NovelToon NovelToon
Kepentok Cinta Sama Rival Kantor

Kepentok Cinta Sama Rival Kantor

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Peri Bumi

"Budget nya ini terlalu berlebihan, harus lebih efisien!"

Kenzo Swara, memberikan revisi untuk Rain Edelweis tak terhitung jumlahnya.

Lelah dan ingin marah, tapi nasib sial Rain memang ada di tangan Teman Rival kantornya itu. Kepala Tim Marketing vs Kepala Tim Perencanaan memang sering bentrok.

Di sisi lain, ada Divisi Humas yang selalu jadi penengah.

Apa jadinya kalau rival kantor Rain malah diam diam suka sama Rain?

Padahal setiap hari Rain selalu mencacinya.

Simak kisah mereka disini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pandu move on

Dua minggu setelah malam di kafe itu, Pandu masih menjalani hari-harinya seperti biasa di kantor, tetap ramah, tetap jadi penengah di setiap rapat yang memanas, tetap jadi tempat orang-orang mencari bantuan. Tapi di dalam dirinya, ada sesuatu yang perlahan berubah, meski tidak seorang pun di kantor menyadarinya kecuali dirinya sendiri.

Setiap malam sepulang kerja, Pandu mulai membiasakan diri menulis jurnal kecil, kebiasaan baru yang dia mulai setelah malam penolakan itu, sebagai cara untuk memahami dirinya sendiri lebih dalam.

*"Hari ini rapat lancar. Rain kelihatan bahagia. Aku senang buat dia, meski masih ada rasa sesak yang belum sepenuhnya hilang,"* tulisnya suatu malam, sebelum akhirnya menutup buku catatan itu dan menghela napas panjang.

 

Suatu sore, Pandu memutuskan untuk menemui kakak sepupunya, Reza, yang selama ini menjadi sosok yang paling dia percaya untuk berbagi cerita. Mereka bertemu di kedai kopi kecil dekat rumah Reza, tempat yang biasa mereka kunjungi sejak kuliah dulu.

"Jadi, gimana kabar hati kamu sekarang?" tanya Reza, langsung ke inti setelah mendengar cerita panjang lebar dari Pandu soal penolakan Rain beberapa minggu lalu.

"Lebih baik," jawab Pandu jujur. "Tapi aku masih sering mikir, apa yang sebenarnya salah dari caraku."

Reza menyeruput kopinya, menatap sepupunya dengan tatapan penuh perhatian. "Kamu beneran mau tahu jawabannya, atau cuma mau didengerin aja?"

"Aku mau tahu," jawab Pandu mantap. "Aku capek terus-terusan nyesel tanpa ngerti apa yang harus aku ubah."

"Oke," Reza menghela napas, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Menurutku, masalah kamu bukan soal kamu kurang baik, atau kurang tulus. Masalahnya, kamu terlalu takut mengecewakan orang, sampai-sampai kamu nggak pernah benar-benar komunikasiin apa yang kamu rasain dengan jelas."

Pandu terdiam, mencerna kata-kata itu.

"Kamu selalu nunggu situasi jadi 'sempurna' dulu baru berani ngomong," Reza melanjutkan. "Padahal, nggak ada yang namanya situasi sempurna dalam hubungan. Yang ada cuma orang yang berani komunikasi jujur, dan orang yang terus nunda karena takut."

"Jadi menurutmu, kalau dari awal aku lebih terbuka..." Pandu mulai berpikir keras.

"Mungkin hasilnya beda, mungkin juga sama," Reza menjawab jujur. "Nggak ada yang tahu pasti. Tapi setidaknya, Rain akan tahu perasaan kamu lebih awal, dan dia bisa milih dengan informasi yang lebih jelas, bukan menebak-nebak terus."

Pandu mengangguk pelan, merasakan sesuatu yang selama ini kabur perlahan menjadi lebih jelas dalam pikirannya.

"Komunikasi itu bukan cuma soal ngomong waktu udah yakin banget," Reza menambahkan. "Kadang, justru komunikasiin ketidakyakinan kita sendiri itu yang paling penting. Bilang aja, 'aku suka kamu, tapi aku masih takut, aku masih perlu waktu, itu lebih jujur daripada diam sama sekali sampai orang lain keburu pergi."

 

Malam itu, sepulang dari pertemuan dengan Reza, Pandu membuka jurnalnya lagi, menuliskan sesuatu yang lebih panjang dari biasanya.

*"Aku sadar sekarang, masalahku bukan karena aku nggak cukup baik. Masalahku karena aku selalu berusaha jadi 'aman' buat semua orang, sampai lupa kalau cinta itu butuh keberanian, bukan cuma kebaikan. Suka duka dalam hubungan itu nggak bisa dihindari dengan cara menunda-nunda. Satu-satunya cara buat melewatinya adalah dengan komunikasi, jujur soal apa yang dirasain, bahkan kalau itu berarti risiko ditolak atau disalahpahami."*

*"Mulai sekarang, aku janji sama diri sendiri. Kalau ada perasaan, aku akan lebih berani ngomong dari awal. Nggak akan nunggu 'waktu yang tepat' lagi, karena aku sudah belajar, waktu yang tepat itu sering kali cuma alasan buat menunda ketakutan."*

 

Beberapa minggu kemudian, perubahan kecil mulai terlihat dari cara Pandu bersikap di kantor. Dia masih tetap ramah seperti biasa, tapi kini dia mulai lebih berani menyuarakan pendapatnya secara langsung di rapat-rapat, tidak lagi selalu memilih jadi penengah yang menghindari konflik.

Suatu hari, dalam rapat evaluasi tim, muncul perdebatan kecil soal strategi campaign baru. Seperti biasa, semua mata tertuju ke Pandu, berharap dia akan menjadi penengah seperti biasanya.

"Menurutku, kita harus ambil pendekatan yang lebih berani kali ini," kata Pandu, mengejutkan semua orang di ruangan karena biasanya dia lebih memilih jalan tengah. "Aku tahu ini berisiko, tapi kalau kita terus main aman, kita nggak akan pernah tahu potensi maksimal dari campaign ini."

Rain, yang duduk di seberang meja, tersenyum kecil melihat perubahan itu, bangga sekaligus lega melihat sahabatnya mulai berani keluar dari zona nyamannya sendiri.

"Aku setuju sama Pandu," dukung Rain, menambahkan penjelasan lebih lanjut soal strategi yang dimaksud.

Diskusi berlanjut dengan lebih produktif, dan pada akhirnya, tim sepakat mengambil pendekatan yang lebih berani seperti yang diusulkan Pandu, sebuah keputusan yang, beberapa minggu kemudian, terbukti membawa hasil yang jauh lebih baik dari perkiraan awal.

 

Suatu sore, setelah rapat berakhir, Rain menghampiri meja Pandu, membawa dua cangkir kopi seperti kebiasaan lama mereka, meski kali ini dengan dinamika yang berbeda.

"Kamu berubah banyak akhir-akhir ini," komentar Rain, menyerahkan salah satu cangkir kopi.

"Belajar dari pengalaman," jawab Pandu sederhana, menerima kopi itu dengan senyum tulus, senyum yang kini terasa lebih ringan dari sebelumnya.

"Aku seneng liat kamu makin percaya diri," kata Rain tulus. "Kamu pantas dapetin hal-hal baik, Pandu. Termasuk orang yang bisa hargai keberanian kamu."

Pandu tersenyum, menatap kopi di tangannya sejenak sebelum menjawab. "Aku juga udah belajar satu hal penting dari semua ini, Rain. Cinta itu bukan cuma soal jadi baik dan sabar nunggu. Cinta itu butuh keberanian buat komunikasi, buat jujur soal apa yang kita rasain, seburuk apa pun risikonya. Suka dan duka itu bagian dari prosesnya, dan itu cuma bisa dilewati kalau kita berani ngomong, bukan cuma diam dan berharap orang lain ngerti sendiri."

Rain mengangguk, terharu mendengar kedewasaan yang kini dimiliki sahabatnya. "Itu pelajaran berharga banget, Pandu. Aku yakin, orang yang beruntung nantinya bakal dapetin versi terbaik dari kamu."

"Semoga," jawab Pandu, tersenyum penuh harap ke arah masa depan yang kini terasa lebih terbuka dan penuh kemungkinan baru, jauh dari bayang-bayang penyesalan yang selama ini menghantuinya.

 

Beberapa hari kemudian, di kantin kantor, Pandu bertemu dengan seorang karyawan baru dari divisi Riset, seorang perempuan bernama Alya, yang baru bergabung dua minggu lalu. Berbeda dari kebiasaannya yang biasa menunggu, kali ini Pandu memberanikan diri menghampiri lebih dulu.

"Kamu Alya, kan? Dari divisi Riset?" tanya Pandu, duduk di kursi seberangnya dengan senyum ramah seperti biasa, tapi kali ini dengan keberanian baru yang belum pernah dia miliki sebelumnya.

"Iya, betul," jawab Alya, tersenyum ramah. "Kak Pandu, kan? Aku sering denger nama Kakak disebut-sebut di kantor."

"Semoga yang bagus-bagus," Pandu bercanda ringan, memulai obrolan yang mengalir dengan lebih natural dari yang dia duga.

Tidak ada yang tahu pasti ke mana arah pertemuan baru ini akan membawa Pandu. Tapi satu hal yang pasti, kali ini, dia bertekad untuk tidak lagi menunda-nunda keberaniannya sendiri, apa pun hasil yang akan dia dapatkan nanti.

1
༻♛A̷͙ͭͫ̕ḑ̴̞͛̒ỉ͔͖̜͌r̴̨̦͕̝a̤♛༺
🙂
Xlyzy
jelas lah dia dia dah Dig dug plu gugup pertama kali loh ketemu wajar aja, apalagi ini camer 🤭
Tamaa
Bagusnya memang Rain ke Surabaya aja, biar hubungan mereka teruji selain itu kalau hubungan terus berlangsung tanpa adanya masalah sedikitpun dan bertemu setiap hari pasti ada rasa bosan yang muncul sedikit.
Tamaa
awas hubungannya jadi renggang
Tamaa
Kena mutasi nih, harus ldr dong
-Thiea-
habisnya si pandu juga kagak jelas. kayak tarik-ulur gitu. jadi bingung kan si rain.
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠ : dia hablum minannas ke semua orang ka 😭
jadinya bikin cewek salah paham
total 1 replies
-Thiea-
mulai nyaman sih ya komunikasinya walau masih ketus.
Mingyu gf😘
nahh, sama kenzo aja deh yang gak plin plam
Mingyu gf😘
Jangan mau sama pandu rain, dia kayaknya terlalu plin plan sama hatinya
Aquarius97 🕊️
apakah itu artinya bang Kenzo juga percaya pada rain.. uhuyuhuyuhuy 😍😍
Aquarius97 🕊️
tenang saja... kan ada babang Kenzo rain...
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
moga aja ayahnya kenzo meridhoi rain
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
nontonnya di noveltoon juga kah?😄
Prayy
ternyata sifat Kenzo kaya gitu demi nutupin dari semua orang deh karena beban yang di pikul nya
Prayy
kenapa kaget ? masih canggung yaaa
Prayy
sampai pandu tauu buruan pandu nanti ke duluan pak Kenzo
Prayy
mulai mulai satu kantor udh tahu nih
Myz Pena
cieee yanh mau makan dengan calon mamernya... rain happy...tapi pandu auto mewek sendirian 🤧...
Putry Chan
kalimat " aku disini " itu singkat tapi power full genggaman tangan Kenzo bikin rain merasa lebih nyaman , tim solid bgt semoga mereka bisa ngelewatin tes dari papa kenzo
ginevra
nah, akhirnya kamu sadar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!