"Woy sampah rendahan."
"Sampah? Sampah? Sampah seperti ku masih bisa di daur ulang, tapi sampah seperti mu pantasnya dihancurkan."
Juna Adiwiyata hanya siswa beasiswa yang datang dengan tangan kosong ke Akademi Arcapolis—sekolah elite tempat nama keluarga menentukan siapa yang berhak menunduk dan siapa yang berhak menginjak.
Di sana, tidak ada yang peduli seberapa keras kau belajar. Yang ada hanya empat faksi, empat Raja, dan satu aturan tak tertulis: yang lemah akan diinjak sampai lupa cara berdiri.
Juna pernah jadi bagian dari yang lemah itu. Dihina, dipukuli, diseret ke gudang gelap sampai tubuhnya nyaris tak bernyawa—sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dari titik matinya sendiri dan mengubah segalanya.
Bukan sistem yang memberi kekuatan cuma-cuma. Sistem yang mengukur kekuasaan.
"Aku bangkit bersama orang-orang terbuang, dan akan menghancurkan mereka yang membuang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Angin sore berembus pelan di atap gedung utama, membawa serpihan debu dan bau aspal panas yang mulai mendingin. Juna duduk bersandar pada tembok pembatas, kedua kaki terjulur santai, matanya memandang lapangan sekolah dari ketinggian dengan ekspresi puas yang jarang ia tunjukkan di tempat ramai.
'Dua minggu,' batinnya, menghitung ulang semua yang sudah ia capai sejak malam di gudang itu. 'Baru dua minggu, dan sekolah ini sudah mulai mengenal namaku, Juna Adiwiyata.'
Suara pintu tangga darurat berdecit di belakangnya, disusul langkah tergesa yang tidak asing.
"Juna!" Gery muncul dari balik pintu, napasnya sedikit terengah seperti baru saja berlari menaiki beberapa lantai. "Untung kamu di sini, aku nyariin kamu dari tadi."
"Ada apa?" Juna menoleh tanpa mengubah posisinya, nada suaranya santai.
"Aku dengar kabar aneh," Gery mendekat, duduk di sebelahnya namun jaraknya terasa sedikit lebih jauh dari biasanya. "Katanya geng Bully lagi ngumpul di ruangan rahasia, di bawah gudang sekolah. Aku kepikiran, mungkin kita bisa cek ke sana bareng, siapa tahu ada info penting yang bisa kita pakai."
Juna mengamati wajah Gery sesaat lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu yang aneh di sana, sesuatu yang tidak biasa muncul di raut wajah sahabatnya itu. Bibir Gery tersenyum, tetapi matanya tidak ikut tersenyum. Jari-jarinya sesekali meremas ujung lengan bajunya sendiri, gestur kecil yang selalu muncul setiap kali Gery merasa terjebak.
'Kenapa dia terlihat seperti ini,' pikir Juna, memperhatikan setiap detail kecil itu tanpa berkata apa-apa. 'Seperti orang yang lagi dipaksa melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan.'
"Kamu yakin ini bukan jebakan?" Juna bertanya, nada suaranya masih santai meski matanya menajam.
Gery tertawa kecil, tawa yang terdengar sedikit dipaksakan. "Jebakan? Ah, kamu terlalu curigaan. Aku cuma denger dari anak lain, kayaknya bakal ada info yang berguna buat kita."
Juna menatap langit sore yang mulai berubah jingga, memikirkan berbagai kemungkinan dalam hitungan detik. Ia tahu ada yang tidak beres. Tapi ada satu hal lain yang lebih menarik perhatiannya daripada rasa curiganya sendiri.
'Kalau ini memang jebakan,' batinnya, 'berarti seseorang sudah cukup takut denganku sampai harus memakai Gery sebagai umpan. Menarik.'
"Oke," Juna akhirnya bangkit, menepuk debu dari celananya. "Ayo."
Gery tampak sedikit terkejut dengan jawaban cepat itu, namun segera menutupinya dengan anggukan dan senyum tipis. Mereka berdua turun dari atap, menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi karena jam pelajaran sudah usai, menuju arah belakang kompleks sekolah tempat gudang tua berdiri.
Namun bukan menuju pintu gudang seperti yang Juna duga, Gery justru membawanya ke sebuah lubang got besar di sudut halaman belakang, tersembunyi di balik semak yang sengaja dibiarkan tumbuh liar.
"Lewat sini?" Juna mengangkat alis, menatap lubang gelap yang menganga di bawah kakinya.
"Katanya jalan masuknya emang lewat saluran bawah tanah," Gery menjawab tanpa menoleh, sudah mulai menuruni tangga besi berkarat yang menempel di dinding got. "Ikutin aja."
Juna mengikuti dari belakang, langkah kakinya berdenting pelan di atas besi tangga yang mulai berkarat. Begitu mereka sampai di dasar, bau lembap dan tanah basah langsung menyergap indra penciumannya. Lorong bawah tanah itu jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan, bercabang ke berbagai arah dengan pipa-pipa besar berjejer di sepanjang dinding, beberapa menetes air kotor yang menimbulkan suara berdenting monoton.
Gery berjalan cepat, seolah sudah hafal jalur itu di luar kepala, berbelok ke kiri, lalu ke kanan, menyusuri lorong sempit yang semakin lama semakin gelap. Cahaya dari atas semakin memudar, digantikan oleh lampu-lampu kecil darurat yang tertanam sesekali di langit-langit terowongan.
'Gery terlalu menghafal jalan ini, tidak terlihat seperti orang yang cuma dengar kabar dari orang lain,' batin Juna, matanya mengamati punggung Gery yang berjalan di depannya dengan langkah yang terlalu pasti untuk seseorang yang baru pertama kali lewat sini.
Setelah beberapa menit berjalan dalam diam, mereka akhirnya sampai di ujung lorong, di hadapan sebuah pintu besi besar yang tertutup rapat, dipenuhi coretan cat semprot berwarna hitam dan merah.
Gery berhenti di depan pintu itu, tangannya terangkat untuk mengetuk, namun berhenti sejenak di udara. Juna memperhatikan bahu Gery yang sedikit bergetar sebelum akhirnya ketukan itu benar-benar jatuh ke permukaan besi dingin.
Tiga ketukan pelan. Lalu hening.
Pintu besi itu berderit terbuka dari dalam, mengeluarkan cahaya kuning temaram beserta gemuruh suara riuh puluhan orang yang bersorak-sorai di baliknya.