Arka Khontacron adalah pemilik perkebunan anggur terbesar di Buleleng tepatnya di Bali. Arka memiliki saudara kembar laki-laki yaitu Phat Shrabeus kakak nya. Mereka tinggal di Seririt, Nama desanya, Desa Sagara. Desa mereka dalam beberapa bulan ini selalu banyak kasus orang-orang desa yang hilang, terutama wanita. Banyak masyarakat yang komplen ke polisi, tapi hasilnya juga sama. Tapi kasus itu mulai terbuka kembali pada malam itu akibat Arka menemukan mayat Pak Braun Ghum di dalam perkebunan miliknya. Pak Braun ialah pemilik peternakan domba di sebelah perkebunan anggur milik keluarga Khontacron dan juga Arka sering bermain bersama anaknya Sara Mhiomorin waktu kecil. Arka memanggil polisi untuk menyelediki kejadian tersebut, tapi bukannya mencari bukti. Polisi menyeret Arka sebagai tersangka, apakah bisa arka menemukan pelaku yang sebenarnya?
Ini ialah kisah cinta ringan dari Zodiak Taurus, bisakah dia bersabar menghadapi kejadian tersebut atau malah menjadi keras kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DOLPIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18. SIAPA TIARA CHENZAE?
Pagi itu, langit di Desa Sagara tampak kelabu.
Udara dingin menyelimuti pemakaman kecil di pinggir desa. Tanah merah yang masih basah menutupi sebuah makam baru, sementara beberapa orang berdiri mengelilinginya dengan wajah muram. Tidak banyak yang datang. Pak Thom memang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya bekerja untuk keluarga Khontacron, tetapi tidak semua orang mengenal siapa dirinya di balik pekerjaan itu.
Arka berdiri diam di hadapan makam tersebut. Setelan hitam yang dikenakannya tampak kusut, sementara kedua tangannya terbenam di saku celana.
Ia tidak banyak bicara sejak pemakaman dimulai.
Bayangan malam di gudang tua itu terus menghantuinya. Suara tembakan, tubuh Pak Thom yang terjatuh, dan kata-kata terakhir lelaki itu berulang kali muncul dalam pikirannya.
Jangan percaya pada semua yang kau lihat.
Arka memejamkan mata sejenak.
Ia masih ingat bagaimana Pak Thom menatapnya sebelum mengembuskan napas terakhir. Ada sesuatu dalam tatapan itu yang belum bisa ia pahami. Bukan sekadar ketakutan, melainkan seolah-olah Pak Thom sedang memperingatkannya tentang sesuatu yang jauh lebih besar daripada kematian Pak Braun.
"Arka."
Suara Sara terdengar pelan dari sampingnya.
Arka membuka mata dan menoleh. Sara berdiri dengan pakaian hitam sederhana. Matanya sedikit sembap, seolah ia juga tidak tidur nyenyak semalam.
"Kita harus pergi sekarang," kata Sara lembut. "Bastian pasti sudah sadar saat ini."
Arka mengangguk kecil.
"Ya. Ayo."
Sebelum meninggalkan pemakaman, Arka menatap makam Pak Thom sekali lagi.
"Maaf," gumamnya hampir tak terdengar.
Ia sendiri tidak tahu apakah permintaan maaf itu ditujukan kepada Pak Thom karena telah salah menilainya, atau kepada orang-orang yang selama ini menjadi korban dari rahasia keluarganya sendiri.
Mungkin kepada keduanya.
Perjalanan menuju kota berlangsung dalam keheningan.
Sara duduk di kursi penumpang, sesekali melirik Arka yang berkonsentrasi menyetir. Sejak meninggalkan pemakaman, Arka belum mengucapkan sepatah kata pun.
"Arka," panggilnya akhirnya.
"Hm?"
"Kau masih memikirkan Pak Thom?"
Arka tidak langsung menjawab. Matanya tetap tertuju pada jalanan.
"Aku terus memikirkan apa yang dia katakan sebelum meninggal."
"Tentang orang yang paling dekat denganmu?"
"Ya."
Sara menunduk, meremas jemarinya sendiri.
"Menurutmu, siapa yang dia maksud?"
"Aku tidak tahu." Arka mengembuskan napas berat. "Tapi aku yakin dia tidak mengatakan itu tanpa alasan."
Sara terdiam sesaat sebelum akhirnya berkata, "Arka, aku ingin kau berjanji satu hal padaku."
"Apa?"
"Jangan menyelidiki semuanya sendirian lagi."
Arka meliriknya sekilas.
"Kau tahu aku tidak bisa menjanjikan itu."
"Aku serius."
"Aku juga serius, Sara."
Sara menghela napas kesal. "Kau selalu seperti ini. Selalu merasa harus menanggung semuanya sendiri."
Arka terdiam.
Untuk sesaat, ia ingin mengatakan bahwa Sara tidak memahami betapa berbahayanya keadaan mereka sekarang. Namun, ketika melihat kekhawatiran di wajah perempuan itu, kata-kata tersebut urung keluar.
"Aku akan berusaha," jawabnya akhirnya.
Sara menatapnya, seolah sedang memastikan apakah Arka benar-benar bersungguh-sungguh.
"Itu saja sudah cukup."
Arka kembali memandang jalan. Namun, tanpa disadarinya, sudut bibirnya terangkat sedikit.
Rumah sakit di kota itu berdiri di tepi jalan utama, jauh dari suasana sunyi Desa Sagara. Kendaraan berlalu-lalang di depannya, sementara beberapa keluarga pasien terlihat keluar masuk melalui pintu utama.
Arka memarkir mobil di tempat yang tidak terlalu jauh dari lobi.
Begitu mereka turun, Sara berjalan di sampingnya menuju pintu masuk.
Namun, langkah Arka mendadak terhenti.
Di dekat deretan kursi ruang tunggu, ia melihat dua sosok yang sangat dikenalnya.
Phat.
Dan ayahnya, Pak Teo.
Keduanya duduk berdampingan. Phat mengenakan kemeja gelap dengan lengan digulung sampai siku, sementara ayahnya tampak rapi dalam setelan mahalnya. Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu dengan suara rendah.
Ketika menyadari kedatangan Arka, Phat mengangkat wajah.
Tatapan mereka bertemu.
Phat segera berdiri.
"Kau datang juga rupanya."
Arka mengabaikannya dan mengalihkan pandangan kepada ayahnya.
"Ayah."
Ayahnya menatapnya dengan ekspresi dingin.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku kesini ingin menjenguk Bastian."
Wajah ayahnya seketika mengeras.
"Tidak."
Arka mengerutkan kening. "Apa maksud Ayah?"
"Ayah bilang tidak." ayahnya bangkit dari kursinya. "Kau tidak akan menemui polisi itu lagi."
Sara yang berdiri di samping Arka tampak terkejut. Ia menatap ayahnya Arka, kemudian kembali memandang Arka.
"Ayah tidak berhak melarangku menjenguk temanku sendiri," jawab Arka tenang.
"Teman?" ayahnya mendengus. "Sejak kapan kau begitu dekat dengan seorang kepala polisi? Terlebih lagi, setelah apa yang terjadi di gudang itu?"
Arka mengepalkan tangannya.
"Bastian hampir mati karena membantu kami mencari kebenaran!"
"Dan lihat akibatnya!" bentak ayahnya. Beberapa orang di ruang tunggu menoleh ke arah mereka. "Pak Thom sudah meninggal. Sekarang kau masih ingin menyeret dirimu lebih jauh ke dalam masalah ini!?"
Rahang Arka mengeras mendengar nama Pak Thom disebut.
"Aku tidak punya pilihan malam itu."
"Selalu begitu jawabanmu!" ayahnya melangkah mendekat. "Kau selalu merasa tindakanmu benar. Kau tidak pernah memikirkan akibatnya bagi keluarga kita!"
"Kalau Ayah begitu peduli pada keluarga kita, seharusnya Ayah juga lebih peduli kepada orang yang menghilang dari desa!"
Keheningan mendadak menyelimuti mereka.
Wajah ayahnya berubah.
Hanya sesaat, tetapi Arka sempat menangkapnya.
Ada keterkejutan di sana. Disusul sesuatu yang lebih gelap.
Kemudian, ekspresi itu menghilang, digantikan kemarahan yang jauh lebih tajam.
"Jangan pernah membicarakan hal itu di tempat umum," desis ayahnya.
"Kenapa? Ayah takut ada yang mendengar?"
"Arka!" seru Sara, berusaha meredakan ketegangan.
Namun, Arka tidak mengalihkan pandangan dari ayahnya.
"Aku sudah terlalu lama menuruti semua perkataan Ayah. Aku diam ketika Ayah menyembunyikan sesuatu. Aku diam ketika orang-orang mulai menghilang. Dan sekarang, aku bahkan tidak tahu apakah aku bisa mempercayai keluargaku sendiri."
Phat melangkah maju.
"Jaga ucapanmu!"
Arka menoleh kepadanya.
"Atau apa? Kau akan memukulku lagi seperti dulu?"
Wajah Phat memerah.
"Dasar—"
"Cukup!" bentak ayahnya.
Ia kembali menatap Arka dengan tatapan mengancam.
"Dengarkan Ayah baik-baik. Kau tidak akan masuk ke kamar polisi itu. Kau akan pulang, dan kau akan berhenti mencampuri urusan yang bukan menjadi tanggung jawabmu."
Arka terdiam beberapa detik.
Lalu ia menggeleng pelan.
"Tidak."
Satu kata itu membuat wajah ayahnya membeku.
"Apa katamu?"
"Aku bilang tidak."
Tanpa menunggu jawaban, Arka berbalik dan berjalan menuju koridor kamar pasien. Sara segera menyusulnya setelah memberikan tatapan singkat kepada ayahnya.
"Arka!" teriak ayahnya dari belakang. "Kalau kau terus melawan Ayah, jangan salahkan siapa pun jika sesuatu terjadi padamu!"
Arka tidak berhenti.
Ia hanya mengangkat satu tangan, bukan untuk menyahut, melainkan seolah menolak mendengar ancaman itu lagi.
Sara berjalan mengejarnya.
"Kau benar-benar tidak takut membuat ayahmu marah, ya?" bisiknya.
Arka meliriknya.
"Aku sudah terlalu sering takut."
Jawaban itu membuat Sara terdiam.
Setelah memastikan kondisi Bastian melalui perawat, Arka dan Sara akhirnya mengetahui bahwa temannya telah sadar dan bisa menerima kunjungan singkat.
Namun, sebelum mereka sempat menuju kamar pasien, Arka dan Sara ingin mengambil sesuatu dari mobil.
Mereka berjalan kembali melewati lobi menuju area parkir.
Baru beberapa langkah dari mobil, seorang lelaki paruh baya menghampiri mereka. Pakaiannya sederhana, wajahnya tampak lelah, dan matanya sembap seperti seseorang yang belum tidur semalaman.
Arka mengenalinya sebagai salah satu anggota keluarga Pak Thom. Lelaki itu beberapa kali terlihat di rumah Pak Thom ketika Arka masih kecil, meskipun ia tidak mengetahui namanya.
"Tuan Arka," panggil lelaki itu.
Arka berhenti.
"Siapa?"
Lelaki tersebut memandang sekeliling sebelum mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari dalam tas kain yang dibawanya.
Sampul buku itu berwarna cokelat tua, sudah usang di bagian sudutnya. Beberapa halaman terlihat menguning, dan ada noda gelap di tepi sampulnya.
"Saya rasa ini seharusnya menjadi milik Anda."
Arka menatap buku itu dengan curiga.
"Apa ini?"
"Buku catatan milik almarhum Pak Thom."
Sara langsung memandang lelaki tersebut.
"Bagaimana bisa Anda memilikinya?"
"Setelah kejadian semalam, keluarga kami diminta membereskan barang-barang pribadinya. Buku ini tersimpan di dalam lemari kamarnya." Lelaki itu menelan ludah. "Saya belum sempat membacanya. Namun, di halaman pertama, ada nama Anda."
Arka tidak segera mengambilnya.
"Nama ku?"
Lelaki itu mengangguk.
"Benar."
Untuk beberapa saat, Arka hanya menatap buku tersebut.
Pak Thom menyimpan catatan yang mencantumkan namanya?
Apa yang sebenarnya diketahui Pak Thom?
"Kenapa Anda memberikannya kepada saya?" tanya Arka.
"Karena sebelum meninggal, Pak Thom pernah mengatakan sesuatu kepada saya." Suara lelaki itu merendah. "Jika suatu hari sesuatu terjadi padanya, dan seseorang bernama Arka datang mencari kebenaran, saya harus menyerahkan buku ini."
Dada Arka terasa sesak.
"Dia mengatakan itu kapan?"
"Beberapa minggu lalu."
Sara menutup mulutnya, terkejut.
Beberapa minggu sebelum kematiannya, Pak Thom rupanya sudah membayangkan kemungkinan dirinya tidak akan selamat.
Arka akhirnya menerima buku tersebut.
"Apa Anda tahu isi di dalamnya?"
Lelaki itu menggeleng.
"Tidak, Tuan. Tapi ada satu hal lagi."
Arka mengangkat wajah.
"Pak Thom pernah mengatakan bahwa tidak semua orang yang terlihat bersalah benar-benar bersalah. Dan tidak semua orang yang terlihat tidak bersalah layak dipercaya."
Kalimat itu membuat Arka teringat kembali pada pesan terakhir Pak Thom di gudang.
Orang yang paling dekat denganmu bisa menjadi orang yang paling kau takuti.
Lelaki itu menunduk hormat sebelum berjalan meninggalkan mereka.
Arka tetap berdiri di samping mobil, menggenggam buku catatan tersebut erat-erat.
Sara mendekat.
"Kau akan membukanya sekarang?"
Arka memandangi sampul usang itu.
"Aku tidak tahu apa yang akan kutemukan di dalamnya."
"Kalau begitu, mari kita membacanya bersama sedikit."
Arka menoleh kepadanya.
"Sara, ini mungkin berbahaya."
Sara mengangkat dagunya, menatapnya dengan tegas.
"Aku tahu. Tapi aku sudah terlibat sejak awal, Arka. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi semuanya sendirian."
Untuk sesaat, Arka kehilangan kata-kata.
Kemudian ia mengangguk pelan.
"Baiklah. Kita baca bersama."
Ia membuka sampul buku itu.
Pada halaman pertama, di antara tulisan tangan Pak Thom yang berantakan, terdapat satu kalimat yang membuat napas Arka tertahan.
“Jika buku ini sampai ke tangan Tuan Arka Khontacron, berarti aku sudah gagal menghentikan mereka.”
Di bawah kalimat tersebut, terdapat daftar nama.
Nama orang yang menghilang dari Desa Sagara.
Namun, di bagian paling bawah halaman, ada satu nama tambahan yang ditulis dengan tinta merah.
Nama itu bukan nama orang yang hilang.
Itu adalah nama seseorang yang masih hidup.
Tiara Chenzae.