Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.
Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
Happy reading guys
------------------------------
BAB 21: Tamu Tak Diundang dari Masa Lalu
Kemenangan mutlak atas Bramantara dan Siska seolah memberikan napas lega yang baru bagi Elena Vance. Namun, di dunia kelas atas Jakarta, ketika satu badai mereda, badai yang jauh lebih besar biasanya sedang bersiap menggulung dari arah yang tak terduga. Pagi ini, riuh rendah di kantor divisi eksklusif Syailendra Jewelry mendadak membeku ketika sebuah langkah kaki dengan sepatu hak tinggi berlapis emas bergaung angkuh di koridor lantai lima puluh.
Cklek.
Pintu ruang kerja pribadi Elena didorong terbuka tanpa ketukan. Sosok wanita muda berpenampilan sangat glamor melangkah masuk dengan kacamata hitam besar yang bertengger di hidung bangirnya. Ia mengenakan setelan gaun formal rancangan desainer ternama Milan berwarna merah menyala, memancarkan aura keangkuhan seorang putri bangsawan yang terbiasa mendikte dunia.
"Nona Elena Vance... atau harus kupanggil dengan nama aslimu, Adeline Wijaya?" ucap wanita itu sembari melepaskan kacamata hitamnya dengan gerakan lambat yang sangat provokatif.
Elena yang sedang memeriksa sketsa potongan berlian untuk proyek 'Black Diamond Dynasty' perlahan mengangkat kepalanya. Begitu matanya mengunci sosok wanita di hadapannya, sepasang mata indahnya mendadak memicing sedingin es kutub utara.
Itu adalah Clarissa Utama—kakak kandung dari Jonathan Utama yang dihajar Nicholas di ballroom dua minggu lalu, sekaligus wanita terkaya dari dinasti Utama Group yang sejak lima tahun lalu terobsesi ingin mengawini Nicholas Syailendra demi menyatukan dua konglomerat terbesar di Indonesia.
"Nona Clarissa Utama," Elena berdesis, suaranya terdengar sangat tenang namun sarat akan intrik yang menusuk tajam. Ia meletakkan pena emasnya ke atas meja kerja dengan ketukan halus yang menciptakan kesunyian mencekam. "Saya tidak tahu kalau Utama Group sekarang kekurangan modal hingga perwakilan tertinggi mereka harus menyelinap masuk ke ruang kerja saya tanpa janji temu."
"Jangan berlagak angkuh di depanku, Adeline!" Clarissa melangkah maju, memukul permukaan meja marmer Elena dengan tas hermes mahalnya hingga menimbulkan suara hantaman yang keras.
Brak!
"Kamu pikir dengan bersembunyi di balik nama Elena Vance dan memakai topeng Prancis, kamu bisa membodohiku?! Aku tahu persis siapa kamu! Kamu hanyalah wanita buangan yang ditinggal mati anaknya di pinggir aspal!" Clarissa mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Elena dengan sepasang mata yang dipenuhi oleh rasa iri dan kebencian yang mendalam. "Nicholas menikahimu hanya karena dia butuh boneka untuk mengamankan syarat takhta CEO dari Kakek Syailendra! Kamu tidak lebih dari sekadar pelacur kontrak di atas kertas emas miliknya!"
Elena Vance tidak membalas makian kasar itu dengan emosi yang liar. Di bawah tempaan Nicholas selama satu bulan terakhir, mentalnya telah bertransformasi menjadi baja yang tidak akan hancur hanya karena gonggongan anjing liar. Elena perlahan bangkit dari kursi kebesarannya, berdiri tegak dengan keanggunan seorang ratu yang absolut. Tinggi badannya yang unggul berkat sepatu hak tingginya membuat ia beralih mengintimidasi posisi Clarissa.
Sebuah kekehan renyah yang terdengar sangat beracun keluar dari bibir merah merona Elena.
"Boneka? Pelacur kontrak?" Elena memiringkan kepalanya sedikit, menatap Clarissa dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa meremehkan yang luar biasa mendalam. "Nona Clarissa, jika saya adalah boneka yang tidak berharga, lalu mengapa Anda harus datang ke mari dengan wajah yang sepucat semen menahan malu? Apakah karena Utama Group saat ini sedang berada di ambang kehancuran massal setelah Nicholas mengumumkan perang bisnis terbuka dengan keluarga Anda gara-gara adik bodohmu itu mencoba menyentuh kulit saya?"
Deg!
Wajah Clarissa seketika menegang. Kata-kata Elena tepat sasaran. Kedatangannya pagi ini sebenarnya adalah bentuk keputusasaan karena saham Utama Group terus menukik tajam ke bawah akibat pemutusan hubungan sepihak oleh Syailendra Group.
"Kamu... jalang kurang ajar!" Clarissa gemetar karena marah, tangannya melayang di udara, hendak melayangkan tamparan keras ke arah pipi mulus Elena.
Namun, sebelum tangan Clarissa sempat bergerak turun sejengkal pun, pintu ruang kerja Elena mendadak ditendang terbuka dengan sangat keras dari luar.
Brak!
"Singkirkan tangan kotarmu dari wajah istriku, Clarissa Utama."
Nicholas Syailendra berdiri tegap di ambang pintu dengan aura membunuh yang sangat pekat menguar hebat dari seluruh tubuh tegapnya. Setelan jas hitam tiga potong potongan desainer Italia miliknya memancarkan kegelapan tirani yang sanggup membekukan atmosfer seluruh ruangan kerja. Nicholas yang mendapat laporan dari Yan bahwa Clarissa menyelinap masuk, langsung meninggalkan rapat direksi penting demi menyusul Elena.
Nicholas melangkah tegap melintasi ruangan, ketukan sepatu pantofel mahalnya bergaung laksana lonceng kematian di telinga Clarissa. Dengan gerakan yang sangat cepat dan posesif, Nicholas langsung menarik tubuh ramping Elena masuk ke dalam dekapan lengan kekarnya yang kokoh, mengunci pinggang Elena begitu erat hingga dada mereka merapat sempurna tanpa celah di depan umum.
"Nicholas... aku melakukan ini untuk menyelamatkan hubungan keluarga kita—"
"Hubungan kita sudah mati sejak adikmu mencoba menyentuh Elena," potong Nicholas dengan suara beratnya yang rendah namun penuh dengan ancaman mutlak. Sepasang mata elangnya menatap Clarissa seolah sedang melihat tumpukan sampah yang membusuk. "Yan, serahkan rekaman manifes kedatangan wanita ini kepada tim keamanan. Mulai detik ini, seluruh anggota keluarga Utama dilarang keras menginjakkan kaki di radius satu kilometer dari seluruh gedung Syailendra Group."
Nicholas mempererat dekapannya di pinggang Elena, menundukkan kepalanya sedikit demi menatap langsung ke manik mata Clarissa. "Dan sampaikan pada ayahmu... besok pagi, aku akan membeli sisa 30% saham Utama Group yang tersisa di pasar bursa secara paksa. Aku akan memastikan dinasti keluargamu lenyap dari peta bisnis Jakarta sebelum minggu ini berakhir."
"Nicholas! Kamu tidak bisa sekencang ini demi wanita buangan ini! Nenek Syailendra tidak akan menyetujui tindakanmu!" jerit Clarissa histeris bercampur ketakutan saat dua pengawal pribadi berbadan besar dari Syailendra Group segera maju, mencengkeram kedua lengan Clarissa dengan kasar dan menyeret tubuhnya keluar dari ruang kerja Elena laksana menyeret bangkai.
Pintu tertutup rapat, menyisakan kesunyian yang sarat akan debaran asmara asli di antara Nicholas dan Elena. Nicholas tidak langsung melepaskan pelukannya. Ia justru menangkup wajah Elena dengan kedua tangan besarnya yang hangat, memeriksa setiap inci dari wajah istrinya dengan kegilaan khawatir yang luar biasa besar.
"Kamu tidak apa-apa, Elena? Dia tidak sempat menyentuhmu, kan?" tanya Nicholas, deru napasnya yang hangat menerpa permukaan kulit wajah Elena yang mendadak bersemu merah merona akibat intensitas kedekatan mereka.
Elena menarik napasnya perlahan, mencoba menguasai kembali detak jantungnya yang mendadak berantakan setiap kali berada di dalam pelukan posesif pria ini. "Aku tidak apa-apa, Nicholas. Wanita manja seperti dia bahkan tidak tahu cara melayangkan pukulan yang benar."
Nicholas tersenyum miring—sebuah senyuman kejam namun penuh pesona maskulin yang luar biasa memikat. Pria itu menundukkan kepalanya lebih dalam, lalu mengecup kening Elena dengan begitu dalam dan posesif, seolah ingin menyerap seluruh kekhawatiran wanita itu ke dalam dirinya sendiri.
"Tetaplah berada di sisiku, Elena," bisik Nicholas lirih tepat di depan bibir Elena, tatapan matanya mengunci manik mata Elena dengan penuh tirani kepemilikan yang mutlak. "Karena setelah Utama Group runtuh besok pagi... Kakek tua dan Nenekku pasti akan meluncurkan serangan keluarga yang sesungguhnya untuk menguji validitas pernikahan kontrak kita."
Elena mendongak, menyandarkan tubuhnya dengan anggun di dada bidang suaminya sembari menatap kilau cincin berlian hitam di jarinya. Arka pertempuran baru melawan keluarga besar Syailendra dan sisa konglomerat saingan kini telah resmi dikobarkan, dan Elena Vance sudah siap untuk membakar habis siapa saja yang berani berdiri menghalangi jalannya menuju takhta tertinggi penguasa kota.
------------------------------