NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Musuh Bebuyutan

Menikah Dengan Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).

Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).

Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.

Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.

Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Drama Pagi Hari 18.

Sinar matahari pagi menerobos celah gorden, membawa kehangatan yang perlahan mengusir sisa dingin malam. Di dalam rumah yang hanya dihuni oleh mereka berdua, keheningan itu mendadak terasa begitu pekat.

Ulfa mengerjapkan matanya. Kesadarannya belum pulih sepenuhnya saat ia merasakan sebuah lengan kokoh melingkar erat di pinggangnya. Napas hangat yang teratur berembus di tengkuknya, mengirimkan jenggala getaran asing yang langsung membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.

Ulfa menoleh ke belakang, gadis itu mulai linglung di detik pertama.

Mulai merangkum di detik kedua.

Dan didetik berikutnya...

"KYAAAAAAA!! LANGIT, LO NGAPAIN, ANJIR?!"

Suara cempreng Ulfa memecah keheningan pagi. Tanpa aba-aba, ia menyambar bantal di bawah kepalanya dan menghantamkannya tepat ke wajah cowok yang masih memejamkan mata di sampingnya.

BUK!

"Aduh! Apaan sih?!" Langit mengerang, langsung terduduk dengan rambut acak-acakan dan mata yang menyipit karena silau serta rasa terkejut. Nyawanya baru terkumpul separuh, jantungnya bertalu hebat. Tapi sebuah bantal guling sudah kembali melayang dan mendarat mulus di dadanya.

"Lo modus kan?! Cari kesempatan dalam kesempitan! Ngaku gak lo?!" tuduh Ulfa. Ia langsung menarik selimut hingga sebatas dada, memasang wajah sedih sebagai tameng, lalu menatap Langit seolah cowok itu baru saja melakukan kejahatan internasional.

Mukanya langsung memerah sempurna—antara malu, kesal, dan panik karena ini pertama kalinya mereka tidur seranjang dan berakhir dengan posisi seintim itu.

Langit mengusap wajahnya kasar, mencoba mengusir rasa kantuk yang mendadak hilang digilas histeria pagi hari. "Modus pala lo peyang! Siapa juga yang cari kesempatan? Tahu gini mending gue tidur di sofa!"

"Terus tadi itu apa? Tangan lo?!... Tangan lo ngapain meluk-meluk gue kayak guling?!" Ulfa menunjuk-nunjuk Langit dengan telunjuk yang gemetar. "Gak usah mengelak. Jelas-jelas lo yang meluk gue duluan!"

Langit menghela napas panjang, menatap Ulfa dengan tatapan malas khas orang baru bangun tidur. Namun, penuh dengan pembelaan diri. "Heh, denger ya, Nona Ulfa yang terhormat. Gak usah sok jadi korban. Semalam itu cara tidur lo rusuh banget, tahu gak? Lo muter sana-sini kayak gasing, nendang kaki gue, terus puncaknya lo mimpi idol lo dan melipis ke sebelah gue. Gue itu cuma nahan lo biar lo gak jatuh dari kasur, terus lo sendiri yang meluk gue duluan karena lo pikir gue ini Jung-kook!"

"Boong! Fitnah! Mana ada gue tidur kayak gitu!" sanggah Ulfa keras kepala, meskipun dalam hati ia mulai goyah. Ia tahu betul reputasi tidurnya yang memang agak "ajaib" jika sudah kelelahan, tapi ego remajanya menolak untuk kalah.

"Gak percaya? Nih, liat lengan gue!" Langit menyodorkan lengan kirinya yang memerah. "Ini bekas cakaran lo pas gue coba lepas pelukan bringas lo semalam. Lo tuh kalau tidur egois banget, bener-bener gak ramah lingkungan. Gue yang rugi lahir batin di sini, masih bagus gak gue tendang lo ke lantai!"

Ulfa menatap bekas kemerahan di lengan Langit. Sial, itu memang mirip bekas kuku. Namun, gengsi mengalahkan segalanya. "Ya... ya tetep aja! Harusnya lo bangunin gue, atau lo pindah ke sofa! Bukannya malah ikutan meluk sampai pagi! Lo sengaja kan memanfaatkan situasi?"

"Pindah ke sofa dalam kondisi ngantuk berat setelah begadang ngerjain PR sambil diawasi orang tua? Yang bener aja!" Langit mendengus, lalu menyibak selimutnya dan turun dari tempat tidur. "Terserah lo mau mikir apa. Yang jelas, gue gak minat sama sekali modusin cewek yang kalau tidur mangap kayak lo."

"LANGIIIIIT! GUE GAK MANGAP YA!" teriak Ulfa, melempar bantal terakhir yang tersisa di kasur, namun Langit dengan sigap menghindar sambil tertawa mengejek sebelum melangkah masuk ke kamar mandi.

Drama pagi itu menyisakan kecanggungan yang kentara saat mereka duduk di meja makan. Ulfa sibuk mengoleskan selai ke rotinya dengan kekuatan penuh, seolah-olah roti itu adalah wajah Langit. Sementara Langit duduk di hadapannya, menyesap susu hangat dengan ekspresi tenang, seolah badai beberapa puluh menit lalu tidak pernah terjadi.

Namun, di balik ketenangan itu, ada detak yang tidak biasa. Rumah ini terasa terlalu besar untuk mereka berdua, namun terasa terlalu sempit ketika mata mereka tidak sengaja beradu.

Ulfa mencuri pandang ke arah Langit yang kini fokus pada ponselnya.

Di sekolah, Langit adalah sosok yang dikagumi—rapi, tegas, dan berantakan. Namun di sini, di rumah ini, Ulfa melihat sisi lain Langit yang tidak pernah ditunjukkan pada siapa pun.

Langit yang berambut singa saat bangun tidur, Langit yang memakai kaus oblong kebesaran, dan... Langit yang semalam diam-diam menarik selimut untuk menutupi tubuh Ulfa yang menggigil karena AC.

Ulfa menghela napas kecil. Kemarahannya tadi pagi sebenarnya hanyalah tameng untuk menyembunyikan rasa gugupnya yang luar biasa. Gila saja, jantungnya masih berdegup kencang sampai sekarang hanya karena mengingat kehangatan pelukan cowok itu semalam.

"Habis ini berangkat jam berapa?" suara Langit memecah lamunan Ulfa.

"Jam enam lewat lima belas biasanya, gue mau ada rapat" jawab Ulfa ketus, masih mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya.

"Gak usah cemberut terus, nanti tambah jelek," ledek Langit datar, tapi ada binar jahil di matanya. "Gue yang bawa motor hari ini. Lo tunggu di depan pagar aja nanti setelah rapi."

"Gak usah, gue bisa naik ojek online," tolak Ulfa jual mahal.

Langit meletakkan gelas susunya, lalu menatap Ulfa lekat-lekat. Tatapan matanya mendadak berubah intens, membuat Ulfa menahan napas. "Gak ada ojek-ojekan. Kita berangkat bareng."

Ulfa mendengus kesal, menyuap potongan terakhir rotinya dengan kasar. "Diktator!"

Langit hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman kecil yang entah kenapa membuat perut Ulfa terasa seperti diaduk-aduk oleh ribuan kupu-kupu.

......................

...****************...

Tbc,

1
falea sezi
banyak bacot ini tua bangka🤣 cucu lu selingkuh woy goblok
falea sezi
uda jatuh talak. lo. ini
Alex
mampossssss lu ngit
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳
Alex
sukurin maknya jadi cowok itu tegas bertanggung jawab jngn pling plan, gemes deh
Alex
jahat bgts langit Sam zahra itu, pngen geplak
Alex
ya Allah sesakit ini rasanya jahat bgts loe sebagai cowok, karma apa yg akan menantimu
Alex
udahlah Thor, biar ketahuan aja, biar Ulfa bahagia kasihan nyesek terus tiap hari🤭
Rofiwan: done kak😃
total 1 replies
Alex
syedih tapi sweet🥰
Alex
nah bgus tor biar pikirannnya terbuka lebar🤭
Alex
pengen geplak pala langit ,boleh thor
Rofiwan: silahkan, tuh orang emang plin plan hahaha
total 1 replies
Alex
lnjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!