NovelToon NovelToon
Kembaran Rahasia Si Culun

Kembaran Rahasia Si Culun

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Bad Boy / Balas Dendam
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: fayepey

Elnaya Bellarose Valenzia, gadis polos yang selalu menjadi korban perundungan di Golden International School, mengalami percobaan pembunuhan misterius yang membuatnya koma.

Mengetahui hal itu, saudara kembarnya, Elnara Bellamont Valenzia, seorang bad girl yang bersekolah di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk mencari pelaku. Dengan menyamar sebagai Elnaya, ia mulai menyelidiki rahasia di balik kejadian tersebut.

Namun di tengah pencariannya, Elnara justru menarik perhatian dua siswa paling berpengaruh di sekolah: Alaric Alden Adinata, ketua OSIS yang sempurna, dan Nathaniel Atharva Pradana, ketua geng Blaze yang terkenal sebagai bad boy.

Semakin dalam Elnara mengungkap kebenaran, semakin banyak rahasia gelap yang terkuak. Hingga ia menyadari bahwa orang yang menghancurkan hidup saudara kembarnya ternyata lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fayepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruang Osis

Setelah pertengkaran itu, sekarang di sinilah mereka berada. Lagi-lagi kembali ke ruangan OSIS membuat Nara berdecak kesal. Baru juga sehari gue di sini, udah kena sidang aja gue, ucapnya dalam hati dengan frustasi.

“Sekarang jelaskan ke saya bagian kronologinya,” ucap Alden dingin kepada dua orang di depannya.

“Dia duluan yang mulai, Alden. Dia yang numpahin makanan ke baju gue. Lihat baju gue jadi kotor, kan?” ucap Sandra sambil kembali pura-pura menangis.

Nara menatapnya kaget. “Eh, Mak Lampir, kalau lo enggak numpahin tuh minuman, enggak bakalan gue lawan.”

“Kan gue enggak sengaja,” ucap Sandra membela diri.

“Enggak sengaja pala lo, peak. Lo ngelakuinnya sengaja, ya, babi,” balas Nara tanpa mau kalah.

“UDAH, DIAM!” teriak Alden.

Bukannya takut, Nara malah semakin memberontak. “Dan lo juga ketua OSIS. Lo kan ada di sana, harusnya lo tahu dong kejadian awalnya.”

Jujur, dia sudah sangat kesal. Mendengar itu, Alden menatap tidak percaya ke arahnya. Baru kali ini ada orang yang berbicara sewot seperti itu kepadanya, sampai membuatnya sedikit speechless.

“Apa Kamu bilang?” tanyanya sambil menyeringai tipis.

“Alah, enggak usah sok formal lo. Ngomong santai aja, keles,” balas Nara angkuh sambil melipatkan tangan di dada.

“Pokoknya gue enggak mau dihukum. Kalau bisa, lo langsung singkirin dia dari hidup gue. Engeh, gue mau muntah,” lanjutnya sambil sesekali menatap jijik ke arah Sandra yang duduk di sebelahnya.

“Baik. Berdasarkan omongan Naya tadi dan kejadian yang saya lihat juga, Kamu lah yang memulai pertengkaran itu, Sandra. Sangat wajar jika Naya membalas karena merasa terusik. Jadi, saya memutuskan hukuman Kamu yang awalnya hanya satu hari untuk membersihkan WC perempuan bertambah menjadi satu minggu berturut-turut. Jika Kamu berani kabur, tanggung konsekuensinya,” ucap Alden panjang lebar.

Nara langsung tersenyum senang dengan ekspresi menyebalkan. Mampus, rasain lo, gumamnya dalam hati.

Sedangkan Sandra yang mendengar itu jelas tidak terima. “Kenapa gue yang kena hukuman? Seharusnya si cupu ini kena juga dong!” protesnya sambil menunjuk Nara.

“Kenapa harus dia? Kamu yang memulai duluan. Kalau Kamu tidak menuangkan minuman itu, ini enggak akan terjadi,” jawab Alden dengan lantang.

“Udah lah, lo terima nasib aja. Sok nantang,” timpal Nara malas.

“Apa lo bilang?” Sandra kembali terpancing.

“Tidak ada yang boleh melakukan pertengkaran di sini,” larang Alden sebelum masalah mereka semakin melebar.

“Sekarang, Sandra, Kamu keluar terlebih dahulu,” ucap Alden.

Sandra pun keluar dengan langkah kesal. Tinggallah Alden dan Nara di ruangan itu.

“Yaudah, thanks. Kalau gitu gue keluar dulu,” ucap Nara pamit setelah Sandra pergi.

“Hm,” jawab Alden singkat.

Sebelum Nara benar-benar melangkah keluar, Alden kembali bersuara. “Sebelum ke kelas, ganti baju lo.”

Nara yang sudah berdiri membalikkan badan. Tatapannya seperti bertanya kenapa.

“Baju lo tembus pandang.”

Ucapan Alden barusan membuat Nara refleks menatap ke bawah. Sialnya, benar. Bajunya yang basah memperlihatkan bra-nya dengan cukup jelas.

“Sinting, mesum lo!” gertaknya, lalu langsung berlari keluar dari ruangan OSIS.

Dia segera memasangkan almetnya dan mengaitkan semua kancingnya agar bagian bajunya tidak terlihat lagi. “Mana ada gue bawa baju ganti ke sini,” ucapnya sendirian sambil mengomel.

Nara berjalan tanpa tahu mau ke mana. Ke kantin lagi juga dia sudah bad mood duluan, tidak minat untuk makan lagi. Sampai akhirnya, langkahnya berhenti di belakang perpustakaan besar.

Dia teringat ucapan mamanya beberapa waktu lalu.

“Waktu Mami dan Papi ke sana, kami nemuin Naya tergeletak di belakang perpustakaan.”

Ucapan itu kembali terngiang di kepalanya. Nara pun mulai menelusuri area belakang perpustakaan tersebut.

“Jadi, di sini tempat kejadiannya,” gumamnya.

Dia menunduk, memperhatikan sekitar. Mungkin saja ada barang Naya yang tertinggal di sana. Namun, tiba-tiba seseorang memanggilnya.

“Woi!”

Teriakan cowok itu membuat Nara menoleh. Saat tahu siapa yang memanggil, dia langsung mendengus kesal.

“Lo lagi,” gumamnya malas.

Niel yang awalnya berniat merokok di sana malah gagal karena melihat ada seorang cewek berdiri sendirian. Setelah meneriakinya, cowok itu berjalan mendekat.

“Ngapain lo di sini? Lo mau dibully lagi?” tanyanya.

“Maksud lo?” tanya Nara penasaran.

“Di sini kan tempat lo dibully Naya,” jawab Niel.

“Oh.”

Sudah itu saja jawaban yang lolos dari mulut Nara. Beberapa detik kemudian, Nara mulai bosan dan berniat pergi.

“Mau ke mana lo?” tanya Niel.

“Ke mana aja, enggak usah kepo,” jawab Nara asal.

“Dih, judes. Mau bareng gue enggak? Gue ajak lo keliling sekolah,” tawarnya.

“No, thanks,” jawab Nara cepat.

“Kenapa?” tanya Niel.

“Yang ada satu dunia heboh jadinya,” jawab Nara.

“Emang lo enggak mau bikin satu dunia heboh?” tanya Niel lagi.

“Enggak.”

Jawaban cepat itu membuat Niel menggelengkan kepala. “Udah lo, enggak usah dekat-dekat gue dan enggak usah ngikutin gue. Bye, bad boy GIS,” ucap Nara sambil berjalan pergi.

Sengaja dia menjauh karena dia belum bisa melihat tanda-tanda apakah cowok itu bisa dimanfaatkan atau tidak.

Sementara itu, Alden yang masih berada di ruangan OSIS malah menatap kosong ke depan. “Sinting, mesum lo,” ucapan gadis itu masih terngiang di kepalanya.

“Apa dia bilang? Mesum?” gumamnya sambil sesekali terkekeh. “Padahal gue cuma ngasih tahu aja.”

Tidak lama kemudian, tiga temannya yang tadi dia tinggalkan akhirnya sampai di ruangan OSIS.

“Abang, gimana Naya tadi? Abang hukum Naya apalagi?” tanya Asha begitu sudah masuk.

“Enggak. Abang cuma ngasih hukuman ke Sandra doang,” jawab Alden.

Asha pun tersenyum senang mendengarnya.

“Oh ya, Al. Jadi kan lo bantuin gue buat proposal nanti?” tanya Selena memastikan.

“Jadi kok. Sepulang sekolah kita langsung kerjain di sini aja,” jawab Alden.

“Hm, tapi gue maunya di luar. Boleh enggak?” tawar Selena.

“Di mana?” tanya Alden.

“Nanti gue kasih tahu,” jawab Selena.

“Oke,” jawab Alden singkat.

Mendengar persetujuan cowok itu, Selena langsung bergirang dalam hati. Gue harus tampil oke dan maksimal nanti malam, teriaknya dalam hati. Sengaja dia memilih keluar supaya bisa ngedate berkedok membuat proposal.

1
Lxjn
Mangat kak💪
fayepey: Terimakasih
total 1 replies
ana Ackerman
kak lanjut ya jangan lupa up kak semangat
fayepey: Terimakasih kak
Nanti sore aku up lagii
total 1 replies
ana Ackerman
lanjut kak
Bu Dewi
seru kk😍😍😍😍
fayepey: Terimakasih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!