Rasa percaya diri Refisha benar-benar hilang karena di usianya yang sudah memasuki 29 tahun, orang tuanya berkali-kali menjodohkan, tetapi banyak kendala pria menikahinya dan termasuk banyak orang tua pria yang tidak setuju menikah dengan.
Refisha juga selalu bertentangan dengan adiknya yang sudah berusia 24 tahun dan ingin secepatnya menikah. Banyak sekali permasalahan percintaan dalam hidupnya yang tidak sesuai dengan karirnya dalam dunia pekerjaan.
Sampai seketika orang tuanya kembali menjodohkannya dengan seorang Ustadz, Refisha tidak pernah menolak apapun yang dilakukan orang tuanya, dia setuju, tetapi bukannya kebahagiaan yang didapatkan justru penghinaan dari pria yang memahami permasalahan agama itu membuat kepercayaan dirinya semakin hilang.
Lalu siapa sangka Ustadz pemuka agama itu menolaknya, satu pria pria yang dia temui tidak sengaja dengan usianya yang lebih muda, justru ingin melamarnya, mengejarnya dengan cara ugal-ugalan.
Mari mengikuti ceritanya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3 Penghinaan Yang Dia Dapatkan
"Assalamualaikum!" Refisha mengucapkan salam dengan suaranya yang lembut pada orang-orang yang ada di ruang tamu itu.
"Walaikum salam," jawab mereka secara serentak.
Ezra perlahan mengangkat kepala, seperti mengenali suara itu membuatnya langsung memastikan dan ternyata sesuai dugaannya. Ezra tidak menyangka jika dia bertemu kembali dengan wanita yang memberinya payung di hujan deras.
Ternyata bersamaan dengan Refisha yang kebetulan juga melihat Ezra. Refisha juga ternyata mengingat laki-laki itu.
"Alhamdulillah ternyata dia tidak jadi melakukannya," batin Refisha.
"Refisha. Ayo duduk!" ajak Mila menegur putrinya yang tampak bengong membuat Refisha dengan cepat menganggukkan kepala dan langsung duduk.
"Ini adalah Putri pertama kami Refisha, ini yang kami katakan yang akan dijodohkan dengan Malik," ucap Mila.
Pandangan Malik tertuju pada Refisha yang saat ini menunduk malu.
"Alhamdulillah Refisha, sudah menyelesaikan s2-nya, Refisha juga sudah memiliki usaha sendiri, pabrik parfum yang telah dia kelola dan juga sudah memiliki beberapa store penjualan parfumnya, sudah pasti Refisha juga hafiz Quran, saya sebagai ibu bukan membanggakan, tetapi Alhamdulillah putri kami sangat taat beribadah meski kesibukannya dalam bekerja," sahut Mila memberi pujian untuk putrinya sendiri.
"Berapa umur kamu Refisha?" tanya Nia sedikit tidak sopan yang langsung to the point untuk mempertanyakan umur, membuat Refisha mengangkat kepala.
"29 tahun Tante," jawabnya tanpa menutupi apapun.
"Kamu sepertinya sangat mengejar dunia, sampai-sampai kamu kelebihan target untuk menikah, untuk usia matang seperti kamu, seharusnya sudah menikah, meski putra saya memang usianya sama seperti kamu, tetapi putra saya laki-laki, wajar saja laki-laki menikah di usia yang mungkin lebih dari 30 tahun dan sementara untuk wanita seharusnya menikah lebih cepat apalagi anak-anak di pondok di bawah 20 tahun mereka sudah berumah tangga," Nia tiba-tiba saja mengomentari masalah usianya dengan sangat serius.
Refisha bingung apakah ini suatu penghinaan atau tidak untuknya.
"Maaf, Mbak maksudnya bagaimana?" tanya Mila merasa sedikit tersinggung.
"Tidak apa-apa, saya tidak bermaksud untuk berbicara apapun, kita lanjutkan saja perjodohannya, tahapan pengenalan terlebih dahulu, cocok dan tidak cocok hanya Allah yang menentukan," jawab Nia.
"Sudah ketebak ciri-cirinya akan ada penolakan," gumam Laudya dengan pelan hampir tidak terdengar oleh orang-orang yang ada di ruang tamu tersebut, tetapi Refisha sudah pasti mendengar karena berada di samping adiknya.
Refisha melihat ke arah calon suaminya yang tampak cuek, seperti tidak memiliki ketertarikan padanya, entahlah mungkin saja karena dia adalah seorang ustaz dan menjaga pandangannya, tetapi bukan pandangan yang dia jaga karena sejak tadi sibuk melihat ke arah adiknya.
Sayangnya Laudya tidak tertarik sama sekali dan justru tertarik pada Ezra yang sejak tadi hanya sebagai pengamat.
*******
Di ruang tamu masih sibuk dengan pembicaraan mengenai perjodohan kedua belah pihak dan ternyata Refisha berbicara berdua dengan Malik.
"Mas, kenapa mengajak saya berbicara berdua seperti ini? bukankah tidak enak dilihat kedua keluarga kita?" tanya Refisha dengan menunduk sejak tadi berdiri dengan berjarak dengan Malik yang berdiri di depannya.
"Saya harus membicarakan hal sepenting ini kepada kamu, jujur saja saya tidak tahu jika yang dinikahkan kepada saya adalah kamu, saya juga kaget mendengar umur kamu, umur kita berdua memang sama, tetapi di umur wanita yang sudah memasuki kepala tiga ketika baru menikah akan sulit untuk memiliki keturunan," ucap Malik berbicara to the point Refisha mengangkat kepala dengan jantung berdebar saat kata-kata itu keluar dari mulut Malik.
"Maaf Refisha, saya tidak bermaksud apapun, oke kamu cantik, tetapi menikah bukan hanya berdasarkan cantik, saya juga ingin memiliki istri yang masih segar dan bisa melahirkan banyak anak untuk saya, saya pikir wanita yang dinikahkan dengan saya sekitar gadis berusia di bawah 25 tahun," ucap Malik.
"Jadi maksud Mas, akan menolak perjodohan ini?" tanyanya memastikan.
"Karena kamu tidak pantas menjadi istri saya," jawab Malik to the point membuat hati Refisha benar-benar sakit.
Refisha berusaha untuk tenang dengan kata-kata itu, menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan.
"Tetapi belum tentu juga kamu pantas untuk menjadi suami saya," ucapnya untuk mempertahankan harga diri dan membela dirinya agar tidak terlalu diinjak-injak.
"Maksud kamu?" Malika menautkan kedua alisnya.
"Alhamdulillah sebelum semuanya berlanjut Allah sudah memberikan petunjuk, bahwa saya memang tidak seharusnya melanjutkan perjodohan ini dengan Anda, Allah telah memperlihatkan kepada saya seperti apa kepribadian Anda yang sebenarnya, dan ternyata Allah menyelamatkan saya," ucap Refisha.
"Apa yang kamu katakan Refisha, kamu berpikiran bahwa saya laki-laki buruk, kamu tidak tahu bahwa saya ini hafiz Quran, saya seorang ustad, banyak orang mengagumi saya, menjadikan saya motivasi untuk tujuan hidup mereka dan kamu berani mengatakan bahwa saya memiliki kepribadian yang buruk," ucap Malik benar-benar tersinggung.
"Saya tidak mengatakan bahwa Anda memiliki kepribadian buruk, tetapi apa yang saya sampaikan adalah kebenarannya dan justru Anda yang memperlihatkan sendiri siapa Anda sebenarnya, saya juga belum tentu mau menikah dengan Anda," ucap Refisha dengan tegas membela harga dirinya dan kemudian berbalik badan berlalu dari hadapan Malik.
"Pantas saja kamu tidak laku-laku, ternyata kamu sangat angkuh, sudah perawan tua tetapi tetap sombong!" ucapnya menghentikan Refisha dengan hatinya yang pasti sangat terluka dengan kata-kata itu.
"Kamu seharusnya bersyukur jika saya membicarakan ini kepada kamu, artinya saya masih menjaga kehormatan kamu di depan banyak orang dan tidak mempermalukan kamu untuk menolak perjodohan ini, saya tadi ingin bernegosiasi dengan kamu, paling tidak saya menerima perjodohan ini, tetapi karena sudah pasti kamu tidak akan bisa memiliki anak karena usia kamu sudah tua, maka harus ada kesepakatan untuk saya bisa memiliki istri lebih dari satu, tetapi sayangnya kamu tidak bisa diajak negosiasi dan langsung berbicara seperti ini kepada saya!"
"Artinya saya sudah tidak sudi menikah dengan kamu, dan kamu pikir akan ada laki-laki yang mau menikah dengan wanita seperti kamu, laki-laki harus berpikir untuk menikah dengan wanita tua seperti kamu, sungguh sangat menyedihkan!" ucapnya mengeluarkan kata-kata begitu kasar menyayat hati.
Refisha hanya diam saja, tidak membahas ucapan itu, lebih baik pergi dari pada semakin sakit dengan kata-kata laki-laki yang menghinanya dan siapa sangka ternyata Ezra mendengarkan pembicaraan kedua orang tersebut saat tidak sengaja dia pamit sebentar untuk mengangkat telepon dari sahabatnya.
Ekspresi Ezra tampak tidak terbaca, entahlah apa yang dia pikirkan saat ini. Sementara Refisha sudah kembali ke ruang tamu, wajahnya sudah murung tidak ada semangat lagi, Malik juga sudah kembali ke ruang tamu dan begitu juga Ezra.
"Jadi bagaimana Mbak untuk kelanjutan proses taaruf mereka berdua? kita harus memulai dari mana?" tanya Mila.
"Tidak ada proses taaruf, saya harus berpikir berkali-kali untuk menikah dengan dia, maaf saya menolak perjodohan ini dan saya tidak akan melanjutkan proses taaruf apapun dengan dia, karena awalnya saya pikir bahwa saya akan menikah dengan adiknya, ternyata wanita yang dinikahkan kepada saya adalah wanita yang sudah berkali-kali ditolak oleh pria untuk menjadi istrinya!" sahut Malik berbicara secara langsung dengan mempermalukan Refisha di depan banyak orang yang membuat Refisha tampak pasrah, hanya menunduk dengan kesedihannya.
Bersambung .......