📍Update 🚥 16 : 16 WIB
Duabelas tahun lalu, Elfiana Putri (Elle) dikhianati oleh taruhan konyol cinta pertamanya, William Adinata (Liam). Kini, takdir membawa mereka kembali dalam sebuah pernikahan pura-pura demi sang Papa.
Di antara luka masa lalu yang belum sembuh dan kebenaran yang perlahan terkuak, bisakah Elle menjaga hatinya agar tidak hancur untuk kedua kalinya?
❣️ I write what I want to write. ❣️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18 - Heavy
Sudah dua hari berlalu sejak aku dan Liam memutuskan untuk menikah.
Kemarin, Papa Liam sudah sadar dan Liam juga sudah mengatakan kepada papanya bahwa kami setuju untuk menikah.
Weekend ini, kami berdua akan pergi ke Semarang untuk mengabarkan rencana pernikahan kami sekaligus meminta restu kepada orang tuaku.
Dan karena itu, pagi ini aku berangkat kerja dengan perasaan berat.
Sebentar lagi aku akan menikah.
Sebentar lagi aku akan menjadi istri Liam.
Sebentar lagi aku akan menikah dengan mantanku.
Benar-benar tidak pernah kusangka.
Setelah melepas helm dan membayar ojek online, aku masuk ke gedung kantorku.
Di deretan orang yang sedang menunggu lift, kulihat Aldi. Aku pun bergabung bersama mereka.
“Hai, Elle,” sapa Aldi.
“Hai...” jawabku lesu.
“Kamu kenapa, Elle? Sakit?” tanya Aldi.
“Nggak apa-apa.”
Tak lama kemudian, pintu lift terbuka.
Kami semua masuk ke dalam lift.
Lift pun bergerak naik.
Setelah beberapa kali berhenti di beberapa lantai, akhirnya pintu lift terbuka di lantai kantorku.
Aku dan Aldi langsung keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan kami.
“Pagi...” sapaku dengan suara masih lesu.
“Pagi...” jawab semua orang.
“Eh... Mama dan Papa berangkat bareng,” ucap Rendi.
Aku menatap Rendi sebentar, lalu berjalan menuju mejaku.
Sesampainya di meja, aku langsung merebahkan tubuhku.
“Kamu kenapa, Elle?” tanya Mona seraya mendekat.
“Nggak apa-apa,” jawabku.
“Apa... kamu masih kepikiran soal kamu dan dia?” tanya Mona sambil berbisik.
Aku mengangguk.
“Ayo, kita ke rooftop lagi,” ajak Mona.
Aku langsung menegakkan tubuhku.
Mona berdiri dan aku pun ikut berdiri.
“Eh, kalian mau ke mana?” tanya Bintang ketika kami berjalan menuju pintu.
“Ke toilet,” jawab Mona santai.
Kami pun keluar dari ruangan, lalu berjalan menuju rooftop.
Sesampainya di sana, Mona langsung menatapku.
“Elle, sekarang apa lagi?” tanyanya.
Dia kemudian menghela napas kecil.
“Oh iya, aku minta maaf soal yang waktu itu. Aku bukan berpihak sama Pak William. Aku cuma bilang yang sebenarnya. Terkadang mulut bisa bilang nggak, tapi hati bilang sebaliknya.”
“Iya, iya. Aku paham.” Aku menghela napas. “Aku cuma nggak bisa terima kalau misalnya suatu hari aku suka lagi sama Liam. Aku nggak mau terjebak di lubang yang sama.”
“Ya. Kalau setelah dikhianati memang susah untuk percaya lagi. Tapi kayak yang aku bilang kemarin, siapa tahu dengan menikah kamu bisa lihat bagaimana sebenarnya Pak William. Kalau ternyata dia memang kayak yang kamu pikirkan, bahkan lebih parah, terserah kamu mau melakukan apa. Aku akan tetap mendukungmu. Tapi kalau ternyata sebaliknya... aku nggak akan menyuruh kamu balikan sama dia. Mungkin kamu bisa bersikap berbeda dari sekarang atau bahkan memaafkan dia,” ucap Mona.
“Iya. Aku akan coba.” Aku menghela napas. “Kemarin papanya Liam udah sadar dan Liam juga udah bilang kalau kami akan menikah. Lalu weekend ini kami mau ke Semarang.”
“Ah... semoga lancar, ya. Semoga orang tua kamu juga merestui kalian,” ucap Mona.
“Entahlah...” Aku menatap kosong ke depan. “Rasanya aku bingung. Beberapa waktu lalu aku masih asyik dengan hidupku tanpa benar-benar mikirin pernikahan atau cowok. Lalu Aldi nyatain perasaannya, aku ketemu Liam lagi, dan sekarang aku malah mau menikah sama Liam.”
Aku terdiam sebentar.
“Sebenarnya apa yang Tuhan rencanakan buat aku? Skenario apa yang sedang Dia tulis buat aku?”
Mona ikut terdiam sebelum akhirnya menjawab.
“Aku nggak tahu apa yang sedang Tuhan rencanakan buat kamu. Tapi aku percaya rencana-Nya adalah yang terbaik buat kamu. Karena Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Meskipun mungkin kita nggak suka, bisa jadi justru itulah yang terbaik buat kita.”
“Apa menikah sama Liam itu yang aku butuhkan?” tanyaku. “Aku nggak butuh cowok yang udah khianatin aku.”
“Iya, iya. Tapi kita kan nggak tahu apa yang belum kita lihat,” jawab Mona.
Aku menghela napas.
“Aku mau nikah sama Liam. Hidup bersama Liam.” Aku menggeleng pelan. “Itu benar-benar nggak pernah ada dalam rencanaku. Bahkan nggak pernah terbayangkan sama sekali. Gimana hidupku nanti sebagai istrinya Liam?”
“Kamu sendiri bilang kalian akan menikah cuma satu tahun. Selama satu tahun itu, kamu nggak perlu langsung menganggap kamu benar-benar jadi istrinya.” Mona menatapku. “Menurutku, fokus aja dulu sama Pak William. Lihat dia sebenarnya kayak apa. Siapa tahu dari sana kamu bisa mulai membangun rasa percaya kamu ke dia lagi.”
“Kayaknya susah, Mon,” ucapku.
“Susah belum tentu nggak bisa dilakukan, kan?”
Aku kembali menghela napas.
“Kalau nanti aku nikah, kamu harus datang ke pernikahanku. Dampingi aku.” Aku menatap Mona. “Terus setelah itu kamu harus sering-sering ke rumah Liam buat nengokin aku.”
Mona tertawa kecil.
“Siap, Ibu Peri.”
Aku pun tersenyum.
Untuk beberapa saat, beban yang sejak tadi memenuhi kepalaku terasa sedikit lebih ringan.
Setelah itu, kami kembali ke ruangan kami.
“Kalian dari mana?” tanya Doni begitu kami masuk ke ruangan.
“Dari toilet,” jawabku.
“Oh... Elle, ayo kita ke ruang meeting. Kita perlu meeting sama divisi lain,” ucap Doni.
“Baik, Mas.”
Aku mengambil tablet dan buku catatanku, lalu mengikuti Doni menuju ruang meeting.
Saat kami sampai, semua orang sudah berkumpul. Aku dan Doni duduk bersebelahan.
Arman membuka laptopnya, kemudian menampilkan storyboard terbaru Ginsera di layar.
“Kita mulai dari storyboard revisinya,” ujar Arman. “Bagian yang kemarin mendapat catatan dari klien sudah kita sesuaikan. Coba kita lihat dari awal.”
Satu per satu halaman storyboard ditampilkan.
Aku memperhatikan setiap adegan sambil sesekali mencatat beberapa hal yang menurutku perlu diperhatikan sebelum disampaikan kembali kepada klien.
Setelah seluruh storyboard selesai dipresentasikan, Arman menatap kami.
“Dari creative, ada yang masih perlu ditambahkan?”
Raka menggeleng.
“Dari visual sudah aman.”
“Copy juga sudah final,” kata Sinta.
Fajar membuka catatannya.
“Kalau dari sisi produksi, kita tinggal menentukan tanggal shooting. Talent dan lokasi masih bisa kita sesuaikan dengan jadwal.”
Doni kemudian melihat ke arah Fajar.
“Kalau dari tim produksi sendiri, kapan paling ideal?”
“Kalau semua approval beres, Kamis paling aman. Tim punya waktu Selasa dan Rabu untuk final preparation.”
Arman mengangguk.
“Ada yang keberatan Kamis?”
Aku, Doni, Sinta, Raka, dan Fajar sama-sama menggeleng.
“Kalau begitu, kita targetkan Kamis,” kata Doni. “Elle, nanti kamu konfirmasi ke klien, ya. Sekalian sampaikan kalau dari internal kita siap shooting Kamis.”
Aku mengangguk.
“Oke.”
Meeting kemudian berlanjut sebentar untuk membahas beberapa kebutuhan teknis sebelum akhirnya selesai.
Setelah meeting selesai, kami kembali ke ruangan masing-masing.
Begitu duduk di kursiku, aku langsung mengirimkan pesan kepada Liam.
[ Tadi kami meeting dan sepakat kalau shooting iklan Ginsera hari Kamis. ]
Setelah itu, aku kembali mengerjakan pekerjaanku yang lain.
Beberapa saat kemudian, Liam membalas pesanku.
[ Oke. Nanti kalau aku ada waktu, aku akan lihat proses shooting-nya. ]
Aku mengangguk kecil, lalu kembali menatap layar komputer.
Namun, tiba-tiba Liam mengirimkan pesan lagi.
[ Oh iya, Elle... Papa gundang kamu ke rumah untuk makan malam nanti. ]
“Apa?!” seruku spontan.
“Ada apa, Elle?” tanya Doni.
“Eh... nggak apa-apa, Mas.”
“Apa klien mengabarkan sesuatu?”
“Nggak kok, Mas. Klien sudah oke untuk shooting hari Kamis. Malah katanya kalau dia bisa, dia bakal lihat proses shooting-nya,” jelasku.
“Oh... terus kenapa kamu tadi kayak kaget begitu?”
“Nggak apa-apa kok, Mas. Nggak penting.”
“Oh, ya sudah.”
Doni kembali melanjutkan pekerjaannya.
Aku menghela napas panjang.
Tak lama kemudian, Mona mendekat ke mejaku.
“Ada apa sih?” tanyanya penasaran.
Aku langsung menunjukkan pesan Liam kepadanya.
Mona membaca pesan itu, kemudian menatapku dengan senyum jahil.
“Wow... kayaknya camer kamu benar-benar suka sama kamu, deh. Jarang-jarang lho, calon menantu diajak makan bareng di awal perkenalan.”
“Ah, udah. Sana... sana...” ucapku sambil mendorong Mona menjauh.
Mona malah tertawa kecil sebelum kembali ke tempatnya.
Aku langsung menundukkan kepala.
Ke rumah Liam lagi?
Makan malam sama papanya?
Aku menghela napas.
Astaga... apalagi ini, Tuhan?