Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Arka duduk tegak di atas amben kayu ruang tamunya yang sunyi.
Sesekali matanya melirik ke arah jam dinding plastik murah yang berdetak ritmis, menunjukkan angka hampir pukul tujuh malam.
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan keraguan.
Pria itu sedang bersiap-siap menyaksikan sang CEO Maheswara Group menyerah kalah di jam pertama tantangan ini dimulai hanya karena urusan pakaian.
Dalam benak Arka, seorang wanita sosialita seperti Sari pasti akan keluar dengan setelan olahraga bermerek yang ketat, atau pakaian kasual mahal yang tetap saja terasa salah tempat untuk dibawa ke pasar induk.
Krieeek...
Pintu kamar kayu yang kusam itu perlahan terbuka.
Arka menoleh, dan dalam sekejap, argumen-argumen sinis yang sudah ia siapkan di kepala mendadak menguap tanpa sisa.
Sari melangkah keluar dari dalam kamar. Malam itu, ia menanggalkan seluruh atribut kemewahannya tanpa sisa.
Tubuh tingginya kini dibalut kaus polos putih berpotongan longgar dan celana training hitam bergaris putih di sampingnya—pakaian rumahan yang tampak sangat biasa.
Rambut panjangnya yang biasa tersanggul rapi tanpa cela di salon bintang lima, kini hanya dicepol asal-asalan ke atas, digulung menggunakan sebuah jepitan badai plastik murah berwarna hitam.
Kakinya yang masih sedikit pincang dibalut oleh flat shoes rajut berwarna gelap.
Untuk pertama kalinya, Sari tampil tanpa pulasan riasan tebal sama sekali.
Wajahnya benar-benar polos, bersih, dan segar. Sinar lampu neon ruang tamu yang temaram justru mengekspos kecantikan alaminya yang begitu menawan dan membumi—sebuah pemandangan yang seketika membuat tenggorokan Arka terasa kering.
Arka sempat terpaku selama beberapa detik, menatap sosok di depannya tanpa berkedip.
Ada debaran halus yang kembali mengetuk dinding hatinya. Namun, dengan cepat ia menguasai diri, berdeham pelan untuk menutupi salah tingkahnya, lalu kembali memasang wajah datar andalannya.
Arka berdiri, menyambar kunci motor bebeknya di atas meja.
"Ayo jalan. Pasar induk malam hari itu jauh lebih kotor dan padat dibanding pasar subuh kemarin. Jangan mengeluh kalau baju barumu itu kena cipratan lumpur atau bau sayur busuk."
Sari melangkah maju, memotong jarak di antara mereka sambil mendongak menantang mata teduh Arka. Jiwa kompetitifnya sama sekali tidak goyah oleh gertakan sang duda.
"Siapa juga yang akan mengeluh?" ucap Sari ketus dengan dagu terangkat, mencoba menyembunyikan fakta bahwa jantungnya ikut berdegup kencang melihat cara Arka menatapnya barusan.
Tanpa menunggu komando kedua, Sari lebih dulu melangkah pincang menuju pintu depan, siap membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar pajangan yang rapuh di bawah kerasnya dunia malam Jakarta.
Mereka tiba di pasar induk malam hari menggunakan motor bebek tua milik Arka.
Jika Sari mengira pasar subuh kemarin sudah cukup parah, maka apa yang tersaji di depannya saat ini benar-benar berada di level yang berbeda. Pasar induk pada pukul tujuh malam terasa sangat brutal dan kacau.
Suasana begitu riuh oleh klakson mobil pikap yang saling bersahutan berebut jalan, deru mesin truk-truk besar penyuplai sayur dari luar kota, hingga teriakan lantang para pedagang grosir yang sedang bertransaksi.
Kuli-kuli panggul bertubuh kekar berlarian kesana-kemari dengan langkah tergesa, memikul karung-karung beras dan sayuran yang super berat.
Bau menyengat dari tumpukan sayuran busuk yang menguap diterpa udara malam yang gerah, berpadu dengan aroma solar, langsung menusuk indra penciuman Sari.
Baru saja ia turun dari motor dan mengambil satu langkah, flat shoes rajut yang ia kenakan langsung basah kuyup karena terbenam ke dalam genangan air hitam pekat setinggi mata kaki.
Rasa dingin dan geli yang menjijikkan seketika menjalar di kakinya.
Sari memejamkan mata sesaat, menahan mual. Dengan tangan sedikit gemetar, ia buru-buru merogoh kantong celana training-nya, mengambil sebotol kecil minyak kayu putih yang sempat ia selipkan sebelum berangkat tadi, lalu menghirupnya dalam-dalam untuk menghalau rasa pening yang mendadak menyerang kepalanya.
"Awas, Mbak! Pinggir!!"
Sebuah teriakan lantang bernada peringatan terdengar dari arah kanan.
Sari yang masih sibuk menghirup minyak kayu putih terlambat menyadari bahaya.
Seorang kuli panggul setengah berlari ke arahnya, membawa sebuah karung rami berukuran besar seberat 50 kilogram di atas pundaknya.
Jarak mereka sudah terlalu dekat, dan tabrakan tak dapat dihindarkan lagi.
Grep!
Sebelum tubuh ringkih Sari terhantam karung berat itu, sebuah tangan kekar dengan sigap melingkar di pinggangnya.
Dengan satu sentakan kuat namun penuh perhitungan, Arka menarik tubuh Sari ke dalam dekapannya, membawa wanita itu bergeser mundur hingga menempel erat pada dada bidangnya.
Karung besar itu melesat lewat hanya beberapa sentimeter di hadapan wajah Sari, menyisakan embusan angin yang membawa aroma karung rami kotor.
Sari membeku di tempat, tangannya masih memegang botol minyak kayu putih yang kini menempel di dada Arka.
Napasnya memburu. Jantung sang CEO berdegup kencang, berdetak maraton akibat rasa syok yang luar biasa dari kejadian barusan, sekaligus karena kedekatan fisik mereka yang teramat intim di tengah hiruk-pikuk pasar.
Arka tidak langsung melepaskan pitingan tangannya di pinggang Sari.
Pria itu menunduk, memastikan wanita di dekapannya baik-baik saja dengan sorot mata yang, untuk beberapa detik, memancarkan kecemasan yang nyata.
Arka melepaskan rangkulannya di pinggang Sari begitu dirasa situasi sudah aman.
Tanpa banyak bicara untuk mencairkan ketegangan, ia segera menuntun Sari berjalan lebih dalam membelah koridor pasar yang padat menuju los bahan kering.
Di sana, aroma debu tepung dan manisnya karung-karung berisi gula aren langsung menyengat.
Dengan mata yang sangat jeli dan terlatih, Arka mulai memilah bahan baku.
Jemari tangannya yang kokoh meraba tekstur tepung ketan di dalam karung terbuka, lalu mengetuk-ngetuk balok gula merah kualitas super untuk memastikan keasliannya.
Setelah selesai bertransaksi, Arka sengaja melirik Sari yang masih menetralisir rasa syoknya. Sebuah ide untuk menguji mental sang CEO terlintas di kepalanya.
"Bawa ini," perintah Arka datar, sambil menunjuk sebuah karung kecil berisi tepung ketan seberat 5 kilogram yang baru saja ia bayar.
Sari tertegun. Karung itu tampak kotor dan berdebu.
Namun, demi harga diri yang dipertaruhkan, ia menolak untuk bermanja-manja.
Dengan kedua tangan lentiknya, Sari mengangkat karung tersebut dan mendekapnya di depan dada.
Baru berjalan beberapa meter, permukaan karung yang kasar mulai membuat kulit tangannya yang lembut memerah dan otot lengannya terasa pegal luar biasa.
Mereka kemudian bergeser ke area parutan kelapa. Suasana di los ini jauh lebih brutal.
Suara mesin parut listrik raksasa menderu-deru bising, memekakkan telinga hingga membuat mereka harus berteriak jika ingin berkomunikasi.
Bau tengik minyak kelapa bercampur udara malam yang lembap terasa begitu pekat.
Saat pedagang mulai memasukkan butiran kelapa ke dalam corong mesin, cipratan air kelapa dan serpihan putih parutan yang beterbangan langsung mengenai kaus putih polos yang dikenakan Sari, meninggalkan noda basah yang kusam.
Sari terbatuk kecil, beberapa kali ia harus menahan napas karena dadanya mendadak terasa sesak oleh kombinasi debu pasar, hawa gerah, dan kepulan asap dari knalpot generator mesin di sudut ruangan.
"Sari Maheswara Tidak Pernah Menarik Kata-katanya"
Setelah menerima beberapa bungkus plastik besar kelapa parut murni dari pedagang, Arka membalikkan badannya.
Ia berdiri kokoh di depan Sari, membiarkan deru bising mesin parut menjadi latar belakang konfrontasi mereka.
Arka menatap tajam, menghujam langsung ke dalam manik mata sembap Sari yang mulai memerah akibat terpapar debu malam.
Dengan nada suara yang sengaja dibuat meremehkan untuk memprovokasi mental sang wanita, Arka membuka suara.
"Lihat sekelilingmu, Mbak. Kotor, bau, bising. Ini adalah dunia saya, hidup saya yang harus saya jalani setiap hari demi menyambung nyawa," cetus Arka, sorot matanya menuntut jawaban.
"Apakah setelah melihat semua kekumuhan ini, kamu masih yakin dan punya nyali untuk menjadi istri dari seorang penjual kue tradisional?"
Sari menarik napas dalam-dalam, mengabaikan sesak yang menghimpit dadanya.
Ia menyeka butiran keringat yang membanjiri dahinya menggunakan lengan baju kainnya yang kini sudah kotor, sama sekali tidak memedulikan noda hitam sisa abu pasar yang kini ikut menempel di pipi mulusnya.
Sari mengambil satu langkah maju yang berani. Jarak mereka kembali memotong batasan kasta.
Ia menatap balik sepasang mata teduh Arka tanpa ada setitik pun keraguan yang tersisa di matanya.
"Tentu saja aku yakin!" sahut Sari lantang, suaranya mengatasi bisingnya deru mesin di sekitar mereka.
"Aku sudah bilang padamu sejak awal, Arka. Seorang Sari Maheswara tidak pernah menarik kembali kata-katanya yang sudah terucap!"
Saat mereka hendak berbalik menembus kerumunan menuju parkiran motor, sebuah suara parau dan kasar yang sangat akrab di telinga Arka mendadak memanggil dengan nada mengejek dari arah los daging ayam.
"Heh! Siapa ini? Ganti gandengan baru lagi, Ka?"
Arka menghentikan langkahnya. Rahangnya seketika mengencang saat berbalik dan mendapati Baron—si juragan ayam bertubuh gempal yang kini menjadi suami siri Niken—sedang berdiri bersama beberapa anak buahnya.
Dengan kalung emas tebal yang menggantung norak di lehernya, Baron menatap Arka dengan pandangan merendahkan, lalu matanya beralih menatap tajam ke arah Sari.
Meski pakaian Sari saat ini sangat sederhana dan pipinya sedikit kotor terkena abu pasar, aura kecantikan berkelas yang memancar dari wajah polosnya sama sekali tidak bisa disembunyikan. Baron, dengan sifat mesum dan arogansinya, sengaja melangkah mendekat demi memprovokasi serta menghina masa lalu Arka yang pernah ditinggal selingkuh di depan umum.
Baron menatap Sari dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan pandangan lapar.
"Aduh, Neng Cantik, sayang banget muka mulus begini mau-maunya diajak main di tempat becek sama tukang klepon miskin. Ikut saya saja, Mbak! Saya ini juragan ayam terkaya di pasar ini. Saya punya banyak uang dan saya jamin bisa memuaskan semua kebutuhan kamu!"
Mendengar kata-kata pelecehan yang merendahkan harga diri Arka sekaligus dirinya sendiri, jiwa dominan seorang CEO di dalam diri Sari seketika bergolak hebat.
Kemarahannya langsung naik ke ubun-ubun. Di dunianya, tidak ada satu pun orang yang berani berbicara sekasar itu padanya atau orang yang bersamanya.
Tanpa sepatah kata pun, Sari bergerak cepat. Ia meletakkan karung tepung 5 kg dan belanjaan lainnya ke atas lantai semen dengan hentakan kasar.
Bugh!
Dengan gerakan refleks yang tidak terduga, Sari yang ternyata pernah mengikuti kelas bela diri eksklusif demi keamanan dirinya sebagai petinggi perusahaan, langsung melayangkan satu tendangan telak dan super keras menggunakan ujung flat shoes-nya tepat ke arah aset paling berharga di antara kedua kaki Baron.
"ARRRGGGGHHHH!!!"
Baron seketika memekik tinggi dengan suara melengking kesakitan. Wajah gempalnya langsung berubah drastis menjadi merah padam keunguan.
Pria itu langsung tumbang, jatuh berlutut di atas lantai pasar yang becek sambil memegangi selangkangannya dengan kedua tangan, tubuhnya bergetar hebat menahan ngilu yang luar biasa.
Anak buah Baron yang terkejut langsung melongo tak percaya, tidak menyangka wanita berwajah anggun itu bisa bertindak sebrutal itu.
"Mulutmu itu lebih busuk dari sayuran di pasar ini," desis Sari dingin, menatap Baron yang sedang mengerang di lantai dengan pandangan jijik.
Tanpa membuang waktu, Sari kembali memungut karung tepung dan plastik belanjaannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Ia menoleh ke arah Arka yang saat itu juga terpaku syok menatap aksi nekat sang CEO.
"Apalagi yang kamu tunggu? Ayo pergi!" seru Sari menarik lengan Arka.
Arka yang langsung tersadar dari keterpakuan nya segera menyambar sisa belanjaan yang lain.
Dengan langkah seribu, mereka berlari membelah kerumunan pasar menuju parkiran.
Arka dengan cepat menghidupkan mesin motor bebeknya, dan begitu Sari melompat naik ke jok belakang sambil memeluk pinggangnya erat-erat, Arka langsung menarik gas sedalam-dalamnya, melajukan motornya membelah malam, meninggalkan kekacauan dan teriakan kesakitan sang juragan ayam yang menggema di belakang mereka.
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎