasai dirinya kini menguap tanpa bekas, menyisakan ketakutan asing yang mencengkeram ulu hati. Pria itu mengangkat pandangannya, menatap punggung Ellea yang masih sibuk membereskan barang-barangnya ke dalam tas sembari terus terisak kecil dalam diam. Bahu ringkih istrinya yang bergetar itu seolah menjadi tamparan keras bagi ego Albiru.

"Apa gue ... beneran udah keterlaluan kali ini? Kenapa juga gue harus se-emosi dan secemburu ini cuma karena ngelihat El jalan sama Andra?" menggerutu Albiru dalam hati, meratapi kebodohannya sendiri.

Di balik daun pintu kamar yang sedikit renggang, Mahira mengepalkan tangannya kuat-kuat. Niat awalnya yang ingin mengantarkan camilan sore seketika buyar, digantikan oleh rasa syok mendengar pertengkaran hebat di dalam sana. Kalimat angkuh Albiru yang menyetujui kata cerai barusan benar-benar membuat dadanya bergemuruh.

"Astaghfirullah, Albiru. Kenapa bodoh sekali!" gerutu Mahira kesal dalam bisikan tertahan.

Kedua tangannya gemetar menahan amarah sekaligus kecemasan yang luar biasa. Sebagai ibu, ia tahu betul bahwa putranya itu hanya dikuasai ego dan gengsi remaja, namun melontarkan persetujuan pisah dalam ikatan suci pernikahan adalah hal yang fatal. Mahira memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Ia harus memikirkan cara secepat mungkin agar kedua anak itu bisa akur kembali dan tidak benar-benar melangkah ke jalur perceraian.

Saat Mahira masih termenung di balik pintu yang tak tertutup rapat dengan pikiran yang berkecamuk, sebuah tepukan pelan mendarat di bahunya.

"Bunda?" panggil Alisha dengan kening berkerut heran, menatap sang ibu yang tampak tegang di depan koridor kamar sang kakak.

Mahira tersentak. Sebelum Alisha sempat mengeluarkan suara lebih keras atau melongok ke arah kamar Albiru, Mahira dengan sigap membekap mulut putrinya itu. Ia menarik lengan Alisha dengan gerakan cepat, mengajak gadis remaja itu menjauh menuju area ruang santai di ujung lantai dua agar tidak mengganggu atau memperkeruh suasana di sana.

"Bun ... Bunda, ada apa sih? Kok panik banget?" tanya Alisha berbisik setengah protes begitu ibunya melepaskan bekapan tangan.

Mahira mengembuskan napas berat, menatap netra putrinya dengan pancaran mata yang lelah. "Kakakmu, Al ... dia baru saja mengiyakan tantangan cerai dari Ellea. Mereka bertengkar hebat di dalam."

Mendengar hal itu, sepasang mata Alisha membelalak sempurna. Ia langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat, menolak keras apa yang baru saja didengarnya. Alisha sangat menyayangi Ellea yang lembut dan keibuan, ia sama sekali tidak rela jika kakak ipar kesayangannya itu harus pergi dari rumah ini.

"Nggak! Alisha nggak setuju ya, Bun! Alisha nggak mau kehilangan Kak Ellea!" seru Alisha dengan nada mendesak, menahan kekesalan yang mendalam pada tabiat kaku kakaknya. "Bunda harus lakuin sesuatu. Kalau perlu, Bunda pilih Kak Ellea aja sebagai anak Bunda daripada Kak Al! Lagian Kak Al mah menyebalkan, sering banget melarang-larang Alisha pacaran atau sekadar dekat sama teman pria di sekolah!"

Mendengar protes panjang dan curahan hati terselubung dari putri bungsunya, Mahira yang semula tegang mendadak menghentikan kepanikan sejenak. Ia melotot kecil, lalu menepuk pelan lengan Alisha dengan gemas.

"Huss! Kalau masalah melarang kamu pacaran itu, bunda seratus persen setuju sama Kak Al!" tegas Mahira, membuat Alisha langsung mengerucutkan bibirnya manja karena pembelaannya berbalik arah.

"Ih, Bunda! Kok malah belain Kak Al?" tukas Alisha cemberut.

"Itu karena kakakmu menjagamu, Alisha. Tapi untuk urusan rumah tangganya sendiri ... dia memang benar-benar harus diberi pelajaran agar otaknya yang bebal itu bisa terbuka," bisik Mahira, matanya kembali melirik ke arah lorong kamar Albiru dengan sebuah rencana baru yang mulai tersusun di kepalanya.

1
Iped Suhendi
sangat bagus cerita nya.
Iped Suhendi
semangat ya nulis nya.Bagus banget cerita nya.Saya suka 😍
Aqilazahra: terima kasih Kak, sudah mampir. semoga suka ya
total 1 replies
Muharlita Muharlita
saya suka
Devan Davin
bgus skli
Aqilazahra: terima akak sudah mampir
total 1 replies
rattna
bagus
Aqilazahra: terima kasih kakak, sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!