Reno selalu percaya bahwa tugas terbesarnya di dunia adalah bertahan hidup dan melindungi adiknya, meski harus mengubur luka masa kecilnya rapat-rapat.
Namun, ketika usahanya runtuh dan wanita yang dicintainya, Kareen, menuntut kepastian di tengah kegagalan, Reno dihadapkan pada pilihan terberat: memaksakan diri bertahan meski hancur, atau melepaskan demi menyembuhkan lukanya sendiri.
"Tunggu aku. Tapi kalau aku terlalu lama... menikahlah dengan orang yang bisa membuatmu bahagia."
Ketika masa lalu melukainya dan masa depan tak memberi kepastian, mampukah Reno menemukan kembali potongan dirinya yang hilang sebelum waktu benar-benar memisahkan mereka?
Sebuah kisah tentang luka masa kecil, impian yang patah, dan keberanian untuk memulihkan diri sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemeera_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Mempertahankan Keyakinan
Suara gemuruh mesin pemotong baja di lini A beradu dengan teriakan menggelegar dari sudut ruangan. Pagi baru saja berjalan satu jam, tetapi atmosfer di dalam gedung produksi sudah terasa panas.
Aku berdiri di dekat meja kontrol, memperhatikan Dion yang sedang mengintimidasi dua operator muda di lini C. Pria itu bertubuh tinggi tegap, mengenakan kemeja kerja yang tergulung hingga siku, dan membawa papan dada berisi lembaran target bulanan.
"Kerja kalian ini lambat sekali!" bentak Dion, suaranya menggelegar menembus kebisingan mesin. "Kalau dalam tiga puluh menit jumlah barang yang selesai tidak mencapai dua ratus unit, bonus harian kalian saya potong!"
Kedua pekerja itu menunduk dalam-dalam dengan wajah pucat. Tangan mereka bergetar saat berusaha mempercepat gerakan merakit komponen logam, sebuah tindakan berisiko tinggi yang justru bisa memicu kecelakaan kerja atau kerusakan barang.
Aku memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang. Pemandangan itu seperti melihat bayangan diriku sendiri beberapa bulan yang lalu—seorang penyelia yang berpikir bahwa rasa takut dan gertakan adalah satu-satunya cara untuk mengejar angka.
"Mas Reno ..." Doni mendekatiku dari samping, berbisik pelan dengan raut cemas. "Pak Dion dari tadi mondar-mandir di dekat lini kita. Katanya kalau kita tidak mau pinjamkan tiga orang pekerja senior ke pos dia, dia mau lapor ke manajer."
"Tenang, Don," jawabku dengan nada datar namun mantap. "Fokus saja sama tugas masing-masing. Jaga presisi pemotongan, jangan terburu-buru."
Belum sempat Doni kembali ke posnya, langkah kaki yang tegap dan tergesa-gesa menghampiri mejaku. Dion berdiri di hadapanku dengan pandangan menantang.
"Reno," panggilnya tanpa basa-basi. "Tim kamu terlalu santai. Saya butuh tiga orang pekerja terbaikmu untuk pindah ke lini C sekarang juga. Lini saya kejar tayang."
Aku menatap mata Dion dengan tenang, tanpa ada getaran emosi atau tatapan bermusuhan. "Tidak bisa, Dion. Lini A sedang mengerjakan pesanan khusus dengan spesifikasi ketat. Memindahkan tiga orang berarti mengacaukan pembagian fokus kerja dan meningkatkan risiko barang cacat."
Dion terkekeh sinis, menyilangkan tangan di dada. "Sok idealis. Kamu pikir ini sekolah keterampilan? Ini pabrik, Reno! Yang dinilai manajer itu angka produksi di akhir hari, bukan kenyamanan pekerja. Gaya kepemimpinan lunakmu ini cuma bikin anak buah manja."
Dulu, kata-kata meremehkan seperti itu pasti akan menyulut emosiku. Dulu, aku akan langsung membalasnya dengan bentakan atau membanting papan tugas. Namun hari ini, aku tidak lagi merasa perlu membuktikan harga diriku lewat amarah.
"Angka tinggi tidak ada artinya kalau tingkat retur barang akibat kerusakan juga tinggi, Dion," balasku lugas, suaraku tetap terkontrol. "Sesuai kesepakatan dengan Pak Bambang, kita lihat hasil evaluasi dua minggu ini berdasarkan data kinerja harian. Sekarang, tolong biarkan tim saya bekerja."
Dion menatapku tajam selama beberapa detik, terkejut melihatku tak terpancing sama sekali. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia berbalik dan melangkah pergi dengan gusar.
Doni dan beberapa anggota tim yang mengamati dari kejauhan bernapas lega. Aku menepuk bahu Doni pelan. "Ayo lanjut kerja. Buktikan lewat kualitas barang kita."
Malam harinya, setelah makan malam sederhana bersama Rayan dan memastikan adikku itu sedang menyelesaikan tugas sekolahnya, aku duduk di teras kecil kontrakan. Udara malam Jakarta terasa agak dingin setelah disiram hujan lokal sore tadi.
Aku mengambil ponsel, lalu mengetikkan pesan untuk Kareen. Sejak kejadian di Bandung, mengabarkan dinamika hariku padanya sudah menjadi rutinitas baru yang selalu kunantikan.
Reno: Malam, Kareen. Hari ini ujian pertamaku dengan Dion resmi dimulai. Dia berusaha menekan dan mengambil anggota timku secara sepihak.
Hanya dalam hitungan detik, balasan dari Bandung langsung masuk.
Kareen: Malam, Reno! Wah, langsung berhadapan di hari pertama? Lalu bagaimana reaksimu? Kamu tidak terpancing emosi, kan?
Sebuah senyuman tipis terukir di bibirku saat membayangkan wajah cemas Kareen di ujung telepon sana.
Reno: Tidak. Aku menolaknya dengan tenang dan pakai alasan teknis. Dulu mungkin aku bakal ajak dia berkelahi, tapi tadi aku ingat pesanmu. Kepemimpinan itu soal konsistensi, bukan gertakan.
Kareen: Luar biasa! Aku sampai menahan napas pas baca pesan pertamamu tadi haha. Kamu keren banget, Reno. Bertahan dengan caramu yang baru itu memang butuh keberanian dua kali lipat.
Reno: Ini semua juga karena ada orang di Bandung yang selalu ingatkan aku kalau aku sudah berubah. Terima kasih ya, Kareen.
Kareen: Sama-sama, Reno. Tapi ingat, persaingan dua minggu ini pasti bakal menguras energimu. Jangan lupa jaga kesehatan dan tetap luapkan kalau merasa lelah, ya. Jangan dipendam sendiri seperti dulu.
Membaca pesan perhatian dari Kareen membuat rasa lelah di pundakku menguap seketika. Percakapan kami berlanjut hingga larut malam—membahas strategi menghadapi tekanan di tempat kerja, obrolan ringan soal rencana kelanjutan sekolah Rayan, hingga impian-impian kecil yang dulunya tak pernah berani kuinginkan.
Sambil memandangi langit malam di atas rumah-rumah padat Jakarta, aku menyadari satu hal. Dunia di luarku mungkin masih keras dan penuh persaingan, tetapi di dalam diriku, kedamaian itu kini benar-benar ada. Dan aku siap mempertahankan keyakinan baru ini hingga akhir.