"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Traktiran
Suasana di dalam ruang sidang terasa begitu tenang dan hening. Cahaya matahari pagi menembus celah gorden, memantulkan keseriusan di wajah tiga dosen penguji yang duduk berjejer di depan Zahira.
Namun, di antara ketiganya, ada sosok Pak William Samudra, dosen muda berpenampilan rapi dengan kacamata berbingkai tipis yang sejak awal presentasi menatap Zahira dengan binar ketertarikan yang amat dalam.
Rasa kagum itu sebenarnya sudah lama tertanam di benak Samudera, mengamati ketekunan dan kecerdasan Zahira selama di kelas, meski ia selalu menyimpannya secara profesional.
Zahira menghembuskan napas lega di akhir paparannya. Ia sangat bersyukur, setiap pertanyaan tajam dan kritikan dari para penguji sanggup ia jawab dengan lugas, tenang, dan tepat sasaran.
"Selamat, Zahira. Presentasi dan penguasaan materimu sangat memuaskan," ujar Pak Samudera mengakhiri sesi. Dosen muda itu berdiri, mengulurkan tangannya seraya mengukir senyum hangat.
"Kamu lulus dengan hasil yang sangat baik."
Zahira menyambut uluran tangan itu dengan santun. "Terima kasih banyak, Pak Samudra."
Begitu keluar dari pintu ruang sidang dengan senyum merekah, ketiga sahabatnya langsung mengerubunginya. Hanum dan Gisel yang sempat mengintip dari balik kaca jendela tak melewatkan momen singkat tersebut.
"Ehem! Ada yang diistimewakan nih kayaknya!" goda Hanum seraya mencolek pinggang Zahira. " Tatapan Pak Sam tadi tajam banget ya, tapi kok pas ngasih selamat senyumnya manis amat?"
"Iya tuh! Aku ngeliat sendiri ya, Pak Sam natap kamu beda banget dari pas nguji mahasiswa lain," timpal Gisel mengedipkan matanya. "Fix sih, ada yang diam-diam kagum!"
Pipi Zahira seketika merona tipis. Ia mengibaskan tangannya tersipu malu. "Ah, kalian ini ngomong apa sih... Pak Samudra cuma bersikap profesional kok."
"Profesional apa profesional, Ra?" kelakar Dimas yang ikut melipat tangan seraya tertawa, membuat rona merah di wajah Zahira makin berbekas.
Di tengah godaan sahabat-sahabatnya, Vidi melangkah maju. Tanpa aba-aba, remaja itu memeluk erat tubuh kakaknya. Rasa haru dan bangga terpancar jelas dari matanya.
"Selamat ya, Kak Zahira," panggil Vidi seraya mengurai pelukan dan menatap wajah kakaknya. "Vidi bangga banget sama Kakak. Vidi juga mau pintar dan hebat kayak Kak Zahira."
"Aamiin! Pasti bisa, Vidi!" sahut Gisel, Hanum, dan Dimas kompak bersama Zahira, mengaminkan doa tulus dari remaja tersebut.
.
.
.
Selesai dari acara sidang, mereka semua beranjak menuju rumah makan yang berlokasi tak jauh dari area kampus.
Suasana rumah makan yang ramah dan sejuk menjadi tempat merayakan keberhasilan Zahira hari ini. Zahira dengan senang hati mentraktir mereka semua atas pencapaian besar yang baru saja ia raih.
Sangat hafal dengan selera sang adik, Zahira memesankan menu favorit Vidi sate ayam tanpa bumbu pedas lengkap dengan jus alpukat kesukaan adiknya tanpa perlu ditanya.
Melihat ketampanan Vidi yang beranjak remaja, Gisel dan Hanum mulai mengalihkan pandangan.
"Duh, Vidi... kamu kalau makin gede gantengnya enggak ketulungan kayanya ya? Muka kamu itu mirip-mirip artis Korea tahu enggak," celetuk Hanum mengagumi garis wajah adik Zahira itu.
"Iya nih, pasti di sekolahnya banyak penggemarnya," goda Gisel menyikut lengan Hanum.
Vidi yang baru berusia 14 tahun hanya tersenyum tipis dan menyahut dengan sopan. Meski digoda, sikapnya begitu santai dan menghormati para sahabat kakaknya.
Di dalam hatinya, Vidi sangat bersyukur karena sang kakak dikelilingi oleh orang-orang yang tulus dan peduli.
Vidi memandang Gisel, Hanum, dan Dimas secara bergantian dengan raut serius namun hangat. "Kakak-kakak semua... Vidi mau titip pesan ya. Tolong jagain Kak Zahira terus. Tolong ada buat Kakak kalau Vidi lagi enggak bisa mendampingi."
Kata-kata yang keluar dari mulut remaja 14 tahun itu terdengar begitu dewasa dan sarat akan kasih sayang.
Zahira yang mendengarnya seketika berkaca-kaca. Dadanya berdesir haru. Tanpa mampu menahan perasaan, Zahira langsung merengkuh dan memeluk adik kecilnya itu erat-erat.
"Makasih ya, Dek..." bisik Zahira terharu di bahu adiknya.
Melihat suasana yang mendadak penuh haru dan air mata bahagia, Dimas langsung mengambil alih suasana. Ia menepuk dadanya bergaya dramatis.
"Tenang Vidi, tenang! Sebagai pria paling tampan nomor dua setelah kamu di meja ini, Kak Dimas bakal jadi benteng terdepan buat jaga Kakak kamu! Tapi syaratnya satu... sate ayam kamu boleh Kakak minta satu tusuk enggak?"
Gurauan spontan Dimas seketika memecahkan suasana haru. Suasana di meja makan itu pun berubah riuh oleh kelakar tawa hangat mereka semua, merayakan kebahagiaan Zahira dengan penuh kebersamaan.
.
.
Kehangatan di rumah makan sore itu perlahan berganti menjadi senja yang redup. Setelah berpisah dengan Hanum, Gisel, dan Dimas di depan gerbang kampus.
Zahira dan Vidi melangkahkan kaki menyusuri trotoar menunggu Taksi yang lewat. Angin sore bertiup lembut, membawa aroma tanah basah sisa gerimis kecil.
Vidi berjalan seraya merangkul bahu kakaknya, sebuah kebiasaan sederhana yang selalu membuat Zahira merasa dilindungi, meski usianya jauh lebih tua.
"Kak," panggil Vidi pelan, memecah keheningan di antara deru kendaraan yang melintas.
"Ya, Dek?" Zahira menoleh, menatap garis wajah adiknya yang tersiram cahaya jingga matahari terbenam.
"Mulai besok, Kakak udah nggak perlu pusing mikirin revisi, kan? Udah nggak ada lagi malam-malam tidur cuma dua jam gara-gara ngerjain skripsi?"
Zahira terkekeh pelan, mengingat masa-masa kritis perjuangan skripsinya. "Iya, Vidi. Tugas kuliah Kakak resmi selesai. Tinggal nunggu jadwal wisuda aja."
"Bagus deh," gumam Vidi dengan senyum tipis. "Soalnya Vidi kasihan ngeliat Kakak pucat terus tiap pagi."
Zahira tersentuh. Ia mengusap lengan adiknya hangat. Namun, sebelum ia sempat membalas ucapan Vidi, sebuah mobil sedan hitam berhenti perlahan tepat di samping trotoar tempat mereka berdiri. Kaca mobil di sisi pengemudi bergerak turun.
Zahira sedikit terkejut saat mengenali sosok di balik kemudi.
Pak Samudra.
Dosen muda itu melepas kacamata berbingkai tipisnya, menyisakan tatapan teduh yang kini tak lagi tertutup wibawa ruang sidang. Senyum ramah menghiasi wajahnya.
"Zahira? Belum pulang?" tanyanya dengan nada suara yang hangat dan tenang.
Zahira refleks merapikan jilbab instanya yang tertiup angin. "Eh, Pak Samudra. Iya, Pak, ini sedang menunggu taksi sama adik saya."
Pandangan Samudra beralih ke arah Vidi. Ia mengamati remaja di samping Zahira sejenak, lalu mengangguk penuh rasa hormat.
"Ini Vidi, ya? Zahira sering menceritakan tentang kamu dan ketekunanmu di sekolah."
Vidi yang sejatinya pemalu, maju satu langkah lalu mengangguk santun. "Sore, Pak. Iya, saya Vidi."
"Sore, Vidi," balas Samudra. Tatapannya kembali mengarah pada Zahira. Ada jeda singkat di mana atmosfer di antara mereka terasa sedikit berbeda lebih pribadi, meninggalkan kesan kaku antara dosen dan mahasiswa.
"Cuaca sepertinya mau hujan deras lagi," ujar Samudra seraya melirik langit yang kian menggelap. "Arah rumah kita sepertinya searah. Mari saya antarkan sekalian."
Zahira mendadak merasa canggung. Ia teringat godaan Hanum dan Gisel siang tadi, yang membuat pipinya kembali terasa sedikit hangat. "Duh, tidak usah, Pak. Terima kasih banyak. Kami sedang nunggu taksi kok, lagipula takut merepotkan Bapak."
"Sama sekali tidak merepotkan, Zahira," potong Samudra lembut namun tegas.
"Di luar ruang sidang, tadi saya mohon maaf ya. Saya hanya bersikap professional... Kalau sudah di luair anggap aja saya temen kamu."
Vidi melirik kakaknya, lalu menatap Pak Samudra. Remaja cerdas itu bisa menangkap binar berbeda dari cara sang dosen menatap kakaknya, tatapan yang dipenuhi rasa hormat sekaligus ketertarikan yang halus.
"Boleh deh, Pak. Makasih banyak ya," sahut Vidi tiba-tiba, membuat Zahira menoleh kaget ke arah adiknya.
"Vidi..." bisik Zahira tertahan.
Vidi hanya tersenyum polos tanpa dosa, lalu membukakan pintu belakang untuk kakaknya. "Ayo Kak, keburu hujan turun."
Samudra tersenyum tipis melihat interaksi sibling tersebut. Ia membukakan kunci pintu dari dalam. "Silakan masuk."
Sepanjang perjalanan, gerimis akhirnya turun membasahi kaca mobil. Di dalam kabin yang hangat dan beraroma kayu cendana itu, alunan musik klasik mengalir pelan.
Percakapan mengalir begitu alami—membahas rencana masa depan Zahira, dunia kerja, hingga impian Vidi yang ingin masuk ke sekolah menengah favorit.
Dari kaca spion tengah, mata Samudra beberapa kali bertaut dengan pandangan Zahira. Tidak ada batasan yang dilanggar, hanya sebuah awal baru dari hubungan yang kini tak lagi terikat oleh dinding akademis.