NovelToon NovelToon
Takluk Oleh Kelembutannya

Takluk Oleh Kelembutannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hasanah Yoyoh

Demi memenuhi permintaan kakeknya yang sekarat, kamilah menikah cepat dengan pria acak yang ternyata musuh kakaknya, begitu tuan rizky syah mendapatkan dirinya, ia tak melepaskannya diadaptasi dari master syah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasanah Yoyoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: HADIAH DAN PENGAKUAN HATI

​Suasana di dalam kabin mobil sedan mewah milik Rizky Syah terasa begitu hangat, tenang, dan sangat kedap suara. Tempat ini seolah menjadi dunia kecil yang terpisah dari kekacauan masif yang baru saja terjadi di area luar vila. Setelah meninggalkan kerumunan pesta yang geger akibat insiden jatuhnya Dias Lin dari balkon lantai dua ke dalam kolam renang, Rizky dan Kamilah kini duduk berdampingan di kursi penumpang bagian belakang.

​Kamilah membetulkan posisi duduknya yang agak serba salah. Gadis itu menatap pria tegap di sampingnya dengan raut wajah jengkel, tetapi di balik sorot matanya, ada selipan kekhawatiran yang sangat dalam dan tak mampu ia sembunyikan sepenuhnya.

​"Kamu ini sebenarnya sudah gila ya, Kak?!" omel Kamilah dengan nada gemas sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. "Coba kamu bayangkan sebentar! Kalau di bawah sana tadi tidak ada kolam renang, dia bisa cacat seumur hidup atau bahkan mati! Bagaimana kalau keluarga Lin tidak terima lalu menuntutmu ke jalur hukum?!"

​Rizky Syah yang sedang merapikan lipatan kemeja mewahnya justru menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya. Pria tegap itu miringkan tubuhnya, menatap Kamilah dengan sorot mata jahil yang menggoda.

​"Kenapa, Kamilah? Kenapa kamu terlihat sekhawatir ini padaku?" tanya Rizky dengan nada suara rendah yang sangat seksi.

​Kamilah dengan cepat membuang mukanya ke arah jendela mobil, mendengus gengsi demi menutupi rasa canggungnya. "T-tidak sama sekali! Untuk apa aku harus mengkhawatirkan pria arogan sepertimu? Kamu kan Rizky Syah... orang-orang seperti mereka di luar sana bahkan tidak punya kualifikasi yang cukup hanya untuk sekadar bertemu atau berjabat tangan denganmu. Mana mungkin pria-pria kecil seperti mereka bisa melukaimu?"

​Mendengar kalimat pertukaran yang keluar dari bibir Kamilah, kepercayaan diri Rizky Syah mendadak membumbung tinggi. Pria tegap itu tersenyum makin lebar dan penuh percaya diri, lalu mendekatkan posisi duduknya hingga mengikis jarak di antara mereka.

​"Jadi... tadi Kakak terlihat keren tidak di matamu?" tanya Rizky Syah dengan senyum percaya diri yang sangat kentara.

​Kamilah melirik sekilas dari sudut matanya, lalu dengan cepat memalingkan wajahnya lagi ke arah luar jendela demi menyembunyikan ukiran senyum tipis yang tak sadar terkembang di bibirnya. "Biasa saja," sahutnya singkat dan dingin.

​Rizky terkekeh pelan. "Bahkan... keras sekali ya mulutmu ini," goda Rizky Syah.

​Tanpa ragu sedikit pun, Rizky mengulurkan jemarinya yang tegap dan menowel dagu mulus Kamilah secara lembut, memaksa gadis itu untuk kembali menatap lurus ke dalam manik matanya.

​Kamilah menepis pelan jemari Rizky dengan wajah yang mendadak memerah padam. "A-apa yang sedang kamu bicarakan, sih?!"

​"Keras atau tidak mulutmu ini... biar kucicipi saja sendiri sekarang," bisik Rizky Syah dengan tatapan yang sangat intens.

​Sebelum Kamilah sempat menarik napas untuk memprotes, Rizky Syah sudah memajukan tubuhnya dan langsung mencium bibir Kamilah dengan dalam, hangat, dan manis. Ciuman itu berlangsung beberapa saat, membakar sensasi mendesis di antara mereka sebelum akhirnya Rizky menarik kembali wajahnya secara perlahan.

​Kamilah mengusap permukaan bibirnya dengan wajah merona hebat, menatap Rizky dengan pandangan jengkel. "Kamu ini... perbuatan kasar dan memaksamu ini juga namanya menggangguku, tahu tidak?!"

​Rizky Syah terkekeh pelan, mengusap puncak kepala Kamilah dengan penuh kelembutan. "Ini berbeda, Kamilah. Bukankah kamu sebenarnya sangat suka bila memperlakukanmu seperti ini? Ini adalah apa yang sangat kamu sukai di dalam hatimu. Berarti ini sama sekali bukan bentuk gangguan... tapi ini dinamakan kemesraan."

​Kamilah memutar bola matanya pasrah, membuang napas berat. "Kamu selalu saja punya seribu alasan untuk bersilat lidah. Terakhir kali setelah bicara ngawur dan membuat hatiku gelisah di koridor restoran, kamu malah langsung menghilang begitu saja tanpa ada kabar!"

​Rizky menyipitkan matanya tajam. "Siapa bilang aku menghilang?"

​"Bukankah memang begitu kenyataannya?" sergah Kamilah membela diri. "Sejak pagi tadi kamu sama sekali tidak menghubungi atau memberiku kabar!"

​Rizky menyunggingkan senyum misterius yang sukar diartikan, lalu memiringkan kepalanya. "Kamilah... permenmu sudah kamu habiskansemua, kan?"

​Kamilah mengerutkan dahinya bingung. "A-apa maksudmu?"

​"Kemarin kamu makan tiga permen. Kemarin lusa dua permen, dan tiga hari yang lalu kamu makan empat permen," ujar Rizky Syah sangat lancar, menyebutkan angka demi angka secara terperinci. Pria itu menatap Kamilah tajam. "Mau kamu lanjutkan lagi kebiasaan makan manisan untuk melupakan rasa sakitmu itu?"

​Mata Kamilah membelalak lebar, rasa terkejut dan kaget yang luar biasa menghantam dadanya. Bagaimana bisa pria ini mengetahui jumlah permen yang ia makan secara sangat mendetail di dalam kamarnya sendiri?!

​"B-bagaimana bisa kamu tahu hal semembingungkan itu?!" seru Kamilah dengan suara kencang dan panik. "Dasar maniak penguntit!"

​Rizky Syah tidak marah sedikit pun dipanggil sebagai penguntit. Pria itu justru mengulurkan tangannya yang hangat, mengusap lembut pipi Kamilah yang merona merah. "Kamilah tidak suka kalau aku mengawasimu? Jangan pernah berbohong padaku... karena kalau kamu berbohong, akan ada hukumannya."

​Apanya sih? Selalu saja menggunakan ancaman dan intimidasinya untuk mengendalikanku... batin Kamilah jengkel di dalam hatinya.

​Namun, saat usapan lembut jemari tegap Rizky terasa kian hangat dan Protektif di pipinya, benteng pertahanan batin Kamilah mendadak luluh secara perlahan. Tatapan dominan namun sarat akan perlindungan mutlak dari Rizky terasa mengurung seluruh jiwa dan pikirannya.

​Dibandingkan dengan Ayah yang hanya berpura-pura peduli dan bersikap manis di depan orang lain... perhatian yang penuh keandalan dan posesif seperti inilah yang melingkariku dengan erat sampai terasa sedikit sesak. Namun anehnya... perhatian posesif dari Rizky inilah yang justru membuatku benar-benar merasa dicintai dan dihargai sebagai manusia... desah Kamilah pasrah di dalam lubuk hatinya yang paling dalam.

​Melihat perubahan sorot mata Kamilah yang mulai pasrah dan perlahan meleleh di dalam genggamannya, Rizky Syah tersenyum sangat hangat.

​"Anak pintar... karena kamu penurut hari ini, akan kuberi kamu sebuah hadiah," bisik Rizky Syah dengan suara yang teramat memanjakan. "Cium aku."

​Kamilah seketika melotot lebar mendengar permintaan ajaib dan tidak tahu malu dari pria di hadapannya ini. "I-ini... ini sebenarnya hadiah untukku atau hadiah untuk dirimu sendiri, sih?!"

​"Hadiah untuk kita berdua," balas Rizky Syah tanpa memberi celah sedikit pun.

​Pria itu langsung menundukkan kepalanya dan kembali mencium bibir Kamilah dengan teramat intim dan dalam. Kali ini, Kamilah tidak lagi mendorong dada bidang pria itu. Gadis itu perlahan memejamkan kedua matanya, membalas ciuman hangat tersebut di dalam keremangan interior mobil mewah yang terparkir tak jauh dari vila.

​Sementara itu, di area luar mobil, suasana pelataran parkir vila tampak agak riuh dan mencekam.

​Elisa berjalan tergesa-gesa menyusuri deretan mobil mewah yang terparkir rapat, didampingi oleh seorang pria tegap berwajah tampan, tegas, dan memancarkan aura wibawa yang amat pekat—Roya Ye, kakak kandung Kamilah yang baru saja resmi tiba di pesta tersebut.

​"Ada beberapa tamu yang bilang melihat Kamilah berjalan cepat dan terburu-buru ke arah pelataran parkir ini tadi," kata Elisa sambil menyapu pandangannya ke sekeliling area parkir yang agak remang-remang.

​Roya Ye menggerakkan rahang tegasnya, raut wajahnya dipenuhi amarah yang membara setelah mendengar laporan ringkas bahwa adik kesayangannya hampir saja menjadi korban pelecehan dari teman sesama klan kaya.

​"Sialan!" umpat Roya Ye dengan suara dingin dan penuh penekanan yang menusuk. "Si Dias Lin itu... berani-beraninya dia mencoba mengganggu, menyentuh, dan menindas adik kesayanganku!"

​Roya Ye mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga urat-urat di tangannya menonjol jelas. Ia melangkah makin dekat menuju deretan mobil tempat keberadaan sedan hitam mewah milik Rizky Syah...

1
Hasanah Yoyoh
bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!