Sofía hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang hidup di New York—kuliah sambil bekerja sebagai resepsionis, tanpa keluarga, tanpa sandaran. Sampai satu malam di sebuah pesta mewah, ia berpapasan dengan Alejandro: CEO miliarder yang tampan, dingin, dan menyimpan satu rahasia mematikan—ia pemimpin mafia Rusia yang ditakuti seluruh dunia hitam.
Pria yang tak percaya cinta itu tiba-tiba menginginkan Sofía menjadi miliknya seorang. Namun di balik gairah dan kemewahan yang memabukkan, tersembunyi pengkhianatan, kecemburuan, dan sebuah tragedi yang akan menghancurkan segalanya.
Ketika takdir melemparkannya jatuh, Sofía menemukan kebenaran yang mengguncang: ia bukan sekadar gadis miskin, melainkan putri yang hilang dari sebuah dinasti mafia berkuasa. Dan di sanalah ia bertemu Fernando Valentini—sang "Bestia", raja dunia hitam yang kejam sekaligus pemilik imperium bisnis yang tak tersentuh. Seorang pria yang bersumpah takkan pernah lagi mencintai... sampai ia bertemu perempuan yang mampu meruntuhkan setiap tembok di hatinya.
Di antara dua raja dunia hitam yang sama-sama berbahaya, di antara cinta, dendam, dan darah, Sofía harus memilih. Tapi dalam dunia tempat kekuasaan adalah segalanya dan nyawa bisa lenyap dalam sekejap, apakah cinta sejati sanggup bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lopez ibarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Namaku Sofía. Aku tak punya keluarga. Ayahku meninggal saat aku berusia lima belas tahun, dan sejak itu aku sebatang kara—ibuku sudah meninggalkan kami, dan aku anak tunggal. Aku harus banting tulang demi bertahan hidup. Berkat kerja kerasku, kini aku sudah kuliah dan sebentar lagi lulus dari jurusan Manajemen Bisnis. Aku juga bekerja sebagai resepsionis di sebuah perusahaan—perusahaan nomor satu di New York. Sungguh sebuah keajaiban aku bisa diterima di sana. Aku bahagia sekali.
Sofía kuliah sambil bekerja. Ia berasal dari keluarga tak berada, tetapi berkat kerja keras dan usahanya sendiri, ia berhasil bangkit dan maju.
Alarmku berbunyi. Saatnya bersiap ke kampus. Aku masuk ke kamar mandi, membereskan urusanku, lalu berdandan seperlunya. Setelah sarapan seadanya, aku keluar dari apartemenku yang sederhana—aku tak sanggup menyewa yang lebih baik. Aku naik taksi dan menuju kampus.
* * *
Di kampus
"Aduuh, akhirnya kau datang juga!" seru Maria, sahabatku.
"Maaf, sopir taksinya lebih lama dari yang kukira," kataku. "Sudah, ayo masuk kelas."
"Ya, ayo," sahut Maria.
Kami masuk kelas lalu duduk. Aku menyapa Marta dan Myriam, yang juga sahabat-sahabatku. Pelajaran berlangsung sampai tiba waktunya pulang, lalu kami keluar dari ruang kelas.
"Nah, teman-teman, aku pamit dulu, ya. Aku tak mau terlambat kerja," kataku.
"Hmm… tapi itu Mateo datang," ujar Myriam.
Aku menoleh. Benar, Mateo datang. Ia kekasihku sejak lima bulan lalu. Kadang ia memang agak menyebalkan, tapi aku menyayanginya sepenuh hati. Ia kapten tim football Amerika dan sangat populer di kampus.
"Kau mau pergi tanpa pamit, Sofía? Seharian aku tak melihatmu. Kau menghindariku, ya?" tanya Mateo.
"Tidak, Mateo, mana mungkin," jawabku. "Aku di kelas seharian. Kupikir kau sibuk latihan, dan karena kau tak suka aku menonton latihanmu, makanya hari ini aku tak menemuimu."
"Ya sudah, besok kita bertemu. Aku harus pergi," katanya.
Aku tahu ia pergi dengan sedikit kesal, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Ia selalu ingin menyembunyikan hubungan kami, dan itu tidak kusukai. Namun aku pun tak mau memaksanya mengumumkan hubungan kami kepada semua orang. Hanya sahabat-sahabatku yang tahu.
"Sudah, ya, teman-teman, aku pergi dulu. Sampai jumpa," pamitku, lalu aku pulang ke apartemen untuk bersiap berangkat ke kantor.
Setelah siap, aku menuju kantor.
Aku berada di meja kerjaku bersama rekanku, Carol. Ia menjadi sahabatku sejak aku pertama kali masuk. Orangnya agak ekstrover, tapi ia teman yang sangat baik.
Lalu datanglah Bruno, atasan langsung kami. Kedatangannya mengejutkan kami, sebab ia hampir tak pernah turun langsung—biasanya ia memanggil kami ke ruangannya.
"Halo, Nona-nona," sapa Bruno. "Aku cuma mampir sebentar untuk memberi tahu kalian: Sabtu ini aku akan merayakan pesta ulang tahunku di Klub Rowen, dan kalian kuundang. Tentu boleh membawa tamu. Cukup sebutkan nama kalian di pintu masuk klub, dan kalian beserta tamu kalian akan dipersilakan masuk."
"Aduuh, Bruno, terima kasih banyak sudah mengundang kami!" seru Carol. "Klub itu bergengsi sekali. Jam berapa mulainya?"
"Mulai pukul sepuluh pagi. Siapa yang datang lebih dulu boleh memilih kamarnya, karena pestaku baru berakhir Senin sore. Kebetulan Senin hari libur, jadi kita diberi cuti," jawab Bruno.
Bruno, 35 tahun, atasan langsung Sofía.
Carol, sahabat Sofía, 30 tahun.