Jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan menyeret kalian ke neraka yang paling dalam!"
Di kehidupan pertamanya, Elena adalah Nona Muda yang naif. Ia menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu Gavin, sang suami, naik takhta menjadi Kaisar. Namun setelah tujuan tercapai, Gavin justru mengkhianatinya. Pria itu berselingkuh dengan adik tiri Elena, merebut takhtanya, membantai putranya yang masih kecil, dan membakar Elena hidup-hidup di sel penjara bawah tanah.
Namun, takdir berkata lain. Alih-alih pergi ke akhirat, Elena terbangun dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu terjadi.
Berbekal ingatan dari masa depan, Elena bersumpah tidak akan lagi menjadi domba yang penurut. Ia akan menghancurkan satu per satu orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Elena mendekati Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di kekaisaran—dan menawarkan sebuah aliansi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vvhiiiiivhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Jerat yang Mulai Mengencang
Malam di ibu kota kekaisaran selalu menyimpan dua wajah. Di satu sisi, ada kemegahan lampu kristal dan gelak tawa para bangsawan di aula pesta. Di sisi lain, ada kegelapan pekat di lorong-lorong sepi tempat konspirasi dan pertumpahan darah direncanakan. Elena berdiri di dekat jendela besar kamar barunya di kediaman Duke Killian, menatap ke arah luar. Gaun tidurnya yang berwarna merah tua berkibar pelan tertiup angin malam. Warnanya mengingatkan Elena pada darahnya sendiri yang mengalir di lantai sel penjara bawah tanah pada kehidupan pertamanya.
"Gavin," bisik Elena, menyebut nama itu dengan nada yang begitu dingin hingga mampu membekukan udara di sekitarnya. "Satu per satu, semua hal yang kau dambakan akan kuambil dari tanganmu."
Pintu kamar tiba-tiba terketuk pelan, memecah keheningan. Sebelum Elena sempat menyahut, pintu tersebut sudah terbuka. Sosok pria bertubuh tegap melangkah masuk dengan aura yang begitu intimidatif. Duke Killian. Tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di seluruh kekaisaran itu berjalan tanpa suara, jubah hitamnya menyapu lantai. Mata merahnya yang tajam langsung mengunci pandangan Elena.
"Belum tidur, Nona Muda?" suara Killian berat dan dalam, menggema di ruangan yang luas itu.
Elena tidak mundur selangkah pun. Di kehidupan lalunya, dia mungkin akan gemetar ketakutan menghadapi pria ini. Namun sekarang, rasa takutnya telah mati bersama tubuhnya yang terbakar di masa depan. "Saya sedang memikirkan bidak pertama kita, Yang Mulia. Bagaimana perkembangan di wilayah barat?"
Killian tersenyum tipis—sebuah lengkungan bibir yang lebih menyerupai seringai serigala daripada ekspresi ramah. Dia berjalan mendekati meja kecil di tengah ruangan, lalu menuangkan anggur merah ke dalam dua cangkir perak. Dia memberikan salah satunya kepada Elena.
"Sesuai dengan informasi yang kau berikan, pasokan gandum ilegal yang dikelola oleh keluarga sekutu Gavin di wilayah barat telah dicegat oleh pasukanku," kata Killian seraya menyesap anggurnya. "Gavin kehilangan hampir sepertiga dari dana rahasianya hanya dalam waktu semalam. Sekarang, dia sedang kelimpungan mencari tahu siapa yang membocorkan jalur distribusi tersebut."
Elena menerima cangkir itu, tetapi tidak meminumnya. Dia hanya menatap pantulan dirinya di dalam cairan merah tersebut. "Dia tidak akan pernah mencurigai saya. Bagi Gavin, saya hanyalah Elena yang naif. Wanita bodoh yang rela menyerahkan seluruh harta keluarganya demi ambisinya naik takhta. Dia berpikir saya masih berada di bawah kendalinya."
"Kau sangat membencinya," ujar Killian, matanya menyipit, mengamati setiap perubahan ekspresi di wajah Elena. "Kebencianmu begitu pekat, seolah-olah dia telah membunuhmu ribuan kali. Aku penasaran, apa yang sebenarnya dilakukan pria bajingan itu hingga membuat seorang wanita bangsawan yang lembut berubah menjadi iblis pencabut nyawa?"
Elena mencengkeram cangkir peraknya lebih erat. Dia memang membunuhku, Killian. Dia membantaiku, merebut harga diriku, dan membakar putra kecilku hidup-hidup, teriak Elena dalam hati. Namun, secara lahiriah, dia tetap tenang. Dia menatap Killian dengan mata yang berkilat tajam. "Yang Mulia Duke, aliansi kita didasarkan pada keuntungan bersama, bukan pada rasa ingin tahu atas masa lalu saya. Anda mendapatkan takhta dan menyingkirkan musuh politik Anda, dan saya mendapatkan kepala Gavin serta adik tiri saya di atas nampan perak. Bukankah itu sudah cukup?"
Killian tertawa rendah. Suaranya terdengar berbahaya namun memikat. Dia maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka hingga Elena bisa mencium aroma maskulin bercampur kayu cendana dari tubuh sang Duke. Killian menunduk, berbisik tepat di telinga Elena. "Tentu saja, Elena. Aku tidak peduli dengan rahasiamu, selama belati yang kau pegang itu mengarah pada musuh kita, dan bukan pada leherku."
Setelah mengatakan itu, Killian berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Elena yang menarik napas panjang. Bersekutu dengan Killian bagaikan menari di atas mata pisau. Jika dia salah melangkah, pria itu bisa menghancurkannya kapan saja. Namun untuk saat ini, Killian adalah pelindung terbaik sekaligus senjata paling mematikan yang dia miliki.
Keesokan harinya, di kediaman megah milik Gavin.
Prang!
Sebuah vas bunga porselen mahal hancur berkeping-keping setelah dihantamkan ke dinding. Gavin napasnya terengah-engah, wajahnya merah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Di depannya, beberapa orang bawahan berlutut dengan tubuh gemetar ketakutan.
"Bagaimana bisa pasokan gandum itu disita?!" bentak Gavin dengan suara menggelegar. "Itu adalah dana utama untuk menyuap para menteri di dewan kekaisaran! Siapa yang berani menyentuh barang milikku?!"
"Am-ampun, Tuan Gavin..." salah satu bawahan menjawab dengan suara terbata-bata. "Pasukan yang mencegat kami memakai zirah hitam tanpa lambang resmi. Namun, taktik dan kecepatan mereka... sangat mirip dengan pasukan elit milik Duke Killian."
"Killian?" Gavin mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Mengapa tirani itu tiba-tiba mencampuri urusanku? Selama ini dia tidak pernah peduli dengan pergerakan faksi kita. Sialan!"
Gavin berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya. Kehilangan dana dalam jumlah besar ini memicu efek domino yang berbahaya. Jika dia tidak bisa membayar para menteri tepat waktu, dukungan untuk posisinya sebagai calon Kaisar akan goyah.
Pada saat itulah, pintu ruang kerja terbuka pelan. Seorang wanita muda dengan gaun berwarna merah muda yang anggun masuk dengan langkah gemulai. Dia adalah Clara, adik tiri Elena. Wajahnya tampak cemas, tetapi matanya memancarkan kelicikan yang disembunyikan dengan rapi.
"Kak Gavin, ada apa? Mengapa Kakak begitu marah?" tanya Clara dengan suara lembut yang dibuat-manis, langsung berjalan mendekat dan mengusap dada Gavin untuk menenangkannya.
Gavin menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam emosinya di hadapan kekasih gelapnya itu. "Bisnis kita di barat hancur, Clara. Seseorang membocorkan jalurnya kepada Duke Killian."
Clara terkejut, matanya membelalak. "Bagaimana mungkin? Jalur itu sangat rahasia. Hanya kita dan beberapa orang kepercayaan yang tahu. Apakah... ada pengkhianat di antara orang-orang kita?"
Gavin terdiam sejenak. Otaknya berputar cepat mencari kemungkinan. "Aku tidak tahu. Tapi yang jelas, kita butuh suntikan dana baru secepatnya untuk menutupi kerugian ini." Gavin tiba-tiba teringat sesuatu, dan seringai tipis muncul di wajahnya. "Benar... kita masih punya Elena."
Clara mencibir sedikit saat mendengar nama kakak tirinya itu, meskipun dia segera menyembunyikannya. "Elena? Apakah Kakak yakin dia mau membantu lagi? Akhir-akhir ini, aku merasa sikapnya agak aneh. Dia tidak se-penurut biasanya."
"Elena sangat mencintaiku, Clara. Dia adalah domba yang bodoh," ucap Gavin dengan penuh percaya diri. "Dia akan memberikan apa saja jika aku memintanya dengan sedikit kata-kata manis. Pihak keluarganya memiliki tambang permata di wilayah timur. Jika aku bisa meyakinkannya untuk menyerahkan hak pengelolaan tambang itu kepadaku, masalah dana kita akan selesai dalam sekejap."
Clara tersenyum puas, membayangkan kekayaan keluarga Elena yang akan segera jatuh ke tangan mereka. "Kalau begitu, Kakak harus segera menemuinya. Jangan biarkan dia lepas."
Sementara itu, di sebuah rumah teh mewah di pinggiran ibu kota. Elena duduk dengan tenang di dalam ruangan privat, menikmati teh melati yang mengepulkan uap hangat. Di depannya, duduk seorang pria paruh baya yang mengenakan pakaian pelayan senior dari kediaman Gavin. Pria itu adalah mata-mata yang telah dibayar mahal oleh Elena menggunakan sisa perhiasan tersembunyinya.
"Jadi, Gavin berencana meminta hak pengelolaan tambang permata milik ibuku?" Elena bertanya tanpa nada terkejut sedikit pun. Semuanya berjalan persis seperti yang dia prediksikan. Di kehidupan lalu, Gavin juga melakukan hal yang sama. Saat itu, Elena dengan bodohnya langsung menandatangani surat penyerahan dokumen tanpa curiga, yang akhirnya menjadi awal mula kehancuran finansial keluarganya.
"Benar, Nona Muda," jawab pelayan itu sambil menunduk hormat. "Tuan Gavin sangat panik setelah kehilangan dana dari wilayah barat. Dia kemungkinan besar akan menemui Anda besok sore di kediaman utama."
"Bagus sekali. Kau telah melakukan tugasmu dengan baik," kata Elena seraya menggeser seonggok koin emas di atas meja ke arah pelayan tersebut. "Teruskan mengawasi setiap gerak-geriknya. Jika dia atau Clara melakukan sesuatu yang mencurigakan, segera kabari aku."
"Baik, Nona. Saya permisi dulu," pelayan itu mengambil koin emas tersebut dengan mata berbinar, lalu keluar dari ruangan dengan sangat hati-hati.
Setelah pelayan itu pergi, Elena bersandar pada kursi kayunya. Senyum dingin terukir di wajah cantiknya. "Kau ingin tambang permata itu, Gavin? Tentu saja, aku akan memberikannya padamu... bersama dengan racun yang akan menghancurkan tanganmu saat kau menyentuhnya."
Pintu ruangan privat bergeser terbuka lagi. Kali ini, bukan pelayan yang masuk, melainkan bawahan kepercayaan Duke Killian yang bernama Rey. Rey membungkuk hormat kepada Elena.
"Nona Elena, Yang Mulia Duke meminta Anda untuk kembali ke kediaman sekarang. Ada tamu tidak diundang yang sedang menunggu Anda di aula utama," lapor Rey dengan ekspresi serius.
Elena mengernyitkan dahi. Tamu tidak diundang? Di kediaman Duke Killian yang terkenal ketat penjagaannya? "Siapa tamunya, Rey?"
"Utusan dari istana kekaisaran, Nona. Tampaknya... Permaisuri telah mendengar rumor tentang kedekatan Anda dengan Duke Killian, dan beliau ingin memverifikasi kebenarannya."
Mendengar hal itu, jantung Elena berdetak sedikit lebih cepat, bukan karena takut, melainkan karena kegembiraan yang tertahan. Konspirasi ini berkembang lebih cepat dari yang dia duga. Permaisuri adalah bibi dari Gavin. Jika Permaisuri mulai mencampuri urusan ini, artinya Gavin akan segera mengetahui bahwa wanita yang dianggapnya sebagai 'domba penurut' kini telah berdiri di samping serigala yang paling berbahaya di kekaisaran.
"Mari kita kembali, Rey," ujar Elena seraya berdiri dan merapikan gaunnya. "Jangan biarkan Permaisuri menunggu terlalu lama. Pesta yang sesungguhnya baru saja dimulai."
Elena melangkah keluar dari rumah teh dengan kepala tegak. Di kehidupan kedua ini, dia bukan lagi korban yang akan meratapi nasibnya di dalam sel bawah tanah. Dia adalah sutradara dari kehancuran mereka yang telah menginjak-injak harga dirinya. Angin malam berembus kencang, membawa aroma badai yang siap memporak-porandakan seluruh ibu kota kekaisaran.