Bagi dr. Alunar Abya Manggala (23 tahun), bertugas di pedalaman Kalimantan adalah pembuktian lepas dari nama besar ayahnya, Komjen Pol. Faza Idam Manggala. Namun, idealisme dokternya diuji saat ia nekat ingin menerobos jalur merah perbatasan demi menyelamatkan warga yang kritis.
Bagi Kapten Infanteri Sagara Danendra (28 tahun), aturan lapangan adalah harga mati. Mengemban tanggung jawab berat sebagai Danki Satgas sekaligus Danposkotis di Nunukan.
"Tugas saya menyelamatkan nyawa, Kapten!" protes Alunar sengit.
"Dan tugas saya memastikan Anda tetap hidup untuk melakukan tugas itu, Dokter Alunar! Di sini, Anda ikuti aturan main saya,” balas Sagara tidak kalah sengit.
Ketegangan makin memuncak ketika jalur perbatasan memanas oleh jaringan kriminal internasional yang sedang diburu lembaga yang dipimpin ayah sang gadis, yang tidak lain sosok laki-laki paling dibenci Sagara. Laki-laki yang menyebabkan ayah Sagara meninggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 Siap Membuatmu Gila, Kapten
Tim sidak menyudahi pemeriksaan berkas dokumen sebelum masuk Magrib. Kecuali Arjuna, mereka sudah kembali ke hotel yang sudah disiapkan oleh pemerintah pusat.
“Waaah, ternyata di tempat ini ada dokter tampan. Saya kira hanya kapten Sagara saja yang paling tampan.”
Suara kagum dengan keberadaan Arjuna membuat keberadaan Sagara sedikit terlupakan. Arjuna sengaja masih berada di markas untuk membantu Alunar.
“Apakah dokter sudah punya calon istri? Jika belum, saya ingin mengajukan lamaran untuk putri saya.”
Hahahaha…
Alunar langsung tertawa saat Arjuna ditodong lamaran oleh warga setempat. Entah sudah berapa ibu-ibu maupun perempuan yang mengharapkan Arjuna menjadi menantu atau pasangan hidup mereka.
“Belum, Bu. Tapi, saya sudah memiliki tambatan hati,” tolak Arjuna sambil melirik sekilas ke Alunar yang masih tertawa geli.
“Beruntung sekali perempuan yang mampu mendapatkan hati dokter tampan.”
“Bukan perempuan itu yang beruntung, Bu. Justru saya lah yang beruntung jika berhasil mendapatkannya. Karena dia paket komplit yang memiliki semua yang saya harapkan. Karena dia gadis luar biasa,” tutur Arjuna yang lagi-lagi melirik Alunar.
“Waah, ternyata calon dokter tampan sosok perempuan luar biasa. Jadi, minder sayanya.”
“Memang benar dia sosok luar biasa,” lirik lagi Arjuna ke Alunar entah ke berapa kalinya.
“Mohon doanya agar saya mampu mendapatkan hatinya,” ucap jujur Arjuna.
“Saya yakin dokter tampan akan mendapatkan cinta dari sosok luar biasa itu.”
“Aamiin. Selamat malam.”
“Selamat malam, pak dokter tampan.”
Setelah obrolan singkat pada pasien Alunar yang mengidap penyakit Diabetes Melitus. Kini, Arjuna berjalan menghampiri Alunar.
“Ternyata Mas gantengku ini sudah memiliki tambatan hati?” Arjuna hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Alunar.
“Kok aku gak tahu. Siapa, Mas? Aku kenal tidak?” tanya Alunar penasaran saat Arjuna membalas dengan anggukan.
“Widih, siapa Mas? Dokter juga?”
Lagi-lagi Arjuna menjawab dengan anggukan. Membuat rasa penasaran Alunar semakin memuncak.
“Nanti kamu juga tahu.”
“Ih, main rahasia-rahasiaan.”
Hahaha…
Tawa Alunar dan Arjuna kembali terdengar hingga menembus ruang komando tempat Sagara dan Arisandhi berada. Kedekatan antara keduanya membuat hati Sagara terbakar cemburu.
“Kabar keluarga di kampung, bagaimana, Mas? Lebaran gak sempat pulang, karena harus jaga di rumah sakit,” tanya Alunar penasaran.
“Alhamdulillah sehat. Nenek Kenang titip salam untukmu.”
“Benarkah?”
“Heam,” jawab Arjuna mengangguk sambil menatap dalam kedua mata Alunar.
“Keluarga Kakek Abraham itu orang hebat-hebat. Aku bersyukur hidup di lingkungan orang-orang hebat.”
“Kalau kamu pulang ke Jakarta. Nenek ingin bertemu langsung denganmu?”
“Benarkah?”
“Iya.”
“Aku lama gak ketemu nenek Kenang. Selain cantik, beliau orangnya lembut. Beda banget sama Kakek Abraham yang orangnya tegas. Padahal beliau adik kakak.”
“Iya, sangat lembut sekali,” jawab Arjuna yang lagi-lagi memandang memuja pada Alunar. Entah menanggapi sosok neneknya atau justru kata-kata itu ditujukan untuk Alunar.
AHEM!
Suara deheman dari arah belakang menghentikan obrolan hangat Alunar dan Arjuna.
“Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, dokter. Anak buah saya akan mengantar Anda ke hotel.”
Suara berat dan serak menahan amarah terdengar jelas di telinganya Arjuna. Bukannya marah karena waktu bersama Alunar terganggu. Justru senyum di wajah tampannya semakin lebar.
“Terima kasih banyak atas fasilitas yang Anda berikan, Kapten. Tapi, izinkan saya untuk lebih lama di tempat ini.”
“Pratu Maruli akan mengantar Anda selamat sampai ke tempat penginapan, dokter. Tolong jangan membuat repot anak buah saya karena ketidakprofesionalan Anda.”
Lagi-lagi Arjuna memberikan senyumnya pada Sagara. Senyum yang dimata Sagara adalah bentuk sebagai perlawanan tersembunyi.
“Sebagai tim sidak, jelas Anda tahu aturan resmi birokrasi dan medis yang harus ditaati. Jangan hanya karena Anda mengenal baik dokter Alunar. Membuat Anda mengabaikan profesional. Apakah saya harus menjelaskan kepada Anda tentang kode etik ini?”
Nada penuh penekanan menandakan jika amarah itu hampir meledak. Karena tidak ingin terjadi keributan di pos. Alunar berinisiatif untuk menjadi penengah. Lagipula apa yang dikatakan oleh Sagara memang ada benarnya. Jika antara tim pengawas eksternal, memang harus menjaga jarak profesional.
“Mas balik saja ke penginapan. Apa yang diutarakan Kapten Sagara memang benar. Aku gak mau Mas kena teguran kepala tim. Karena Mas harus bekerja secara profesional.”
“Siap, kalau buat adik cantikku ini apapun akan mas lakukan,” balas Arjuna sambil mengusap lembut kepala Alunar yang tertutup hijab maroon.
“Selamat malam, dokter,” ucap cepat Sagara yang ingin Arjuna benar-benar pergi dari hadapannya.
“Selamat malam, Kapten. Maaf mengganggu waktu Anda.”
Sambil tersenyum menatap dalam Alunar. Kini Arjuna berjalan menjauh dengan ditemani Maruli.
“Sandhi!”
“Siap, Ndan.”
“Kawal dokter Arjuna sampai penginapan dengan selamat. Pastikan keamanan serta kebutuhannya. Aku tidak ingin wilayah Poskotis ini mendapatkan masalah.”
“Siap laksanakan, Ndan,” jawab Arisandhi sambil tersenyum. Jelas Arisandhi tahu maksud dari ucapan Sagara, yaitu mengawasi dan memastikan Arjuna agar tidak mengganggu kesenangan sang komandan.
Melihat Sagara sibuk dengan pengawalan untuk Arjuna. Membuat Alunar berjalan menjauh untuk menuju ke barak penginapan tempat dirinya tinggal.
“Lain kali jaga jarak. Jangan terlalu dekat!” ucap penuh peringatan Sagara hingga membuat Alunar menghentikan langkahnya lalu menatap Sagara.
“Maksudnya?”
Sagara membuang nafas untuk menenangkan rasa kurang nyaman di hatinya. Dirinya jelas tak ingin Alunar mencium amarahnya.
“Aku tidak ingin karena kedekatan kalian menimbulkan penilaian buruk terhadap sidak yang dilakukan. Aku ingin kamu bersikap profesional.”
“Apa?” tanya Alunar sambil mendekatkan telinganya.
“Aku ingin kamu bersikap profesional pada dokter Arjuna.”
“Apa?” tanya Alunar mencoba menaikkan intonasinya. Membuat Sagara tahu jika ada hal tersimpan di hati Alunar.
“Apakah aku harus mengulangi kata-kata mudah ini?” tantang Sagara yang kini membuat Alunar menatap dirinya sambil tersenyum.
“Profesional seperti apa yang Anda maksud, Kapten? Apakah profesional seperti perilaku Anda tunjukkan sepanjang hari ini terhadap dokter Arjuna?” tanya Alunar menatap kedua mata Sagara.
“Apa maksudmu, Alunar?”
Kini Sagara mencoba bersikap senormal mungkin. Tak ingin Alunar membaca rasa cemburu yang menyelimuti dirinya.
“Jujur, karena sikap aneh Anda terhadap dokter Arjuna sepanjang hari ini. Membuat saya bingung harus bersikap. Pakai acara mengirim Sertu Oka dan juga Lettu Arisandhi menjalankan tugas aneh,” gerutu Alunar sambil berjalan menjauh meninggalkan Sagara.
“Alunar! Apa yang kamu katakan barusan!” teriak Sagara berjalan cepat menyusul Alunar.
Perdebatan dan juga teriakkan Sagara menyusul Alunar. Mengalihkan perhatian Arjuna yang masih berdiri menunggu kedatangan mobil mengantarnya.
“Mari, silahkan masuk, dok!” Ucapan Arisandhi dari arah samping mengalihkan perhatian Arjuna dari Alunar yang bayangan tubuhnya sudah tak terlihat lagi.
“Apakah mereka selalu bersikap seperti itu?” tanya Arjuna.
Arisandhi langsung mengarah ke tempat yang ditatap oleh Arjuna. Mengerutkan keningnya seperti seseorang yang tidak paham arah pembicaraan Arjuna. Meskipun dirinya tahu pertanyaan itu ditujukan untuk Alunar dan Sagara.
“Maksudnya, dok?”
“Lupakan saja. Terima kasih banyak atas fasilitas yang disediakan, Letnan.”
Arjuna langsung masuk ke mobil dengan berbagai pertanyaan dan segala dugaan menyelimuti pikirannya. Hingga Arisandhi mampu membaca rasa cemburu yang menyelimuti diri Arjuna.
Hufff…!
“Akhirnya bisa istirahat sejenak dari drama cemburu Sang Komandan terhadap kedekatan dokter Alunar. Ntah hal konyol apa lagi yang akan terjadi esok,” ucap Arisandhi setelah mobil yang membawa Arjuna keluar dari markas.
Arisandhi langsung berpatroli malam menggantikan Sagara yang tengah mengejar sang pujaan hati. Sedang Alunar merasa kesal karena sikap Sagara yang enggan mengakui sifat dan perilaku tidak jelasnya hari ini.
“Dokter Alunar!” Teriakkan Sagara yang terdengar cukup kencang. Tentu mampu menghentikan langkah Alunar yang kini menatap tajam ke arahnya.
“Kapten, kenapa Anda harus teriak seperti itu malam-malam? Bisakah Anda memanggil saya tanpa berteriak?” geram Alunar dengan sikap Sagara yang makin hari semakin aneh.
“Tidak bisa saat kamu menjauh.”
Deg!
Alunar langsung mengawasi sekitar. Mencoba menetralkan detak jantungnya yang setiap hari semakin tidak beraturan.
“Sudah malam, Kapten. Saya izin istirahat.”
Tanpa menunggu balasan dari Sagara, Alunar berjalan menjauh dari laki-laki yang perilakunya semakin hari semakin aneh.
“Tolong jaga jarak dengan dokter Arjuna,” ucap cepat Sagara yang mampu menghentikan langkah kaki Alunar.
“Tolong bersikap profesional, dokter Alunar.”
Jika sebelumnya Alunar akan merasa kesal dengan sikap aneh Sagara. Justru kini dirinya tersenyum. Kini dirinya membalikkan badannya untuk menatap kapten tampan namun keras kepala dan dingin itu.
“Siap, saya akan berperilaku profesional saat bekerja. Tidak sulit bagi saya,” ucap Alunar penuh makna.
“Apakah ada hal lain yang ingin Anda sampaikan, Kapten Sagara yang Tampan?”
Ahem…
Sagara langsung berdehem saat mendengar panggilan manis Alunar untuknya. Mencoba menetralkan detak jantungnya yang tak baik-baik saja.
“Aku tidak ingin kamu memakai kerudung warna marun,” ucap Sagara sambil mengawasi sekitar.
“Apakah ada yang salah dengan warna marun? Aku sangat menyukainya.”
“Warna marun akan membuat tim bekerja tidak maksimal,” ucap asal Sagara yang tidak ingin kecantikan Alunar dinikmati laki-laki lain selain dirinya.
“Apakah ada larangan lain untuk saya?”
“Tidak ada, selamat malam. Selamat istirahat, Alunar.”
“Selamat malam dan selamat istirahat buat Anda, Kapten,” balas Alunar dengan mata berbinar, yang mampu menambah kecantikannya.
Kini, Alunar berjalan meninggalkan Sagara menuju barak tempat tinggalnya. Senyumnya berkembang dengan segala pemikirannya.
“Kalau Anda menginginkan saya bersikap profesional terhadap mas Arjuna saat bekerja. Baiklah akan aku lakukan. Tapi, hanya saat bekerja. Karena setelah selesai bekerja tentu berbeda, dan aku sangat yakin pasti kamu pasti menyukainya,” gumam Alunar yang sifat jahilnya mulai keluar.
Alunar bukanlah gadis bodoh yang tidak paham arah pembicaraan Sagara. Karena menganggap Sagara bersikap semaunya dan sering membuatnya kesal. Jadi, saat inilah waktu yang tepat untuk mengerjai Sagara dengan berbagai rencana konyol.
ya allah saga harga dr anda bnr" ya ckckcj
musuh siapa ini?
semangat ya Thor...
di tggu update selanjutnya...
kasian sekali kamu Sagara 🤭🤭🤭
silahkan berusaha Sagara 😄🤣🤣
aplikasi klau smpai luna th ms lalu ayah saga yg jg bertindak kurang baik ke ayah faza dl
ingt saga ada tour tunai,jgn slh lngkh hnya krna ego yg blm tentu bar knyataannya
benci jadi cinta iku....
nikmati saja, buang dendam nya Sagara ...
alunar gadis baik, dari klrga baik jg...
mpe kpn kamu seperti itu???
ak loch dah baca . ..
🤭🤭🤭
lanjut sj egomu gara
hingga penyesalan
bikin pingin ngetik kalau aja nih ank
lg pl ada crita knpa,ayah km dimutasi