Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!
Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang Kota Awan Agung dan Cakram Misterius
Gerbang Utama Kota Awan Agung — Pagi Hari
Pagi menyelimuti kompleks Sekte Pedang Awan dengan sapuan kabut tipis. Setelah menempuh perjalanan panjang berhari-hari, rombongan Sekte Pedang Awan akhirnya tiba di hadapan tembok raksasa yang menjulang tinggi membelah hamparan dataran luas.
Kota itu begitu masif hingga ujung benteng batunya seolah menyatu dengan garis cakrawala. Menara-menara pengawas kuno berdiri megah di balik gerbang, sementara kubah pelindung transparan berwarna biru samar berputar di angkasa, memancarkan aura formasi spiritual tingkat tinggi yang menutupi wilayah seluas puluhan li.
Di depan gerbang utama, arus manusia tampak sangat padat dan sibuk.
Para pedagang mengawal kereta penuh muatan peti, para kultivator berjubah membawa pedang panjang di punggung, pemburu monster liar dengan kulit binatang buas tergantung di pinggang, hingga para petualang yang menunggangi burung roh berukuran sebesar rumah kecil.
Lu Mingseng menatap pemandangan agung itu dari balik topeng hitam separuh wajahnya.
Selama ini, dunia yang ia kenal hanya sebatas Qinghe dan kompleks Sekte Pedang Awan. Namun kemegahan Kota Awan Agung saja sudah cukup membuka matanya betapa kecilnya tempat asalnya dahulu.
"Jangan berdiri melongo dengan mulut terbuka begitu," cibir seorang murid luar di dekatnya sambil tertawa kecil. "Ini baru Kota Awan Agung. Kalau suatu hari nanti kau melihat ibu kota Kekaisaran Tianwu, kau mungkin bakal pingsan karena terkejut."
Beberapa murid lain ikut tertawa mendengar ledekan itu.
Mingseng tidak membalas. Ia hanya memasang raut dingin di balik topengnya, menanamkan satu kesadaran mutlak di dalam kepalanya: Kekuatan yang kumiliki sekarang masih sangat kecil.
Sekalipun orang-orang memandangnya berada di puncak Pengumpulan Qi, ia sadar betul bahwa dunia luar menyimpan banyak sekali master tersembunyi yang bisa mencabut nyawanya hanya dengan lambaian tangan. Terlebih lagi, kultivasi aslinya yang telah menembus Pembukaan Meridian Tahap Awal dengan meridian kedua yang tersembunyi masih butuh penyesuaian matang. Ia tidak boleh sombong.
"Semua dengarkan instruksi!" Tetua Xu Jian mengangkat suaranya di depan rombongan. "Kita akan memasuki kota untuk menyelesaikan urusan kargo dagang dan administrasi pos sekte. Jangan berbuat onar! Kalian bebas berkeliling setelah tugas selesai, tapi wajib kembali ke penginapan sebelum lonceng malam ketiga berbunyi!"
"Dimengerti, Tetua!"
Menjelajahi Pasar Kultivasi
Rombongan pun melangkah melewati gerbang batu raksasa.
Begitu menginjakkan kaki di dalam kota, Mingseng langsung merasakan kepekatan energi spiritual yang jauh melampaui atmosfer Sekte Pedang Awan. Jalanan utamanya tersusun dari batu putih bersih, terukir formasi-formasi kecil di tiap persimpangan. Di kiri-kanan jalan berdiri megah berbagai toko pil, balai lelang bertingkat, paviliun senjata, dan rumah dagang material langka.
Perhatian Mingseng sempat tertarik pada sebuah papan batu raksasa di dekat alun-alun yang memuat peta wilayah kekaisaran.
Tercatat di sana bahwa Wilayah Qinghe hanyalah noktah kecil di pinggiran Kekaisaran Tianwu. Di sebelah timur terbentang Benua Canglan yang dipenuhi klan kuno; di utara terdapat Gurun Tulang Naga; di selatan ada Lautan Bintang Jatuh; dan di ujung peta tertera zona terlarang Pegunungan Pemakaman Abadi.
"Menarik, bukan?" suara Tetua Xu Jian mendadak muncul di sampingnya.
"Wilayah Qinghe hanyalah pinggiran dunia kultivasi," lanjut sang tetua. "Bagi orang biasa, kota ini sudah luar biasa megah. Tapi bagi para ahli puncak, ini bahkan belum ada apa-apanya."
Menjelang siang, urusan administrasi dan penyerahan kargo rombongan selesai. Xu Jian memberikan waktu bebas bagi para murid.
Mingseng langsung memisahkan diri menuju kawasan pasar bebas kultivasi. Ia sadar ia tak punya banyak batu spiritual; jika ingin mempercepat perkembangannya, ia harus jeli mencari peluang di antara tumpukan barang rongsokan.
Pasar itu sangat hiruk-pikuk. Para pedagang menjajakan pil pemulihan, rumput roh, kulit monster, hingga jimat pertahanan.
Ketika melewati sebuah toko barang antik loak, langkah Mingseng terhenti di depan meja seorang lelaki tua berparut di dagunya. Di atas meja itu bertebaran berbagai benda asing sisa reruntuhan kuno yang tak dikenali bentuknya.
"Cari apa, Anak Muda?" tanya pedagang itu ramah.
"Hanya melihat-lihat," jawab Mingseng.
"Silakan, semua barang ini diangkut langsung dari reruntuhan di sekitar Lembah Kabut Kelabu!" pamer si pedagang.
Mingseng memeriksa beberapa pecahan logam berkarat, hingga matanya terpaku pada sebuah cakram logam kelabu yang permukaannya retak dan nyaris kehilangan seluruh ukirannya.
"Berapa harga benda rusak ini?" tanya Mingseng menunjuk cakram tersebut.
"Tiga puluh keping perak," jawab pedagang asal.
Setelah tawar-menawar alot, Mingseng akhirnya berhasil membawa pulang cakram itu seharga delapan keping perak saja. Bagi orang lain, itu logam tak berguna. Namun saat menyentuhnya tadi, Mingseng sempat merasakan secercah getaran halus yang berkelebat di telapak tangannya.
Reaksi Tablet Hitam di Penginapan
Sore harinya, Mingseng telah kembali ke kamar penginapannya yang sederhana di sudut kota. Ia menutup pintu rapat-rapat dan mengeluarkan cakram kelabu tersebut ke atas meja.
"Guru, apakah kalian merasakan sesuatu dari benda ini?" tanyanya dalam batin.
Roh Kaisar Abadi dan sang penjaga balai memeriksa sejenak lewat kesadaran, lalu menggeleng. 'Jejak energinya terlalu rusak. Kami tak bisa memastikan fungsinya.'
Wanita misterius berbisik lembut, "Kadang kala sesuatu yang terlupakan tak kehilangan makna, hanya saja zaman sudah lupa cara membacanya."
Mingseng hendak menyimpan kembali cakram itu ketika tiba-tiba lempengan tablet hitam di sisinya bergetar hebat!
Getaran itu sangat singkat. Namun lambang merah di permukaannya—lingkaran yang terbelah garis tegak dengan tiga titik kecil di bawahnya—menyala terang sekilas.
Pada detik yang sama, garis tipis bercahaya merah muncul di permukaan cakram kelabu di hadapannya, sebelum lenyap dalam sekejap kedipan mata.
Mingseng menahan napasnya. Ada resonansi nyata antara tablet warisan Balai Penempaan Darah dan cakram murahan dari Lembah Kabut Kelabu tersebut!
Namun sebelum ia sempat menyelidiki lebih jauh, pendar itu padam total.
Mingseng membungkus rapat cakram itu dengan kain tebal dan menyimpannya di dasar kantong penyimpanannya. Ia tahu rahasia ini terlalu besar untuk dibongkar sekarang.
Ia kembali duduk bersila, menutup mata, dan mengalirkan Qi secara tenang. Di mata dunia luar, ia hanyalah seorang murid muda di puncak Pengumpulan Qi. Dan untuk saat ini, penyamaran itu adalah perisai terbaiknya untuk bertahan hidup di tengah kerasnya Kota Awan Agung.
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳